
Sebenarnya sangat perih sekali Qian rasakan tapi mulutnya tetap mengunci agar tidak mengeluh sakit, jika sampai Qian menjerit apalagi mengeluhkan rasa perih dan sakit yang dia rasakan, Darrel pasti tidak akan melanjutkan aksinya karena tidak akan tega.
Saat ini Darrel baru saja mulai menekan dan belum masuk banyak, meskipun mengalami kesulitan karena sangat sempit dengan pelan-pelan Darrel mendorongnya agar bisa masuk.
Tak tahan sakitnya saat semakin dimasuki oleh Darrel membuat Qian menggigit kencang pundak sebelah kanan Darrel, sedangkan satu kedua tangan Qian mencengkram sprei berwarna putih itu dengan sekuat tenaga.
Sebisa mungkin Qian mengekspresikan rasa sakit yang dia rasakan untuk tidak berteriak tetapi dengan menggigit pundak Darrel, itu bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya.
Kedua bola mata Qian sudah berbinar-binar sementara Darrel merasa punggungnya perih akibat digigit oleh Qian, hanya saja rasa nikmat yang mulai Darrel rasakan berhasil mengalahkan rasa perih pada punggungnya yang digigit.
"Ah Qi emtth apa ini kenapa seperti dijepit?" lirih Darrel saat merasakan berada didalam sana.
"Eunght Der a-aku merasakannya,"
"Katakan sayang apa yang kau rasakan saat ini?"
Darrel mengangkat wajah Qian menatapnya sejenak.
"Sangat besar Der,"
Darrel tersenyum merasa kalau itu adalah sebuah pujian baginya, bagaimana tidak besar semua keturunan keluarga Limson memang tidak pernah ada yang kecil apalagi mini.
Perlahan Darrel mulai menggerakkan pinggulnya dibawah sana, dan Qian semakin mele nguh. Saat mulai bergerak Darrel merasa ini adalah kenikmatan yang luar biasa yang belum pernah dia dapatkan selama dia hidup.
"Qian ah enak sekali,"
Sampai-sampai Darrel tidak henti-hentinya men de sah, menikmati setiap detik lobak importnya mendapatkan himpitan yang begitu kuat hingga menenggelamkan dirinya kedalam lembah menuju kepuasan.
Berbeda dengan Darrel yang sejak awal sudah mendapatkan kenikmatan, Qian masih merasakan perih meskipun sudah banyak berkurang tidak seperti dimenit-menit awal.
Sampai sudah hampir setengah jam berlalu, Darrel masih memainkan tempo dengan sangat pelan-pelan, dia sangat menjaga Qian agar Qian tidak terlalu merasakan sakit seperti kebanyakan orang lain bilang, jika langsung bermain kasar maka wanitanya tidak akan bisa menikmati dan malah kesakitan.
Tetapi rupanya Qian telah melupakan rasa perih dibawah sana karena semakin lama ternyata rasa perih itu berganti dengan rasa nikmat yang luar biasa! Qian mulai tidak bisa lagi menahan suara-suara surgawinya.
"Ahhh Der ahhh,"
"Qian, kau menikmatinya?"
"Oughttt eunghh iya Der,"
Mendengar de sah-de sah manja yang terus Qian keluarkan dari bibirnya membuat Darrel bersemangat lalu menggerakkan pinggulnya lebih cepat lagi.
"Ahh Der emtth terus Der ah,"
"Ouh sitt! Qi kau luar biasa,"
"Ah lagi Der please jangan berhenti lakukan terus Der ahh,"
Hingga Darrel merasakan miliknya sudah mencapai ujung puncak kenikmatannya.
"Qi aku akan sampai ahh,"
Gerakan Darrel sangat cepat dia tidak peduli lagi jika bergerak terlalu cepat nantinya Qian akan kesakitan, yang ada didalam pikirannya sekarang adalah kenikmatan itu akan segera sampai dan itu membuat pinggulnya replex bergerak kencang untuk mencapai hasil yang maksimal.
"Ahhhh,"
"Aku mencintaimu Qi,"
"Aku juga mencintaimu Der, kau berjanji kan tidak akan menerima perjodohan dengan wanita lain?"
"Tentu saja, besok kita bertemu orangtuaku tapi kau jangan terkejut!" dengan nafas terengah-engah.
"Terkejut dengan apa?"
"Nanti kau akan tau,"
Nafas keduanya masih sama-sama tidak beraturan dan keringat mengucur kemana-mana, Darrel dan Qian tidak menyangka akan melakukan penyatuan ini juga akhirnya. Meskipun disini hanya Darrel yang merasakan kepuasan tidak dengan Qian.
Darrel belum mengetahui bagaimana memanjakan wanitanya diatas ranjang.
"Qi, apa kau menikmatinya?"
"Hmm,"
"Tapi sepertinya kau tidak sampai mencapai puncak seperti yang aku rasakan, bukan?"
"Iya, tapi aku senang melayani mu sampai kau seperti tadi Der,"
"Lain kali aku akan belajar pada Paman Nick, tunggulah sampai aku ahli,"
"Der tidak perlu, kau membuatku malu!"
"Aku juga ingin kau merasakan hal yang sama denganku seperti tadi,"
"Iya tapi jangan dibicarakan itu sangat frontall,"
Darrel tersenyum manis karena melihat wajah Qian merah padam akibat malu.
Nah gitu dong Der udah tau rasanya nanti nagih tapi jangan lupa juga Qian harus bisa merasakan hal yang sama, pokoknya mulai besok kursus sama Paman Nick atau Paman Bert siapa tau Qian mau juga dibikin jerit-jerit 🤫🤫🤫