
Sesampainya di kamarnya sendiri, Darrel buru-buru melihat wajahnya yang memerah, rupanya benar yang dikatakan oleh Qian Bhawa kedua pipi Darrel memang memerah.
"Sit, kenapa pipiku memerah seperti telah kena pukulan orang?" bertanya pada dirinya sendiri.
Tapi melihat pipinya saat ini didepan cermin, membuat Darrel teringat kembali akan bibir lembut Qian yang masih sangat terasa dikulit pipinya. Darrel yang tidak mengerti apa maksud dari Qian mencium pipinya, berpikiran untuk menelpon Paman Nick dan menanyakan maksud Qian melakukan itu padannya.
Dirogohnya handphone disaku celana, kemudian Darrel pun menekan kontak Paman Domanick.
Kring..
Sebuah panggilan masuk dari Darrel saat Paman Nick tengah tengah menciumi leher bibi Lindsey diatas ranjang.
"Sial, siapa yang menelpon ku?" Paman Domanick mengumpat.
"Ya sudah dad, angkat dulu saja siapa tau penting," ujar Bibi Lindsey.
"Memangnya ada yang lebih penting dalam kamus ku selain men cum Bu sayang?" mencolek dagu Bibi Lindsey.
Bibi Lindsey hanya tersenyum sumringah jika digoda oleh suaminya itu, Paman Domanick pun melihat ke layar handphone miliknya dan langsung panik saat tau itu panggilan telepon dari Darrel, segera ditekannya tombol jawab oleh Paman Domanick karena takut ada masalah di group Limson.
"Halo Der apa terjadi sesuatu?"
"Bagaimana Paman tau kalau disini terjadi sesuatu?"
"Astaga group mafia mana yang berani menyerang mansion mu? Paman akan segera ke sana!"
"Tunggu Paman, mansion ku tidak diserang,"
"Lantas terjadi masalah apa sampai kau menelpon?"
"Hany ingin bertanya,"
"Apa? Jangan buat Paman cemas?"
"Jika laki-laki dan perempuan tinggal satu atap, kemudian perempuan itu tiba-tiba mencium pipi laki-laki itu apa maksudnya Paman?"
"Tunggu dulu, jadi kau menelpon Paman hanya untuk menanyakan hal seperti ini?"
"Iya, karena aku harus tau,"
"Sit, kenapa kau dan ayahmu sama menyebalkannya dulu Dadymu selalu bertanya hal menyebalkan seperti ini, sekarang kau pun malah lebih kaku lagi dari ayahmu,"
"Jawab saja Paman dan jangan bicarakan Dady,"
"Tentu saja jawabannya wanita itu ingin kau tidur dengannya!"
"Tidur dengannya?"
"Iya, tidur dan melakukan itu,"
"Itu apa Paman?"
"Ah sit aku seperti sedang mengajari ilmu ranjang pada anak sekolah dasar, sudahlah intinya wanita itu ingin kau tidur dengannya selanjutnya biar naluri mu sendiri yang melakukan tugasnya!"
"Begitu ya, baiklah Paman,"
Paman Domanick segera mematikan telepon dari keponakannya itu.
"Laki-laki macam apa Darrel usianya sudah 28 tahun tapi masih saja tidak mengerti jika wanita mulai meraba atau mencium lebih dulu, sudah pasti wanita itu menginginkan sebuah penyatuan! Apa jangan-jangan Darrel belum pernah meniduri wanita? Masa muda mu tidak seindah Paman Der," gumam Paman Domanick.
Setelah mendengar jawaban dari Paman Domanick, Darrel segera mandi agar tubuhnya wangi dan fresh karena malam ini dia akan tidur di kamar Qian.
Setelah merasa wajahnya tampan dan tubuhnya wangi, Darrel segera menuju ke kamar Qian diketuknya pintu kamar Qian oleh Darrel.
Tok.
Tok.
Tok.
Kebetulan Qian baru keluar dari dalam kamar mandi karena baru selesai mandi, dengan mengenakan handuk kimono berwarna putih, Qian membuka pintu kamarnya.
Ceklek...
"Der, ada apa malam-malam kau ke kamar ku?"
Tetapi bukannya menjawab Darrel malah nyelonong saja langsung masuk kedalam kamar Qian, kemudian Darrel duduk dibibir ranjang kamar tersebut.
Qian pun tak mengerti kenapa Darrel tiba-tiba bersikap seperti ini.
"Der, kau tidak apa-apa?"
"Aku akan tidur denganmu malam ini!"
"Apa? Tidur bersamaku malam ini?" Qian buru-buru duduk disamping Darrel.
"Tapi kita kan,"
"Suttt," jari telunjuk Darrel menekan bibir Qian agar tidak lagi protes.
Tetapi telunjuknya yang menyentuh bibir Qian kini malah berubah mengusap halus bibir seksi Qian, terasa dingin, lembab, dan sedikit tebal bibir bagian bawahnya.
"Der ssthh,"
Darrel terus menatap bibir Qian yang saat ini diusap-usapnya dengan jari telunjuk milik Darrel, membuat Qian mulai terbakar hasrattnya.
"Der emth,,"
"Aku akan tidur disini agar kau lebih aman,"
Qian mengangguk tanda setuju karena mau bicara pun sulit, jari telunjuk Darrel masih terus mengusap-usap bibirnya.
"Lembut," ujar Darrel.
Qian merasa tersanjung saat Darrel memuji bibirnya dengan kata lembut.
"Der bolehkah aku memakai pakaian dulu?"
Darrel pun baru sadar ternyata Qian belum memakai baju hanya mengenakan handuk kimono saja.
Dilepaskannya jari telunjuk yang sudah terlanjur candu dengan bibir lembab dan lembut milik Qian, membiarkan Qian menuju lemari pakaiannya dan memakai pakaian tidur didalam kamar mandi.
Uhuyyy kalau dipegang doang ga akan terlalu kerasa Der coba diicip-icip pasti makin enak.
😀