OBSESSION

OBSESSION
Kisah Masa Lalu



Dua bulan sudah usia kandungan Diandra janin yang ada di dalam perutnya sangat sehat, dia baru saja check up bersama dengan suaminya. Rasa bahagia menyeruak dihati keduanya selama perjalanan pulang Gibran terus menggenggam tangan istrinya sambil sesekali menciumnya.


Beruntung sekali Gibran bertemu dengan Diandra meskipun dia menggunakan cara yang salah untuk mendapatkannya, tapi Gibran bersyukur karna sekarang Diandra ada dalam genggamannya. Sesekali Diandra ikut ke butik Sahara juga dia melakukan pekerjaannya sambil mengawasi Gibran karena takut pria itu dekat dengan wanita lain.


Diandra yang dulu bersikap acuh kini sangat pecemburu bahkan Gibran pernah didiami seharian hanya karena salah satu model yang waktu itu melihat hasil pemotretan dikameranya. Tidak main-main bukan hanya mendiamkan Diandra juga tidak mau disentuh oleh Gibran membuat suaminya itu hampir frustasi.


Tapi, Gibran juga senang karena sekarang Diandra sudah tidak malu lagi menunjukkan rasa cintanya.


Diandra bahkan sering memeluknya dibutik atau yang paling ekstrim mencium pipinya dihadapan orang-orang.


"Daddy ayo ke kedai ice cream." Ajak Diandra


"Mau makan ice cream?" Tanya Gibran


Diandra tersenyum dan mengangguk dengan semangat.


"Oke baby kita ke kedai ice cream." Kata Gibran


Senyum Diandra mengembang dengan sempurna dan begitu sampai di kedai ice cream dia bergegas keluar sambil menarik-narik tangan Gibran agar cepat. Sambil menggelengkan kepalanya pelan Gibran merangkul istrinya dengan sayang lalu duduk ditempat yang kosong dan pergi memesan.


"Mau rasa apa baby?" Tanya Gibran


"Emm coklat sama vanilla." Kata Diandra


"Oke tunggu disini ya? Biar aku pesan." Kata Gibran yang dijawab dengan anggukan oleh istrinya


Keadaan kedai siang ini cukup ramai dengan anak sekolahan karena memang harganya yang lumayan terjangkau. Beberapa kali Diandra kesini bersama dengan Gibran dan sekarang dia ketagihan.


Tidak butuh waktu lama Gibran kembali dan tersenyum padanya sambil membawa air mineral.


"Daddy mau minum juga." Kata Diandra


Mengangkat sebelah alisnya Gibran memberikan air mineralnya pada Diandra.


"Habis ini aku mau beli jajan ke supermarket." Kata Diandra


"Apapun untuk kamu baby." Kata Gibran


Sesaat setelahnya pesanan mereka datang membuat senyum Diandra semakin mengembang, dia memakan ice creamnya dengan penuh semangat. Melihat hal itu Gibran merasa senang meskipun usia kandungannya baru dua bulan, tapi Diandra terlihat lebih berisi apalagi pipinya yang semakin tembam membuat istrinya itu terlihat semakin menggemaskan.


Belakangan ini nafsu makan Diandra memang meningkat meskipun setiap pagi dia selalu merasakan mual dan muntah, tapi setelahnya Diandra akan terus makan. Tentu saja Gibran senang, tapi dia tetap mengatur pola makan istrinta agar tidak terlalu banyak makan makanan pedas juga es yang bisa membuatnya sakit.


"Daddy aku mau coba ice creamnya." Kata Diandra


Tersenyum singkat Gibran mengambil sesendok ice cream miliknya dan menyuapi untuk Diandra.


"Enakan punya Daddy aku mau tukar." Kata Diandra


"Baby mau yang ini?" Tanya Gibran


Diandra mengangguk lalu menukar mangkuk ice cream mereka, tidak ada protes Gibran hanya membiarkannya saja.


"Daddy tidak marah?" Tanya Diandra


"Tidak baby kamu bisa dapatkan apapun yang kamu mau." Kata Gibran sambil tersenyum


Diandra ikut tersenyum mendengarnya lalu menghabiskan ice cream milik Gibran dalam waktu singkat. Melihat hal itu Gibran menggelengkan kepalanya pelan apalagi ketika Diandra masih melirik ice cream miliknya.


"Masih mau?" Tanya Gibran


Dengan cepat dia mengangguk lalu ketika Gibran memberikan ice cream itu untuknya Diandra langsung mengambilnya dengan penuh semangat. Tertawa kecil Gibran mencubit pipi Diandra dengan gemas dan memperhatikannya yang begitu lahap menghabiskan ice creamnya.


Gibran hanya makan beberapa suap, tap Diandra menghabiskan sangat banyak.


Tidak masalah hanya sesekali juga karena Gibran setidaknya mengizinkan lagi setelah tiga hari. Tak butuh waktu lama Diandra sudah menghabiskan semua ice creamnya lalu menatap Gibran dengan senyuman.


"Sudah Daddy"


"Pulang?"


Diandra mengangguk singkat membuat Gibran tersenyum lalu pergi untuk membayar. Selesai membayar mereka pergi ke parkiran lalu memasuki mobil dan Gibran langsung melaju pergi ke supermarket.


Entah apa yang mau dibeli istrinya Gibran hanya akan mengikuti saja dan menuruti selagi tidak membahayakan kesehatan istri juga anaknya. Begitu sampai di supermarket Diandra mengambil troli belanja dan meminta Gibran untuk mengikutinya.


Pertama mereka pergi ke rak berisikan minuman lalu Diandra mengambil beberapa kotak susu dan setelahnya pergi ke tempat makanan ringan. Sampai disana senyum Diandra mengembang lebar dia mengambil banyak sekali cemilan membuat Gibran tertawa kecil melihatnya.


"Sudah?" Tanya Gibran ketika Diandra berhenti


"Sudah, tapi mau beli shampoo dulu dirumah habis." Kata Diandra


Mengangguk singkat Diandra bertanya shampoo mana yang biasa suaminya pakai karena dia sangat suka baunya.


"Ini?"


Gibran mengangguk sebagai jawaban dan Diandra langsung mengambil dua lalu memasukkan kedalam troli.


"Sudah ayo bayar terus kita pulang." Kata Diandra


Sekali lagi Gibran hanya mengikuti kemauan istrinya mereka mengantri untuk membayar ke kasir. Setelah selesai Gibran memasukkan kantung belanjaan ke jok belakang dan membukakan pintu untuk istrinya.


"Daddy"


"Iya"


"Emm tidak papa manggil saja." Kata Diandra


Gibran hanya tersenyum dan kembali fokus ke depan hingga akhirnya mereka sampai di rumah.


Iya, rumah milik mereka sendiri.


Sudah satu minggu ini mereka tinggal di rumah baru yang Gibran siapkan semua isinya mereka beli bersama-sama, tapi ada beberapa barang yang Diandra bawa dari rumah lamanya. Sedangkan apartemen mereka akan pergi kesana kalau ingin dan Diandra sangat suka rumahnya.


Tidak terlalu besar dan minimalis, lagi barang-barangnya dia yang memilih. Setelah memasukkan mobilnya ke garasu Gibran mengeluarkan kantung belanjaannya lalu masuk kedalam rumah.


Mereka mendudukkan diri di ruang tamu dan Diandra langsung membuka kantung belanjaannya mencari coklat yang dia beli. Setelah dapat dia mendekat pada Gibran dan duduk dipangkuannya.


"Daddy mau?" Tanya Diandra setelah dia berhasil membuka coklatnya


"Suapi"


Diandra tersenyum lalu meyuapi Gibran coklat yang tadi dia beli dan setelahnya Diandra memakannya untuk dia sendiri.


"Daddy"


"Hmm"


"Aku mau cerita." Kata Diandra


"Cerita apa hmm?" Tanya Gibran


Diandra tersenyum lalu menaruh coklatnya di meja dan mengatakan hal yang membuat wajah Gibran murung.


"Cerita tentang Sagara." Kata Diandra


"Untuk apa?" Tanya Gibran ketus


Nada bicara itu membuat Diandra cemberut dan mengeluh kesal.


"Kok marah?" Tanya Diandra sedih


"Kenapa harus cerita tentang dia hmm?" Tanya Gibran


"Mau ajaa memang gak boleh? Yaudah kalau gak boleh gak papa." Kata Diandra sedih


Menghela nafasnya pelan Gibran meminta Diandra untuk melanjutkan perkataannya.


"Boleh, cerita saja sampai kamu puas." Kata Gibran membuat Diandra kembali tersenyum


"Sagara itu teman aku waktu SMA dia baik bangett kita sering ke perpustakaan dan belajar bareng disana dan Sagara juga sering antar aku pulang sekolah," Kata Diandra.


Percayalah Gibran sudah panas sendiri mendengarnya.


"Kami pernah ke pasar malam terus naik bianglala seneng banget dan disana dia cium kening aku sambil bilang suka dan minta aku buat jadi pacarnya," Kata Diandra.


Gibran semakin panas mendengarnya, dia kesal.


Bayangan Diandra bersama pria lain bahkan ciuman meski hanya dikening itu adalah hal yang membuatnya marah.


"Kami pacaran terus jadi diomongin hampir satu sekolah, tapi setelah kematian orang tua aku kami putus dan aku pergi gitu aja," Kata Diandra sambil tersenyum.


Berdeham pelan Girban menahan diri untuk tidak menghentikan Diandra bercerita.


"Ternyata dia cari aku waktu kita ketemu di acara itu yang Daddy marah dia bilang kalau dia kangen sama aku dan masih suka sama aku terus....hmmp"


Diandra memundurkan tubuhnya ketika Gibran meraih tengkuknya dan menciumnya tanpa permisi.


Sudah cukup Gibran tidak mau dengar, dia kesal sekali meski hanya sekedar cerita dan Diandra sudah menjadi miliknya tetap saja dia tidak suka. Begitu Gibran menjauhkan wajahnya Diandra memukul pelan pipi suaminya dan melayangkan protes.


"Kan belum selesaiii." Keluh Diandra


"Sudah tidak usah dilanjutkan." Kata Gibran


Berdecak kesal Diandra turun dari pangkuannya sambil menghentakkan kakinya kesal dan berjalan menjauh.


"Baby"


"Jahatt aku belum selesai ceritanya!"


Ayolah mana mungkin Gibran sanggup mendengar istrinya itu menceritakan pria lain?


Pria yang merupakan saingannya!


¤¤¤


Update lagiiii😚