OBSESSION

OBSESSION
Jangan Pergi



Berkali-kali Gibran mengetuk pintu sambil berusaha memanggil Diandra yang mengurung dirinya di kamar setelah melihat berita yang menghancurkan hatinya. Rasa takut menghantui Gibran hingga dia mengabaikan semua panggilan telpon yang masuk dan hanya fokus pada Diandra yang belum juga keluar.


Suara isakan yang terdengar membuat Gibran merasa semakin bersalah juga cemas, meskipun sudah lama dia yakin kalau hal itu menyakiti Diandra. Berita sialan yang kembali muncul ketika dia dan Diandra sedang penuh dengan kebahagiaan.


Siang tadi Diandra melihat beritanya melalui ponsel miliknya dan hal itu membuat dadanya sesak bukan main lalu berlari ke kamar dan menguncinya.


"Diandra sayang buka pintunya dan biarkan aku bicara"


Suara Gibran hampir terdengar putus asa, tapi dia tidak mau pergi meski hanya sebentar. Tangannya tidak lelah untuk mengetuk pintu dan mulutnya pun tidak lelah untuk memanggil Diandra.


"Jangan menangis sayang"


Di dalam sana Diandra menutup wajahnya dengan bantal untuk meredam tangisnya. Selain foto yang menyakiti hatinya dia juga membaca beberapa komentar yang menusuk hatinya.


Entah istrinya wanita keberapa yang dia tiduri


Aku fikir dia sudah berganti-ganti pasangan


Apa istrinya juga wanita club malam yang dia tiduri hingga hamil?


Aku yakin istrinya juga sama saja dengan wanita yang pernah dekat dengannya


Dadanya sesak sekali sekarang dia juga mendengar ponselnya yang terus berdering juga ketukan yang tidak pernah berhenti. Nafas Diandra tidak beraturan karena isak tangisnya dia ingin berteriak.


Entah berapa lama hingga dia mendengar suara seruan dari luar yang dia tau milik siapa.


"GIBRAN!"


Mertuanya mendadak Diandra cemas dia takut kalau Gibran akan dipukul, tapi dia tidak mau keluar dan melihat wajah suaminya.


Tidak untuk sekarang.


Kembali pada Gibran yang menoleh ketika melihat orang tuanya datang dan menatapnya dengan tajam. Gibran tidak takut dia akan membiarkan kalau Farhan memukulnya lagi.


"Ikut Papa Gibran!" Kata Farhan


"Pa aku harus bicara dengan Diandra." Kata Gibran pelan


"Ikut Papa sekarang!" Bentak Farhan


Menghela nafasnya pelan Gibran mengikuti langkah kaki Farhan yang mengajaknya turun. Di atas Dara mengetuk pintu dan meminta menantunya agar keluar.


"Sayang ini Mama buka pintunya Gibran sudah pergi sama Papa." Kata Dara sambil mengetuk pintu


Tidak ada sahutan, tapi beberapa saat setelahnya pintu kamar terbuka membuat Dara segera masuk dan memeluk menantunya. Tangis Diandra kembali terdengar membuat Dara memeluknya dengan erat sambil mengumpat pada anaknya yang membuat wanita sebaik Diandra menangis.


Isakan terdengar keras membuat Dara mengusap punggungnya dan mengaja Diandra untuk duduk. Dengan penuh kelembutan Dara menghapus air mata menantunya.


"Mama... Kak Gibran... dia jahat..."


Tangisan Diandra semakin deras hingga nafasnya terengah dan membuat Dara cemas melihatnya.


"Hey tenang sayang Mama disini." Kata Dara sambil mengusap punggungnya dengan lembut


Nafas Diandra semakin tak beraturan membuat Dara semakin cemas dan bergegas mengambilkan minum yang ada di nakas.


"Minum sayang"


Dengan dibantu Dara dia meminum air yang diberikan mertuanya dengan perlahan, sesak.


"Mama sesak..."


Semakin cemas Dara meminta Diandra untuk berbaring dan menghapus air matanya dengan lembut.


"Mama disini sayang Mama disini." Bisik Dara


Diandra menangis lagi membuat Dara menghapus air matanya dengan penuh kelembutan.


Disisi lain Gibran berusaha menjelaskan semuanya pada Farhan tentang foto lama itu dan bagaimana semuanya bisa terjadi. Berkali-kali Farhan memijat dahinya karena merasa pusing dengan semuanya.


Semua tetap salah dan sekarang pun sama entah itu foto lama atau baru tetap saja Diandra terluka. Sekarang mereka cemas dengan Diandra yang mungkin saja kabur atau mengalami hal buruk ketika kehamilannya.


"Setelah ini Mama akan bawa Diandra pergi selesaikan masalah kamu sebelum menemui dia." Kata Farhan


"Pa jangan begini." Kata Gibran


"Lalu apa?! Biarkan Diandra tenang selesaikan masalah kamu dan jangan berani menemui Diandra sebelum semuanya selesai! Dia sedang hamil kalau kamu lupa." Bentak Farhan


Gibran mengumpat sambil mengusap kasar wajahnya, tidak peduli meski dia melakukannya di hadapan Farhan sekarang.


"Ahh brengsek!"


Tak sampai disitu seruan Dara dari atas membuat mereka berdua bergegas menaiki tangga dan pergi ke kamar. Sampai disana wajah Gibran semaki panik melihat Diandra yang memejamkan matanya.


"Diandra"


"Pa kita bawa ke rumah sakit atau klinik, cepat." Kata Dara cemas


Farhan mengangguk dan Gibran langsung menggendong Diandra smabil berusaha memanggil namanya pelan. Memasuki mobil Farhan melajukan mobilnya secepat mungkin dan pergi ke klinik karena itu yang terdekat dari villa.


Sekitar sepuluh menit mereka sampai dan Gibran langsung membawa Diandra masuk ke dalam klinik. Kepalanya pusing sekarang dia takut kalau sesuatu sampai terjadi pada Diandra.


Dia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.


Selagi menantunya ditangani Dara menghampiri anaknya dan memukul lengannya berkali-kali.


"Mama bilang berhenti main-main Gibran! Mama bersumpah tidak akan memaafkan kamu kalau menantu dan cucu Mama sampai kenapa-kenapa." Kata Dara marah


Gibran hanya diam dia menunggu sampai akhirnya seorang wanita dengan jas putih keluar dari ruangan.


"Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Gibran cemas


"Dia sedang hamil jangan biarkan dia terlalu banyak berfikir apalagi stress itu bisa membahayakan janinnya." Kata wanita itu


"Boleh aku masuk?" Tanya Gibran


"Tentu anda suaminya." Katanya sambil tersenyum


Tanpa banyak bicara Gibran masuk ke dalam dan melihat Diandra yang masih memejamkan matanya.


Diusapnya dengan lembut tangan Diandra hingga dia merasakan tangan itu bergerak dan ketika Gibran mendongak mata Diandra perlahan terbuka.


"Diandra"


Melihat suaminya Diandra terdiam dan berusaha menarik tangannya, tapi Gibran menahannya.


"Diandra"


Diandra mengalihkan pandangannya dan terus berusaha menarik tangannya, jangan sekarang dia tidak mau bicara dengan suaminya.


"Diandra ayo kita pergi"


Suara itu bukan dari Gibran, tapi Dara yang baru saja masuk ke dalam bersama dengan Farhan.


"Mama"


"Diandra pergilah sama Mama." Kata Farhan


Diandra mengangguk dan menatap Gibran yang tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Diandra"


Tapi, Diandra malah menarik tangannya dan dengan dibantu oleh Dara dia turun dari ranjang.


Meninggalkan Gibran.


¤¤¤


Nih satu lagi😆


Kemaleman gak yaa inii😂