
Kendall kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dada David. Selama beberapa detik itu, Kendall berharap ia bukan seorang dokter dan pria itu bukan pasiennya, karena pertautan itu... terasa... amat menyenangkan. Bibir David kuat dan lidahnya menari-nari. Tak disangka, sensasi aneh menyambar dada Kendal dan.... gairah menyeruak di pinggangnya. Ini membuat tubuhnya kaku.
Kendall menumpukkan tangan di dada David dan mendorong sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari pelukan. "Mr. Booker, lepaskan aku." Katanya, meskipun suaranya terdengar lemah dan parau, bahkan di telinganya sendiri.
"David!" Seru Harry dari pintu. Saat Kendall menoleh dan melihat kakak David menghampiri, barulah ia sadar mereka sudah kembali dan menyaksikan adegan mereka tadi. Tapi, ketika Harry tiba, David sudah melepaskan pelukan dan kepalanya terkulai kesamping. Ia sudah hilang kesadaran.
"Maaf, Dokter Jenner." Kata Harry. "Anda baik-baik saja?"
Kendall mengangguk, ia masih terguncang karena reaksinya atas ciuman tadi. "Adikku memang ceroboh," tutur Harry
"Mungkin efek obat," gumam Kendall, berusaha menguasai diri, tapi gagal. Ia menempelkan jemari ke mulut untuk menghapus bekas bibir David Booker di bibirnya. Wajahnya merah padam.
"Apa yang bisa saya bantu?" Tanya Harry penuh harap
"Tulang bawah tungkainya patah. Bisa bantu aku menahan tubuhnya agar aku bisa memperbaiki letak tulang itu?" Jawab Kendall, berusaha konsentrasi.
Dengan bantuan Harry, Kendall memperbaiki letak tulang David dengan lebih cepat dan memastikan posisinya dengan rontgen lagi. Lalu dicucinya tungkai dan pergelangan kaki pasien yang bengkak dengan cairan antiseptik dan dibebatnya punggung kaki hingga bawah lutut David dengan perban. Dilanjutkan gulungan basah kain serat gelas di atas perban, yang segera mengering membentuk gips.
Kendall harap prosedur yang sudah ia hafal di luar kepala itu bisa menjaga jarak dengan pria yang sedang ia rawat, tapi nyatanya... ciuman dahsyat tadi terus terngiang-ngiang di benaknya. Ia sangat lega saat prosedur itu akhirnya selesai.
Kemudian ia harus membasuh luka di dada dan lengan David, yang ternyata lebih banyak kontak ke area yang lebih menarik.
David Booker berperawakan langsing, dengan otot yang telah lama terbentuk. Otot dada atas, dan otot perutnya benar-benar memikat, tapi otot bahunya juga patut dipertimbangkan.
"Aku melihat menara itu saat masuk kota. Ia sangat beruntung karena hanya cedera ringan setelah jatuh setinggi itu." Ujar Kendall
Harry mengerutkan kening. "Suatu hari mungkin keberuntungan adikku akan habis."
...----------------...
"Dokter Jenner, para pria hendak mengadakan pesta barbekyu malam ini untuk menyambut para tamu," kata Harry. "Kami harap Anda bisa datang."
"Kalau kalian tak keberatan, aku lebih suka beristirahat dan tidak ikut pesta barbekyu" timpal Kendall
"Kami sudah menyiapkan salah satu kamar terbaik untuk Anda," tambah Harry. "Tas-tas Anda sudah dibawa keatas."
"Terima kasih," kata Kendall. "Aku akan mandi, lalu kembali untuk memeriksa adik Anda."
"Ya, terima kasih, Dokter Jenner. Kami senang sekali Happiness memiliki dokter." Timpal Harry sambil menjabat tangan Kendall
"Tolong jangan pasang dulu papan namaku. Sekarang setelah melihat kota kalian, aku harus berpikir." Kendall mengambil tas dokternya dan berjalan ke arah pintu.
...----------------...
Di tempat ini tidak ada air hangat.
Setelah sepanjang hari berkeringat, guyuran sedingin es itu terasa menyegarkan. Ia cepat menyampo rambut dan menyabuni kulit, tapi ini bukan merupakan mandi menyenangkan seperti yang sudah ia bayangkan. Kendall melompat keluar dan melilit tubuh dengan handuk. Dengan tubuh masih mengigil, ia keluar dari kamar mandi dan masuk ke kamar tidur yang sudah ditetapkan untuknya.
Harus diakui, kamar itu indah. Hanya dihias meja kayu hitam dan lemari senada yang masih baru, di tambah sofa empuk merah dan dua kursi bersarung krem di sekeliling meja kopi hitam sederhana. Kamar itu terletak di ujung, dengan dua jendela besar.
Matahari sedang merayap turun di tengah awan-awan sebelah barat. Menumpahkan warna merah muda dan oranye atas pegunungan. Saat menyadari sesuatu menyerupai kekaguman muncul, Kendall membuang muka. Ia tidak ingin jatuh cinta pada apa pun di Happiness. Matahari terbenam romantis tidak bisa menebus kurangnya prasarana dasar tempat ini.
Satu-satunya alasan praktis untuk tetap tinggal adalah jika ia berhasil mencapai tujuan lain...
Menemukan pria yang ingin menjalani hidup bersamanya.
Ciuman dahsyat David Booker menggodanya, menggugah hasrat yang sulit dilupakan. Tanpa sadar Kendall menyentuh bibirnya... ia masih bisa merasakan pagutan itu, masih bisa merasakan kuatnya jemari yang memeluk tengkuknya, serta kehangatan dada dan ototnya dibawah tangannya yang merenggang.
Lalu ia menegur diri sendiri. Memeriksa arloji, ia harus kembali ke pasiennya yang kemungkinan besar bahkan tidak ingat ciuman yang kini mengacaukan kemampuannya untuk membuat keputusan rasional soal menetap di Happiness atau kembali ke Denville. Seperti yang suka diucapkan orang-orang Utara.... selagi situasi masih memungkinkan.
...****************...