OBSESSION

OBSESSION
Perhatian



"Dia yang mulai Kakk"


Berkali-kali Diandra mengatakan hal yang sama sambil memeluk Gibran dengan erat dan Gibran hanya bisa mengusap kepalanya dengan lembut, padahal sudah berkali-kali Gibran katakan kalau dia percaya. Ya, Gibran percaya karena dia sangat tau Diandra yang tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa ada alasan dan lagi Diandra itu wanita yang lembut, jadi pasti ada alasan kenapa wanita itu sampai menjambak Anetta.


Meskipun dia dan Anetta berteman baik Diandra calon istrinya juga Ibu dari anaknya, jadi dia harus mendengar penjelasan darinya dulu. Selain itu bukan sekali dua kali juga Gibran mendengar kabar atau berita bahwa tentang sika Anetta yang dinilai tidak sopan, meskipun hal itu tidak berlaku ketika wanita itu bersamanya.


Gibran mencoba untuk menumbuhkan kepercayaan di hati Diandra bahwa dia benar-benar percaya.


"Iya sudah berhenti menangis." Kata Gibran


Dia melepaskan pelukannya lalu Gibran menghapus air mata itu dengan sayang sambil tersenyum.


"Aku percaya, tapi ceritakan apa yang Anetta katakan hingga membuat calon istriku ini marah?" Kata Gibran


Diandra yang memang sudah tidak terisak lagi mengatakan semuanya dan membuat Gibran sedikit tidak percaya juga merasa marah kalau hal itu memang benar.


Hanya saja Diandra tidak mungkin berbohong.


"Aku enggak tau tangan aku refleks jambak dia soalnya kesal aku marah." Kata Diandra


"Iya sayang, udah jangan difikirin lagi sekarang makan." Kata Gibran


"Sudah gak mau makan itu." Kata Diandra membuat Gibran menatapnya


"Mau apa?" Tanya Gibran dengan lembut


"Beliin aku mie ayam." Kata Diandra


"Mau makan disini?" Tanya Gibran


"Enggak disana aja, ayuk kita pergi terus nanti langsung pulang." Kata Diandra


Mengangguk faham Gibran mengusap pipinya dengan lembut lalu menggenggam tangan Diandra dan mengajaknya untuk keluar. Kembali memasuki mobil Gibran melajukan mobilnya ke salah tempat penjual mie ayam yang tadi Diandra katakan.


Wanita itu bilang dia sering kesana dan mie ayamnya sangat lezat, jadi Gibran hanya menurut saja.


Selama perjalanan Diandra fokus dengan ponselnya dan berbalas pesan dengan Natasya yang sejak kemarin menanyakan keadaannya. Sesekali Diandra tersenyum ketika membaca pesan yang temannya itu kirimkan dan membuat Gibran melirik dengan penasaran.


Hey kamu sebentar lagi akan jadi istri orang haha berhentilah bercanda


Kamu mendahului aku Diandra jahat sekali :(


Tawa kecil Diandra terdengar membuat Gibran semakin menatapnya dengan penasaran.


"Kenapa? Siapa yang mengirim pesan?" Tanya Gibran


"Natasya"


Gibran merasa lega mendengar jawaban itu karena dia fikir calon istrinya itu sedang berkirim pesan dengan pria lain.


"Dia akan datang di pernikahan kita?" Tanya Gibran


"Hmm dia akan datang kalau tidak aku akan sangat marah padanya." Kata Diandra membuat Gibran tertawa kecil mendengarnya


"Kalian sangat dekat ya?" Tanya Gibran


"Iyaa dekatt sekali Natasya selalu bantuin aku bahkan dulu setelah lulus dia minta aku untuk kerja di cafe Ayahnya, tapi aku tidak mau." Kata Diandra


"Kenapa?" Tanya Gibran


"Aku terlalu sering merepotkan mereka dulu orang tua Natasya sering sekali mengirim makanan untukku bahkan memberi uang juga." Kata Diandra dengan senyuman


"Mereka peduli pada kamu." Kata Gibran membuat Diandra mengangguk setuju


"Waktu aku sakit Natasya selalu datang untuk jagaiin aku dan ketika aku butuh uang mereka selalu membantu, tapi setiap mau membayar mereka tidak mau menerimanya makanya aku tidak ingin lebih merepotkan lagi." Kata Diandra


Gibran hanya tersenyum menanggapinya, hati Diandra memang begitu lembut.


Setelah sampai di tempat yang Diandra inginkan mereka langsung turun dan Diandra terlihat begitu bersemangat hingga menarik tangan Gibran untuk bergegas. Salah satu ruko yang terletak di pinggir jalan adalah tempat penjual mie ayam langganan Diandra.


Mereka memesan dan Diandra menunggu dengan tidak sabar membuat Gibran tersenyum melihatnya. Beberapa hari belakangan Diandra memang memiliki banyak permintaan untuk makan.


Bahkan kemarin malam dia diam-diam keluar untuk membeli ketoprak beruntung Dara melihatnya dan memarahi Diandra karena tidak mau bilang.


"Kamu terlihat sangat bersemangat." Kata Gibran


"Heem aku sukaa sekali mie ayam disini." Kata Diandra


Setelah pesanan mereka datang Diandra semakin senang dan langsung menyantap makanannya tanpa banyak bicara. Senyum Gibran semakin mengembang melihat wanita itu makan dengan sangat lahap.


Bahkan ketika miliknya masih setengah Diandra sudah habis lalu minta untuk pesan satu lagi.


"Kak mau satu lagi, boleh?" Kata Diandra dengan penuh harap


Gibran tersenyum dan mengangguk lalu memesan satu lagi.


"Setelah ini mau langsung pulang?" Tanya Gibran


"Hmm mau pulang." Kata Diandra


"Belumm"


Gibran mengangguk dan mengusap pipi Diandra dengan lembut membuat wanita itu tersenyum lebar.


Perlahan ketakutannya hilang.


Rasa percayanya akan sebuah hubungan kembali muncul.


Keyakinannya untuk menikah semakin kuat.


Berkat Gibran.


¤¤¤


Hoek


Sudah hampir setengah jam Diandra berada di kamar mandi dan muntah hingga wajahnya terlihat pucat membuat Gibran merasa cemas, tapi Dara memintanya untuk tidak khawatir. Semua makanan yang dimakan kembali Diandra keluarkan dan sekarang tubuhnya sakit semua hingga dia memegang erat lengan Gibran ketika rasa pusing menyerangnya.


Tanpa berfikir lagi Gibran menggendongnya dan membaringkan Diandra di ranjang. Tangan Diandra kini menyentuh dahinya dan membuat Gibran ikut meletakkan tangannya disana.


Dara tersenyum dia seolah melihat Farhan ketika dia sedang mengandung dulu, penuh kecemasan.


"Mama akan buatkan teh hangat." Kata Dara


Hanya anggukan yang Gibran berikan dan dia mengusap dahi Diandra yang sedikit berkeringat.


"Pusinggg"


Diandra merengek dan memiringkan tubuhnya sambil mempererat genggaman tangannya pada Gibran, kepalanya pusing sekali.


"Aku harus apa?" Tanya Gibran bingung


"Kepalanya pusingg." Rengek Diandra lagi


Gibran memijat pelan dahi Diandra, tapi wanita itu sekarang memegang perutnya.


"Kenapa? Perutnya sakit?" Tanya Gibran sambil ikut menyentuh perut ratanya


Diandra menggelengkan kepalanya pelan, dia mual sangat mual.


Tak lama setelahnya Dara datang dan meminta Diandra untuk duduk lalu membantunya meminum teh hangat yang sudah dia buat.


"Apa yang kamu rasakan sayang?" Tanya Dara


"Pusing terus mual." Kata Diandra pelan


"Istirahat ya?" Kata Dara


Diandra hanya mengangguk dan kembali berbaring lalu memejamkan matanya.


Saat Gibran bangun dari duduknya Diandra menahan lengannya sambil menggelengkan kepalanya pelan. Seolah faham Dara pergi keluar kamar dan meminta Gibran untuk tidak melakukan apapun lalu kembali ke kamarnya sendiri setelah Diandra tidur.


"Kenapa hmm?" Tanya Gibran lembut


Diandra terlihat ragu dan hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Katakan saja Diandra." Kata Gibran


"Aku... emm.. peluk"


Mendengar hal itu Gibran tertawa lalu menyingkap selimut dan bergabung bersama Diandra sambil menariknya ke dalam pelukan.


"Masih pusing?" Tanya Gibran


Diandra mengangguk dan membuat Gibran mengusap puncak kepalanya dengan sayang.


"Kakk"


Diandra mendongak dan menatapnya dengan polos lalu melakukan hal yang membuat mata Gibran membulat.


Diandra mencium bibirnya sebentar lalu menyembunyikan wajahnya di leher Gibran dan mengeratkan pelukannya.


"Kalau nanti malam aku lapar tidak papa kan aku bangunin?" Kata Diandra


Pertanyaan itu membuat Gibran tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya.


Tentu saja dia akan melakukannya.


Diandra seperti ini juga karena ulahnya.


¤¤¤


Yee aku update lagii😂


Mau satu part lagi gakk???