
Kendall lalu berjalan ke mobil untuk membuka kunci dan membiarkan ibu dan si anak laki-laki menyampaikan salam perpisahan secara pribadi. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk memeriksa pesan suara dan memeriksa pesan singkat. Jantungnya berdebar saat ia sadar bahwa sebagian besar telepon berasal dari Daniel... dan semua diputuskan, kecuali yang terakhir.
"Kendall, hai... ini aku. Aku benar-benar ingin bicara padamu tentang beberapa hal. Telepon aku bila kau sempat... ku mohon. Ku harap kau baik-baik saja."
Suara pria itu saja sudah membuat sekujur tubuh Kendall disapu kegelisahan. Jantungnya berdebar dan lututnya terasa lemah. Apa yang Daniel inginkan? Di maafkan agar merasa lebih tenang setelah pengkhianatannya yang keji? Kendall ragu hati nurani pria itu terusik. Kemungkinan besar, Daniel mengkhawatirkan reputasi profesionalnya dan perlu melakukan perbaikan, dengan bantuannya.
Jemari Kendall bergerak-gerak di atas layar ponsel, sementara ia mempertimbangkan untuk membalas telepon Daniel, tapi akhirnya malah mendengarkan pesan dari Cara Delevingne yang tadi terlewat. Cara menelepon hanya ingin menyapa dan mananyakan apakah Kendall sedang mengobati binatang lain. Kendall tersenyum. Suara temannya itu selalu membangkitkan semangat. Ia akan membalas telepon Cara nanti malam setelah berada di kamar hotel.
Pikiran mandi berlama-lama dengan air hangat yang tak terbatas membuatnya mengerang senang.
Kendall melempar ponsel, lalu memandang sekilas ke arah teras bungalo di belakang, Mrs. Booker sedang memegang wajah David dengan kedua tangan dan mengatakan sesuatu yang membuat sang anak tersenyum. Adegan itu menyentuh perasaan Kendall, meskipun ia tak memiliki kaitan apa pun. Ia merasa seperti ilmuwan, mengamati ritual yang tak ia pahami... tapi ia inginkan.
Akhirnya David menoleh ke arah mobil dan berjalan menggunakan kruk ke tempat Kendall menunggu di dekat pintu penumpang yang terbuka. Kendall mengambil kruk David dan membantunya naik.
"Maaf soal kesalah pahaman soal cincin tadi," kata David, "imajinasi ibuku memang aktif."
"Tidak masalah," sahut Kendall ringan. "Aku bisa mengerti kenapa ia sampai keliru seperti itu."
"Karena kita pasangan serasi?" goda David, suaranya serak.
Kendall berhasil menyeringai. "Tidak. Kau sudah nyaman?"
Setelah David mengangguk, Kendall menutup pintu mobil lebih kuat daripada yang di perlukan dan berjalan mengitari mobil ke pintu pengemudi. Ia naik dan menstater mesin. Suara Daniel menggema dalam kepalanya, sedangkan tubuh besar David berada dalam jangkauannya.
Perjalanan ini akan terasa panjang.
----------------
Kendall menekan tombol turun lift. "Aku sangat lega mengetahui pemulihan pergelangan kakimu berjalan sempurna."
David tersenyum lebar. "Aku tidak pernah ragu sedikit pun, Bu Dokter Kecil. Tapi Harry akan kecewa karena aku tidak bisa kembali bekerja secepat yang ia inginkan."
Meskipun David bersikap santai, Kendall tahu pria itu bertumpu lebih kuat ke kruk dan wajahnya menandakan tanda-tanda ketegangan. "Kau lelah," ucap Kendall sambil mengangkat tangan untuk menyentuh kening David sebelum menyadari perbuatannya. "Tidak demam," gumamnya untuk menutupi tindakan, lalu menurunkan tangan.
"Hari ini memang melelahkan," David menyetujui.
"Kita masih jauh dari hotel?"
"Tidak. Hanya beberapa kilo ke arah selatan, lebih dekat dengan pusat kota. Kita akan punya waktu untuk beristirahat sebelum makan malam. Ada restoran di dekat sana dan aku ingin membawamu ke sana, kalau kau tidak keberatan."
Lift berbunyi dan pintunya terbuka. David menjulurkan kruk untuk menahan pintu sampai Kendall masuk... selalu bersikap Gentleman, batin Kendall. tapi seharian berdekatan dan menyaksikan pertemuan yang mengharukan tadi mulai membuatnya lelah. Selain Itu, pesan suara Daniel terus terngiang dalam benak saat ia menunggu David di periksa. Pintu lift menutup, lagi-lagi membuat mereka berdekatan. Kendall menekan tombol lantai tempat dimana mereka parkir.
"Sebenarnya, kupikir aku akan memesan makanan ke kamar dan tidur lebih cepat."
Kendall tak bisa menahan tawa. "Memangnya aku bisa melindungimu."
"Kau sudah mengurusku dengan sangat baik selama ini."
Karena mendengar nada serius David yang tiba-tiba, Kendall melunak. "Aku hanya melakukan tugas," katanya, sebagian untuk mengingatkan diri bahwa sejauh itu sajalah hubungan mereka.
"Aku tidak akan memaksamu pulang larut," bujuk David. "Dan aku tak bisa menghabiskan sebotol anggur sendirian."
Kendall menyipitkan mata. "Ku kira kau bukan peminum anggur."
David mendekatkan tubuh. "Kau tidak boleh menyamaratakan orang."
Suaranya menggelitik ujung-ujung saraf Kendall, membuat lengannya merinding. "Mungkin kau harus mengatakan itu kepada pekerjamu yang tidak mau berobat ke dokter wanita."
Mulut David berkedut. "Benar sekali."
Tapi ia tidak mundur. Mata Hazelnya menatap mata Kendall lekat-lekat dan wanita itu tahu David akan menciumnya. Bibir Kendall terbuka untuk menghirup lebih banyak udara ke dalam paru-paru.
"Apa aku sudah bilang bahwa kau membuat gaun itu terlihat cantik?" Bisik David.
Kendall menelan ludah. Saat David memdekatkan bibir ke bibirnya. Kendall bingung... ia ingin menikmati pria ini, tetapi benaknya berputar kacau. Ia membasahi bibir tapi beberapa saat sebelum bibir mereka bertemu, lift berbunyi dan pintunya terbuka, menampakkan banyak orang yang sedang menunggu.
"Di selamatkan bunyi bel," gumam David.
Kendall menunduk dan berjalan pergi, lalu menunggu David membelah kerumunan. Kendall praktis berjalan lebih cepat supaya bisa tetap berada satu langkah di depan David sampai mereka mencapai mobil dan tidak bisa melakukan kontak mata saat membantunya naik ke mobil. Ia berhasil menutupi keresahannya itu dengan berpura-pura kesal saat mobilnya memasuki kepadatan lalu lintas untuk menuju arah selatan di Peachtree Street. Saat itu puncak kemacetan di sepanjang enam lajur jalan yang dibatasi pepohonan, yang meliuk di antara rumah-rumah, bangunan apartemen, bisnis retail, gedung-gedung pencakar langit dan gereja-gereja. Trotoarnya di sesaki pejalan kaki, sementara para pengendara sepeda melesat di lajur khusus.
"Mengesankan, kan?" tanya David soal hiruk pikuk.
Kendall mengangguk. "Mengejutkan sekali setelah selama ini berada di Happiness." Ia terlonjak saat pengemudi di belakangnya membunyikan klakson. "Harus ku akui, aku merindukan ketenangannya."
"Nih! Rupanya ada juga sesuatu yang kau sukai dalam kehidupan Happiness."
"Happiness memiliki pesona tersendiri," kendall mengakui. Lalu ia menoleh ke arah David. "Hanya saja bukan tempat yang tepat untukku saat ini."
David kembali menatap jalan di depan mereka. "Saat tadi menungguku, apakah kau sempat membalas panggilan teleponmu?"
"Tempat praktik tadi punya kebijakan yang melarang pemakaian ponsel. Aku akan menelepon setelah kita tiba di hotel." Lagi pula, ia belum memutuskan apakah akan membalas telepon Daniel atau tidak. Harus ia akui, keingintahuannya tiba-tiba meningkat. Tapi kenyataan bahwa Daniel sama sekali tidak meninggalkan petunjuk tentang apa yang hendak dibicarakan lebih cenderung mengarah pada manipulasi.
...****************...