
Sekitar pukul sebelas siang Diandra sudah sampai di rumah mertuanya, tapi Gibran meminta dia untuk masuk lebih dulu karena pria itu ada urusan sebentar dan Diandra hanya mengangguk. Sebelum masuk ke dalam Diandra mencium pipi suaminya sekilas lalu keluar dari dalam mobil dan melangkahkan kakinya ke dalam rumah sang mertua.
Setelah memastikan Diandra masuk ke dalam Gibran membuka ponselnya lalu menelpon Anetta dan meminta dia untuk menemuinya di restoran biasa. Sebentar saja mereka akan bicara karena Gibran harus segera kembali sebelum Diandra atau orang tuanya curiga.
"Aku tunggu dalam sepuluh menit dan kalau kamu belum datang aku akan pergi." Kata Gibran
Mematikan ponselnya Gibran kembali fokus pada jalanan, dia rasa mulai sekarang dia harus menjaga jarak dari teman-teman wanitanya dan terutama Anetta.
'Daddy aku bukan orang yang mudah percaya, jadi jangan hancurkan kepercayaan aku ketika aku sudah memberikannya pada Daddy karena sekali dihancurkan aku tidak akan perah percaya lagi'
Perkataan Diandra tadi kembali terngiang dan membuatnya mulai berfikir kalau dia akan menghapus kontak wanita di ponselnya atau membiarkan ponselnya tanpa ada kunci. Sepulang dari sana dia juga akan mengatakan pada Diandra kalau dia menemui Anetta.
Sampai di restoran Gibran masuk ke dalam sambil memesan minuman lalu duduk dan menunggu Anetta datang, dia memang pernah menyukai Anetta, tapi itu dulu.
Karena sekarang hatinya hanya untuk Diandra.
'Aku sudah berkali-kali terluka dan aku harap sekarang tidak lagi, Daddy harus buat aku bahagia'
Lagi, perkataan Diandra terngiang di telinganya dan Gibran menghidupkan ponselnya lalu menatap foto pernikahan mereka yang dia jadikan walpaper.
"Sudah menunggu lama?"
Suara itu membuat Gibran mematikan ponselnya dan mendongak lalu tersenyum pada Anetta.
"Tidak, baru beberapa menit yang lalu." Kata Gibran
"Tidak mau memberikan pelukan seperti biasanya?" Tanya Anetta dengan alis bertaut
"No, aku sudah menikah sekarang." Kata Gibran
"Ayolah hanya sekedar pelukan apa salahnya? Kamu bilang itu hal yang biasa." Kata Anetta sambil mendudukkan dirinya dihadapan Gibran
"Tidak untuk istriku." Kata Gibran
"Ya baiklah." Kata Anetta
Wanita itu meletakkan tasnya di meja lalu memesan minuman juga, dia ingin bicara sesuatu yang penting.
"Jadi, ada apa? Aku tidak bisa lama nanti istriku mencari." Kata Gibran membuat Anetta berdecih pelan
"Gibran kamu bukannya pergi berhari-hati hanya beberap jam dia pasti mengerti." Kata Anetta
"Anetta bicara saja atau aku akan pergi." Kata Gibran membuat Anetta menghela nafasnya pelan
"Baiklah, kenapa kamu menikah dengannya?" Tanya Anetta membuat Gibran menatapnya dengan bingung
"Kenapa apanya? Tentu saja karena aku mencintai dia." Kata Gibran
"Wanita itu? Kamu mencintai wanita seperti dia? Yang bener saja Gibran seleramu jatuh sekali." Kata Anetta meremehkan
"Apa maksud kamu Ta? Tidak ada yang salah dengan Diandra." Kata Gibran tidak suka
"Kamu tidak mengerti? Dia hanya gadis biasa tidak setara dengan kamu." Kata Anetta
"Lalu apa masalahnya?! Tidak ada masalah dengan itu bahkan orang tuaku menyukainya." Kata Gibran dengan penuh penekanan serta raut wajah tidak suka
"Dia merebut kamu dari aku." Kata Anetta sambil menatap Gibran sedih
"Apa? Merebut apa?" Tanya Gibran bingung
"Aku mencintai kamu." Kata Anetta menbuat Gibran diam dan menatapnya tidak percaya
Bicara apa dia?!
"Jangan bercanda, katakan hal penting apa yang ingin kamu bicarakan." Kata Gibran
"Aku mencintai kamu dan kenapa kamu menikahi dia? Katakan, apa dia menggoda kamu hingga membuat kamu menidurinya?" Tanya Anetta membuat Gibran marah mendengarnya
"Berhenti bicara omong kosong Anetta! Jadi, hanya itu yang ingin kamu katakan? Baik sudah aku dengar dan aku akan pergi sekarang, jangan bicara hal buruk tentang istriku dia wanita baik." Kata Gibran
Baru ingin pergi Anetta sudah mengatakan hal yang membuat Gibran semakin tidak percaya.
"Ayo bermain di belakang Diandra." Kata Anetta
"Kamu pasti sudah gila!" Kata Gibran marah
Tanpa banyak bicara Gibran pergi dan tidak lupa meninggalkan beberapa lembar uang ratusan ribu di atas meja, dia tidak percaya akan mendengar hal gila itu dari temannya sendiri.
Ternyata Anetta mengikutinya hingga ke parkiran bahkan menahan tangannya ketika dia ingin masuk ke dalam mobil.
Keadaan di parkiran sangat sepi bahkan tidak ada siapapun selain mereka berdua ditambah lagi mereka tertutup mobil yang lainnya juga.
"Aku belum selesai." Kata Anetta
"Aku tidak peduli! Aku tidak akan pernah mau mendengar semua perkataan tidak masuk akalmu." Kata Gibran dengan penuh penekanan
Mereka masih di parkiran, tapi Anetta benar-benar gila dia sedikit mendorong Gibran hingga pria itu menabrak pintu mobilnya. Dengan marah Gibran menyentak tangan Anetta, wanita itu sudah tidak waras.
"Sialan! Menjauhlah dariku Anetta!" Kata Gibran marah
Secepat mungkin Gibran membuka pintu mobilnya, tapi ketika dia masuk dan ingin menutupnya lagi Anetta menahan pintunya.
"Anetta!"
"Kenapa? Tidak ingin mengulang malam itu lagi?" Tanya Anetta
"Aku tidak mengingatnya kita mabuk waktu itu!" Tekan Gibran sambil berusaha mendorongnya agar keluar
"Biar aku ingatkan." Kata Anetta berusaha untuk semakin mendekat
Gibran benar-benar tidak tahan hingga dia mendorong paksa tubuh Anetta lalu menutup pintu mobilnya dengan keras dan melaju pergi meninggalkan restoran.
Sial! Seharusnya dia tidak usah datang.
Setelah cukup jauh Gibran menepikan mobilnya lalu menggeram kesal, semua karena ulahnya sendiri. Seharusnya dia menurut pada orang tuanya yang selalu marah dengan dia yang selalu dekat dengan banyak wanita hingga keluar masuk club malam.
Harusnya Gibran mendengar mereka.
Sekarang dia seakan mendapatkan akibat dari semua perbuatan nakalnya dulu.
Gibran ingin mengulang waktu seandainya dia bisa.
¤¤¤
Diandra sedang membuat kue bersama mertuanya ketika Gibran datang dengan raut wajah kusut dan pergi ke kamarnya tanpa mengatakan apapun. Merasa bingung juga cemas Diandra meminta izin untuk menghampiri Gibran ke kamar dan setelah Dara mengizinkan dia bergegas pergi ke kamar.
Disana Gibran sedang menyandarkan tubuhnya pada sofa sambil memejamkan matanya juga tangan yang terkepal kuat. Berjalan mendekat Diandra duduk disampingnya dan membuat Gibran menoleh lalu menatapnya.
Tatapannya berbeda membuat Diandra merasa cemas, apa suaminya sedang ada masalah?
Tangannya terulur untuk mengusap pipi Gibran dan membuat pria itu memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan yang Dindra berikan.
"Daddy ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Diandra
Gibran membuka matanya lalu menggelengkan kepalanya pelan dan membawa Diandra ke dalam pelukannya.
Gibran takut kalau perbuatan nakalnya di masa lalu bisa membuat istrinya terluka.
Bagaimana kalau ada kabar lain?
Waktu itu foto yang sudah bertahun-tahun lamanya saja bisa keluar, bagaimana kalau ada lagi yang lainnya?
Kepala Gibran pening memikirkannya, tapi dia tidak pernah tidur dengan wanita selain Diandra.
Dan Anetta
Hanya saja dengan Anetta itu sudah lama sekali dan hal itu bisa terjadi karena mereka sama-sama mabuk setelah pulang dari club malam.
Gibran mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Diandra dengan sayang lalu menjauhkan tubuhnya.
"Lagi ngapain tadi sama Mama?" Tanya Gibran mengalihkan pembicaraan
"Emm bikin kue." Kata Diandra
"Aku jadi lapar." Kata Gibran membuat Diandra tersenyum mendengarnya
"Belum matang, ayo kita ke bawah sebentar lagi kuenya matang." Kata Diandra
Dia menggenggam tangan Gibran dan mengajaknya keluar membuat Gibran tersenyum sambil mengikuti langkah kaki istrinya.
Gibran akan membawa Diandra pergi setelah ini.
Dia akan mengajak istrinya untuk pergi dari kota ini dan menjauh dari semua orang yang ada di masa lalu Gibran.
"Baby"
"Hmm"
"Tidak papa hanya mau manggil." Kata Gibran
Diandra tertawa kecil lalu menyandarkan kepalanya di lengan kekar suaminya.
Tawa Diandra membuat Gibran merasa tenang.
¤¤¤
Anetta : Apa liat-liatt?!
Kesel gak sama Anetta😂