OBSESSION

OBSESSION
Pertengkaran



Mengurus pernikahan dalam waktu yang begitu singkat bukanlah hal yang mudah bahkan Gibran sampai sakit kepala hanya karena gedung yang penuh. Meskipun pada akhirnya tetap dapat dengan harga yang lebih mahal, tapi tetap saja kepalanya hampir pecah hanya karena memikirkan hal itu.


Pernikahan ini harus digelar dengan meriah, tapi Gibran sudah membicarakan dengan orang tuanya bahwa pesta hanya akan sampai siang atau sore saja karena dia takut Dia dra kelelahan dan tentu saja mereka setuju dengan usul dari Gibran. Masalah baju dan undangan telah selesai hanya tinggal dekorasi serta makanan saja, tapi Dara mengatakan biar dia yang mengurusnya.


Saat ingin menanyakan usul pada Diandra wanita itu hanya mengatakan terserah karena dia memang tidak harus memilih atau melakukan apa, dia hanya akan mengikuti saja.


"Huft akhirnya selesai juga untuk masalah gedung"


Gibran memasuki kamar tamu dan merebahkan dirinya disana membuat Diandra bangun dan menatapnya. Memang Diandra tidur di kamar tamu, tapi setiap malam Gibran selalu menemaninya hingga dia tetidur lelap baru kembali ke kamarnya.


Terkadang Gibran sering di marah karena pagi hingga malam selalu memasuki kamar ini untuk menemui Diandra.


"Lelah?" Tanya Diandra


"Tidak hanya pusing saja." Kata Gibran dengan senyuman


Ikut tersenyum Diandra mengusap puncak kepala calon suaminya itu dengan sayang dan membuat Gibran menutup matanya untuk menikmati itu semua.


"Sini tidur disini." Kata Diandra sambil menepuk pahanya


Tentu saja Gibran langsung menurut dia bahkan menghadap ke arah perut Diandra lalu menciumnya.


"Apa dia rewel?" Tanya Gibran


"Tidak dia sangat pintar." Kata Diandra


"Aku tidak sabar menunggu pernikahan kita dan aku akan langsung membawa kamu ke apartemen selagi menyiapkan rumah untuk kita lalu kita akan menghabiskan waktu berdua." Kata Gibran membuat Diandra tersenyum mendengarnya


"Menurut Kakak dia laki-laki atau perempuan?" Tanya Diandra


"Hm entahlah, tapi apapun itu tidak masalah kita bisa buat lagi nanti." Kata Gibran


Diandra melotot dan mencubit pipinya dengan cukup kuat.


"Kenapa sih Kakak mesum banget?" Tanya Diandra kesal


"Maaf sayang"


Setelah itu keduanya terdiam dan Gibran benar-benar memejamkan matanya dipangkuan Diandra dengan kepala yang terus diusap. Dia sangat bahagia karena Diandra tidak lagi memberikan penolakan seperti dulu.


Mereka sudah bertemu Sahara dan memberi tau semuanya yang mengakibatkan Gibran mendapat omelan sekali lagi. Sepupunya itu sangat marah karena Gibran yang menghamili asistennya dan dia juga sudah minta maaf.


"Diandra"


"Hmm"


Gibran membuka matanya lalu menatap Diandra dengan penuh kelembutan dan menanyakan hal yang membuat wanita itu diam.


"Kamu bahagia?" Tanya Gibran


Cukup lama Diandra diam hingga Gibran bangun dan membawa wanita itu untuk berhadapan dengannya. Senyum Diandra mengembang perlahan lalu dia menganggukkan kepalanya.


"Aku bahagia, terima kasih Kak." Kata Diandra


Ikut tersenyum Gibran memeluk Diandra dengan sayang.


"Aku bosan"


"Bosan? Mau pergi ke suatu tempat?" Ajak Gibran yang langsung dijawab dengan anggukan olehnya


"Mau kemana?" Tanya Diandra


"Ke studio fotoku." Kata Gibran


Diandra baru tau itu dan tentu saja dia langsung mengangguk dengan semangat karena dia juga sangat bosan.


"Ayo kesanaa"


"Pakai jaket dulu." Kata Gibran


Pria itu berjalan ke lemari dan mengambilkan jaket untuk Diandra lalu membantu memakaikannya. Digenggamnya tangan mungil itu lalu mereka keluar dari kamar bersama-sama, tentu saja Dara langsung bertanya.


Belum sempat Gibran menjawab Diandra sudah bicara lebih dulu dan Dara hanya tersenyum sambil meminta anaknya untuk hati-hati.


Setelah itu mereka pergi ke garasi Gibran membukakan pintu mobil untuk Diandra dan masuk di sisi lain pintu. Selama perjalanan Diandra hanya diam dengan raut wajah penuh kebahagiaan dan mata yang melihat ke jalan.


Mata Diandra membulat ketika dia melihat sesuatu bahkan wajahnya sampai menoleh dan dia langsung memukul lengan Gibran memintanya untuk berhenti.


"Kak berhentii berhentii cepatt." Kata Diandra dengan semangat


Refleks Gibran menepikan mobiknya lalu menginjak rem nya, beruntung dia masih berada di area perumahan dan menatap Diandra dengan alis bertaut.


"Aku mau turun dulu." Kata Diandra sambil membuka pintu mobil


Dengan sigap Gibran menahannya.


"Mau kemana?" Tanya Gibran


"Ada siomay aku mau belii." Kata Diandra yang membuat Gibran tertawa kecil mendengarnya


"Biar aku saja." Kata Gibran


"ABANG MAU BELII"


Bagaimana Gibran tidak tergila-gila padanya kalau Diandra begitu menggemaskan?


¤¤¤


Senyum Diandra mengembang ketika dia menjelajah studio foto milik calon suaminya dan ada banyak sekali foto yang tergantung. Saat ini Gibran sedang keluar untuk membelikan makan karena Diandra yang mengeluh lapar dan minta dibelikan ayam bakar.


Tidak jauh karena tempatnya cukup dekat dari studio foto bahkan Gibran saja berjalan kaki. Suara langkah kaki terdengar dan membuat Diandra secara refleks menolah, dia fikir itu Gibran, tapi ternyata salah.


"Hai"


Anetta, kenapa wanita itu bisa ada disini?


"Aku melihat mobil Gibran di depan makanya aku mampir." Kata Anetta seolah menjawap pertanyaannya


"Kak Gibran lagi beli makan." Kata Diandra


Anetta mengangguk dan melangkahkan kakinya mendekat tadinya diam hingga mengatakan hal yang membuat Diandra diam.


"Jadi, kamu memakai cara murahan ini untuk mendapatkan Gibran?" Tanya Anetta dengan raut wajah meremehkan


"Apa....."


"Jangan-jangan kamu hanya gadis sok polos yang menjebak pria kaya." Kata Anetta lagi


"Jangan asal bicara!" Kata Diandra tidak terima


"Kamu wanita murahan yang menyerahkan tubuhmu pada seorang pria." Kata Anetta membuat wajah Diandra memerah karenanya


Tangannya terkepal kuat dan Anetta terus saja bicara Gibran juga tidak kunjung kembali.


"Apa itu ajaran dari orang tuamu juga? Mungkin saja mereka.... awhhh"


Anetta yang terus bicara membuat Diandra kesal dan karena kehamilannya Diandra jadi sangat ingin menjambak rambutnya.


Dia berusaha menahan, tapi ketika wanita itu mulai bicara tentang orang tuanya Diandra marah dan benar-benar menjambak rambutnya dengan kuat.


"Berhenti bicara omong kosong! Jangan berani membicarakan orang tuaku!" Kata Diandra marah


Diandra tidak mau melepaskan tangannyan dan terus menjambak rambut Anetta dengan tangannya. Entah berapa lama hingga sebuah seruan membuat Diandra melepaskan tangannya.


Nafasnya terengah dan Anetta langsung menjauh sambil memegang kepalanya.


"Ya ampun Diandra"


Tadinya Diandra fikir Gibran akan menghampiri Anetta, tapi dia salah pria itu menghampirinya dan bertanya kepada mereka berdua.


"Ada apa?" Tanya Gibran


"DIA!"


Keduanya saling menunjuk membuat Gibran menghela nafasnya pelan.


"Dia menjambakku tanpa alasan!" Kata Anetta


"Tidak! Dia yang mulai dia menghinaku dan orang tuaku juga!" Balas Diandra


"Bohong!"


Gibran memijat dahinya dan menatap Diandra yang terlihat begitu marah dengan sayang dia membawa wanita itu untuk menghadap ke arahnya.


"Tenang Diandra." Kata Gibran


"Dia yang mulaiii." Kata Diandra sambil menunjuk Anetta


Matanya mulai berkaca-kaca membuat Gibran mengantarnya ke ruang kerja lalu meminta Diandra untuk menunggunya.


Setelah itu Gibran menghampiri Anetta yang sedang merapihkan rambutnya dan ketika melihat pria itu dia langsung bicara.


"Wanita itu yang memulainya!" Kata Anetta marah


"Dia tidak mungkin melakukannya tanpa alasan." Kata Gibran


"Jadi maksudmu aku yang salah?!" Kata Anetta marah


"Anetta sudahlah kita bicara nanti." Kata Gibran


Menghentakkan kakinya Anetta pergi dengan tangan terkepal membuat Gibran menghela nafasnya pelan dan menghampiri Diandra. Dia tidak mau membuat Diandra marah dan lagi tidak mungkin Diandra menjambak orang tanpa alasan.


Saat masuk ke dalam Diandra menatapnya dengan air mata membuat Gibran tersenyum dan langsung menghapusnya. Tadinya Diandra fikir Gibran akan marah atau mempedulikan Anetta, tapi ternyata dia salah.


"Bukan aku Kak, tapi dia yang mulai"


¤¤¤


Pagi-pagi update ada yang baca gak yaa😌


Berapa part yaa hari inii?