
Semakin lama diposisi sedekat ini dengan bibir lembab milik Qian semakin memporak-porandakan khayalan dalam pikiran Darrel.
Tidak perlu dijelaskan khayalan macam apa yang saat ini sedang berputar-putar mengelilingi pikiran Darrel, yang jelas Darrel tak ingin wajah super gugupnya itu terbaca oleh Qian.
Selesai merapihkan dasi dan kerah baju Darrel disudut bibirnya Qian mulai tersenyum mengembang.
"Sudah rapih, aku ke ruangan ku dulu ya Der,"
Darrel mengangguk dan Qian segera berjalan menuju ruangannya, tetapi Darrel malah mengekor dibelakang Qian untuk mengantarnya menuju ruangan kerja Qian.
Dari sebelah kanan loby terlihat seorang office boy membawa tumpukan-tumpukan kertas yang sudah tidak terpakai untuk dibawa ke tempat pembuangan yang terletak dibelakang loby, tumpukan kertas-kertas itu menutupi kepala dari office boy yang semakin dekat berjalan kearah Qian.
Darrel yang tidak mau sampai office boy itu sampai menubruk Qian yang sedang fokus berjalan kedepan, langsung menarik lengan Qian hingga membuat tubuh Qian melengking kebelakang dan membentur tubuh tegap Darrel yang berada tepat dibelakangnya.
Wajah Qian langsung mendongak keatas menatap kebelakang wajah Darrel yang juga menatap kearahnya, sementara office boy tadi berhasil melewati Qian tanpa menyenggol tubuh Qian sama sekali.
"Der, kenapa kau belum juga pergi?"
"Tadi dia hampir menabrak mu,"
"Oh itu, terimakasih Der tapi sampai kapan kau akan memegangi lengan ku seperti ini?"
Dilepaskannya lengan Qian yang sejak tadi dipegangi oleh Darrel. Tanpa berkata apa-apa lagi Darrel melangkah lebih dulu, sebenarnya para karyawan menundukkan kepalanya saat melihat Darrel, tetapi Qian justru menyangka jika para karyawan di perusahaan iklan ini sangat sopan dan beradab sehingga saling memberikan hormat sesama karyawan.
Padahal karyawan memberikan hormat karena mereka mengetahui Darrel adalah keponakan CEO perusahaan iklan ini yakni Domanick Limson.
Sebenarnya Qian penasaran kenapa Darrel malah ikut bersamanya, bukankah tempat kerja para bodyguard adalah didekat pos security depan sana, tapi Darrel ikut berhenti didepan lift.
Pintu Lift terbuka dan para karyawan saling berbondong-bondong untuk masuk kedalam lift menuju lantai atas, termasuk dengan Darrel dan Qian.
Mayoritas yang berada didalam lift adalah karyawan laki-laki, Darrel pun dengan sigap menghimpit tubuh Qian membuat Qian membentur dinding lift dengan Darrel yang menghadap dirinya, tangan kanan dan kiri Darrel pun seperti pagar pembatas yang menghalangi karyawan lain agar tidak menyentuh Qian.
Berhadapan dengan Darrel seperti ini membuat Qian justru malah gugup dibuatnya, apalagi Darrel menatapnya dengan intens.
"Kenapa si dia? Menatapku seperti ini?" dalam hati Qian.
Hingga pintu lift terbuka dan satu persatu karyawan ada beberapa yang turun dilantai ini, membuat tubuh Darrel tersenggol ke sana kemari dan akhirnya semakin menghimpit tubuh Qian.
"Darrel,"
"Hmm,"
Darrel sampai tidak sadar jika sudah banyak yang keluar dari lift dan membuat lift sudah tidak berdesak-desakan lagi, perlahan Darrel mengambil langkah memutar tubuhnya membelakangi Qian kemudian maju beberapa langkah menjauhi Qian.
Membuat Qian justru tersenyum sambil geleng-geleng kepala dengan sikap Darrel pagi ini.
Sampai tiba di ruangan tempat divisi Qian bekerja.
"Aku masuk dulu ya Der,"
"Kau pulang pukul berapa?"
"Memangnya kenapa?"
"Hanya tanya,"
"Seperti biasa pukul 16.00 katanya karyawan baru selama satu bulan belum diberikan over time oleh perusahaan, jadi aku akan pulang sore dan setelah itu aku akan menemui pemilik apartemen yang akan aku sewa,"
"Biar aku antar, kau tunggu aku di loby nanti,"
D"Kenapa begitu?"
"Apa?"
"Kenapa kau baik padaku?"
"Bukankah sejak dulu aku memang baik padamu!"
"Iya juga, kau memang baik padaku dan berkali-kali menyelamatkan nyawaku tapi bukankah kau juga pergi begitu saja saat aku masih sangat membutuhkan mu waktu itu?"
Tak lagi menjawab pertanyaan dari Qian! Darrel bergegas pergi meninggalkan Qian.
❤️❤️❤️
Sambutanmu terlalu ramah hingga aku terburu-buru menjadikan mu rumah,
Kamu terlalu hangat dalam menjamuku,
Sampai-sampai aku lupa kalau aku hanya bertamu bukan tinggal bersamamu.