OBSESSION

OBSESSION
Kurang akhlak



Disini keberadaan Arga. Dikamar yang bernuansa abu-abu, dirinya sedaritadi mondar-mandir tak sekalipun dirinya mengecek handphone-nya berharap adiknya mengirim pesan.


"Plis maafin gue, kabarin gue pliss" Arga begitu khawatir. Ia sudah banyak mengirim pesan untuk Sheryl, tetapi tidak ada satupun dibaca. Jangankan dibaca, nomornya saja tidak aktif sejak sore hari.


"Maafin gue pliss" Racau Arga. Hampir 1 jam dirinya mondar-mandir seraya berucap kata itu berkali-kali.


Arga tidak sendiri, dikamarnya ada William yang kini duduk anteng di sofa kamarnya sambil memakan mie kuah rasa kari ayam. Ia tidak menenangkan Arga ataupun lainnya, biarkan saja ia sadar dengan kesalahannya. Salah siapa pelupa.


"Eh monkey, bantuin kek malah santai disitu" Terdengar ucapan kesal dari Arga, kini melotot kesal kearah sahabat satunya ini.


"Yeuu lagian salah siapa pikun" Celetuk William dengan tampang tanpa dosa.


"Lo kan tadi ketemu sama Sheryl, dia ga bilang pergi kemana gitu?" Tanya Arga, berharap Sheryl memberitahu kepada William.


"Nggak, dia bilang bakal pulang sama Vella"


"TAPI KENAPA SAMPAI SEKARANG GA PULANG?!"


"wessss santai dong bro, disini gue juga gatau kenapa" William menghentikan aktivitasnya setelah makanannya habis.


"Gini deh, mending lo cari daripada mondar-mandir gitu. gue bantuin deh!" Saran William yang langsung diangguki dengan cepat oleh Arga.


Setelah dipikir-pikir, betul juga mengapa dirinya harus mondar-mandir tapi tidak gerak-gerak untuk mencarinya?!. Dasar bodoh, pikirnya.


...•••...


Jika Arga kini sedang khawatir dengan Sheryl, makan berbeda dengan Sheryl yang kini sedang tertawa bersama temannya.


Setelah adegan di sekolah tadi, Sheryl dan Vella langsung kerumah Vella hanya sekedar mandi dan mengganti pakaiannya supaya terlihat fresh.


Dan sekarang kedua gadis itu kerumah sahabatnya yang katanya sedang berduka. Tapi nyatanya, tidak! bahkan keadaan rumahnya biasa saja, tidak ada tanda-tanda berduka sekalipun.


Mereka bertiga terus bercerita tak jarang mereka berdua tertawa mengingat cerita yang sangat konyol yang dialami Rinda tadi sepulang sekolah.


"Gemes banget gue sama mamah gue, bisa-bisanya mamah gue ngasih kabar yang ngaco" Ucap Rinda tak habis pikir. Kedua sahabatnya tertawa kencang.


Sheryl memukul bahu Rinda dengan pelan, lalu terkikik geli. "Tante Dea kangen sama elo"


"Mana ada!" sewot Rinda dengan kesal. Hatinya bercampur kesal dan gemas.


Gila saja, pulang sekolah ia mendapat kabar dari mamahnya jika kucing peliharaannya mati. Tapi setelah sampai dirumah, justru kucingnya malah asik nangkring di ayunan dekat teras rumahnya. Dan justru kucing yang meninggal adalah kucing tetangga yang sama mirip dengan kucing miliknya. Dan mamahnya yang mengasih info sembarangan hanya menunjukkan cengiran tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


"Nyebelin lo semua. Sana balik-balik" usir Rinda dengan dongkol. Dan tentu tidak disahuti kedua sahabatnya. Sheryl dan Vella keluar dari kamar Rinda, bukan pulang melainkan mereka berdua menuju kearah dapur.


Sepertinya manusia pada umumnya, mereka berdua mencari makanan apa yang sudah dimasak oleh tuan rumah.


"Makin aktif aja tante, masak apa nih tan?" Vella berceletuk dengan semangat ketika melihat banyak makanan yang dihidangkan oleh Tante Dea alias mamahnya Rinda.


"Oh jelas masak udang, makanan favorit kalian. Tante tau satu piring gak akan cukup buat kalian bertiga" Balas Tante Dea sedikit menyindir. Tapi tenanglah, itu hanya candaan. Nyatanya Tante Dea sudah menganggap Mereka berdua anaknya, bahkan sudah dianggap kembarannya Rinda karna mereka bertiga sama-sama suka udang.


"Tante perhatian banget sih, jadi suka deh kalo gini mah" Ucap Vella dengan tampang genit membuat Sheryl bergidik ngeri.


"Ih muka lo genit, malah jadinya jijik" ucap Sheryl tanpa ada perasaan kepada Vella. Lah lagian ngapain pake perasaan? Kayak cinta aja harus pakai perasaan.


"Kalian ribut-ribut, mending ini dibawa ke meja makan aja deh" Ucap Tante Dea melerai keduanya sebelum terjadi pertengkaran. Tangannya menyodorkan piring yang berisi udang.


Ini Vella malah ngelunjak, tangannya mencomot udangnya dan ia makan tanpa menghiraukan pelototan dari Tante Dea.


"Heh ngelunjak kamu" Vella hanya cengengesan sambil mengunyah. Lalu mengambil alih piring ditangan Tante Dea dan membawanya ke meja makan.


"Temen kamu tuh" sahut Tante Dea kepada Sheryl.


"Bukan, dia babu aku" jawab Sheryl ceplas-ceplos.


"Tante tau aja"


"Yee bocah tengil"


...•••...


"sayangku semuaa, sini-sini mari kita makan" tanpa di filter, tanpa di rem Vella berkata dengan sedikit teriak sambil melambai tangannya menyuruh merapat ke meja makan.


Awalnya disuruh tante Dea untuk memanggil Rinda yang masih dikamar dan Om Reno— ayah Rinda. Jangan dilupain akhlak temannya yang tinggal seperempat, Vella malah memanggil mereka dengan ucapan yang sangat membuat pembantu dirumah Rinda cengo.


Ini udah persis Vella yang jadi tuan rumah! Gini-gini Vella juga sama minus akhlaknya, gimana tidak? sahabatnya saja minus akhlak, apalagi dia!.


"apasih sokap lo sama tuan rumah disini" Ucap Rinda ketika sudah berada di meja makan. Lalu duduk disamping Sheryl yang sedang anteng mencomot udang sambil scrool Instagram. Followers nya bertambah terus sedari tadi.


"Ga sokap ga kecee" Celetuk Vella tanpa dosa, lalu duduk didepan Rinda. Tangannya ikut mencomot udang seperti Sheryl. Rinda yang melihatnya dibuat kesal, akhirnya tangannya ikut mencomot udang juga. Nggak mau kalah dia sama para monyet ini.


"Heh belum juga doa, udah nyomot udang aja" tegur Om Reno yang baru sampai dibuat geleng-geleng melihat ketiga gadis yang sudah duduk anteng dengan tangan yang aktif mencomot udang yang terhidang di atas piring.


"Heh ini udangnya kenapa tinggal setengah?!" Tante Dea yang baru datang dari dapur langsung melotot ketika melihat udangnya sudah habis setengah. Matanya menatap tajam kearah 3 gadis yang sudah berhenti mencomot.


"kegondol kucing"


"iya, kucingnya lagi nangkring di meja makan" celetuk Tante Dea dengan dongkol. Ketiga gadis itu malah cengengesan lalu kembali mencomot udang yang masih setengah piring.


"Udah ah kenyang" Ucap Vella berhenti makan udang, lalu dirinya mengambil minum dan meneguknya hingga kandas.


"Gunanya Tante masak ini jadi apa?!" Tanya Tante Dea entah kepada siapa. Melihat makanan yang ia masak sudah banyak, tapi justru ketiga gadis itu sudah kenyang mungkin. Mereka sudah berhenti makan lagi.


"Aelah Tante jangan sedih dong, perut Sheryl siap nampung kok" Tanpa menunggu yang lain, Sheryl mengambil nasi sedikit dan mulai mengambil lauk pauk yang sudah dihidangkan oleh Tante Dea tercinta.


"Yaudah ayoo makan!" Seru Tante Dea lalu menyiapkan makanan buat sang suami. Diikuti oleh Rinda yang sudah sangat lapar. Gini-gini Rinda ini satu species dengan Sheryl, perut karet tapi ga gemuk-gemuk.


Kalo Vella? Oh tentu dia makan juga. Mau bagaimanapun dia menghargai sang tuan rumah yang sudah menyiapkan makanan. Lagipula masakan Tante Dea ini sangat enak, mau perut kenyang atau tidak rasanya tetep nagih.


......•••......


Balik lagi ke dua remaja ini. William dan Arga, kedua remaja ini sekarang sedang berada di angkringan dekat taman kota.


Hampir satu jam mereka mencari. Dari ke sekolah, ke lapangan basket, ke cafee dekat sekolah, dan berakhir mereka di taman kota. Sebenarnya Arga masih ingin lanjut mencari keberadaan adiknya, namun karna William yang sedari tadi cerewet karna ingin makan. Padahal baru beberapa jam yang lalu ia sudah makan dirumah Arga.


"Prinsip gue, apapun keadaannya harus isi perut!" Itu ucapan William yang sedaritadi dikeluarkan jika ditanya oleh Arga.


"Mang baso telornya dua sama es teh dua ya mang!" Seru William ketika sudah menempati duduk dibagian pojok bersaman sobatnya.


"Ah akhirnya gue bisa makan juga" Ucap William sambil mencomot kerupuk pangsit yang disediakan di meja.


"Makan mulu lo!"


"Yee apapun keadaannya gue harus isi perut juga ya!" Nahkan betul, ucapan ini lagi yang dikeluarkan oleh William.


Arga tidak membalas ucapan William. Kini tangannya sibuk membuka handphone, siapa tau adiknya mengirim pesan untuknya.


"SHERYL ONLINE WA!!!" Arga menggebrak meja seraya berteriak. Tidak sadar jika itu membuat para pelanggan lainnya terusik karna tindakan Arga.


"Hehe maap ya mba, mas. Teman saya emang gila" Ucap William sambil meringis melihat banyak tatapan kearah meja yang di duduki olehnya dan Arga.


"Lo berisik ah" Sahut William sambil mengibas tangannya kesal.


"Ini Sheryl online, tapi ga bales pesan gue"