
"Keringkan rambutku baby"
Perkataan itu membuat Diandra menurut lalu menghampiri suaminya yang baru saja selesai mandi setelah mereka pulang dari taman. Mengambil handuk yang diberikan suaminya Diandra mulai mengeringkan rambut Gibran dengan telaten.
Rambut Gibran cukup panjang hanya saja suaminya itu tidak mau potong rambut. Wangi sampo yang Gibran kenakan tercium oleh Diandra dan membuatnya tersenyum karena begitu wangi.
Tanpa sadar Diandra mendekat dan menciumnya membuat Gibran tersentak lalu menoleh.
"Ngapain hmm?" Tanya Gibran
"Wangi hehe"
"Kamu suka wanginya?" Tanya Gibran
Diandra mengangguk lalu berjalan untuk meletakkan handuknya dan mengambil sisir.
"Suka jangan diganti samponya ya?" Kata Diandra
"Hmm"
Mata Gibran terpejam ketika Diandra menyisir rambutnya, senang karena sekarang dia memiliki Diandra biasanya dia selalu melakukan apapun sendiri, tapi sekarang ada istrinya.
Mereka akan melakukan banyak hal bersama.
"Rambutnya panjang, kenapa gak dipotong?" Tanya Diandra
"Belum terlalu panjang dan aku juga belum risih nanti saja." Kata Gibran
Diandra hanya mengangguk faham lalu dia tersenyum setelah selesai dan ketika ingin meletakkan sisirnya Gibran menariknya hingga Diandra kini berada dipangkuannya. Mereka berdua tersenyum lalu Diandra memeluknya dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
Pernikahan mereka baru saja berjalan dan masih banyak hal yang menunggu di depan sana, entah kebahagiaan atau kesedihan.
"Daddy"
"Iya baby? Butuh sesuatu?" Tanya Gibran
Diandra mendongak dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Katakan saja." Kata Gibran sambil mengusap pipinya dengan lembut
Menatap suaminya dengan ragu Diandra bertanya dengan suara pelan dan raut wajah sedih.
"Kamu menikahi aku bukan karena anak yang aku kandung aja kan? Bukan karena rasa bersalah juga kan?" Tanya Diandra
"Kenapa bilang gitu hmm?" Tanya Gibran
"Gak tau aku takut nanti Daddy ninggalin aku setelah anak ini lahir." Kata Diandra
"Kamu gak ingat kalau aku melamar kamu jauh sebelum kamu hamil?" Tanya Gibran
Diandra diam dan menatapnya dengan raut wajah lugu.
"Ingat aku pernah bilang kalau aku akan melakukan apapun untuk memiliki kamu?" Tanya Gibran lagi
"Ingat"
"Aku tidak pernah berniat melakukan hal itu sebelum kita menikah, tapi melihat kamu begitu dekat dengan Sagara bahkan diam ketika pria itu mendekatan wajahnya aku marah sangat marah," Kata Gibran.
Bahkan ketika menceritakannya saja wajah Gibran memerah dan rahangnya mengeras, menunjukkan kalau dia memang marah.
"Aku marah karena kamu membiarkan orang lain menyentuh kamu dan rasa cemburu serta amarah itu yang membuat aku melakukannya hingga membuat kamu hamil," Kata Gibran.
Helaan nafas terdengar bersamaan dengan ciuman yang Diandra rasakan dikeningnya.
"Aku tidak menyesal karena akhirnya kamu menikah denganku meskipun perbuatanku juga tidak bisa dibenarkan, tapi Diandra aku tidak mungkin meninggalkan kamu atau anak kita, tidak akan pernah baby." Kata Gibran
Diandra menatapnya untuk waktu yang lama lalu mengusap pipi Gibran dengan lembut hingga membuat pria itu memejamkan matanya.
"Maaf aku terlalu pengecut untuk bisa lari dari masa lalu semua hal buruk yang menghantui aku membuat aku tidak bisa melangkah maju," Kata Diandra.
Mata Gibran terbuka dan menatap Diandra yang tersenyum padanya.
"Aku selalu merasa bersalah karena terus membuat kamu menunggu dan ketika aku lari itu semua bukan karena aku kecewa atau ingin menggugurkan kandungan ini, tapi aku bingung entah aku akan menjadi Ibu yang baik atau tidak." Kata Diandra
"Tentu saja, kamu akan menjadi istri dan Ibu yang baik." Kata Gibran
Diandra tersenyum dan mengangguk lalu dia melingkarkan tangannya pada leher Gibran menariknya mendekat untuk memberikan sebuah ciuman.
Dengan penuh kelembutan Diandra bergerak lembut membuat Gibran menutup matanya dan meraih tengkuk Diandra untuk memperdalam ciuman mereka.
Sungguh hanya Diandra yang mampu membuatnya begini.
Diandra tidak membiarkan Gibran menjauh dan malah semakin mendekatkan dirinya hingga mereka terbaring di sofa. Mata Gibran menatap Diandra yang kini terengah karena hampir kehabisan nafas.
"Daddy"
"Ya baby?"
Diandra tersenyum dan menciumnya lagi lalu berbisik ditelinganya.
"Wanna play?"
Mana mungkin Gibran berani menolaknya.
¤¤¤
Senyum Gibran mengembang ketika dia melihat Diandra yang tertidur karena kelelahan akibat ulahnya sendiri. Sekarang sudah masuk malam dan Diandra baru saja tertidur, tapi tidak dengan Gibran dia masih terjaga sambil menatap wajah istrinya yang terlihat begitu cantik meski tanpa polesan make up.
Dengan lembut Gibran mengusap pipi istrinya, tapi tidak membuatnya terbangun karena Diandra memang benar-benar kelelahan. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan hal itu selama kehamilan istrinya hanya saja Diandra yang memulainya.
Salah satunya dari Anetta.
Wanita itu entah kenapa sekarang Gibran kesal sendiri karena kejadian di studio foto.
Gibran aku ingin bicara
Kumohon angkatlah telponku
Aku hanya ingin bicara sungguh
Tak lama setelah dia membaca pesannya wanita itu benar-benar menelpon hingga Gibran memutuskan untuk mengangkatnya.
"Ada apa Anetta?" Tanya Gibran pelan
'Bisakah kita bicara besok?'
"Bicarakan saja sekarang akan aku dengarkan." Kata Gibran
'Aku ingin bicara langsung'
"Besok siang? Datanglah tepat waktu aku tidak mau menunggu dan jangan terlalu lama istriku tidak bisa ditinggal." Kata Gibran
Tak ada jawaban untuk sesaat hingga Anetta menyetujuinya dan menutup telpom begitu saja.
Menggelengkan kepalanya pelan Gibran membuka pesan dari Papa nya yang menanyakan tentang mereka.
Bagaimana dengan menantu Papa?
Tanyakan apa keinginannya dulu Mama kamu selalu ingin hal yang aneh-aneh ketika hamil
Membaca itu Gibran tersenyum karena Diandra belum memiliki keinginan aneh dan semoga saja tidak, tapi kalau memang iya Gibran juga tidak akan menolaknya.
^^^Baik Pa dia sedang tidur sekarang^^^
^^^Iya Pa nanti malam dia ajak aku jalan-jalan^^^
Selesai membalas pesan dan mengabaikan beberapa pesan yang tidak terlalu penting Gibran pergi ke dapur untuk membuat kopi.
Setelahnya Gibran kembali ke kamar sambil membawa kopi miliknya lalu duduk di sofa dan mengambil laptopnya. Saat benda itu menyala Gibran membuka salah datu folder bertuliskan Diandra dan langsung membukanya.
Ada ratusan foto yang dia ambil secara diam-diam.
Dimulai ketika Gibran masih belum berani mengungkapkan perasaannya.
¤¤¤
Sesuai janji sekarang keduanya berada di pasar malam untuk berjalan-jalan, tidak menaiki wahana hanya pergi untuk membeli beberapa makanan yang memang Diandra inginkan. Terlihat sekali kalau Diandra sangat senang bahkan senyumnya mengembang dengan lebar setiap kali dia meminta makanan.
Sudah banyak sekali yang mereka beli entah arum manis, kerak telor, martabak dan beberapa makanan yang lainnya. Seolah tidak kenyang Diandra mengajak Gibran untuk membeli nasi goreng, tentu saja dia tidak bisa menolak.
Sekarang mereka berada disini duduk berhadapan sambil menunggu nasi goreng yang dibuat siap. Tempatnya cukup ramai hingga Gibran sedikit merapatkan tubuhnya pada Diandra dan merangkulnya.
"Habis ini mau apa?" Tanya Gibran
"Emm pulang." Kata Diandra
"Tidak mau yang lain?" Tanya Gibran memastikan
"Tidak mau pulang terus tidur." Kata Diandra
Gibran mengangguk faham dan sesaat setelahnya pesanan mereka datang membuat Diandra tersenyum senang lalu makan dengan lahap. Tentu saja Gibran senang melihatnya, tapi dia melarang Diandra untuk meminum ea dan memilih untuk memesan teh hangat saja.
Ini sudah malam, jadi tidak boleh.
Tak butuh waktu lama Diandra sudah menghabiskan nasi gorengnya membuat Gibran tersenyum lalu megambil tissue dan mengusap sudut bibirnya.
"Makasih"
Setelah sama-sama selesai Gibran mengajak Diandra untuk pulang dan mereka berjalan keluar dari pasar malam, tapi langkah Diandra terhenti ketika dia melihat sesuatu.
"Mau beli ituu"
Gibran ikut berhenti dan melihat Diandra yang menunjuk penjual roti bakar.
"Makan disini?" Tanya Gibran
Diandra menggelengkan kepalanya pelan dan mengatakan kalau itu untuk dirumah. Mengangguk singkat Gibran menuruti keinginan istrinya lalu dia langsung memilih.
"Aku mau coklat sama strawberry." Kata Diandra
Sambil menunggu pesanan Gibran merangkul istrinya dan sesekali memberikan usapan di puncak kepalanya. Sekitar sepuluh menit pesanan mereka selesai lalu Gibran menanyakan lagi apa yang Diandra inginkan dan istrinya menggelengkan kepalanya pelan.
Akhirnya mereka pergi ke tempat dimana Gibran memarkirkan mobilnya lalu masuk ke dalam. Senyum Diandra mengembang dia meletakkan roti bakarnya di atas dashboard.
"Makasih untuk malam ini." Kata Diandra sambil tersenyum
Gibran mengangguk singkat dan mulai melajukan mobilnya.
Diperjalanan mata Diandra terpejam dia mulai pergi ke alam mimpinya membuat Gibran tersenyum melihatnya. Hingga sampai di apartemen Diandra tetap tidur bahkan ketika Gibran membangunkannya Diandra merengek.
Akhirnya Gibran memutuskan untuk menggendongnya sampai ke apartemen lalu menidurkannya di ranjang dan melepaskan sepatu yang dia pakai. Menarik selimut Gibran mencium kening istrinya dan mengusap lembut puncak kepalanya.
"Good night baby"
¤¤¤
Update lagi nihh hehe😂