
"Daddy kita mau kemana?"
Pertanyaan itu Diandra ajukan ketika Gibran mengajaknya untuk mengemasi pakaian mereka. Sekak tadi Diandra sudah merasa aneh dengan suaminya mulai dari pulang dengan raut wajah muram, pelukan yang selalu dia dapatkan, dan tatapan mata yang berbeda.
Sungguh Diandra penasaran apa yang membuat Gibran sampai begini?
Sekarang dia hanya menurut saja dan mengikuti Gibran yang mengemasi pakaian mereka tanpa banyak bicara. Selain itu suaminya juga hanya diam hingga mereka selesai dia pergi mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Iya, saya akan kesana sama istri saya jangan kunci gerbangnya." Kata Gibran
Setelah itu Gibran menutup panggilannya lalu meminta Diandra untuk mendekat dan memeluknya entah untuk yang keberapa kalinya. Kali ini Diandra akan menurut juga tidak banyak bertanya, biar saja Gibran nanti bercerita sendiri tentang keluhannya.
Dia tidak mau memaksa.
"Aku mau ajak kamu ke villa Papa yang ada di Bandung." Kata Gibran
"Sekarang?" Tanya Diandra
"Iya kita akan tinggal disana sementara, tidak masalah kan baby?" Kata Gibran sambil menatap istrinya dengan penuh harap
Diandra menatapnya sebentar lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Tidak papa Daddy." Kata Diandra
"Sekarang, kamu mau makan dulu?" Tanya Gibran
"Emm belum lapar nanti saja dijalan ya?" Kata Diandra dengan senyuman
"Baiklah sekarang kita berangkat supaya tidak sampai terlalu malam." Kata Gibran
Sekali lagi Diandra mengangguk patuh lalu menyambut uluran tangan Gibran dan mereka bersama-sama keluar dari apartemen sambil membawa sebuah koper. Setelah memasukkan kopernya ke dalam bagasi Gibran membukakan pintu mobilnya untuk Diandra lalu masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan area apartemen.
Gibran tidak memberi tau kedua orang tuanya, nanti saja setelah mereka sampai karena kalau dia bicara sudah pasti mereka tidak akan memberikan izin. Sore ini mereka akan menempuh perjalanan yang cukup panjang karena butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke Bandung.
Sungguh Gibran ingin pergi dari semua orang dimasa lalunya, termasuk Anetta yang entah kenapa malah semakin membuatnya kesal.
Bagaimana bisa wanita itu memiliki ide yang sangat tidak masuk akal?!
Gibran tidak akan pernah bermain di belakang istrinya karena bagi dia Diandra satu-satunya.
"Daddy"
"Hmm"
"Kita tidak bilang Mama sama Papa?" Tanya Diandra
"Nanti setelah sampai aku akan menghubungi mereka." Kata Gibran membuat Diandra mengangguk faham dan melihat lurus ke depan
Setelahnya Diandra kembali diam dan tidak mengatakan apapun lagi, dia rasa Gibran sedang tidak dalam mood yang baik. Meskipun merasa cemas Diandra tidak mau memaksa dia akan menunggu sampai Gibran mau bercerita sendiri.
Sedangkan Gibran masih bingun harus bicara apa, dia ingin mengatakan kalau tadi dia bertemu Anetta, tapi bingung harus memulainya dari mana. Alasannya mengajak Diandra pergi karena dia cemas kalau saja Anetta nekat menemui Diandra lalu mengatakan hal buruk yang bisa membuat semua berantakan.
Gibran tau seberapa nekatnya Anetta.
¤¤¤
Lebih dari tiga jam perjalanan mereka sebelum akhirnya sampai di salah satu villa milik keluarganya yang memang sesekali mereka datangi ketika liburan. Saat melihat mobil milik Gibran seorang satpam langsung membuka gerbang untuknya dan setelah mobilnya terparkir di halaman rumah Gibran menggendong Diandra yang sudah terlelap.
Tidak lupa Gibran meminta satpam di villanya untuk membawa koper dan memasukkan ke dalam. Villa yang terdiri dari dua lantai ini cukup luas dengan kolam renang serta lima kamar tidur luas yang tersedia.
Sampai di kamar yang ada di atas Gibran membaringkan tubuh Diandra dengan hati-hati lalu mencium keningnya dengan lembut. Setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya Gibran keluar kamar untuk menghubungi orang tuanya dan bicara jujur.
Dia menelpon Farhan.
"Halo Pa"
'Ada apa Gibran? Kamu butuh sesuatu?'
"Gibran ada di Villa." Kata Gibran
'Apa?! Kenapa kamu tidak bilang kalau mau kesana?'
"Tidak ada Pa Gibran hanya ingin pergi kesini saja bersama Diandra dan mungkin untuk beberapa minggu ke depan." Kata Gibran
'Ada apa Gibran? Terjadi sesuatu kan'
Memang tidak pernah bisa untuk berbohong dengan Farhan.
"Kemarin Gibran bertemu Anetta dan sesuatu terjadi makanya Gibran ajak Diandra kesini." Kata Gibran
Helaan nafas terdengar bersamaan dengan hening yang menyelimuti keduanya.
'Hubungi Papa kalau butuh sesuatu dan jangan sampai ada kabar buruk yang Papa dengar karena kalau hal itu sampai terjadi kami akan bawa Diandra'
Hanya itu yang Farhan katakan sebelum akhirnya mematikan panggilan telpon begitu saja.
Sampai di kamar Gibran mendekat dan membangunkan istrinya dengan penuh kelembutan.
"Baby bangun kita harus makan malam"
Diandra hanya menggeliat pelan dalam tidurnya, tapi belum membuka matanya hingga Gibran mendekat dan menciumnya lama.
Berhasil!
Mata Diandra terbuka dan dia menatap suaminya dengan sebal, tapi Gibran terlihat biasa saja dan malah menunjukkan senyumannya.
"Makan dulu, kamu mau makan apa?" Tanya Gibran
"Ngantukkk"
"Makan dulu nanti tidur lagi." Kata Gibran
"Makan apa?" Tanya Diandra sambil mendudukkan dirinya
"Kamu mau makan apa? Mau pesan atau mau makan di luar?" Tanya Gibran
"Emm pesan saja aku ngantuk." Kata Diandra
"Mau apa?" Tanya Gibran
"Emm nasi goreng saja." Kata Diandra
"Yaudah aku pesankan." Kata Gibran
Diandra mengangguk lalu turun dari tempat tidur dan melihat keluar jendela yang menyuguhkan pemandangan indah. Senyumnya mengembang apalagi ketika dia merasakan ada tangan yang melingkar di pinggangnya.
Gibran memeluknya dari belakang.
¤¤¤
Terhitung sudah dua minggu Gibran tinggal di villa bersama dengan istrinya dan seperti hari-hari sebelumnya mereka pergi ketika hari masih sedikit gelap untuk melihat matahari terbit. Memakai pakaian tebal karena cuaca yang cukup dingin keduanya duduk di atas rumput hijau dengan Diandra yang bersandar pada bahu suaminya.
Dia suka disini tempatnya begitu nyaman dan ada banyak pemandangan indah juga makanan enak. Selain itu Gibran sering sekali mengajaknya pergi jalan-jalan tentu saja Diandra sangat senang.
"Lihat sudah mau terbitt"
Gibran tersenyum melihat istrinya yang terlihat sangat antusias.
"Baby berdiri disana biar aku foto." Kata Gibran
Hari ini dia memang membawa kamera miliknya dan Diandra menurut dia berlari kecil ke dekat pohon lalu membiarkan Gibran mengambil gambarnya hingga berkali-kali.
"Lihat"
Berlari kecil Diandra melihat foto yang diambil suaminya dan tersenyum senang lalu memeluknya dari samping.
"Habis ini kita langsung pulang ya?" Kata Gibran
Diandra mengangguk sebagai jawaban dan mereka menunggu hingga matahari semakin terlihat terang.
Setelah itu mereka kembali ke villa dengan Diandra yang memeluk lengan suaminya sambil menyandarkan kepalanya disana.
Ada banyak hal menyenangkan yang mereka lakukan.
¤¤¤
Beredar foto model ternama bersama seorang pria di sebuah hotel bintang lima.
Geraman Farhan terdengar ketika dia melihat berita di tv tidak mungkin dia tidak mengenali siapa pria dengan punggung polos yang muncul di layar tv nya. Sudah benar-benar tidak bisa dimaafkan Farhan tidak menyangka kalau Gibran juga pernah melakukan hal seperti itu pada wanita lain.
Kepalanya berdenyut bersamaan dengan itu istrinya masuk ke dalam ruang kerjanya dengan raut wajah marah serta mata berkaca-kaca. Mereka memikirkan Diandra sekarang apalagi menantunya itu sedang hamil, bagaimana perasaannya?
Foto yang beredar itu memperlihatkan Gibran bersama Anetta yang berciuman, memasuki area hotel juga salah satu kamar dan yang terakhir foto di atas ranjang.
"Bersiap Ma kita pergi ke villa sekarang." Kata Farhan
Farhan benar-benar ingin memukul wajah anaknya sekarang.
Mengikuti langkah kaki suaminya pergi ke kamar Dara mengambil jaketnya di lemari dan bergegas keluar dari kamar. Mereka bertemu Ghina yang ingin mengatakan sesuatu, tapi Farhan langsung memotong ucapannya dan pergi begitu saja.
"Ghina jangan kemana-mana diam di rumah Papa dan Mama akan pergi ke villa"
Farhan terlihat sangat marah.
¤¤¤
Butuh satu part lagii gak nihh😋