OH, YES Hot Bodyguard

OH, YES Hot Bodyguard
Bab 28



Malam ini Qian memakai pakaian terusan dengan penyangga dipundak yang kecil dan tipis serta belahan dada yang menyembulkan kedua melon importnya yang berukuran super besar dan bulat.


Qian pun menghampiri Darrel lalu duduk disebelah Darrel. Terlihat Darrel sedang menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya pada pahanya sendiri, seperti seseorang yang sedang gelisah dan gugup.


"Der, kau baik-baik saja?"


"Hmm," hanya berdehem namun akhirnya menoleh kearah Qian.


Kedua mata Darrel terbelalak saat menoleh kearah Qian, Darrel tidak menyangka jika malam ini Qian berpakaian sangat seksi seperti dihadapannya saat ini, Darrel langsung meneguk salivanya dan langsung memalingkan pandangannya kearah lain.


"Sebenarnya kenapa kau meminta tidur di kamarku? Padahal ranjangnya hanya satu?"


"Sering ada serangan musuh mendadak," ujar Darrel.


"Apa?" Qian terkejut setelah mendengar seringnya terjadi serangan musuh di mansion ini, jujur saja Qian masih sangat trauma dengan apa yang dulu dia alami dikejar-kejar musuh dan hampir terbunuh jika dulu bukan Darrel yang selalu melindunginya.


Gerakan replex Qian setelah mendengar sering adanya serangan musuh, yaitu merapatkan tubuhnya pada Darrel membuat Darrel semakin keringat dingin tak karuan.


Qian menggenggam erat lengan Darrel karena ketakutan. Sebenarnya Darrel hanya mengarang cerita karena tidak pernah ada musuh yang menyerang ke mansion ini, paling serangan itu terjadi di markas group Limson ataupun di tempat casino, diskotik dan dermaga.


Tetapi sepertinya Darrel tidak menyesal setelah melakukan kebohongan itu pada Qian, buktinya Qian langsung merapatkan bagian padanya. Membuat jarak keduanya semakin dekat.


Sebenarnya setelah bercerai dari Qian, tak pernah sehari pun Darrel melupakan Qian bahkan Darrel menugaskan beberapa anggota group Limson untuk menjaga Qian di Beijing, dan meminta beberapa anggota group Limson selalu melaporkan apapun yang menimpa Qian.


Saat tau bisnisnya bangkrut, Darrel sengaja tidak menolong Qian agar gadis itu tidak tinggal lagi di Beijing, tadinya Darrel sudah menyusun rencana untuk menjemput Qian secara langsung, ternyata tanpa diduga-duga Qian justru lebih dulu menghubungi Paman Nick yang merupakan sahabat ayahnya Qian.


Darrel hanya berpura-pura saja terkejut ketika Qian ada di perusahaan Pamannya, selain gengsi Darrel juga tidak mau menjadi bahan olokan Paman Nick jika tau sebenarnya Darrel gagal move on sejak dulu.


"Der aku takut, aku masih trauma saat dulu anak buah Liu berusaha mencelakai aku!" Qian semakin kencang menggenggam lengan Darrel.


Saat Darrel melirik kearah lengannya yang digenggam oleh Qian, buru-buru Qian melepaskan genggaman tangannya karena tidak enak pada Darrel.


"Eh maaf Der, aku replex tadi! Kalau kau memang tidak mau menjagaku disini, bagaimana kalau minta saja Austin untuk tinggal bersama ku di kamar ini, dia biasa kok tidur di sofa!"


Mendengar kalimat itu Darrel langsung merasa kesal.


"Aku akan tidur disini!"


"Benarkah? Kalau begitu ini bantal dan selimutnya kau bisa tidur di sofa sebelah sana!" Qian memberikan satu bantal dan bad cover pada Darrel.


Tanpa ragu Darrel menerima bantal dan bad cover dari tangan Qian, hanya saja setelah itu Darrel justru merebahkan tubuhnya diatas ranjang kemudian memakai selimut bersiap untuk tidur, sontak saja Qian melotot tajam kearah Darrel.


"Loh kenapa kau tidur di ranjang ku? Kau kan bukan lagi suamiku Der, sana turun!"


Darrel tidak bergeming dan berpura-pura memejamkan kedua matanya, tapi Qian yang tidak mau tidur satu ranjang dengan mantan suaminya itu, langsung menggoyangkan tubuh Darrel agar Darrel berhenti berpura-pura tidur.


"Der bangun! Aku tau kau tidak tidur!"


"Ya sudah biar aku saja yang tidur di ruangan lain,"


Qian hendak turun dari atas ranjang tetapi dengan sigap kedua tangan Darrel merangkul pinggang Qian lalu menariknya hingga tubuh Qian terlentang dibawah tubuh Darrel.


"Der, kau ini apa-apaan si? Menyingkir!"


Dicengkeramnya kedua tangan Qian kemudian bibir Darrel mendekati telinga sebelah kanan Qian.


"Tidur disini bersamaku!"


"Kalau begitu aku akan menikahi mu lagi,"


"Apa? Kau bercanda Der?"


"Menurut mu?" Darrel tersenyum manis pada Qian.


Membuat jantung Qian berdetak kencang saat ini, Darrel turun dari atas tubuh Qian dan tidur disamping Qian.


"Apa-apaan laki-laki ini, setelah dia meninggalkan aku begitu saja satu tahun lalu sekarang dia bersikap seperti ini? Apa maksudnya?" Gumam Qian.


Terdengar suara dengkuran halus karena Darrel sudah tertidur nyenyak, sementara Qian masih betah memandangi wajah tampan tetapi menyebalkan itu.


Hingga sudah larut malam Qian belum bisa memejamkan kedua matanya, rasanya seperti mimpi tidur satu ranjang lagi dengan mantan suami yang sudah dia berusaha lupakan sebenarnya, Darrel tak lagi terdengar mendengkur halus membuat Qian pun tidur menyamping agar bisa memperhatikan wajah tampan Darrel yang ditumbuhi oleh brewok-brewok halus disekitar dagu dan pipinya.


Karena gemas melihat wajah Darrel yang ditumbuhi brewok-brewok tipis tapi sangat banyak, jari jemari Qian pun menyentuh brewok-brewok itu, rasanya sangat geli tapi membuat Qian merasakan sensasi yang membuat tubuhnya memberikan reaksi lain.


"Geli," gumam Qian.


"Apa bisa geli jika hanya menyentuh jari saja?" tanya Darrel.


Kedua mata Darrel terbuka lebar, rupanya Darrel tidak tertidur, Qian pun langsung menurunkan tangannya dari wajah Darrel.


"Kenapa berhenti?"


"Der kau mengagetkan aku saja, aku kira kau sudah tidur makanya aku berani menyentuh itu!"


"Apa boleh gantian?" tanya Darrel.


"Gantian? Maksudmu gantian menyentuh brewok-brewok? Tapi aku kan tidak memiliki brewok Der?"


Darrel menyentuh dagu lancip Qian meraba tulang pipi Qian dengan tangan besarnya, sebagai wanita dewasa tentu saja Qian sangat gelisah mendapatkan sentuhan-sentuhan seperti ini dari seorang laki-laki, apalagi laki-lakinya setampan dan kekar seperti Darrel.


Lama kelamaan kedua mata Qian terlihat sayu saking menikmatinya sentuhan-sentuhan halus tangan Darrel pada pipi dan dagunya, hingga tanpa sadar ibu jari Darrel meraba bibir bagian bawah Qian yang sensual.


"Sstthh Der,"


"Aku telah bersabar cukup lama," kata Darrel.


"Maksudmu?" tanya Qian.


Tanpa menjawab pertanyaan Qian, kini Darrel melepaskan ibu jarinya dari bibir Qian, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Paman Nick cukup berada dalam satu kamar sisanya naluri yang akan bekerja menyelesaikan tugasnya.


Darrel me lu mat bibir bagian bawah Qian, menye sapnya seperti benar-benar haus akan hasratt yang selama ini cukup lama tertahankan.


Tanpa perintah apapun lagi dari Darrel justru Qian mulai membalas ciuman bibir Darrel, dengan melakukan perlawanan menye sap bibir Darrel menariknya kemudian me lu matnya lagi.


Bunyi berkecipak menyatunya kedua bibir yang sudah sama-sama merindukan akan sebuah ciuman yang memabukkan, Darrel telah lama menantikan hal ini dan tanpa disadari Qian pun tidak menolak apapun yang dilakukan oleh Darrel.


Diatas ranjang itu Darrel berganti posisi sambil terus me lu mat bibir Qian, Darrel menaiki tubuh sintal Qian hingga posisinya menindih tubuh Qian sambil terus berpagutan.


Paman Nick emang engga akan mungkin salah Der, makanya nurut dan abis ini berguru lagi ya biar jago kaya Paman mu😀