
Dokter Bright langsung antusias dengan kedatangan Misha meskipun pasti dia tidak akan enak hati menyampaikan jika perjodohan ini batal.
"Misha, kau datang juga akhirnya ayo duduk!" kata Dokter Bright.
Sementara Qian pun menggenggam erat tangan Darrel.
"Kau tenanglah," kata Darrel.
Misha diperkenalkan pada semua orang yang berada disini, sebenarnya Misha sendiri bingung kenapa dia diminta untuk datang oleh Dokter Bright.
"Sha, tadinya Paman ini ingin sekali kau bisa menjalin hubungan dengan Darrel tetapi ternyata Darrel sudah menjatuhkan pilihannya pada wanita lain!"
Rasanya kepala Misha langsung mendidih ketika mengetahui kedatangannya kesini untuk dijodohkan dengan Darrel, apalagi Darrel sudah memiliki kekasih! Bukankah itu membuat seolah-olah nasib Misha yang tragis dan terkesan mendapatkan penolakan?
"Paman, kenapa tidak bertanya dulu padaku dalam hal ini? Aku pun sudah memiliki pasangan mana mungkin aku dengan Darrel," Misha tersenyum kecut.
"Paman pikir orangtuamu sudah menjelaskan tentang hal itu Sha,"
"Ya sudah karena Misha sudah terlanjur datang, kita makan sama-sama dulu yuk Sha bareng tuh sama Qian dia juga baru pertama kali kesini!" ajak Oma Larisha.
Dengan terpaksa Misha akhirnya ikut terjun kemeja makan bersama keluarga Limson, dengan terburu-buru menghabiskan makanannya Misha akhirnya buru-buru berpamitan dengan alasan ada pasien darurat.
Sesampainya di halaman rumah tempat dirinya memarkirkan mobil! Misha menendang ban mobilnya sendiri.
"Gila ya itu Paman Bright untuk apa dia menjodoh-jodohkan segala? Helo memang masih zaman jodoh-jodohan?" umpat Misha.
"Ini lagi momy bisa-bisanya dia merelakan putrinya mendatangi laki-laki yang sudah jelas-jelas memiliki kekasih," umpatnya lagi.
Begitulah Misha dia tidak lemah lembut atau anggun seperti yang orang lain ketahui! Dia hanyalah gadis yang sulit diatur, dan bicaranya seenaknya sendiri.
Hanya saja jika didepan wartawan yang mewawancarainya Misha harus berakting menjadi sosok baik hati, rendah hati, lemah lembut, penurut dan anggun semua itu dia lakukan atas perintah ayahnya yang bernama Dokter Jay.
Dokter Jay dan Dokter Bright ayahnya Darrel merupakan sahabat sejati dan satu tipe dimana keduanya gila akan nama baik.
Di dalam rumah Oma Larisha semua anggota keluarga sedang asik saling mengobrol, tetapi Qian tidak melihat keberadaan Darrel.
Dia pun berinisiatif untuk mencari Darrel ke sana kemari, hingga bertemulah Qian dengan Dokter Bright yang sedang berada didekat kolam renang rumah mewah itu.
"Paman," sapa Qian, kemudian lantas hendak pergi.
"Kau, kemarilah!" kata Dokter Bright.
Dengan ragu-ragu Qian pun mendekati calon mertuanya itu.
"Tidak usah menundukkan wajahmu seperti itu, aku ini calon mertuamu!'
Kedua mata Qian berbinar rupanya Dokter Bright tidak egois dan dia sudah menganggapnya sebagai calon menantu.
"Paman," Qian langsung memeluk Dokter Bright dia sangat terharu karena Dokter Bright bisa menerimanya.
"Hei kenapa memelukku? Aduh, lepas! Lepas!"
"Ma-maaf Paman, aku hanya terlalu bahagia sekali karena kau merestui aku dan Darrel,"
"Terpaksa apa boleh buat,"
"Terpaksa?" Qian sedikit bersedih.
"Hei, aku hanya bercanda!" kata Dokter Bright.
"Paman mau aku ambilkan minuman?"
"Tidak perlu, aku hanya ingin kau berhati-hatilah dan ingatkan terus calon suamimu itu,"
"Berhati-hati? Berhati-hati dari apa Paman?"
"Oh, pantas saja Paman saat perjalanan kesini aku dan Darrel diserang untung saja ada bala bantuan yang datang!"
"Kalau begitu nasehati calon suamimu itu untuk mundur saja dari kursi ketua, biarkan Paman Nick yang mencarikan gantinya!"
"Jangan mau disuruh-suruh Qi," seorang pria dengan suara lantang datang menghampiri Qian dan Dady Bright.
"Der, kau darimana saja?"
"Aku tadi habis ke toilet! Apa Dadyku memintamu yang aneh-aneh?" tanya Darrel.
"Tidak kok Der, Dadymu hanya mengingatkan saja agar kita lebih hati-hati,"
"Terimakasih Dad jika benar kau hanya mengingatkan, tapi jika ada maksud lain dengan meminta calon istriku untuk memintaku mundur tentu saja dengan senang hati aku akan menjauhkan calon istriku darimu," Darrel merangkul pundak Qian.
"Dasar anak sudah diatur!" Dady Bright nyelonong pergi.
Kini hanya Darrel dan Qian yang berada didekat kolam renang.
"Der, kalau kau begitu terus kapan mau akur dengan ayahmu?'
"Sudahlah Qi jangan dibahas, ayo!"
"Ayo kemana?"
"Pulang!"
"Hah pulang?"
"Iya ini sudah malam, nanti kita ke sini lagi jika waktuku senggang,"
"Baiklah,"
Sebenarnya Qian penasaran sekali kapan Darrel akan membicarakan masalah pernikahan dengan orangtuanya, tetapi Qian tidak enak untuk menanyakannya.
Darrel dan Qian berpamitan dengan keluarga mereka, sebenarnya tadi Darrel berbohong dia menghilang bukan dari toilet melainkan berada di ruangan bilyard dan mengobrol dengan Paman Domanick.
Flashback di ruangan bilyard!
"Paman, apa kau masih sering melakukannya?"
Paman Domanick menoleh dan merasa pertanyaan Darrel itu terdengar ambigu.
"Melakukan apa?" sambil memainkan tongkat bilyard.
"Melakukan dengan bibi Lindsey," kata Darrel sambil malu-malu menanyakannya.
Ckckckck..
"Tentu saja, milik Paman ini tidak pernah bisa tertidur jika malamnya belum memasukinya!"
"Satu kali?"
"Apanya yang satu kali? Kami bahkan bisa sampai lima kali semalam, tapi dulu Paman bisa 11 kali semalaman,"
"Ah?? Apa bibi Lindsey marah ketika Paman meminta lagi?"
"Marah? Dia malah yang sering menggoda Paman karena masih ingin, kenapa Der kau dimarahi oleh Qian?"
"Ah ti-tidak Paman hanya bertanya,"
Lagi berguru sama suhunya Darrel!! Satu bab lagi meluncur ya guys😁 Penasaran kan apa yang diajarkan suhu sama si cupu dan bagaimana pengaruhnya setelah diajarkan oleh suhunya😄