New Happiness, Begins

New Happiness, Begins
Part 50



Ini sangat disayangkan karena ia ingin bercinta lagi dengannya. Dan memberitahu Kendall bahwa ia ingin wanita itu tinggal di Happiness.


Memberi kesempatan pada kota itu.


David memijat tulang dada bagian belakangnya tiba-tiba sakit, bertanya-tanya apakah ia harus memberitahu Kendall soal rasa nyeri itu. Secara kebetulan, sepertinya sakitnya bertambah parah bila wanita itu ada di dekatnya.


David bangun dan mengerang. Tubuhnya pegal, seolah ia sudah menghabiskan waktu seharian membobol beton. Ia meraih kruk yang di sandarkan di nakas dan menggunakan salah satunya untuk mengait pakaian dalam yang tergeletak di samping ranjang. Ia memakainya, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu yang menghubungkan kamar mereka. Pasti Kendall sudah memunguti pakaiannya yang tercecer... kecuali pakaian dalam putihnya yang mungil, David melihat dengan geli. Ia berhenti mengambil dan darahnya berdesir mengingat bagaimana ia menanggalkan benda itu dari tubuh Kendall... setiap kali wanita itu berusaha memakainya kembali.


Pintu penghubung di kamarnya terbuka, tetapi pintu penghubung di kamar Kendall tertutup.


Ia pun mengetuk. "Kendall?"


Saat tak ada jawaban, David mencoba membuka kenop pintu dan mendapatinya tidak terkunci. Ia menjulurkan kepala ke dalam. "Kendall?"


Wanita itu tidak ada di kamar, tetapi pintu kamar mandi sedikit terbuka dan air pancuran bergemercik. David tersenyum lebar... ia tak keberatan melihat Kendall te-lan-jang dan basah. Tubuhnya langsung ber-gai-rah. Tapi ketika mendekati kamar mandi, ia mendengar suara Kendall. Wanita itu sedang berbicara pada seseorang... lewat telepon?


David berhenti dan mengangkat tangan untuk mengetuk.


"...aku tahu kau benar," ia mendengar Kendall bicara. "Selama ini aku terus berpikir."


David mengerutkan kening. Apakah Kendall sedang bicara dengan si mantan tunangan? Dari nada suara, sepertinya wanita itu sayang pada orang di ujung telepon.


"Sudah ku putuskan untuk tidak tinggal di Happiness," kata Kendall.


Hati David mencelus. Jadi Kendall akan kembali pada tunangannya yang berselingkuh.


Tawa wanita itu renyah. "Tentu saja aku akan menelepon saat akan berangkat... makan malam kedengarannya asyik."


David tahu percakapan Kendall hampir berakhir, jadi ia berbalik dan kembali ke pintu penghubung secepat dan sesenyap yang dimungkinkan dengan memakai kruk. Ketika sudah menyelinap kembali ke kamarnya sendiri dan menutup pintu, jantungnya berdebar kencang karena pengerahan tenaga... dan kemarahan pada diri sendiri. Setelah berjanji pada Harry bahwa ia tak akan melakukan apa pun untuk memperburuk keadaan, tidur dengan Kendall rupanya sudah memperkuat keputusan wanita itu untuk meninggalkan Happiness.


Sakit rasanya mengetahui bahwa wanita itu sudah memutuskan untuk kembali ke pelukan tunangannya, pada hal ranjang yang mereka tiduri bersama masih hangat.


Sialan, David mengira Kendall menikmati maraton bercinta kemarin malam seperti dirinya. Ia pikir mereka memiliki keterkaitan emosional setelah kejadian di bak mandi dan botol kedua Bordeaux. Tapi mungkin ia sudah kehilangan kemampuan. Lagi pula, satu tungkainya sedang tidak bisa di gerakkan.


David mengangkat satu kruk dan melemparkannya ke seberang kamar.


----------------


Kendall muncul dari kamar mandi terbungkus handuk dan diliputi emosi-emosi yang membingungkan.


Percakapannya dengan Cara memperkuat keputusannya untuk meninggalkan Happiness. Kota itu bukan tempat untuknya...terutama setelah apa yang terjadi antara dirinya dan David. Situasinya akan canggung dan ia tidak mau ketertarikannya pada pria itu yang mungkin hanya pelarian, berkembang menjadi sesuatu... yang lebih buruk. Ia pernah mengalaminya dan bisa membuktikannya lewat hati yang patah.


Tapi ia sudah memutuskan untuk tidak menelepon Daniel. Ia tidak berutang apa pun pada pria itu, bahkan tidak tahu apakah ia akan kembali ke Denville selamanya. Tadi pagi ia terbangun dan merasa lebih kuat. Kendall melangkah ke dekat jendela dan menatap trotoar di bawah yang sibuk dan pemandangan jalan pusat kota yang cantik. Ia bisa tinggal di sini. Mungkin ia akan kembali ke Atlanta untuk membuka kembali lembaran baru setelah membereskan urusan yang masih kacau.


Kendall melirik ke pintu, mempertimbangkan untuk berjalan kembali ke kamar David dan merayap ke ranjang bersamanya, berpura-pura agak lebih lama. Ia meletakkan tangan di pegangan pintu dan mendengar debar jantung di telinga.


Tidak. Ia harus menjauh selagi situasi di antara mereka baik. Jika reaksi David padanya pagi ini dingin, itu akan merusak segalanya. Kendall melepaskan pegangan.


Sebagai gantinya, ia mengeringkan rambut, membubuhkan sedikit makeup, memakai blus dan rok pinjaman dan merapikan lagi isi tas bermalamnya. Ia mempertimbangkan akan menelepon David untuk bertanya apakah pria itu mau sarapan bersamanya, tapi lalu tidak jadi dan turun ke restoran hotel.


Saat Kendall memasuki restoran, David sedang duduk sendirian di balik meja sambil membaca sebuah buku. Ia terlihat begitu tampan, seketika itu juga debar jantung Kendall bertambah cepat. Tapi ia senang karena tidak menelepon pria itu. Jelas David tidak ingin di temani olehnya pagi ini.


Tapi David mendongak dan memanggil Kendall agar mendekat. Saat berjalan ke meja David, Kendall berusaha menebak sambutan yang akan ia terima. Dingin? Penuh rayuan? Tak peduli?


Yang terakhir, Kendall tahu setelah beberapa detik.


"Selamat pagi," sapa David dengan senyum datar. "Siap membeli persediaan dan pulang?"


"Ehm... ya," gumam Kendall, lalu duduk di kursi yang David tawarkan.


"Toko perlengkapan medis buka setengah jam lagi. Aku sudah meminta petugas hotel mengirim daftar kita ke bagian penjualan mereka, jadi ku harap mereka sudah menyiapkan sebagian besar barang saat kita tiba."


Kendall mengangguk kaku dan menyibukkan diri dengan meletakkan serbet di pangkuan. Beginikah cara kerja cinta semalam? Tak boleh mengungkit-ungkit... kejadian sebelumnya?


"Dengan begitu," lanjut David, "kita bisa pulang secepatnya."


"Baik," jawab Kendall sambil menuang kopi. "Tasku sudah siap. Aku siap keluar dari hotel ."


"Sudah ku duga," sahut David, nadanya datar.


"Maksudmu?"


"Karena kau sangat teratur," tambah David santai. "Kau sudah melihat makanan menarik di menu?"


Tapi sindiran itu tak luput dari perhatian Kendall. Dengan gusar, ia meraih menu dengan satu tangan dan menghirup kopi. Cairan panas itu membakar lidahnya, membuat air matanya merebak. Ia meletakkan menu. "Sebetulnya aku tidak lapar pagi ini. Kopi saja sudah cukup."


David menutup buku menu. "Aku juga. Aku hanya ingin segera bergerak."


"Benar."


"Benar." David memijat paha tungkainya yang digips. Naluri kewanitaan Kendall membuatnya langsung teringat pada keindahan tungkai berotot pria itu dan naluri dokternya langsung merasa khawatir.


...****************...