OBSESSION

OBSESSION
Diandra dan Alana



Seiring berjalannya waktu perut Diandra mulai membesar membuat keduanya merasa sangat senang apalagi Gibran yang jadi semakin gemas dengan istrinya yang semakin berisi. Bulan kelima sudah datang kemarin mereka habis pergi ke dokter untuk periksa dan kabar baiknya anak mereka sangat sehat di dalam sana.


Semakin bertambah usia kandungannya Diandra juga semakin manja dengan suaminya, entah di rumah atau di luar rumah bahkan Diandra tidak malu atau canggung meskipun dia memeuk hingga mencium pipi suaminya di depan orang lain. Sekarang mereka berdua merasa begitu bahagia dengan kehidupan pernikahan, Diandra semakin bersyukur karena sudah bertemu dengan Gibran.


Suaminya tidak pernah mengeluh meskipun Diandra bersikap menyebalkan atau memiliki permintaan yang aneh dengan sabar Gibran menghadapinya. Padahal mertuanya bilang Gibran itu orangnya tidak sabaran dan mudah sekali marah, tapi kalau mudah marah itu Diandra juga tau suaminya memang mudah terbawa emosi.


"Hmm"


Gumaman Gibran terdengar ketika Diandra mencubit pipinya padahal suaminya itu masih tertidur lelap setelah semalaman dia tidak tidur karena harus menuruti Diandra. Belakangan ini Diandra memang selalu tidur larut malam bahkan pernah tidak tidur dan malah tidur seharian ketika pagi sudah datang.


"Bangunnnnn"


Diandra mencubit pipinya lagi hingga membuat mata Gibran terbuka sebentar, tapi pria itu kembali menutupnya dan menarik Diandra yang ada di dalam pelukannya agar mendekat.


"Ngantuk sayang biarkan aku tidur dulu sebentar." Kata Gibran serak


Diandra suka sekali dengan suara Gibran ketika baru bangun tidur, serak.


"Tapi, aku laparr." Kata Diandra


"Makan apa hmm?" Tanya Gibran masih dengan suara seraknya


Saat ini Diandra dapat merasakan hembusan nafas pria itu di lehernya yang membuat Diandra merasa merinding juga geli.


"Aku mau makan omelette." Kata Diandra


"Hmm"


"Yaudah Daddy lepasin dulu aku mau masak." Kata Diandra


"Tidak mau mandi dulu?" Tanya Gibran


"Emm nanti sajaa mau makan dulu." Kata Diandra


Mengangguk singkat Gibran menjauhkan tubuhnya membuat Diandra tersenyum. Sebelum pergi dia mengusap kepala suaminya dengan sayang dan memberikan ciuman singkat dibibirnya.


"Kalau masih ngantuk tidur aja dulu nanti aku bangunkan lagi." Kata Diandra


Gibran tersenyum lalu mengangguk sebagai jawaban dan menatap istrinya yang berjalan keluar dari kamar, dia ingin membantu Diandra, tapi matanya benar-benar terasa berat hingga Gibran memutuskan untuk tertidur lagi.


Di sisi lain Diandra yang kini sudah berada di dapur membuka kulkas untuk mengambil beberapa sayuran. Ada daun bawang, wortel, bawang bombay, dan sosis yang dia ambul dari dalam kulkas.


Dia akan membiarkan suaminya tidur dulu selagi dia masak karena tadi malam Diandra mengacau tidur suaminya. Semalaman Diandra minta diusap kepalanya dan mengajak suaminya mengobrol hingga pukul tiga padahal mata Gibran terlihat sekali sudah mengantuk tadi malam.


"Aku bakal masak yang enak untuk Kak Gibran." Gumam Diandra dengan senyum manisnya


Cukup lama Diandra berkutat di dapur untuk membuat omelette serta capcay sebagai sarapan dia dengan suaminya. Hari sudah semakin terang ketika Diandra selesai memasak dan setelah menata semuanya di meja Diandra bergegas kembali ke kamar.


Senyumnya mengembang melihat Gibran yang masih tertidur dengan sangat lalap, dia janji tidak akan mengacau tidur suaminya nanti malam.


Naik ke atas ranjang Diandra membangunkan suaminya dengan mencubit pipinya pelan dan sekali lagi Gibran hanya bergumam sambil menutup wajahnya dengan bantal.



"Daddy bangun aku sudah selesai masak." Kata Diandra sambil mencubit pipinya lagi


"Hmm"


Mengerucutkan bibirnya sebal Diandra kini mengusap pipi suaminya dan memberikan ciuman singkat di bibirnya.


"Bangunnnn"


Berhasil kali ini Gibran membuka matanya dan menatap Diandra dengan senyuman.


"Lagi, cium lagi biar gak ngantuk." Kata Gibran membuat Diandra berdecak kesal dan mencubit lengannya


Tertawa kecil Gibran menyingkap selimutnya dan bangun lalu mencium Diandra sebentar.


"Aku cuci muka dulu ya?" Kata Gibran


Diandra tersenyum dan mengangguk singkat.


Tidak butuh waktu lama Gibran keluar dari kamar mandi dan menghampiri Diandra sambil mengulurkan tangannya.


"Ayo makan"


Menyambut uluran tangan suaminya mereka pergi ke ruang makan dan Diandra langsung meminta suaminya untuk duduk lalu mengambilkan makan untuknya.


"Baby"


"Iya"


"Nanti malam aku harus pergi ke acara perusahaan Papa, kamu mau ikut?" Tanya Gibran


Diandra terdiam sejenak lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Enggak mau"


"Yakin? Kenapa tidak mau?" Tanya Gibran


"Hmm enggak papa akunya malas aja." Kata Diandra


"Kalau gitu aku boleh pergi? Kalau tidak boleh nanti aku bilang Papa." Kata Gibran


Menyerahkan piringnya pada suaminya Diandra tersenyum dan mengatakan kalau Gibran boleh pergi, apa kata mertuanya kalau dia melarang Gibran pergi?


"Ada peraturan yang harus aku ikuti baby?" Tanya Gibran


"Hmm adaaa! Daddy tidak boleh dekat-dekat dengan wanita lain dan Daddy tidak boleh pulang terlalu larut." Kata Diandra


"Jam sepuluh, oke?" Kata Gibran


"Oke jam sepuluh." Kata Diandra dengan senyuman


"Baiklah sekarang kita makan, mau disuapin atau..."


"Makan sendiri aja." Kata Diandra


"Habis ini kita ke butik ya? Apa kamu mau di rumah?" Tanya Gibran


"Ikuttt"


"Habis ini mandi." Kata Gibran


Diandra mengangguk sebagai jawaban, tapi perkataan Gibran setelahnya membuat dia mendongak dan menatapnya dengan sebal.


"Mandi sama aku"


Memang menyebalkan sekali suaminya, tapi Diandra tidak bisa menolak.


Ide itu tidak terlalu buruk juga.


¤¤¤


"Kak Araa"


Saat sampai di butik ternyata Sahara juga ada disana dan hal itu membuat Diandra senang lalu pergi ke ruang kerja Sahara sambil menggandeng tangan Alana. Sedangkan Gibran dia harus melakukan pemotretan biasanya sampai siang, jadi Diandra akan menghabiskan waktunya bersama dengan Sahara saja.


Di dalam ruang kerja milik Sahara mereka duduk di sofa dengan Diandra yang memangku Alana dan mencium pipinya berkali-kali. Sejak dulu Diandra selalu gemas dengan anak-anak Sahara entah itu Airlangga atau Alana bahkan dia tidak sabar menunggu Sahara melahirkan bayi lucu lagi.


"Antee pelutnya cepelti Mami, tapi Mami lebih besal." Kata Alana


"Tentu sayang Tante Diandra juga akan punya adik bayi." Kata Sahara membuat anaknya itu tersenyum dan menatap Diandra dengan mata berbinar


"Benal Ante?" Tanya Alana


Diandra mengangguk dan mencium pipi Alana lagi.


"Benar Ana sebentar lagi Ana bakal punya adik dua." Kata Diandra


Senyum Alana semakin mengembang dia mengusap perut Diandra sebentar lalu mendongak dan menatap Diandra dengan penuh kebahagiaan.


"Adiknya pelempuan apa laki-laki Ante?" Tanya Alana


"Belum tau Ana." Kata Diandra


Alana mengangguk faham lalu turun dari pangkuan Diandra dan menghampiri Sahara yang ada di sebelahnya.


"Mami Mamii adik bayinya Ante Andla Papinya ciapa?" Tanya Alana membuat Sahara tertawa mendengarnya


"Paman Iban"


Jawaban itu membuat Alana memasang wajah terkejutnya, tapi dia melompat senang setelahnya membuat Diandra dan Sahara tertawa kecil melihatnya.


"Ante Andla Maminya dan Paman Iban Papinya ya?" Kata Alana dengan wajah lucunya


"Iya Ana"


"Yee nanti Ana punya temen balu." Kata Alana


"Ana senang?" Tanya Sahara


Alana mengangguk dengan semangat dia duduk disamping Diandra lalu mendekatkan kupingnya ke perut Diandra membuat Diandra tersenyum dan mengusap puncak kepala Alana dengan sayang.


"Nanti adik bayinya tampan cepelti Paman Iban." Kata Alana


Sahara menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah anaknya memang Alana itu sangat suka dengan Gibran bahkan kalau sudah lama tidak bertemu selalu menanyakan.


"Ante beli esklim yukk." Ajak Alana sambil menjauhkan wajahnya


"Ana mau ice cream?" Tanya Sahara


"Mau Mami"


"Yaudah beli sama Tante yuk." Kata Diandra


"Hati-hati ya Diandra." Kata Sahara membuat Diandra tertawa kecil mendengarnya


"Dekat Kak"


Sahara hanya tersenyum, tetap saja dia takut Diandra sedang hamil sekarang.


Menggandeng tangan Alana sekarang mereka keluar dari ruang kerja Sahara dan Gibran langsung menoleh kemudian menghampiri mereka sebentar masih dengan kamera yang menggantung dilehernya.


"Mau kemana?" Tanya Gibran


"Mau beli esklimm." Jawab Alana


Gibran tersenyum dan mencubit pipi Alana pelan lalu meminta mereka untuk berhati-hati.


Setelah itu Diandra bersama Alana berjalan keluar dan pergi ke super market yang letaknya tidak terlalu jauh dari butik. Sebelumnya Diandra juga sering kesana untuk membeli makan atau ketika Sahara yang meminta untuk dibelikan sesuatu.


Alana berjalan tenang disamping Diandra dengan tangan mungilnya yang digenggam, tapi begitu melihat sesuatu matanya berbinar.


"Antee ada balon Ana mau beli balon yang belbii." Kata Alana dengan semangat


Diandra ikut mengalihkan pandangannya ke sebrang dan melihat penjual balon disana baru ingin mengatakan sesuatu Alana melepaskan tangannya dan berlari membuat Diandra melotot sambil bergegas menyusulnya. Memang bukan jalan raya, tapi ada banyak pengendara yang ngebut biasanya dan hal itu bahaya.


"Anaaa"


Berhasil, Diandra mendapatkan Alana beruntung tidak ada mobil atau motor.


"Tungguin Tante jangan lari gitu bahaya sayang." Kata Diandra


"Maap Ante habisnya Ana mau balon." Kata Alana


Menghela nafasnya pelan Diandra tersenyum dan mengajak Alana untuk membeli balon. Setelah mendapat apa yang dia inginkan Alana tersenyum senang membuat Diandra juga ikut senang melihatnya.


Anak kecil terkadang memang tidak tau bahaya.


¤¤¤


Yuhuu aku updatee😚