OBSESSION

OBSESSION
Pantai



Pantai


Hal yang pertama kali ada dibayangan Diandra ketika mereka sedang dalam perjalanan ke rumah Natasya adalah pantai, dia tidak terlalu suka pantai sebenarnya, tapi hari ini Diandra sangat ingin kesana. Dulu setiap kali berkunjung ke rumah Natasya mereka selalu berjalan-jalan kesekitaran pantai, entah hanya sekedar berjalan-jalan atau duduk diam sambil meminum air kelapa.


Setelah kematian orang tuanya Diandra tinggal untuk waktu yang cukup lama dengan Natasya mungkin itu sebabnya mereka sangat dekat. Saat Diandra mengatakan dia akan datang Natasya sangat senang dan langsung memberi tau pada kedua orang tuanya.


Kedua orang tua Natasya sudah menganggap Diandra seperti anak mereka sendiri bahkan mereka mengomel karena Diandra menikah ketika mereka sedang ada di luar kota. Perjalanan yang ditempuh cukup jauh membuat Diandra merasa lelah juga bosan hingga dia berkali-kali merubah posisi duduknya, bersandar hingga duduk tegap.


"Pegal?" Tanya Gibran


"Hmm jauh sekali dari tadi gak sampai-sampai." Kata Diandra


Gibran terkekeh lalu mengusap pelan kepala istrinya.


"Sebentar lagi sayang." Kata Gibran


Tersenyum manis Diandra menyandarkan tubuhnya lalu menghadap ke arah Gibran dan memperhatikannya yang sedang sibuk menyetir. Dilihat dari sisi manapun juga Gibran tetap tampan dimata Diandra dan hal yang paling Diandra suka adalah matanya.


Mata Gibran yang selalu menatapnya penuh cinta.


Mata Gibran begitu indah warnanya coklat dan setiap kali menatapnya mata itu berbinar. Sungguh Diandra sangat suka kalau Gibran sudah menatapnya.


Dia harap anak mereka akan memiliki mata yang sama dengan Gibran.


"Daddy"


"Hmm"


"Aku suka mata Daddy dan aku harap anak kita akan memiliki mata yang sama dengan milik Daddy." Kata Diandra


"Kamu suka mataku? Memang ada apa disana?" Tanya Gibran


"Hmm tidak ada hanya suka aja mata Daddy indah." Kata Diandra sambil tersenyum


"Mata kamu juga sayang." Kata Gibran


"Tidak mata Daddy lebih indah." Kata Diandra


"Iya baiklah terserah kamu." Kekeh Gibran


Diandra tersenyum dan memperhatikannya lagi hingga mereka sampai di tempat yang sangat dia kenali.


Setelah keluar dari mobil keduanya langsung berjalan ke rumah Natasya lalu mengetuk pintu dan tak butuh waktu lama pintu terbuka dengan Natasya yang langsung menyambut dengan hangat. Memberikan pelukan pada Diandra mereka masuk ke dalam lalu duduk di ruang tamu setelah Natasya mempersilahkan.


Sesaat setelahnya wanita paruh baya muncul dan langsung berseru membuat Diandra berdiri lalu berhambur ke pelukannya.


"Bunda Raraa"


"Ya ampun anak Bunda." Kata Rara sambil mengusap punggung Diandra dengan penuh kelembutan


Melepaskan pelukannya Rara menatap Diandra dengan mata berkaca-kaca lalu mencium seluruh wajahnya dan kembali memberikan pelukan.


"Kemana aja kamu sayang? Udah lupa sama Bunda ya?" Kata Rara membuat Diandra menggelengkan kepalanya pelan


"Maaf Bunda disana Diandra kerja terus, jadi gak bisa main kesini." Kata Diandra


Setelahnya seorang pria paruh baya muncul membuat Diandra tersenyum dan menghampirinya lalu mencium punggung tangannya.


"Ayah"


Pria paruh baya itu tersenyum lalu memeluk Diandra juga dan mengajaknya untuk kembali duduk. Setelah semya berkumpul di ruang tamu keadaan mendadak hening kedua orang tua Natasya menatap Gibran dengan penuh selidik membuat Gibran sedikit gugup.


Melihat hal itu Diandra tersenyum dan meraih tangan Gibran lalu tersenyum sambil memperkenalkan suaminya.


"Ayah Bunda kenalin ini suami aku namanya Gibran." Kata Diandra


Rara terdiam sebentar lalu tersenyum ketika Gibran juga tersenyum padanya, dia kelihatan baik.


"Sepertinya Ayah pernah lihat dia di berita." Kata Vino membuat Diandra terdiam


Gibran berdeham pelan, tidak pernah ada berita baik tentangnya.


"Kak Gibran ini baik kok dia sayang banget sama Diandra dan semua itu udah gak perlu dibahas lagi." Kata Diandra


Tanpa sadar Gibran tersenyum lalu mengusap pelan telapak tangan istrinya. Sedangkan Vino mengangguk faham lalu meminta istrinya untuk mengambilkan minum.


Rara menurut dia pergi ke dapur untuk mengambilkan minum dan memberikannya pada mereka berdua. Sampai sekarang Rara masih sibuk memperhatikan Gibran, dia melihat kalau pria itu tulus pada Diandra.


Kebahagiaan Diandra itu penting untuknya.


Dia melihat betapa susahnya hidup Diandra yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri bahkan dulu Rara sering melihat Diandra menangis sambil memeluk foto kedua orang tuanya.


"Kata Natasya kamu sedang hamil." Kata Rara dengan senyuman


Diandra ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya Bunda udah dua bulan lebih." Kata Diandra


"Bagaimana cucu Bunda?" Tanya Rara lagi


"Sehat Bunda kami selalu check up ke dokter setiap bulan." Kata Diandra membuat Rara tersenyum mendengarnya


Setelah itu Rara meminta anaknya untuk mengajak Diandra ke kamar dan memberikan oleh-oleh serta hadiah yang sudah dia belikan. Mendengar hal itu Diandra tersenyum sambil mengikuti langkah kaki Natasya, meninggalkan Gibran sendirian disana.


Ada alasan kenapa Rara meminta hal itu karena dia ingin bicara sesuatu pada Gibran, dia akan meminta pria itu untuk menjaga Diandra dengan baik dan jangan sampai menyakitinya. Meskipun Diandra bukan anak kandungnya, tapi Rara sangat menyayangi gadis itu dan menganggapnya seperti anak sendiri.


Sama seperti seorang Ibu dia juga tidak mau Diandra sampai terluka apalagi menangis.


"Kamu mencintai Diandra kan?" Tanya Rara membuat Gibran mendongak untuk menatapnya


Gibran tersenyum dan mengangguk pasti.


"Melebihi diriku sendiri." Kata Gibran


"Jaga Diandra dengan baik jangan biarkan dia menangis apalagi terluka, kamu harus tau kalau Diandra itu sangat rapuh sekali kamu membuatnya kecewa kami akan mengambilnya dari kamu." Kata Vino


"Tidak akan, saya akan menjaga Diandra dengan baik dan bisa saya pastikan kalau saya tidak akan menyakiti atau membuatnya menangis." Kata Gibran tegas


Rara beranjak dari tempat duduknya lalu membuka laci yang ada di dekat pintu dan mengamil sesuatu dari sana. Setelah kembali duduk dia memberikannya pada Gibran membuat pria itu mengerutkan dahinya bingung.


"Ini foto orang tua Diandra dia meninggalkannya disini ketika pergi ke kota, dulu dia sering menangis sambil memeluk fotonya." Kata Rara


Gibran hanya diam dan mengambil foto yang tidak terlalu besar itu lalu memperhatikannya.


"Lalu ini simpanlah dan berikan pada Diandra nanti." Kata Rara sambil meyerahkan sebuah kotak kalung padanya


Tanpa banyak bertanya Gibran mengambil dan membukanya lalu dia dapat melihat kalung dengan bandul bintang disana.


"Itu milik Diandra katanya Mama nya yang belikan, tapi waktu itu kalungnya hilang dan baru Bunda temukan ketika Diandra sudah pergi." Kata Rara


Gibran menatap kalung itu lalu tersenyum dan kembali menutupnya.


"Akan saya simpan dan berikan untuk Diandra nanti." Kata Gibran


Kedua orang tua Natasya tersenyum mereka senang karena Diandra sekarang sudah memiliki seseorang disisinya. Dulu mereka sempat cemas kalau Diandra memang benar-benar tidak ingin menikah, tapi ternyata salah sekarang wanita itu telah menikah bahkan akan memiliki anak.


Setidaknya mereka lega karena sudah ada seseorang yang akan menjaga Diandra dan mencintainya dengan tulus. Saat suara Diandra terdengar Gibran memasukkan kotak serta foto itu ke dalam saku lalu tersenyum kala istrinya datang dan memeluk lengannya.


"Bunda makasih"


Rara tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Apapun untuk kebahagiaan Diandra.


¤¤¤


Berjalan menyusuri pantai Gibran terus mengikuti kemana istrinya itu ingin pergi meskipun hari sudah semakin sore, Diandra ingin melihat matahari terbenam. Tangan mereka saling menggenggam untuk memberikan kehangatan karena angin memang sedikit kencang.


Gibran sudah meminta untuk kembali saja karena angin yang cukup kencang, dia takut Diandra sakit, tapi istrinya itu menola dan mengatakan kalau dia tidak dingin. Tentu saja Gibran tidak memiliki pilihan dia hanya bilang agar Diandra tidak berlama-lama.


"Daddy aku kangen orang tuaku"


Perkataan itu membuat Gibran langsung menatap Diandra yang menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong lalu menghentikan langkahnya.


"Mau pergi ke ma...."


"Tidak, aku cuman mau bilang aja." Kata Diandra yang langsung memotong ucapan Gibran


Dia menghadap suaminya dan mendongak sambil tersenyum membuat Gibran juga ikut tersenyum melihatnya.


"Aku sayang Daddy"


"Aku..."


"Aku sayang bangettt sama Daddy"


"Aku..."


"Sayang sayang sayang pokoknya sayang banget"


Gibran tertawa kecil lalu mencubit pipinya dengan gemas.


"Aku tau sayang dan aku juga sama." Kata Gibran


Tersenyum manis Diandra mendekat lalu sedikit berjinjit dan memeluk Gibran dengan erat.


"Pelukkk"


Ikut tersenyum Gibran membalas pelukan istrinya tak kalah erat sambil membisikkan sesuatu ditelinganya.



"I love you baby"


¤¤¤


Nugas dulu ini baru nuliss makanya baru bisa up jam segini😆


Makasih banyak untuk dukungannya😚