
"Uh, aku tidak mau menghadapi kemacetan ini setiap hari," celetuk David, seolah ia tahu Kendall sedang mempertimbangkan untuk pindah ke kota itu.
"Aku yakin lama-lama orang akan terbiasa."
"Seperti hidup di Happiness... harus di coba dulu."
Kendall tidak merespons, tetap memusstkan pergatian ke jalan. Kendaraan berdesak-desakan. Udara pekat oleh asap dan hawa panas memantul dari aspal dan beton. Pendapat Cara tentang kota itu kini terbayang di matanya sendiri. Atlanta kota metropolis yang besar, panas dan penuh orang yang sibuk dan tak acuh.
Tempat yang tepat untuk mengaburkan keberadaan. Tempat ia tak akan merasa terpaksa melibatkan diir dalam hubungan rumit dengan tetangga, rekan kerja, atau pasien.
Lalu lintas merayap maju seperti keong, tetapi akhirnya mereka sampai di hotel dan memarkir mobil lewat jada valet (jasa parkir mobil dari petugas khusus hotel). Administrasi hotel, setidaknya berjalan cepat dan pegawai hotel membawa tas-tas mereka duluan. Kaki Kendall sakit karena memakai seati hak tinggi pinjaman dan ia tak sabar ingin berlama-lama mandi dengan air hangat saat berjalan ke kamar mereka, yang ternyata bersebelahan. Tak ada yang terasa intim dalam pengaturan kamar, tapi entah kenapa rasanya demikian saat Kendall membuka kunci pintu kamarnya dan David melakukan hal yang sama dengan pintu kamarnya sendiri.
"Jadi... makan malam dua jam lagi?" tanya David.
Kendall menoleh dan mulai protes. "Aku tidak..."
"Ku mohon? Lagi pula, masa kau tidak ingin melihat kota ini lebih banyak?"
Sebenarnya demikian. Dan salah seorang wanita sudah meminjaminya gaun indah untuk dipakai malam ini. Kendall galau. Tapi ciuman yang hampir terjadi tadi...
David mengangkat tangan. "Aku tidak akan macam-macam... sumpah."
Kendall tertawa dan menyerah. "Oke. Aku akan menemuimu dua jam lagi." Ia membuka kunci pintu dan masuk ke kamar luas dan mewah yang terasa amat sejuk karena AC... jeda menyenangkan untuk alerginya. Ranjang besar terlihat mengundang dengan seprai putih berkilat yang tertutup selimut. Ia mendekat, melepas sepatu, merentangkan tangan dan merebahkan diri di kasur, menikmati guncangan tubuhnya di atas kasur sebelum mendesah dan membenamkan diri dalam seprai mewah. Langit-langit kamar dihias pola rumit dan lengkung-lengkung bersepuh, serta kandelir yang berkilau.
Jauh berbeda dengan kamarnya yang sederhana di asrama Happiness.
Bahkan kamar hotel yang mewah itu mengingatkannya pada kamar tidur yang pernah digunakannya bersama Daniel di rumah pria itu. Daniel memiliki selera tinggi, henya memiliki perabot terbaik. Saat itu Kendall merasa seperti putri raja.
Benaknya melayang pada pesan telepon yang Daniel tinggalkan saat ia dan David tadi berkendara. Membalas telepon Daniel sepertinya hanya akan merugikan. Jika pria itu hanya berpura-pura tidak membuat kesalahan, Kendall pasti akan marah dan terluka lagi. Dan jika pria itu....
Tidak, pikirannya tidak boleh sampai ke sana.
Tapi cepat atau lambat, ia harus menghadapi.. bahkan jika hanya menghapus pesan. Ia duduk tegak dan meraih tas dengan enggan. Ia sudah mematikan ponsel, tapi kini saat mengeluarkan benda itu dan menekan tombol untuk menghidupkan, jantungnya berdebar-debar takut.
Ketukan di pintu membuatnya terkejut. Ia menoleh ke arah pintu masuk, lalu menyadari suara itu berasal dari pintu lain... pintu tipis yang menyatu dengan dinding karena tertutup kertas dinding bergaris yang sama. Pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar sebelah.
Kamar David.
Ketukan itu terdengar lagi. Kendall bangkit dan berjalan ke pintu, menempelkan di bagian dalam pipi saat membukanya. Ia mengayun pintu itu hingga membuka dan menemukan David berdiri di sana dengan kemeja terbuka, memamerkan dada dan perut berotot, bersandar pada kruk. Cedera dan mempesona. Ya Tuhan, tolonglah aku, batin Kendall.
"Kau memesan dua kamar yang terhubung," cetus Kendall tanpa ekspresi.
"Kebetulan." Kilah David sambil tersenyum.
"Seingatku kau sudah berjanji tidak akan macam-macam."
"Benar,"
Kendall melipat tangan. "Lalu kenapa kau mengetuk pintuku?"
David mengangkat ponsel yang tadi tidak Kendal lihat. "Ini Hailey. Ia berusaha menghubungi ponselmu, tapi..."
"Aku mematikan ponsel," Kendall menyelesaikan kalimat itu. "Ada yang tidak beres?"
"Tanya saja sendiri," kata David sambil mengulurkan ponselnya.
Kendall mengambil benda itu, bertanya-tanya dengan malu apakah Hailey telah mendengar percakapan kecil mereka. "Halo?"
"Kamar yang terhubung, heh?"
Kendall memejamkan mata sejenak. "Hailey, ada masalah?"
"Ya. Kau benar-benar harus menyalakan ponselmu."
"Oke," kata Kendall, menahan ketidaksabaran. "Ada masalah apa?"
"Soal Oscar. Ia tidak mau tidur."
Kendall mengembuskan napas lega karena ternyata masalahnya bukan sesuatu yang lebih serius, meskipun ia menyadari Hailey mungkin mengkhawatirkan binatang peliharaannya. "Apakah ia sakit lagi?"
"Entahlah. Ia juga tidak mau makan. Kecuali kalau bersama Cupid."
"Cupid?"
"Rusa itu. Kami sudah memberinya nama. Kau tahu, kan...?"
Kendall meringis dan melirik David. "Kau menamai anak rusa itu Cupid?"
David memutar bola mata.
"Well, kuta tidak bisa terus memanggilnya rusa. Intinya, Oscar terobsesi pada Cupid. Ia ingin bersamanya sepanjang waktu. Kalau tidak, ia mendengking-dengking dan tidak mau makan atau tidur."
Kendall menahan senyum. "Ia akan makan bila sudah cukup lapar dan ia akan tidur bila sudah cukup lelah. Bagaimana keadaan, ehm, Cupid?"
"Lebih baik setelah kami bawa kembali ke dalam."
"Kalian membawanya ke dalam?"
David menutup wajah dengan tangan.
"Ia suka. Wanita-wanita bergantian memberinya makan dan memeriksa gips. Hewan itu mulai pulih, sudah bisa berjalan-jalan dna bertambah kuat."
"Bagus," Kendall menyetujui.
"Jadi," ucap Hailey, memelankan suara dengan nada jail, "kalian bersenang-senang?"
Kendall memandang David, yang sedang mengawasi... dan juga menyimak. "Eh... perjalanannya berguna."
"Astaga, Kendall, bersantailah sedikit. Pria seksi itu menginginkanmu dan kalau kau sudah memutuskan untuk tidak tinggal di Happiness, apa ruginya menikmati cinta satu malam yang hebat?"
Kendall menyapukan pandangan ke tubuh mengesankan David dan air liurnya menetes. "Akan kucamkan itu baik-baik."
"Lihat isi tas yang ku pinjamkan padamu," kata Hailey.
Naluri Kendall berkata agar jangan meminta penjelasan detail. "Oke. Terima kasih. Dah." Ia cepat-cepat memutuskan sambungan, lalu mengembalikan ponsel kepada David.
"Semua baik-baik saja?" tanya David
"Wanita-wanita itu sedang menjinakkan binatang liarmu."
David mendesah. "Wanita memang memiliki keahlian menjinakkan makhluk liar."
Jantung Kendall berdebar-debar. Ia mendapat kesan David menyinggung hal lain.
Pria itu menjulurkan leher untuk melihat ke belakang Kendall. "Bagaimana kamarmu?"
"Bagus... terutama ACnya."
"Aku sendiri lebih suka jendela yang terbuka."
Kendall bersandar... betapa berbeda dan betapa tidak cocoknya mereka. Bila menyerah pada dorongan fisik, ia hanya akan merasa lebih terasing daripada sebelumnya. Dari ranjang, ponselnya berbunyi lagi. "Aku harus menerima telepon itu," kata Kendall
"Oke. Sampai ketemu dua jam lagi," kata David dan sebelum Kendall sempat protes lagi, pria itu sudah menutup pintu di sisi kamarnya.
...****************...