OBSESSION

OBSESSION
Jatuh



Malam ini Gibran sudah siap dengan setelan jasnya untuk pergi ke acara perusahaan di kantor keluarganya, dia malas sebenarnya, tapi orang tuanya bisa mengomel habis-habisan kalau dia tidak berangkat. Tidak mau meninggalkan istrinya sendirian Gibran akan mengantarkan Diandra ke rumah orang tuanya agar dia bisa bersama Ghina disana.


Sebenarnya Diandra sudah mengatakan kalau dia akan baik-baik saja meskipun hanya sendirian, tapi Gibran tetap tidak mau meninggalkannya. Tentu saja Diandra tidak bisa menolak keinginan suaminya dan dia hanya menurut saja untuk pergi ke rumah mertuanya.


Kata Gibran kalau nanti dia mengantuk tidur saja dan mereka akan menginap, tapi kalau tidak mereka akan pulang setelah Gibran kembali dari acara di kantor. Salah satu hal yang membuat Gibran malas kerja kantoran adalah banyaknya pertemuan dan acara, dia tidak terlalu suka.


Gibran lebih suka menjadi fotografer yang kerjanya cukup santai dan dia juga punya banyak waktu untuk istrinya.


"Pulangnya jam 10 kan Daddy?" Kata Diandra memastikan


"Iya sayang mungkin bisa lebih cepat." Kata Gibran


Diandra tersenyum lalu mengangguk faham.


"Ada yang mau kamu beli sebelum ke rumah Mama?" Tanya Gibran yang dijawab dengan gelengan singkat oleh istrinya


Diandra belum lapar atau memiliki keinginan apapun.


"Nanti kalau ada apa-apa bilang ke Ghina ya?" Kata Gibran


"Iyaa"


"Jangan kemana-mana juga kalau mau apa-apa minta belikan sama Pak Maman aja." Kata Gibran


Diandra menjawabnya dengan gumaman lalu dia bersandar pada jok mobil dan menatap Gibran dengan senyum manisnya.


"Kenapa Daddy ganteng banget pakai jas? Biasanya pakai kemeja atau kaos aja." Kata Diandra


"Kamu suka?" Tanya Gibran sambil menoleh sebentar


"Emm suka, aku mau tanya kenapa Daddy gak kerja di kantor aja?" Tanya Diandra penasaran


"Aku tidak suka sayang, kamu tau aku melihat Papa yang berangkat pagi pulang sore kadang di rumahpun masih sibuk sama kerjaan dan sering keluar kota juga, memang kamu mau kalau aku kayak gitu?" Tanya Gibran yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh istrinya


"Enggak mau"


"Aku suka pekerjaanku yang sekarang baby karena aku jadi punya banyak waktu luang untuk kamu apalagi kita sama-sama kerja di butik juga, jadi sering ketemu kan?" Kata Gibran membuat Diandra tersenyum lebar


"Iya sering banget, mungkin kalau Kakak kerja di kantoran kita gak bakal ketemu dan menikah." Kata Diandra


"Aku gak suka itu." Ujar Gibran


"Hmm aku juga soalnya kalau gak kenal dan gak ketemu Kak Gibran aku mungkin gak akan pernah menikah." Kata Diandra


"Kak?"


"Ehh maaf maksudnya Daddy." Kata Diandra sambil menunjukkan cengirannya


"Aku maafkan kali ini baby dan kamu juga harus tau kalau aku gak ketemu kamu mungkin sampai sekarang aku akan tetap menjadi Gibran yang selalu main-main dan berganti pasangan." Kata Gibran


Diandra tersenyum mereka saling mengubah satu sama lain dan mereka sama-sama belajar untuk berubah menjadi orang yang lebih baik.


Mereka berusaha untuk saling melengkapi.


Dulu Diandra punya ketakutan tentang masa lalunya yang membuat dia sama sekali tidak berniat untuk menikah, tapi Gibran datang dan memberikan dia keyakinan hingga sekarang dia telah menjadi seorang istri.


Dulu Gibran tidak pernah serius dalam menjalin hubungan dia terlalu sering bermain-main keluar masuk club malam, mencium hingga memeluk wanita, dan paling parah pernah menghabiskan malam bersama, tapi sekarang dia sedang belajar menjadi suami yang bertanggung jawab.


Semua bisa berubah seiring berjalannya waktu.


¤¤¤


Sudah setengah jam Diandra berada di rumah mertuanya bersama dengan Ghina, mereka ada di kamar Ghina sekarang dan Diandra tengah mendengar gadis itu bercerita tentang suaminya. Tawa kecil Diandra sesekali terdengar ketika Ghina menceritakan tentang betapa nakalnya Gibran.


Ternyata pria itu tidak hanya menyebalkan padanya, tapi juga ke semua orang bahkan mendengar cerita Ghina saja Diandra ikut sebal. Apalagi ketika Ghina mengatakan Gibran yang sering muncul ketika dia sedang kencan bersama pacarnya lalu menyuruhnya pulang dan mengatakan kalau dia tidak boleh pacaran karena masih kecil.


Ya ampun itu paling menyebalkan.


"Nyebelin kan? Makanya aku kalau di rumah suka gangguin dia, tapi kayaknya Kak Gibran kayak gitu karena mau balas dendam sama aku." Kata Gibran


"Balas dendam? Kenapa?" Tanya Diandra semakin penasaran


"Waktu masih kecil aku suka bikin dia kena marah Mama sama Papa," Kata Ghina.


Ghina mendekat kepada Diandra dan mengatakan hal yang membuat Kakak iparnya itu tertawa.


"Jadi aku itu dulu suka ngikutin Kak Gibran kemana-mana dan dia marah, tapi kalau gak boleh ikut aku bakal nangis terus ngadu ke Mama sama Papa sambil bilang gini 'Mamaa Papa Kak Iban nakal sama Ghina' terus dia kena marah." Kata Ghina


"Dasarr"


Diandra mencubit pelan pipi Ghina membuat gadis itu hanya bisa menunjukkan cengirannya.


"Kalo Kak Gibran sama Kakak gimana?" Tanya Ghina penasaran


"Hmm dia nyebelinn terus mudah marah juga." Kata Diandra


"Iya kan? Kak Gibran juga gitu marah-marah terus kalau tau aku pacaran, padahal kan biarin ya Kak? Mama sama Papa aja bolehin." Kata Ghina dengan bibir mengerucut sebal


"Sampai sekarang masih gitu?" Tanya Diandra


"Heem cuman gak separah dulu kalau dulu aku lagi kencan tuh sampai di susulin tau, tapi sekarang enggak." Kata Ghina


"Dia sayang banget sama kamu berarti Ghina." Kata Diandra


"Iya tau kok, tapi kan gak gitu juga." Kata Ghina


Diandra tersenyum dan memeluk Ghina dengan sayang membuat gadis itu mendekat lalu membalas pelukannya.


"Aku mau ke kamar mandi dulu"


Setelah mengatakan itu Diandra melepaskan pelukannya dan berjalan ke kamar mandi meninggalkan Ghina yang menatapnya dengan senyuman.


Dia senang memiliki Kakak ipar seperti Diandra.


Tak lama Diandra di kamar mandi tiba-tiba Ghina mendengar suara serta namanya yang dipanggil.


"Aghh Ghinaa"


Dan Ghina langsung berlari ke kamar mandi.


¤¤¤


Berada di sekeliling orang yang tidak terlalu dia kenal membuat Gibran benar-benar merasa bosan dan ingin pulang saja, tapi dia bisa kena marah orang tuanya kalau pulang sesaat setelah acara dimulai. Sekarang Gibran hanya diam sambil meminum minuman yang telah disediakan dan mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Andai saja istrinya ikut dia pasti tidak akan kesepian seperti ini, tapi Gibran juga tidak bisa memaksa Diandra apalagi istrinya itu sedang hamil pasti malas ke acara seperti ini.


"Gibran"


Panggilan itu membuatnya menoleh lalu menaikkan sebelah alisnya ketika melihat seorang pria berjalan mendekat dan senyumnya mengembang ketika sadar siapa yang memanggilnya. Mereka bersalaman singkat lalu mengobrol untuk mengisi waktu, dia teman kuliah Gibran.


"Nic"


Nicholas, pria dengan tubuh tinggi serta kekar yang baru saja datang menghampiri Gibran.


"Hm istri gue gak mau ikut, tapi ada Mama sama Papa juga." Kata Gibran


"Sorry gak bisa datang waktu lo married." Kata Nicholas


"It's okay gue bisa mengerti kalau lo itu orang sibuk." Kata Gibran membuat Nicholas tertawa mendengarnya


"Mungkin kalau ada waktu kita bisa makan bareng, sama istri kita juga." Kata Nicholas


Ya, Nicholas juga sudah menikah bahkan lebih dulu dari Gibran.


"Hmm atur aja." Kata Gibran


"Ah gue mau nanya, berita tentang Anetta dan lo gue kaget dengernya." Kata Nicholas


Gibran terdiam dan berdecak kesal ketika mengingatnya.


"Udah lama Nic, inget pas kita ke club dua tahun lalu? Kejadiannya udah lama." Kata Gibran


"I see"


"Beruntung Diandra gak marah, dia memang nangis dan sempat hindarin gue, tapi katanya dia cuman butuh waktu sendiri untuk sementara dan kita udah baik sekarang." Kata Gibran sambil tersenyum


"Well gue penasaran mau ketemu sama istri lo, mau lihat cewek yang berhasil ngubah temen gue yang playboy." Kata Nicholas


"Dia masih muda umur gue sama dia beda empat tahun." Kata Gibran


"Gak ada masalah dengan umur Gibran." Kekeh Nicholas


"Iya gue tau makanya gue nikahin dia." Kata Gibran


"Terus gimana Anetta sekarang? Dia masih ganggu? Gue rasa dia suka banget bikin skandal ya?" Kata Nicholas


"Gue gak tau dan gak peduli juga." Kata Gibran sambil mengangkat bahunya acuh


"Ya ngapain juga nginget dia." Kata Nicholas


Gibran tersenyum tipis dan kembali meminum minumannya hingga deringan di ponselnya membuat Gibran menaruh gelasnya di meja. Ada telpon dari Ghina dan Gibran langsung mengangkatnya karena takut terjadi sesuatu.


Benar saja suara Ghina terdengar panik.


'Kak Gibrannn'


"Ada apa Ghina? Terjadi sesuatu?" Tanya Gibran


'Kak Diandra jatuh di kamar mandi'


"Apa?! Bagaimana bisa? Terus sekarang bagaimana? Kalian ke rumah sakit?" Tanya Gibran panik


'Tidak kami di rumah, tapi Kak Diandra menangis dia minta Kakak pulang'


Gibran menghela nafasnya pelan dan mengatakan kalau dia akan segera pulang.


"Kakak sampai sebentar lagi"


Setelah mengatakan itu Gibran mematikan ponselnya dan bergegas pergi sambil mengatakan sesuatu pada Nicholas.


"Bilang ke orang tuaku kalau aku pulang Nic"


Berlari kecil menuju parkiran Gibran langsung memasuki mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi. Sampai Ghina kembali menelpon dan tanpa berfikir lagi Gibran segera mengangkatnya.


'Kak sudah dimana? Kak Diandra menangis terus'


"Aku dijalan Ghina sebentar, berikan ponselnya pada Diandra." Kata Gibran


Begitu ponsel itu dekat pada istrinya Gibran bisa mendengar suara tangisan membuat dia menghela nafasnya pelan.


"Baby tenang ya? Aku segera sampai jangan menangis"


'Cepat'


"Iya sayang sebentar lagi aku sampai"


Begitu ponselnya mati Gibran kembali fokus pada jalanan dan sekitar sepuluh menit mobilnya berhenti di rumah orang tuanya. Mematikan mesin mobilnya Gibran segera turun dan berlari ke kamar adiknya.


Nafasnya terengah karena dia berlari juga panik dan melihat Diandra disana Gibran langsung menghampirinya.


"Tadi Kak Diandra ke kamar mandi lalu dia jatuh." Kata Ghina


Begitu Gibran datang Diandra langsung duduk dan memeluk suaminya yang duduk di tepian ranjang dengan erat.


"Apa yang sakit?" Tanya Gibran


"Takutt"


"Takut apa hmm?" Tanya Gibran pelan


"Takut anak kita kenapa-kenapa." Kata Diandra dengan air mata


Gibran tersenyum dan menghapus air matanya dengan lembut.


"Besok kita ke Dokter Tiara ya? Kamu jangan nangis dan istirahat saja ya?" Kata Gibran


Mengusap kedua pipinya Diandra mengangguk dan kembali memeluk suaminya.


"Ke kamarku ya? Kita menginap saja." Kata Gibran yang kembali dijawab dengan anggukan oleh istrinya


Gibran tersenyum pada Ghina dan meminta adiknya untuk membukakan pintu karena dia menggendong Diandra sekarang.


"Maaf ya Kak"


"Bukan salah kamu Ghina." Kata Gibran dengan senyuman


Memasuki kamarnya Gibran merebahkan tubuh Diandra di ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya, tapi Diandra menahan tangan Gibran yang ingin berdiri.


"Sini aja"


"Aku mau lepas sepatu baby." Kata Gibran


Melepaskan tangannya Diandra menunggu Gibran melepaskan sepatu serta melepas jasnya lalu ketika pria itu ikut bergabung dengannya di ranjang Diandra langsung memeluknya.


"Jangan nangis hm? Tidak akan terjadi apapun"


Gibran mencium kening istrinya lama dan kembali memeluknya.


¤¤¤


Updatee yeee😚


Kemarin cuman update satu karena ngerjaiin tugas dengan deadline dadakan😂