
Bulan sudah selesai mengerjakan tugasnya. Kini berganti matahari yang mulai bekerja. Bermunculan dari timur menerangi bumi.
"SheShe bangun!" teriak Arga tepat ditelinga adiknya membuat sang empu terusik.
"Gosah ganggu!" gumam Sheryl sambil memukul muka Arga dengan tangannya. Lalu kembali tidur membelakangi Arga.
Arga menghela nafas pelan, susah bangunin Sheryl yang kelewat kebo.
"Sheryl, bangun heyyy" ucap Arga lagi dengan nada lembutnya. Mengguncangkan bahu Sheryl. Tapi, bukannya terbangun justru malah semakin nyenyak.
"Argh!!" Arga mengacak rambutnya frustasi. Sejenak diam, muncul ide jahil di otaknya. Dengan cepat Arga kekamar mandi lalu datang kembali dengan gayung ditangannya.
Byur!
"ASTAGFIRULLAH" pekik Sheryl terkaget karna merasa dingin pada tubuhnya. Terbangun langsung membuat kepala Sheryl pusing.
"Pliss yaa, kepala gue jadi pusing!" kesal Sheryl sambil menyentuh kepalanya. Sedangkan Arga yang melihatnya hanya memalingkan kepalanya.
"Bukannya bantuin, malah diem ck" gumam Sheryl dengan kesal. Apalagi pusingnya belum mereda.
"Badan lo tutupin She" Ucap Arga sambil melemparkan selimut kearah tubuh Sheryl yang tembus karna baju tidur terkena siramannya.
Mata Sheryl langsung melihat kebawah terlihat jelas bra- nya warna hitam! "Lo mesum!!" pekik Sheryl dan langsung berlari kekamar mandinya. Malu!.
"Gue salah apa?" ucap Arga seraya menunjuk dirinya bingung. Jadi terlihat bodoh.
Karna bingung, Arga segera keluar dari kamar Sheryl menunggu adiknya sambil sarapan. Karna dirinya belum makan, dan ia sangat lapar.
"Non Sheryl belum bangun? Aduh, Bibi bangunin dulu yaa den" ucap Bi Dewi ketika melihat adennya duduk sendiri di ruang makan.
"Gausah Bi, Sheryl lagi mandi kok" ucap Arga mencegah Bi Dewi yang sudah siap menuju ke kamarnya Sheryl.
Arga kembali duduk lalu melanjutkan sarapannya seorang diri. Karna Mamah dan ayahnya belum pulang dari Bandung.
30 menit berlalu, bahkan Arga sudah selesai sarapannya tetapi Sheryl tak kunjung kebawah. Apa jangan-jangan tidur lagi Pikir Arga aneh-aneh tentang Sheryl yang malah tidur di kamar mandi? Sangat gila!
Dengan cepat Arga menaiki tangga menuju ke kamar Sheryl. Karna sedikit lagi jam 06.45 itu menandakan bel sekolah akan berbunyi.
"She—" Ucapan Arga terpotong ketika melihat Sheryl yang mondar-mandir dengan terburu-buru.
"Lo ngapain? Lama banget sih" Tanya Arga dengan kepada Sheryl.
"ini gue nyari dasi. Dasi gue ilangg aaaaa" rengek Sheryl sambil menghentak-hentak kakinya dengan bibir berkerucut imut.
"Lo udah nyari?"
"Ya udah lah! Lo ga liat daritadi gue ngapain mondar-mandir?!" ketus Sheryl dengan kesal.
Akhirnya Arga membantu Sheryl mencari dasi yang hilang. 4 menit mereka mondar-mandir, sampai Arga berucap. "Pake punya gue aja mau?"
Sheryl langsung menatap Arga demgan horor. Kenapa tidak bilang daritadi kalo dia punya dasi dua?! Buang-buang waktu!
"Kenapa ga lo bilang ha?! Cape-cape gue nyari sampe keringetan, lo malah baru bilang!" Sewot Sheryl sambil menatap Abangnya kesal.
"Jangan sewot, ini gue lagi ngebantu loh"
"Yaudah mana?!" Sheryl mengadah tangannya kearah Arga meminta dasi yang ditawarkan oleh Arga sendiri.
"marah-marah mulu" gumam Arga dengan pelan supaya tidak didengar oleh Sheryl.
...>>>× × ×<<<...
"Minggir-minggir! Sumpek!" Rinda berjalan memasuki kelas seraya mengibaskan tangannya menyuruh teman-temannya minggir. Bell kedua sudah berbunyi, itu menandakan penggantian mapel.
"Guys kalian udah pada ngerjain tugas matematika?" celetuk Vella kepada kedua sahabatnya. Namun bukan hanya Sheryl dan Rinda yang menjawab, justru satu kelas yang mendengar celetukan Vella.
"BELUM" Serempak satu kelas berucap. Entah kebetulan atau sengaja, satu kelas kompak menatap Vella berharap Vella mengasih contekan. Bahkan Digo yang statusnya ketua kelas pun sama seperti yang lain, belum mengerjakan.
Vella membuang nafasnya kasar, "gue juga belum" lanjut Vella dengan sedikit meringis.
"Terus ini gimana? Gue belum ngerjain" tanya Digo dengan nada panik.
"Heh! Lo aja yang ketua ga ngerjain! Ketua macem apa lo?!" Ucap salah satu siswi yang memandang Digo dengan jengah.
"Iri banget lo"
"Udah gimana ini tugasnya? Lo semua tau kan Bu Mira gimana kalo marah?" tanya Sheryl yang sedaritadi diam. Kini berucap menengahinya.
"Oh ya, lo tumben ga ngerjain Sher? Biasanya lo paling rajin selain Vella" komentar Digo memandang heran kepada Sheryl.
"gue kan ga masuk waktu itu" Jelas Sheryl membuat Digo mengangguk paham. Beda dengan Vella, ia melotot kearah Rinda.
"Jadi, lo belum kasih tau tugasnya ke Sheryl?" Tanya Vella dengan nada kesalnya kepada Rinda membuat sang empu cengengesan. "Gue lupa" jawabnya.
"Terus ini gimana?" sahut lelaki yang duduk di paling pojok kanan.
"Mending baca mantra jamkos" celetuk Rinda kepada yang lain. Sontak satu kelas menatap satu sama lain.
"OYYYYY"
"KIYOMASAAA"
"NANDE-NANDE"
"B-BAKAAAH"
"Sshh, sakit Rin"
"Ulang-ulang! Buat lingkaran ayo!" ucap Sheryl menginstruksi kepada teman-temannya untuk membuat lingkaran.
Mereka sepakat, mendorong meja dan bangku ke pojok. Lalu membuat lingkaran besar. Mereka kompak membaca mantra jamkos abal-abal. Kecuali Reza yang sedaritadi hanya duduk di bangkunya sendiri, dan dua perempuan yang tidak ikut, karna tidak begitu minat.
"OYYY"
"KIYOMASAAA"
"NANDE-NANDE"
"GAMBARE-GAMBARE"
"B-BAKAAAH, RAAWWRRRRRR"
Mereka membaca mantra dengan kompak dan semangat sambil memeragakannya. Setelah itu mereka kompak tertawa karna tingkah mereka semua yang aneh. Melupakan tugas yang harus di kerjakan sebelum gurunya masuk.
"Semoga mantra nya aktif" celetuk Vella membuat mereka lagi-lagi tertawa, tapi juga mengangguk menyetujui ucapan Vella.
...>>>× × ×<<<...
"BU KOK MASUK KELAS?!" Rinda yang tadinya sedang makan bekal yang ia bawa langsung berhenti ketika melihat Bu Mira masuk kedalam kelas.
"Loh emang kenapa? Ini kan waktunya pelajaran ibu?!" Bu Mira balik bertanya kepada Rinda. Alisnya menekuk tajam merasa tersindir dikit karna ditanya seperti itu.
"T-tapi kan—" Rinda menggantungkan ucapannya. Ia terdiam tidak mau melanjutkan ucapannya. Satu kelas pun sama diamnya.
Mereka berfikir mantranya sudah aktif karna sudah 45menit sesudah mereka membaca mantra bersama guru itu tidak datang juga. Dan berakhir mereka semua menyatakan jamkos!.
"Sudah-sudah! Duduk ditempat masing-masing!" Serobot bu Mira dan menyuruh semua nya kembali pada tempat duduknya Dan dilaksanakan dengan tidak minat. Mendadak semuanya menjadi lesu seperti tidak dikasih asupan pagi.
"Oke pembelajaran matematika dimulai. Sebelumnya ibu bertanya, Tugas minggu lalu sudah dikerjakan?" Tanya Bu Mira yang tidak ditanggapi muridnya. Diam membisu semuanya tidak mau menjawab.
Bahkan Digo si ketua kelas, dia sudah berkeringat dingin. Sudah dipastikan ia akan kena ceramah.
"Kenapa diam?! Kalian belum dikasih asupan atau apa?! Diam seperti siput begitu!" Sentak bu Mira sambil menatap satu-persatu murid nya.
"Emang siput bisa diem? Siput kan bergerak walaupun pelan?" Ucapan polos yang tiba-tiba keluar dari mulutnya Rinda.
Semua murid langsung menatap Rinda dengan horor. Persis seperti setan yang ingin menangkap mangsanya.
Rinda mengerjap-erjap matanya polos sambil menunjuk dirinya bingung. Kenapa semuanya jadi menatap dirinya?.
Vella yang merasa aura tidak enak dihati nya pun langsung menginjak kakinya dengan sedikit kencang.
"ARG—"
"Diam! Berisik! Ibu tanya ke kalian semua, apakah sudah mengerjakan tugas minggu kemarin?!" Bu Mira bertanya kembali, memotong teriakan Rinda.
"DIGO?!" Digo yang terpanggil langsung menegakkan tubuhnya reflek. Menatap gurunya dengan muka tegas yang dipaksakan. Tidak mungkin ia menampilkan wajah memelas, yang ada ia akan kena ceramah panjang dari gurunya.
"Mana tugas mu?! Kenapa tidak dikumpulkan di meja? Itu juga kenapa kau berkeringat?!" Oceh Bu Mira panjang lebar. Digo yang ditanya hanya meringis pelan. Bingung mau jawab apa.
"Mampus" Rinda bergumam cekikikan melihat wajah pias Digo. Udah seperti kena buronan dadakan dia dikasih pertanyaan banyak sekali oleh bu Mira.
" E-EH BU!!! ITU KELAS LAIN KOK JAMKOS?!" Bukannya menjawab, Digo malah berteriak kencang seraya menunjuk kearah jendela yang menembus pandang dan memperlihatkan seorang gadis berambut sebahu yang baru saja lewat. Namanya Reva, gadis famous karna termasuk golongan orang pintar, ia selalu masuk jajaran kepintaran urutan ke 6.
Reva yang merasa diperhatikan pun akhirnya menengok, dan terlihat dirinya dipandang oleh bu Mira dengan Digo yang menunjuk dirinya.
"Halah kamu gausah ngeles Digo!" Sewot Bu Mira tidak percaya dengan ucapan Ketua kelas 11 MIPA 3.
"Ck bu, liat aja dehh dia aja bawa kresek gitu. Itu tandanya dia abis dari kantin bu, kelas sebelah tuh jamkos masa kelas kita nggak?" Ucap Digo meyakinkan kepada Bu Mira. Padahal yang sebenarnya, Kelas Reva alias kelas 11 MIPA 4 sedang ada latihan ujian di ruang lab. Tapi Reva sudah selesai mengerjakan ujiannya jadi ia sudah di perbolehkan istirahat lebih dulu.
"Woi Rev!! Kelas lo lagi jamkos kan??" Digo bertanya kepada Reva dengan teriak. Dia menatap Reva dengan tatapan memohon untuk bisa diajak kerja sama, kebetulan tempat duduknya tidak jauh dari pintu, dan ia bisa melihat Reva yang sedaritadi berdiri kaku seraya menunjuk dirinya sendiri.
Reva yang bingung harus jawab apa, akhirnya dia berakhir kabur meninggalkan pertanyaan Digo, ia bingung mau menjawab apa. Karna ia takut nanti kena imbasnya.
"Digo! Kamu ketua kelas macam apa ini! Berdiri di depan sambil menjewer kuping mu sendiri" tutur Bu Mira dengan marah dan menyuruh Digo maju kedepan. Digo pasrah, ia berdiri dengan tidak semangat.
"Yang lain?! Apakah sudah mengerjakan?! Jangan sampai seperti ketua kelas kalian!!" Digo melirik sekilas kearah Bu Mira, ia tahu maksud dari ucapan gurunya yang sengaja menyindir dirinya.
Semua meringis, Bu Mira menyindir Digo tetapi tidak tahu kenyataan kalau yang sebenarnya satu kelas belum mengerjakan sama sekali.
"Kenapa diam?!!"
"BELUMM BU!!!!!" Kompak mereka menjawab saking paniknya. Melihat muka Bu Mira yang menjadi merah padam membuat yang lain makin panik.
"BELUM?! SELAMA SEMINGGU INI KALIAN NGAPAIN SAJA?! MAIN?!! IYA HAH?!!" Bu Mira marah-marah. Mukanya merah padam emosi. Yang lain hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
Yaa wajar saja, selama ini mereka semua belum pernah terkena marah seperti ini. Kelas mereka termasuk kelas yang rajin semua. Isinya rata-rata murid pintar dan berbakat.
Bu Mira terdiam sejenak. Mengatur nafasnya yang tadi sempat emosi. "Untuk kali ini ibu maafkan kalian. Sebagai hukumannya kerjakan soal dibuku paket halaman 78 sampai 83. Pulang nanti sudah harus selesai" Ucap Bu Mira tidak ingin dibantah. Lalu dirinya keluar kelas dan pergi ke kantor guru.
"WOI LAHHH ITU MATERI BARU OY! GUE GA PAHAM BU!!!" Teriak Rinda dengan kesal dan yang pasti tidak didengar oleh Bu Mira.
"Udah kerjain aja, ini juga lumayan gampang kok. Ada caranya juga" Sahut Vella sambil membolak-balik buku paketnya. Matanya dengan serius menatap buku paket melihat banyaknya rumus matematika.
"Terus ini gue gimana? Gue belum disuruh duduk gitu? Kaki gue capek" Ucap Digo dengan kebingungan membuat atensi mata melihat kearah Digo semua.
"Lo bego, tolol, lemot. Tinggal duduk aja gampang" Jawab Reza yang baru saja terbangun dari tidurnya. Sedaritadi dirinya tertidur. Nyenyak sekali sampai-sampai ia tidak tahu jika Bu Mira marah-marah.
"Cakep!! Gue suka gaya lo bro!!" Sahut lelaki yang duduk dibelakang depan Reza sambil mengarahkan kedua jempolnya kepada Reza.