
Waktu istirahat sudah berbunyi dari 5 menit yang lalu. Kelas yang tadinya ramai membahas contekan tugas matematika yang diberi oleh bu Mira, kini berganti sepi, berhamburan ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah lapar.
Sheryl melihat ke setiap sisi kelas. Kelasnya sudah sepi, hanya ada dirinya dan. . .
Reza!
"Reja ga ke kantin?" tanya Sheryl sambil menatap Reza yang berada disampingnya.
Reza melirik sekilas kearah Sheryl lalu kembali dengan buku tulisnya, entah menulis apa. "Ngga".
Sheryl mengangguk pelan, ia merasa sedikit canggung. Dekat dengan Reza sang pujaan hatinya membuat dirinya mendadak kehabisan topik untuk bercakap dengan Reza.
"Oh ya, Sella kemana? Ga masuk?" tanya Sheryl kepada Reza seolah kepo. Tidak, tidak! Ia hanya menanyakan seperti itu untuk dijadikan topik.
"Sakit"
"Pantes ga nempel ke elo" celetuk Sheryl membuat atensi mata Reza kearah Sheryl.
"Kalo misal Sella nempel ke gue, lo cemburu" Ucap Reza. Matanya tetap fokus kearah Sheryl.
"Iya kok lo tau?" Sheryl mengangguk cepat dan langsung menatap kearah Reza lagi. Dan itu sukses membuat Reza gelagapan dan langsung mengalihkan pandangannya.
"Y-ya lo kan ngejar gue secara terang-terangan" jawab Reza dengan gugup. Sheryl mencebik bibirnya kesal, ia kira Reza juga suka pada dirinya.
Sheryl tidak menjawab, ia kembali fokus kearah tangannya yang sedang memainkan bolpoint yang bewarna biru muda.
Tiba-tiba Reza menutup buku yang sejak tadi ia pakai buat menulis. Perilaku Reza tadi mampu menimbulkan suara dan membuat Sheryl yang duduk disampingnya mengalihkan pandangannya kesamping.
Sejenak Reza mehela nafas pelan, lalu melirik sekilas kearah Sheryl yang sedang menatap dirinya.
"Jujur, belakangan ini gue sering mikirin elo" Ucap Reza berniat memberitahu kepada Sheryl. Ia sangat kesal karena kejadian waktu dirinya di Mall bersama Sheryl, ia jadi selalu memikirkan Gadis itu. Sudah berkali-kali ia berusaha melupakan kejadian tersebut namun tidak bisa, bahkan ketika ia sedang berjalan bersama Sella pikirannya tetap mengarah kepada gadis tersebut alias Sheryl.
Sheryl yang mendengar ucapan Reza pun langsung terdiam. Otaknya seketika blank. Apa katanya? Mikirin dirinya? Wow mengejutkan!.
"Itu berarti lo suka dong sama gue!" Balas Sheryl dengan semangat
Reza menggelangkan kepalanya pelan pertanda tidak setuju dengan ucapan Sheryl. "Gue sukanya sama Sella" Ucap Reza dengan penuh keyakinan. Walaupun yang sebenarnya, di hatinya sangat tidak yakin dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Yaudah lo harus suka dong sama gue. Lo balas cinta gue!" Bukannya muram atau bersedih, justru Sheryl semakin bersemangat untuk menyuruh Reza membalas cintanya. Keyakinan seratus persen pada diri Sheryl bahwa Reza juga mencintai dirinya balik itu patut diapresiasikan!.
"Ngga, Cinta gabisa dipaksa Sher"
"Reza gamau belajar buka hati buat Sheryl sih, Sheryl udah cinta sama Reza, Reza juga suka sama Sheryl. Buka hati dong!" Sheryl mengerucut bibirnya kesal. Reza ini gengsi buka hati buat dirinya?! Menyebalkan.
Reza tertegun mendengar lontaran yang keluar dari mulut Sheryl. "Belajar buka hati buat Sheryl". Kata-kata itu sekarang jadi bersarang diotaknya. Seperti mengelilingi otak Reza.
Reza berdehem pelan lalu kembali membuka bukunya lagi. Dirinya menghilangkan rasa gugup dengan membaca buku. Tapi sayangnya otaknya tidak bisa diajak kerjasama. Ia membaca buku tersebut namun tidak masuk ke otak. Justru otaknya malah mengingat ucapan Sheryl terus menerus.
Reza pasrah. Ia bangkit dari bangkunya lalu keluar dari kelas meninggalkan Sheryl seorang diri didalam kelas.
Reza mau kemana? batin Sheryl seraya menatap punggung Reza yang sudah tertelan pintu.
"HEYYOW BESTIHHH" Teriak Rinda yang baru saja masuk kedalam kelas mengagetkan Sheryl.
"ngagetin lo ah!" Kesal Sheryl mengusap dadanya. Teriakan Rinda yang sama seperti kucing kejepit. Memekak diteliga.
"Ke THT deh lo coba, keknya kedepannya lagi telinga lo bermasalah" Sahut Vella seraya menekankan setiap kata.
"Ihhh lo pada kok gituu sih" Gerutu Rinda dengan kesal karna kedua temannya menjaili dirinya.
Sheryl dan Vella langsung saja tertawa. Melihat muka kesal Rinda yang terlihat imut, apalagi dengan penampilan Rinda sekarang.
Mau tau penampilannya? Dengan seragam yang lebih longgar dari biasanya, rambut yang dikuncir dua dan jepitan pita bewarna kuning kesukaan Rinda. Persis seperti princess Belle yang dikartun. Kalo kata Rinda, Princess Belle itu Princess kuning.
"Nih pesenan lo Sher" Vella menyodorkan roti rasa keju dan sekotak susu vanilla. Sheryl menerimanya dan langsung membukanya, ia terasa sangat lapar sekarang apalagi dirinya belum sarapan.
Vella yang melihatnya pun terkikik geli. Ia mencolek dagu Rinda menggoda Rinda yang masih terlihat marah pada dirinya. "Dede princess kuning ngambek niih" Goda Vella kepada Rinda. Menaik-turunkan alisnya dengan tampang menggoda Rinda membuat sang empu makin kesal.
"Pala lo Dede" Ketus Rinda.
"Kan emang dede, Dede kuning" Sahut Sheryl ikut menggoda Rinda. Ah sepertinya Sheryl dan Vella sedang bekerjasama untuk mengganggu Rinda.
"LO PADA NYEBELIN, KITA UNPREN"
...>>> × × ×<<<...
"Oh ya tadi lo bahas apaan aja sama Reja Sher?" Mereka kini sedang berkemas-kemas untuk pulang. Bel sudah sedaritadi, tapi mereka belum pulang.
Sebenarnya hanya Sheryl karna ia harus menunggu Arga yang kini ada keperluan sedikit dengan pak kepala sekolah, Entah apa yang dilakukan oleh abangnya ini.
Sedangkan Vella dan Rinda yang statusnya sahabat Sheryl, mereka berdua dengan senang hati menemani Sheryl.
"Oh itu, gue cuma bahas random doang sih. Lagian kok lo tau? Cenayang ya lo?" Tanya Sheryl balik menuduh Vella. Matanya menatap serius kearah Vella. Seakan-akan Vella adalah tersangkanya.
Tersangka mengintip pembicaraan cintanya Sheryl dan Reza. .
"Yee suudzon, kan tadi lo berdua disini" Jawab Vella dengan nyolot karna tidak terima dituduh seperti itu.
"Yaelah, canda kali Vel"
"Guys gue pulang duluan yaa, kucing gue sakit" Rinda terbangun dari tempat duduknya membuat suara decitan bangku tercipta. Vella dan Sheryl kompak menoleh kearah Rinda yang terlihat buru-buru.
"Lo pulang sama siapa Rin?" Tanya Sheryl.
"Gue udah dijemput sama mamah gue didepan, gue dulua bye" Tanpa menoleh kearah kedua sahabatnya, Rinda langsung pergi seraya melambaikan tangannya kebelakang. Dirinya langsung berlari keluar dari kelas.
"NANTI MALEM GUE KERUMAH LO!!" Teriak Vella ketika Rinda didepan pintu. Rinda mengacungkan jempolnya menanda mengiyakan ucapan Vella.
"Lo gamau pulang Vel?" Tanya Sheryl kepada Vella. Vella mendongak menatap Sheryl, lalu kembali pada benda pipih yang ia pegang.
"Ngga, males"
30 menit berlalu, Sheryl sekarang sudah jengah menunggu abangnya ini. Lebih dari tiga kali dirinya mengecek kearah jam yang melingkar ditangannya.
"Udah sabar aja kali" Sahut Vella yang tidak digubris oleh Sheryl.
Tak lama kemudian, datang William seraya menenteng tas yang bewarna abu-abu tua. Itu tas Arga. Sheryl ingat sekali. Kemana dia? Apa dia lupa janjinya?
"Loh Arga kemana?", tanya Sheryl mengerutkan dahinya bingung.
"Ini Arga tadi ada keperluan mendadak jadi dia langsung pergi, gue disuruh jemput lo sekalian bawa tasnya Arga" Jelas William kepada Sheryl. Sedang sang empu hanya diam dengan muka merah dan tangan terkepal. Nahan emosi.
"Gausah kalo gitu, Gue pulang sama Vella aja" Jawab Sheryl dan langsung bangkit dari duduknya. Ia menarik tangan Vella mengajak untuk pulang.
"E-eh tapi Sher—" Sheryl langsung menepis tangan William yang berniat mencegahnya.
"Tas nya elo aja yang balikin" Sahut Sheryl yang sepertinya paham dengan muka William yang terlihat kebingungan.
"Sher lo gapapa kan?" Tanya Vella kepada Sheryl. Sebenarnya tanpa ditanya pun Vella tau kalo Sheryl itu jauh dari kata gapapa.
"Gapapa" Jawab Sheryl dengan pelan. Tangannya masih terkepal erat. Ia merasa dibohongi oleh abangnya. Sialnya ia nurut dengan abang tirinya.
"Lo bawa mobil?" Tanya Sheryl yang diangguki oleh sang pemilik mobilnya.
"Kerumah gue dulu atau mau langsung kerumah Rinda?" Tanya Vella seraya memasuki mobilnya diikuti oleh Sheryl.
Sheryl tersenyum tipis, Vella sangat mengetahui isi hatinya jika ia kini sedang tidak baik-baik saja. "Kerumah lo aja dulu, baju gue ada beberapa dirumah lo, lagian biar ga kusut muka gue udah kayak begini" Jawabnya diangguki oleh Vella.