OBSESSION

OBSESSION
Bertemu Sagara



Semalaman tidur Gibran sama sekali tidak nyenyak istrinya itu benar-benar tidur bersama Mama nya di kamar tamu karena Gibran menolak untuk pulang ke rumahnya kalau sendirian. Sekarang Gibran baru saja selesai mandi lalu dia pergi ke kamar tamu untuk menemui Diandra, mungkin saja istrinya itu sudah tidak marah padanya.


Tadi Mama nya sudah keluar, jadi Gibran yakin kalau Diandra masih ada di kamar dan benar dugaannya Diandra sudah bangun. Rambutnya masih sedikit basah dia memakai kaos putih kebesaran juga celana pendek dan sekarang sedang duduk diranjang sambil memegang telpon.


Dia terlihat sedang bicara dengan seseorang membuat Gibran penasaran dan langsung masuk ke dalam. Telinganya menangkap percakapan singkat istrinya ditelpon.


"Boleh? Aku mau ketemu yaaa?"


Tanpa permisi Gibran meraih ponsel istrinya dan membuat Diandra merengek sambil meminta ponselnya kembali, tapi Gibran terlihat kesal ketika melihat nama Sagara.


Dengan segera dia mematikan panggilan telponnya.


"Ihh balikinnnn"


"Kamu ngapain telpon dia?!" Tanya Gibran marah


Melihat tatapan tajam suaminya membuat Diandra menunduk.


"Diandra aku sedang tanya." Kata Gibran lagi


Nada bicaranya tinggi membuat Diandra kesal lalu melempar bantal sambil melayangkan protesnya.


"Ihh jangan bentak-bentak!"


Menghela nafasnya pelan Gibran duduk disamping Diandra dan meminta maaf lalu bertanya dengan nafa bicara yang lebih lembut.


"Maaf, kenapa kamu telpon dia?" Tanya Gibran pelan


"Aku mau ajak Sagara ketemu." Kata Diandra tanpa dosa


"Untuk apa?!" Sentak Gibran


"Ihh bentak-bentak terusss! Aku aduin Mama." Kata Diandra kesal


Memejamkan matanya sebentar Gibran tersenyum tipis dan kembali bertanya dengan suara pelan juga lembut.


"Untuk apa ketemu Sagara?" Tanya Gibran yang sebenarnya ogah menyebut namanya


"Mau aja, memang kenapa?" Tanya Diandra


Kali ini Gibran dibuat gila dengan keinginan istrinya, benar kata Papa nya harusnya kemarin dia membiarkan saja Diandra cerita sepuasnya.


Dari pada permintaan yang lebih gila ini.


"Gak usah ya?" Pinta Gibran


Diandra langsung cemberut mendengarnya.


"Mau ketemu Sagara." Kata Diandra


"Iya untuk apa baby?" Tanya Gibran sabar


"Enggak tau mau ketemu aja." Kata Diandra


Wajahnya terlihat sedih sambil menatap Gibran dengan penuh permohonan, tapi tidak Gibran tetap tidak akan mengizinkan.


"Gak usah ya? Aku gak kasih izin ponselnya aku ambil." Kata Gibran sambil berjalan keluar kamar


"Ihh Daddy pokoknya kalau gak boleh aku gak mau makan!" Seru Diandra


Gibran tetap tidak mendengar dan berjalan keluar kamar membuat Diandra semakin cemberut.


Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu menutup wajahnya dengan bantal, memang salah?


Cuman bertemu saja Diandra juga tidak akan melakukan apapun dan Gibran juga kan akan menemani dia.


Kembali pada Gibran yang sekarang semakin terlihat tidak bersemangat memilih untuk pergi ke ruang tamu dan mendudukkan dirinya disana sambil membaca pesan yang ada di ponsel istrinya.


^^^Sagara^^^


Iya Diandra?


^^^Aku mau ketemu yaaa^^^


Ada masalah?


^^^Enggak ada mau ketemu aja^^^


Nanti suami kamu marah mendingan jangan


^^^Tapi, mau ketemu nanti kan Kak Gibran ikut^^^


Bilang dulu sama suami kamu


Kalau boleh nanti kita ketemu


^^^Boleh kok aku telpon aja ya?^^^


Setelah itu mereka bertelponan, astaga Gibran kesal sekali dengan istrinya. Biarkan saja kali ini dia tidak akan menuruti kemauannya.


Gibran tidak akan membiarkan Diandra bertemu dengan mantan kekasihnya.


Dia tidak akan luluh!


¤¤¤


Ternyata Diandra tidak bercanda ketika bilang kalau dia tidak mau makan jika Gibran tidak mengizinkan untuk bertemu dengan Sagara. Sejak tadi Gibran berusaha membujuk istrinya yang tidak mau sarapan sampai dia lelah sendiri.


Tadi Dara juga memarahinya sambil mengatakan untuk menuruti saja keinginan istrinya, tapi Gibran bisa emosi sendiri. Sekarang melihat istrinya yang menolak untuk makan membuat Gibran berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak marah.


Jadi dia yang harus mengalah?


Baiklah untuk kali ini Gibran akan mengizinkan demi kebaikan istrinya agar mau sarapan, tapi ini pertama dan terakhir kalinya.


"Baby makan ya? Aku izinkan kita ketemu Sagara." Kata Gibran dengan setengah hati


Diandra membuka selimutnya dan langsung duduk.


"Bener kan?" Tanya Diandra dengan penuh antusias


Dengan setengah hati Gibran menganggukkn kepalanya, tapi hal itu membuat istrinya tersenyum senang.


"Tapi, makan dulu samlai habis." Kata Gibran


"Suapin ya?" Kata Diandra


"Iya baby"


Sungguh kalau tidak terpaksa Gibran tidak akan pernah memberi izin.


"Baby"


"Hmm"


"Janji ya? Setelah ini jangan minta hal kayak gitu lagi." Kata Gibran


Diandra terdiam sejenak lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Setelah selesai sarapan Diandra bergegas pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya dan meninggalkan Gibran yang hanya bisa tersenyum melihatnya.


"Jadi?"


Menolehkan kepalanya Gibran melihat Dara yang tersenyum dan dia tertawa kecil sambil mengatakan kalau dia tidak punya pilihan lain.


"Percaya sama Mama kamu akan dapat hadiah setelahnya"


Gibran hanya tersenyum lalu pergi ke atas untuk menyusul istrinya.


Awas saja kalau Diandra samai berdandan!


¤¤¤


"Kenapa lihatin aku terus?"


Sagara ingin tertawa juga salah tingkah karena Diandra terus menatapnya sejak mereka bertemu di cafe, dia juga merasa tidak enak pada Gibran yang hanya bisa memasang wajah masamnya. Satu hal yang dia tau Diandra sedang hamil makanya Gibran mengizinkan mereka untuk bertemu karena dia yakin kalau tidak mana mungkin pria itu mengizinkan istrinya untuk bertemu dengan dia.


Awal pertemuan Sagara dengan suami mantan kekasihnya saja sudah tidak baik, bogeman mentah yang dia terima cukup sakit hingga membuat sudut bibirnya berdarah. Sekarang mereka duduk behadapan hanya karena Diandra yang dulu menjadi alasan pertengakaran mereka.


"Kenapa? Enggak boleh ya?" Tanya Diandra sedih


"Eh bukan gitu aku kan cuman nanya habisnya kamu gak ngomong apa-apa." Kata Sagara


"Aku kan cuman mau ketemu untuk lihat Sagara." Kata Diandra sambil menunjukan cengirannya


Sabar Gibran, batinnya berteriak.


"Yaudah lihat aja sepuas kamu." Kata Sagara dengan senyuman


Diandra tersenyum senang dan kembali menatap Sagara dengan penuh kekaguman.


Sejak tadi memang hanya itu yang dia lakukan, menatap Sagara dengan tangan kirinya yang digenggam oleh suaminya.


"Sagara"


"Iya"


"Aku mau pegang rambut kamu." Kata Diandra


"Diandra"


Diandra menoleh dan menatap Gibran dengan sedih membuat suaminya itu hanya bisa menghela nafasnya pelan.


"Jangan lama-lama." Kata Gibran


Tersenyum senang Diandra meminta Sagara untuk sedikit menunduk lalu mengacak-ngacak rambutnya sebentar.


"Udahh"


Sagara menggelengkan kepalanya pelan, tidak percaya dengan keinginan aneh wanita hamil dihadapannya.


"Sagara"


"Iya kenapa Diandra?" Tanya Sagara


"Kamu udah punya pacar?" Tanya Diandra membuat Sagara tertawa mendengarnya


"Belum, tapi Mami mau jodohin aku sama temannya." Kata Sagara


Diandra mengangguk faham lalu terdiam dan tidak mengatakan apapun.


"Pipi kamu tembem banget sekarang." Kata Sagara membuat Diandra tersenyum


"Iya aku kan makannya banyak sekarang, iya kan Kak?" Kata Diandra sambil menatap suaminya


"Iya dia makan banyak sekali sekarang." Kata Gibran


Sagara tersenyum dan mengatakan hal yang membuat Diandra merasa senang.


Sagara memang selalu baik.


"Jaga kesahatan ya? Jangan makan sembarangan apalagi kamu lagi hamil." Kata Sagara


Diandra mengangguk singkat lalu setelahnya dia mengajak Gibran untuk pulang dan membuat suaminya itu menghela nafasnya lega.


Sejak tadi dia menunggu ajakan itu.


"Hati-hati ya? Biar aku yang bayar." Kata Sagara


Diandra mengangguk lalu melambaikan tangannya sebelum mengikuti langkah kaki suaminya. Begitu sampai diparkiran dan masuk ke dalam mobil Diandra mengucapkan terima kasih.


Ucapan terima kasih yang membuat Gibran tersenyum senang, dia tidak menyesal.


"Daddy makasih makasih makasih makasihhh"


"Give me a kiss baby." Kata Gibran sambil menunjuk bibirnya


Diandra tersenyum lalu mengangguk dan menarik wajah Gibran mendekat kemudian memberikan ciuman disana. Bukan ciuman singkat karena Diandra bergerak lembut disana membuat Gibran tersenyum dan mengusap punggungnya.


Setelah merasa hampir kehabisan nafas Diandra menjauhkan wajahnya lalu tersenyum sambil mengusap bibir bawah Gibran dengan ibu jarinya.


"Makasih Daddy sayang banget sama Daddy"


Gibran tersenyum dan mencium bibirnya sekilas lalu meminta Diandra untuk memakai sabuk pengamannya.


Mobil Gibran melaju pergi dengan senyuman yang menghiasi wajah keduanya.


Gibran yang pengertian.


¤¤¤


Update lagiii huhuuu😋