
Austin tercengang dan mengucek-ngucek Keuda matanya untuk meyakinkan diri bahwa yang dimaksud ketua group Limson itu adalah benar Darrel, disaat Austin masih tidak menyangka bahwa Darrel ternyata ketua group mafia terbesar, Darrel bangkit dari kursi dan menghampiri Austin.
"Kita bertemu lagi Austin,"
"Der, jadi selama ini identitas kau adalah ketua group Limson, apakah kau keturunan Tuan Alan Limson?"
"Aku cucunya Opa Lan, bagaimana kau siap untuk menjadi asisten pribadi ku?"
Austin langsung berdiri dari kursi dan menundukkan kepalanya memberikan hormat pada Darrel.
"Siap ketua! Aku akan giat berlatih dan aku berjanji akan menjadi asisten pribadi mu yang tak terkalahkan,"
"Bagus, mulai sekarang kau akan tinggal bersamaku!"
"Apa? Tinggal bersamaku, tapi,"
"Kau keberatan?"
"Sebenarnya aku, bukankah kau tau jika Qian tinggal didekat ku?"
Dalam hati Darrel, justru karena itu makanya aku menjadikan mu asisten pribadi untuk ku jadi kau tidak perlu dekat-dekat lagi dengan Qian.
"Tinggalkan dia!"
"Der, aku tidak mungkin meninggalkan Qian sendirian! Dia sekarang hidup sebatang kara, apa kau tidak perduli padanya?"
"Aku anggap kau menolak!" Darrel hendak pergi meninggalkan Austin.
"Tunggu Der, kau terlalu sensitif rupanya! Aku akan meninggalkan Qian, aku akan fokus berlatih dan mengabdi padamu!"
Setelah sepakat Darrel meminta anggota group Limson untuk mulai menjelaskan job desk yang akan dilakukan oleh Austin, dan juga peraturan apa saja yang tidak boleh dilanggar.
Sementara Darrel pergi meninggalkan markas group Limson.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Austin yang harus segera pindah ke mansion milik Darrel mulai hari ini, memutuskan untuk berpamitan pada Qian.
Tok.
Tok.
"Qi! Ini aku Austin,"
Klek.
"Kau darimana saja semalam aku mengetuk pintu kamar mu untuk mengajak makan malam, tapi kau tidak membuka pintu?"
"Aku pergi semalaman ada keperluan,"
"Keperluan apa?"
Austin pun akan menjelaskan bahwa dia akan bekerja pada group Limson, group mafia yang sejak dulu dia impikan untuk bisa bergabung didalamnya, tetapi pesan Darrel sebelum dia meninggalkan markas adalah, Austin dilarang mengatakan pada Qian bahwa Darrel adalah ketua group Limson.
"Sebenarnya aku bergabung pada group mafia terbesar di negara ini Qi, jadi aku minta maaf karena mulai hari ini aku tidak akan lagi berada disisi mu,"
"Tapi kenapa? Bukankah kau berjanji akan selalu menjaga ku dan berada di sisiku?"
"Maaf Qian, tapi masuk kedalam anggota group Limson adalah impianku sekali lagi aku minta maaf, dan jaga dirimu baik-baik!"
Qian duduk termenung di sofa setelah Austin dengan tega berpamitan untuk pergi meninggalkannya, padahal Austin tau Qian tidak memiliki siapapun lagi selain dirinya.
Tapi apalah daya, tidak mungkin juga Qian menghalangi apa yang menjadi keputusan Austin dan terbaik untuk masa depan Austin, Qian pun bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Turun ke loby hotel, Qian menunggu taxi untuk dia berangkat ke kantor. Tapi sebuah mobil mewah berhenti didepannya.
Darrel turun dari mobil mewah miliknya dan Qian pun terkejut bisa bertemu Darrel kembali pagi ini.
"Darrel, kau disini sedang apa?"
"Aku kebetulan lewat,"
"Kebetulan lewat sampai masuk ke hotel kecil ini?"
"Aku ingat kau menginap di hotel ini, masuklah!"
"Tumben kau mengingatku Der, apa hari ini aku menumpang kembali di mobil atasanmu lagi!"
"Ya,"
"Baiklah karena kita satu perusahaan aku rasa memang antar karyawan harus saling membantu kan?"
Darrel hanya mengangguk dan keduanya masuk kedalam mobil, sebenarnya setelah mengantar Qian ke kantor setelah itu Darrel akan langsung menuju markas group Limson karena ada banyak hal yang harus dia urus.
Setibanya di kantor, Darrel dan Qian sama-sama masuk kedalam kantor.
"Der kalau bodyguard itu kerjanya disebelah mana?"
"Sana!" Darrel menunjuk dekat pos security kantor.
"Oh begitu, aku harus menuju ruangan ku! Kalau begitu terimakasih ya atas tumpangannya,"
"Hmm,"
Tapi bukannya pergi ke ruangannya Qian justru melangkah mendekati Darrel, tentu saja Darrel langsung melangkah mundur tapi Qian malah menarik dasi yang dikenakan oleh Darrel.
Membuat wajah Darrel berada beberapa inci didekat wajah Qian, kedua tangan Qian mulai meraih dasi berwarna biru dongker yang dikenakan oleh Darrel.
"Kerah bajumu berantakan Der, kau ini bagaimana si masa kerah baju masih berantakan malah sudah dipasang dasi jadi dua-duanya malah terlihat tidak rapih!"
Sambil menasehati Darrel sambil Qian memasangkan dasi ulang ke kerah kemeja yang dikenakan oleh Darrel.
Melihat bibir Qian dari jarak sedekat ini, membuat Darrel teringat kembali satu tahun lalu saat keduanya berciuman. Ciuman pertama Darrel dan membuat Darrel tidak pernah lupa akan peristiwa ciuman pertamanya itu.
Disini Darrel mulai menampakkan wajah gugupnya, apalagi hembusan nafas Qian dapat dia rasakan.
Maaf ya gaes maak jarang up di novel ini, sebetulnya lagi kecewa banget sama ntoon entah kenapa novel ini belum juga di ACC untuk kontrak, rasanya pengen banget bawa novel ini ke platform lain.
Tapi gimana ya ges ya, othor ga mau ninggalin kalian di sini jadi ya sudah kita lanjut disini walaupun novelnya engga dikontrak 🥲
Yuk yang kangen babang Darrel ikuti terus ceritanya 🤗🤗