
Tidur Diandra begitu nyenyak mungkin dia kelelahan karena acara pernikahan juga kumpul bersama keluarganya yang selesai hingga malam. Terlihat sekali raut wajahnya yang begitu tenang dalam tidurnya membuat Gibran tersenyum sambil menyingkirkan helaian rambut yang ada di wajah istrinya.
Jangan tanya sebahagia apa Gibran sekarang karena dia tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Hatinya berbunga-bunga seperti remaja yang tengah jatuh cinta dan jantungnya berdetak dengan sangat cepat hingga dia merasa sedikit sesak.
Gibran benar-benar merasa seperti seorang remaja yang tengah jatuh cinta dan hanya Diandra yang mampu membuatnya seperti ini. Sebelumnya Gibran hanyalah pria playboy yang dekat dengan banyam wanita memeluk dan mencium mereka dengan bebas, tapi enggan untuk mengikat dalam sebuah hubungan.
Bahkan untuk pacaran bisa dihitung dengan jari.
Mendekatkan wajahnya Gibran mencium kening Diandra lalu dengan hati-hati turun dari ranjang dan pergi ke ruang keluarga dimana orang tuanya tengah menunggu. Mereka bilang ingin bicara sesuatu yang penting dan Gibran yakin masalah pernikahannya.
Memasuki ruang keluarga Gibran mendudukkan dirinya dihadapan kedua orang tuanya dan tersenyum, menunjukkan kalau dia sangat bahagia.
"Diandra tidur?" Tanya Dara
"Iya Ma dia lelah sekali sepertinya." Kata Gibran
"Gibran"
"Iya Pa"
"Papa akan bicara, dengarkan!" Kata Farhan tegas
Gibran mengangguk sebagai jawaban dan menatap Farhan dengan penuh ketegasan.
"Kamu sudah menikah dan artinya kamu memiliki tanggung jawab apalagi istri kamu sudah hamil sekarang, jangan main-main lagi berhenti pergi ke club malam dan bersikap profesional selama kamu bekerja." Kata Farhan
Gibran mengangguk faham, dia tau dan dia juga akan sangat memperhatikan Diandra mulai sekarang.
"Berhenti memeluk dan mencium para wanita, jadilah pria sejati! Jaga istri kamu dan jangan pernah buat dia menangis kamu harus ingat kalau kamu punya adik perempuan," Kata Farhan
Kali ini tatapan matanya lebih serius.
"Kamu harus ingat kalau kamu menyakiti Diandra seseorang juga bisa melakukannya pada Ghina, bersikaplah baik dan bertanggung jawab." Kata Farhan
"Iya Pa"
"Setelah ini kamu ada rencana apa?" Tanya Farhan
"Sementara Gibran akan tinggal di apartemen dengan Diandra selagi mengurus masalah rumah dan Gibran juga tidak akan pindah jauh." Kata Gibran
"Jangan sampai Diandra kelelahan kamu harus bantu dia jangan biarkan dia melakukan pekerjaan rumah." Kata Dara membuat Gibran tersenyum mendengarnya
"Iya Ma"
Kedua orang tua Gibran memang sedikit cemas dan khawatir karena mereka tau kalau Gibran itu sejak remaja nakal sekali sangat sulit untuk diomongi. Selain itu Gibran tidak pernah serius dengan wanita setiap kali diperingati pria itu hanya cengengesan saja.
Makanya mereka harus benar-benar memperingati Gibran.
"Ajak Diandra check up setiap bulan dan Gibran perhatikan makanannya juga kamu harus sering tanya, dia mau makan apa." Kata Dara
Sekali lagi Gibran mengangguk faham, dia mengerti, tapi Gibran sudah berubah sekarang dia benar-benar mencintai Diandra dengan sepenuh hatinya.
"Kalau butuh sesuatu hubungi Papa." Kata Farhan
"Baik Pa"
"Kamu boleh kembali ke kamar." Kata Farhan
Gibran mengangguk dan memeluk mereka sekilas lalu keluar dari sana, tapi tidak kembali ke kamarnya dia malah pergi ke kamar Ghina untuk mengajaknya bicara.
Memasuki kamar adiknya itu tengah sibuk dengan ponselnya dan ketika dia memanggil Ghina mendongak. Tidak seperti biasanya dimana Gibran akan disambut dengan dengusan kesal kini dia mendapat pelukan hangat.
Mamanya bilang Ghina sedih karena tau dia akan pindah.
"Belum tidur kamu?" Tanya Gibran sambil duduk di tepian ranjang
"Belum ngantuk." Kata Ghina
"Jangan sering begadang Ghina." Kata Gibran yang hanya ditanggapi dengan gumaman
Biasanya kalau dikasih tau Ghina suka sewot sendiri dan mengatakan kalau itu urusannya, tapi sekarang tidak.
Meskipun sering bertengkar, tapi Ghina sangat menyayangi Gibran dan dia akan kesepian nanti.
Gibran terkejut ketika adiknya itu menangis dan dia langsung menangkup wajahnya sambil menghapus air mata Ghina dengan sayang.
"Kenapa nangis?" Tanya Gibran dengan lembut
"Kakk maafin Ghina ya? Maaf kalau Ghina suka bikin Kakak marah, tapi Ghina sayang bangett sama Kak Gibran nanti sering hubungi Ghina ya?" Kata Ghina sedih
Gibran tersenyum dan memeluk adiknya dengan erat, dia juga suka kesal pada Ghina yang sering memprovokasi orang tuanya untuk memarahi dia.
"Jangan minta maaf hmm? Kakak sering marah karena Kakak sayang dan jangan ditanya, Kakak bakal hubungi kamu dua puluh empat jam dan kabar baiknya juga Kakak cari rumah di dekat sini supaya kamu bisa sering main ke rumah." Kata Gibran membuat Ghina tersenyum mendengarnya
"Beneran?" Tanya Ghina
"Hmm biar Kakak masih bisa gangguin kamu sama pacar kamu juga." Kata Gibran
Adiknya itu tertawa di sela tangisnya lalu memukul pelan lengan Gibran dan memeluknya lagi.
"Sayang banget sama Kak Gibrannn"
Gibran tersenyum dan mencium puncak kepala adiknya dengan sayang lalu memintanya untuk tidur.
"Ghina belum ngantuk kalau Kakak mau ke kamar Kakak tidak papa." Kata Ghina
"Janji gak begadang kan?" Kata Gibran
Ghina mengangguk dengan semangat membuat Gibran tersenyum dan mencium keningnya lagi sebelum keluar dari kamar.
Menghela nafasnya pelan Gibran membuka pintu kamarnya dan melihat Diandra yang membuka matanya lalu berlari menghampirinya. Mata Gibran membulat tadi istrinya itu tidur dengan nyenyak, tapi kenapa sekarang malah sudah bangun.
Pelukan Diandra mengerat lalu dia bertanya dari mana Gibran pergi.
"Kakak dari manaa?" Tanya Diandra
"Dipanggil Mama sama Papa mereka nanya kemana besok aku akan membawa kamu pergi dan aku jawab kalau kita akan ke apartemen, kamu kenapa bangun?" Tanya Gibran
Diandra menggelengkan kepalanya pelan, dia juga tidak tau tiba-tiba saja dia bangun dan melihat kalau tidak ada Gibran.
"Jadi, mau tidur sama aku?" Tanya Gibran yang dijawab dengan anggukan serta senyuman manis
"Anaknya Kak Gibran yang mau." Kata Diandra
"Anak kita sayang." Koreksi Gibran
"Iya anak kita, anak aku dan Kak Gibran." Kata Diandra sambil mengeratkan pelukannya
Gibran ikut tersenyum lalu dia mengajak Diandra untuk tidur lagi dan setelah berbaring istrinya itu langsung memeluknya dengan erat.
Tentu saja Gibran sangat senang dia bahkan tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang. Saat Diandra mendongak dan menatapnta Gibran tersenyum, tapi dia membeku ketika Diandra mengatakan hal itu untuk pertama kalinya.
"I love you"
Setelah ungkapan itu Gibran merasakan ciuman di bibirnya dan hal itu membuat dia tersenyum apalagi ketika Diandra menjauhkan diri sambil menatapnya dengan wajah memerah.
Menggemaskan.
"I love you too baby"
Mereka berdua sama-sama tersenyum lalu saling berpelukan.
Mereka yang dulu tidak pernah bersama kini enggan untuk berpisah meski hanya sebentar saja.
¤¤¤
Pukul sepuluh Gibran sudah sampai di apartemen bersama dengan istrinya dan mereka bersama-sama memasukkan baju ke dalam lemari, tadi Dara sempat meminta mereka untuk menginap lagi, tapi Gibran menolak dan mengatakan kalau mereka akan datang besok. Setelah selesai menata pakaian Diandra berbaring di ranjang yang mana merupakan tempat mereka berakhir sepert ini.
Tempat dimana Gibran merenggut kesuciannya.
Mata Diandra mulai terpejam dia masih menngantuk, tapi tidak enak kalau harus bangun siang di rumah mertuanya sendiri. Beberapa saat setelahnya Diandra merasakan kalau Gibran juga bergabung di atas ranjang dengannya.
"Masih ngantuk?" Tanya Gibran
Diandra berbalik untuk menatap Gibran lalu menganggukkan kepalanya.
"Emm masih"
"Tidur saja lagi." Kata Gibran
"Tidak"
"Kenapa? Tidur saja." Kata Gibran
"Emm lapar"
Gibran tertawa mendengarnya lalu bertanya apa yang ingin istrinya itu makan. Bukan menjawab Diandra malah diam dan tidak mengatakan apapun membuat Gibran gemas sendiri jadinya.
Padahal dia akan membelikan apapun, tapi Diandra masih terlihat ragu-ragu untuk mengatakan keinginannya.
"Katakan saja." Kata Gibran
"Aku mau.... emm... aku mau makan bakso." Kata Diandra
Lihat kan?
Padahal tinggak mengatakan saja tidak perlu kelihatan ragu begitu.
"Pesan saja ya?" Kata Gibran
Diandra hanya mengangguk sebagai jawaban dan memperhatikan Gibran yang mengambil ponselnya untuk memasan.
Suaminya itu duduk di tepian ranjang dan entah keberanian dari mana Diandra memeluknya dari belakang sambil menyandarkan kepalanya di bahu Gibran. Merasakan pelukan Gibran tersenyum dan meraih tangan Diandra yang melingkat di perutnya, menggenggam dengan erat.
"Sudah aku pesan tinggal kita tunggu." Kata Gibran sambil melepaskan tangan Diandra dan menatapnya
Diandra tersenyum senang.
"Makasih Kakk"
"Jangan panggil Kakak." Kata Gibran
"Terus apa?" Tanya Diandra polos
Gibran tersenyum dan membisikkan sesuatu yang membuat wajah Diandra merona.
"Remember, kamu memanggil aku apa ketika kita melakukannya disini?" Goda Gibran
Dia tertawa melihat wajah Diandra yanh terlihat malu, tapi tetap mengatakannya dengan suara lembut.
"Emm Daddy?"
Menggemaskan sekali hingga Gibran langsung membawanya untuk duduk dipangkuan lalu mencium bibirnya berkali-kali.
"Yes baby"
"Jadi aku harus manggil itu?" Tanya Diandra
Gibran mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu tau? Aku punya dua baby sekarang." kata Gibran
Sebelum Diandra bertanya Gibran sudah memberikan jawaban atas pertanyaan yang ingin dia ajukan.
"Kamu dan anak kita"
Diandra hanya tersenyum dan memeluknya lagi.
Jadi, dia akan memulai kehidupan yang baru?
Kehidupan dengan penuh cinta.
¤¤¤
Lagi gak lagi gakkk???
Suka kann sama ceritanyaaa😌