
Suara tangisan membuat tidur Gibran terusik hingga dia membuka matanya dan mengedarkan pandangan, matanya membulat sempurna ketika dia melihat istrinya yang terduduk sambil memegang kedua telinganya dengan erat. Wajah Gibran mendadak panik dia lompat dari tempat tidurnya dan menghampiri Diandra yang duduk di dekat pintu.
Saat dia menyentuh pundaknya Gibran dapat melihat nafas Diandra yang memburu serta tatapannya yang penuh ketakutan juga air mata yang jatuh di pipinya. Semakin panik Gibran menariknya ke dalam pelukan dan membisikkan sesuatu ketika Diandra memberontak hebat di dalam pelukannya.
Kenapa?
"Ini aku baby"
Setelah perkataan itu terdengar Diandra memeluknya dengan sangat erat hingga membuat Gibran sedikit merasa sesak.
"Ada apa baby? Kamu kenapa?" Tanya Gibran
Tidak ada jawaban Diandra masih terisak di pelukannya membuat Gibran menggendongnya dan mendudukkan di atas ranjang bersamanya.
"Takut"
"Takut kenapa hmm?" Tanya Gibran
"Takut"
"Iya baby takut kenapa? Kamu mimpi buruk?" Tanya Gibran sambil mengusap punggungnya dengan lembut
"Jangan pergi Kak." Kata Diandra sambil mengeratkan pelukannya
"Aku disini." Kata Gibran
"Jangan pergi"
Diandra terus mengatakan hal yang sama sambil memeluknya dengan sangat erat bahkan sampai mencengkram kaos hitam yang Gibran kenakan.
"Tidak baby aku tidak akan pergi kemanapun." Bisik Gibran
Tangisan Diandra sudah hilang isakannya juga tak lagi terdengar, tapi pelukannya masih begitu erat dan Gibran juga tidak menanyakan apapun hanya membiarkan Diandra untuk tenang. Entah berapa lama yang jelas Gibran sampai merasa sedikit pegal karena Diandra yang duduk dipangkuannya.
Ketika Diandra melepaskan pelukannya dia menatap Gibran dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Ada apa hmm?" Tanya Gibran sambil mengusap pipinya dengan lembut
Bukan jawaban Gibran malah terkejut ketika tubuhnya di dorong jatuh ke atas ranjang bersamaan dengan ciuman di bibirnya. Mata Gibran membulat dengan sempurna, tapi dia membiarkan Diandra melakukan apa yang diinginkan.
Dalam waktu singkat Diandra menjauhkan wajahnya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Mimpi buruk yang sudah lama hilang kembali datang dan menghantuinya.
"Wanna talk?" Tanya Gibran sambil memeluknya
Diandra takut Gibran pergi seperti orang-orang yang pernah ada disekitarnya.
Orang tuanya pergi setelah kecelakaan itu dan mereka tidak pernah kembali lagi. Keluarga besar dari kedua orang tuanya juga pergi seolah tidak menganggap keberadaannya.
Dulu Diandra juga anak diluar pernikahan.
Hal yang sama tidak akan terjadi padanya kan?
"Jangan pergi Kak." Kata Diandra lirih
"Aku disini Diandra." Kata Gibran
Menghela nafasnya pelan Gibran memiringkan tubuhnya dan membuat Diandra kini berhadapan dengannya.
"Ada apa?" Tanya Gibran dengan lembut
"Aku... orang tuaku... aku memimpikan mereka dan aku takut." Kata Diandra
"Aku disini baby jangan takut." Kata Gibran sambil mengusap pipinya dengan lembut
"Aku takut Kak Gibran juga pergi." Kata Diandra pelan
"Tidak akan pernah Diandra." Kata Gibran
Menatap mata suaminya yang penuh ketulusan Diandra terdiam lalu mendekat dan menyembunyikan wajahnya dileher Gibran.
"Tidur lagi ya?" Kata Gibran
"Nanti mimpi lagi." Kata Diandra takut
"Tidak, aku akan masuk ke dalam mimpi kamu nanti dan memeluk kamu disana." Kata Gibran
"Janji?"
"Janji baby"
Diandra memeluknya lagi dan Gibran memberikan usapan dipunggungnya hingga nafas Diandra kembali teratur. Sungguh dia cemas sekali melihat Diandra yang menangis tadi, takut kalau dia berbuat kesalahan.
Mimpi buruk itu Gibran harus membantu Diandra menghilangkannya.
Dia harus membantu Diandra melupakan semua kenangan yang melukainya.
Mengeratkan pelukannya Gibran berusaha untuk memejamkan matanya lagi dan pergi ke alam mimpi bersama Diandra.
Tidak ada yang boleh menyakiti Diandra meski hanya di dalam mimpinya saja.
¤¤¤
Mata Diandra mengerjap berkali-kali ketika dia merasa silau dan ketika matanya terbuka dia mencari Gibran yang tadi malam memeluknya, tapi tidak ada. Rasa takut kembali datang Diandra bangun dan membuka pintu kamar mandi lalu masuk ke dalam untuk mencari suminya, tidak ada juga.
"Kak Gibrann"
"Kak Gibrann"
Berkali-kali Diandra memanggilnya hingga ingin menangis dan ketika mendengar suara pintu dia berlari keluar kamar. Melihat Gibran disana Diandra berseru lalu memeluknya dengan erat hingga Gibran terhuyung ke belakang karena kaget.
"Ada apa sayang?" Tanya Gibran
Bukan menjawab Diandra malah menangis dan membuat Gibran jadi cemas lau dengan sedikit paksaan melepaskan pelukannya. Menangkup wajah Diandra yang sekarang berurai ari mata Gibran menghapusnya dengan lembut.
"Ada apa?" Tanya Gibran
"Aku... aku... kira Kak Gibran ninggalin aku." Isak Diandra membuat Gibran tersenyum mendengarnya
Dia habis membeli bubur keluar untuk sarapan mereka berdua.
"Aku habis beli bubur bukan pergi ninggalin kamu." Kata Gibran dengan lambut
"Takutt"
Diandra kembali memeluknya membuat Gibran tersenyum dan mengusap punggungnya dengan sayang.
"Aku disini Diandra." Kata Gibran
"Takut... takut Kak Gibran pergi." Lirih Diandra sambil mengeratkan pelukannya
Cukup lama Diandra memeluknya hingga Gibran menjauhkan tubuhnya dan mengusap pipi Diandra dengan lembut.
"Mau makan dulu apa mandi dulu?" Tanya Gibran
"Peluk dulu." Kata Diandra membuat Gibran tertawa mendengarnya
"Peluk sambil makan ya? Kita kan mau ke rumah Mama." Kata Gibran
Diandra mengangguk manja dan tetap memeluk suaminya. Menghela nafasnya pelan Gibran meminta Diandra untuk duduk dulu selagi dia meletakkan buburnya ke piring.
Diandra menurut dan membiarkan Gibran menyiapkan sarapan untuknya sambil memperhatikan pria itu dengan senyuman.
Dia sudah ditarik ke dalam kehidupan Gibran dan itu artinya Gibran tidak boleh pergi meninggalkannya.
Setelah selesai Gibran membawanya ke hadapan Diandra, tapi istrinya bilang dia ingin makan sambil menonton tv. Akhirnya mereka berdua pergi ke ruang tengah dan setelah menghidupkan tv Diandra pergi lalu duduk dipangkuan suaminya.
"Suapin"
Menggelengkan kepalanya pelan Gibran mulai menyuapi istrinya dan membuat Diandra tersenyum senang.
"Daddy"
"Ya butuh sesuatu baby?" Tanya Gibran
"No, aku mau bilang karena Daddy sudah buat aku begini itu artinya Daddy tidak boleh pergi." Kata Diandra
"Tentu saja aku tidak akan pergi kemanapun." Kata Gibran
"Artinya Daddy hanya milik aku dan tidak boleh ada yang merebutnya." Kata Diandra lagi
Mendengar hal itu Gibran tersenyum senang.
"Artinya kamu juga hanya milik aku." Kata Gibran
Diandra mengangguk lalu membuka mulutnya lagi ketika Gibran kembali menyuapinya.
"Enak kan? Aku sering beli disini untuk sarapan." Kata Gibran
"Enakk"
Diandra tidak bohong bahkan dia menghabiskan semuanya dengan disuapi oleh sang suami.
"Emm Daddy tidak makan?" Tanya Diandra
"Mau suapi aku juga baby?" Tanya Gibran
Diandra mengangguk dengan semangat lalu pergi ke dapur untuk mengambilkan bubur satu lagi dan kembali sambil duduk dipangkuan Gibran lagi.
"Aaaa"
Tertawa kecil Gibran menerima suapan yang istrinya itu berikan dengan penuh kebahagiaan.
Dulu sulit sekali hanya untuk mengajak Diandra makan bersama, tapi sekarang mereka saling menyuapi.
Diandra bahkan manja sekali sekarang tidak seperti dulu.
Tentu saja Gibran lebih suka yang sekarang apalagi Diandra sering menciumnya lebih dulu.
¤¤¤
Bakal tiga part untuk hari inii😋