OBSESSION

OBSESSION
ALWAYS BERTENGKAR



Kini diruang tamu ada sepasang suami istri yang sedang berdebat. Dan seorang laki yang hanya diam mendengarkan tanpa ikut campur.


"mas! Nilai 95 itu udah sempurna mas!" tekan Lidya sambil manatap suaminya tajam.


"Anak itu sudah dikasih waktu mengerjakan ulang. Kenapa tidak dapat nilai sempurna!!" Andra berucap dengan notasi sedikit menaik.


"Mas mau nya gimana? Nilai berapa yang mas bilang sempurna, hah?!" tanyanya dengan suara ikut menaik.


Perdebatan itu terus berlanjut. Sedangkan Arga yang mendengarkan perdebatannya hanya diam.


Dirinya bergelut dengan pikirannya. Kenapa jadi gini sih, nilai 95 juga udah bagus kali batin Arga dengan kesal.


Kesal dengan papah nya yang terus mengekang untuk mendapatkan nilai bagus, bahkan adik tirinya juga di kekang.


"pah udah, Sheryl juga udah berusaha dapat nilai yang baik kan" Arga mulai bersuara. Berniat ikut membela Sheryl. Adik tirinya.


"Diam kamu, Arga. Papah tidak ada urusan denganmu!" ucap Andra dengan tegas membuat Arga kembali bungkam.


Tak lama terdengar suara motor memasuki pekarangan rumah. Ketiga orang tersebut mengalihkan pandangannya dan melihat siapa yang datang.


"assalamu'alaikum" ucap Sheryl sambil membuka pintunya. Dahi Sheryl berkerut, merasa atmosfer diruang tamu tidak baik.


"sayang, sudah pulang?" tanya mamah Lidya dengan senyum tipis. Sheryl mengangguk lalu ia berjalan mendekat mamah Lidya dan mencium punggung tangan mamanya.


"pulang sama siapa kamu Sheryl?" Tanya Andra dengan suara beratnya. Menatap putrinya tajam berhasil membuat sang empu menunduk.


"aku pulang sama temen yah"


"temen tapi lelaki" desis Andra sengaja menyindir.


Sheryl yang merasa terpojok kan oleh ayahnya, ia hanya bisa menunduk dalam. Rasanya ingin menangis.


Ayahnya memejamkan matanya sejenak, lalu menghela nafasnya kasar. "Masuk kamar, renungkan kesalahan kamu" ucap Ayahnya sembari menaruh kertas-kertas yang ia pegang dan memberi ke Sheryl. Lalu dirinya pergi.


Lidya tak tinggal diam. Ia yang berada disamping Sheryl langsung saja menarik putrinya ke dalam dekapannya.


"jangan dimasukkan hati ya sayang, nanti mamah yang bicara ke ayahmu" ucap mamahnya sambil mengelus rambut hitam Sheryl.


3 menit mereka berpelukan, lalu Sheryl melepaskan pelukannya dan mengambil kertas yang di kasih ayahnya.


"aku gapapa kok mah. aku ke kamar dulu" ucap Sheryl kepada mamahnya lalu dirinya pergi ke lantai atas dengan kepala menunduk.


Sedangkan Arga yang sedari tadi diam. Ia hanya fokus melihat Sheryl sampai ia menaikkan tangga.


"mah aku nyusul Sheryl" ucap Arga kepada mamahnya membuat mamahnya mengangguk. Mungkin Arga bisa menangkan Sheryl.


"ARGHHH!!!!" Teriak Sheryl. Melemparkan tasnya sembarangan, kertas-kertas yang ia pegang kini berserakan dilantai.


Tubuh Sheryl merosot kebawah, ia menangis. Mengeluarkan rasa sesak sedaritadi. Arga yang baru sampai di depan pintu, dengan cepat menghampirinya dan memeluk Sheryl.


"nangis aja sepuas lo!"


Sheryl tidak menolak, justru ia balik memeluk abangnya dengan erat. Ia meremas seragam Arga yang masih dikenakannya.


Arga mengelus punggung Sheryl dengan lembut, ia memenangkan Sheryl.


15 menit pelukan, Sheryl pun sudah mulai berhenti nangis. Perlahan Sheryl melepaskan pelukannya lalu menjauh dari Arga.


"udah gausah dipikirin ucapan ayah, lo mending mandi, badan lo bau keringet" ucap Arga membuat Sheryl reflek mengendus-endus seragamnya yang masih ia pakai.


"mana ada! Gue itu wangi ya!"


...>>>× × ×<<<...


Sheryl menuruni tangga dengan santai. Ia sesekali memandang sekitar mencari orang-orang. Kemana mereka? Apa mereka sudah tidur?.


"non udah bangun toh" ucap Bi Dewi ketika melihat Sheryl.


"iya bi"


"oh ya, yang lain kemana bi? kok sepi?" tanya Sheryl kepada bi Dewi.


"Pak Andra sama Bu Lidya ke Bandung non, kalo Den Arga masih di kamar" jawab Bi Dewi dibalas anggukan Sheryl.


Lalu Sheryl duduk di sofa ruang keluarga, ia sangat bosan sekarang. "kok mamah ga kasih tau sih" gumam Sheryl sambil mengerucut bibir nya. Tangannya sibuk mengganti channel tv. Tidak ada yang menarik, pikir Sheryl.


"AAA BOSENNN" Sheryl berteriak. Saking gabutnya ia guling-guling di lantai yang beralas karpet.


"kenapa lo dek?" tanya Arga yang baru keluar dari kamar nya.


Sheryl melihat kearah Arga dengan muka cemberut. Menggeleng kepalanya pertanda 'tidak apa-apa'.


Arga hanya mengangkat bahu nya tidak mempersalahkan. Lalu duduk di sofa single sambil menonton TV. Sedangkan Sheryl duduk di karpet dan fokus pada benda pipihnya.


...|Cecan halu|...


Rinda


•|SHERYL!!!!!!!!


Vella


•|Tolong keyboard nya


^^^Sheryl^^^


^^^•|apasih lo pada berisik^^^


Rinda


•|Lo masih hutang sama gue! gue otw rumah lo!!


Vella


•|Udah besok aja Nda, udah malem


Rinda


•|Lo mau ikut? ayok gue otw Vella


Vella


•|Besok ulangan mtk, ga mau belajar?


Rinda


•|Nyontek ke elo juga bisa


Vella


Rinda


•|Santai si Vel, belajar di rumah Sheryl juga bisa


Vella


•|Yudah lo jemput gue ya


Rinda


•|Oke! Ryl, jangan lupa siapin cemilan buat gue


^^^Sheryl^^^


^^^•|Sialan lo pada^^^


Sheryl misuh-misuh, Rinda emang ngeselin bagi Sheryl!


Dirinya beranjak dari duduknya dan pergi kedapur. Dibuka kulkas, tapi malah kosong! Akh sial banget Gerutu Sheryl.


Lalu ia melihat Arga yang masih santai di ruang keluarga. Apa gue minta dia aja ya?


"Arga"


"hm"


"Ish nengok dulu" ucap Sheryl dengan kesal. Arga langsung menatap Sheryl yang sudah berdiri di sampingnya.


"Kenapa?" Tanya Arga sambil menegakkan duduknya.


"Temenin gue ke alfa" Ucap Sheryl pelan. MALU! Apalagi ia gengsi.


Arga terkekeh kecil melihatnya, lalu mengangguk meng-iya kan aja kan Sheryl.


"yaudah, tapi pake jaket dingin soalnya" ucap Arga diangguki Sheryl yang semangat.


"Tapi pake duit lo ya??!"


...>>>× × ×<<<...


Disini Arga, mengikuti Sheryl yang sedari tadi sibuk memasukkan bermacam-macam chiki. Ini mah Sheryl seperti meloroti Arga!


Lihat saja, keranjangnya bahkan sampai penuh. "Ini ga kebanyakan?" Tanya Arga dengan sedikit tak yakin.


Sheryl menggeleng, "Temen gue mau nginep kerumah, apalagi ada Rinda" Ucapnya tanpa menoleh kearah Arga.


Arga hanya menghela nafas panjang. Mungkin hari kedepannya dia harus banyakin sabar. Apalagi adiknya sepertinya tidak akhlak banget.


"HEH udah malem! Gosah beli es krim!" Ucap Arga dengan cepat ketika melihat Sheryl ingin mengambil es krim.


"Ck. Satu doang elah"


"Gak!" Sheryl cemberut membuat Arga menghela nafas panjang.


"besok pulang sekolah aja belinya. Abang yang beliin" Ucap Arga. Sheryl hanya mengangguk dengan terpaksa. Lalu mereka berjalan ke kasir.


"totalnya dua ratus lima puluh tiga ribu" ucap mba kasir nya kepada Arga. Arga menyerahkan duit merah 3.


"uangnya tiga ratus, kembaliannya empat puluh tujuh ya kak. Terima kasih, selamat datang kembali!" Ucap mba kasirnya seraya memberi uang kembaliannya.


Arga hanya mengangguk lalu keluar dari Alfamart. Berjalan kearah mobil yang didalamnya sudah pasti ada Sheryl.


Dengan cepat Arga masuk kedalam mobil dan langsung menjalankan mobilnya.


Sesampai dirumah mereka langsung turun dan masuk kedalam rumah. Tapi nyatanya di ruang tamu sudah ada Rinda dan Vella yang sedang asik duduk sambil menonton film Indosiar.


"Abis kemana sih lo lama banget" Ucap Vella sambil menoleh kearah Sheryl. Dan ia melotot ketika disamping Sheryl ada lelaki yang statusnya murid baru di sekolahnya.


"LO KENAL MURID BARU INI?!" Teriak Rinda dan Vella bersamaan. Sedangkan sang empu hanya mendengus, ini bukan hutan asal mereka tahu!.


"Nanti gue ceritain. Ayo kekamar gue!" Ucap Sheryl dan di patuhi oleh keduanya. Apalagi Rinda yang tak sabar, bahkan Vella pun juga sama.


Sedangkan Arga, ia masih shock. Teriakan teman adiknya ini membuat kupingnya berdengung. Ah sial!.


Dikamar bernuansa biru ini. Ada ketiga gadis yang tak lain Sheryl dan kedua sahabatnya.


"Lo harus ceritain sedetail-detailnya pokoknya!" Ucap Rinda dengan cepat ketika Sheryl ingin membuka suara.


"Lo berisik! Katanya mau gue ceritain, gimana sih" sewot Sheryl kepada Rinda. Karna sedaritadi Rinda terus memotong ucapannya.


"iya-iya. Cepet makanya gue penasaran" Sheryl langsung melemparkan bantal ke muka Rinda. Kesel sama Rinda!


"SAKIT BEGO"


"Bodoamat!" ketus Sheryl.


"Lo pada kok malah berantem? Ayo katanya mau cerita" desak Vella yang sedaritadi diam. Ia jengah dengan kedua temannya.


Akhirnya Sheryl menceritakan semuanya. Tanpa di rahasiakan semuanya. Semuanya ia ceritakan kepada temannya.


"Jadi si ganteng itu, kaka tiri lo?!" ucap Vella dengan heboh membuat Rinda dan Sheryl mengerut dahinya bingung.


"Si ganteng? Siapa?" Tanya Sheryl dengan bingung. Apa Vella punya pacar? Kenapa dirinya tak tahu?.


Rinda menjentikkan jarinya seraya berucap heboh. "Lo suka sama abangnya Sheryl?!!"


"HAH?!!"


"ngaco banget lo" Ucap Vella dan langsung melemparkan bantal kemuka Rinda.


"Yaa abisnya lo bilangnya si ganteng, Kan gue jadi mikir yang enggak-enggak" Ucap Rinda membela dirinya.


"kan emang ganteng" celetuk Vella dengan polos sambil membuka chiki yang dibawa oleh Sheryl.


"Iya juga siih" gumam Sheryl menyetujui ucapan Vella. Memang kalo dilihat-dilihat abangnya ganteng. Apalagi alisnya yang tebak dan tubuhnya yang atletis itu.


"Hayoo lo belok juga kan ke abang lo"


"YA KALI ANJIR" Dan terjadilah pertengkaran antara Sheryl dan Rinda. Bertempur diatas kasur dengan senjata bantal dan guling. Dan Vella yang jadi penonton VVIP nya. Duduk di sofa yang di sediakan di kamar Sheryl, dan chiki Lays di pangkuannya.


Halo aku kembali lagi niee, sorry ga up-up, soalnya kemarin tugas numpuk🥺