
Kendall meninggalkan Kristofer cukup lama untuk kembali pada Masson. "Mr. Dean," katanya lirih. "Aku yakin kau punya alasan untuk tidak mempercayaiku. Tapi percayalah bila ku katakan aku hanya ingin menolongmu. Aku tidak suka melihat pria cakap dan kuat seperti kau kehilangan tangan karena sesuatu yang seharusnya bisa di cegah."
Masson tampak lesu. "Dok Kris tidak berbuat salah saat mengobatiku."
"Aku yakin begitu," Kendall menyetujui. "Tapi situasi berubah... luka-lukamu mungkin sudah bertambah parah dengan sendirinya."
Masson menggigit-gigit bibir, lalu membuka lipatan tangan dan mengulurkannya ke arah Kendall. David tersentak melihat daging bengkak kemerahan di sekeliling lilitan lakban kotor.
"Ya, kelihatannya memang infeksi," ucap Kendall lembut. Lalu ia tersenyum untuk menenangkan Masson. "Aku akan mengganti perbanmu dan memberimu antibiotik." Tapi saat ia berdiri dan melihat David, wajahnya sedih. "Tolong bawa ia juga ke klinik."
Satu jam selanjutnya berlalu dengan samar-samar. Kedua pria itu dipindahkan ke klinik baru. Di sana, Kendall memberi Kris obat untuk meredakan nyeri dada, lalu bergegas memompa perut pria itu. Setelah itu ia mengalihkan perhatian kepada Masson Dean dan meyakinkan pria itu bahwa infeksinya harus di obati dengan antibiotik yang di masukkan lewat infus. Setelah obatnya mengalir, dengan hati-hati Kendall melepas kembali selotip besar pengikat luka Masson yang menganga, lalu mulai membalut luka dengan benar. Harry berdiri tidak jauh, membicarakan keadaan kedua pekerja. Setelah tubuhnya jadi santai, jelas bahwa kedua pria itu akan baik-baik saja.
David mengamati segalanya lewat jendela kaca. Saat ia mengamati Kendall bekerja dengan gerakan luwes dan efisien, dadanya sesak diliputi perasaan bangga dan emosi lain yang tak ia kenal. Saat menghadapi keadaan darurat, ia benar-benar merasa bersyukur dan lega karena bisa meminta bantuan Kendall. Bagaimana nasib mereka setelah wanita itu pergi? Pada akhirnya mereka pasti bisa meyakinkan dokter lain untuk datang ke kota mereka yang sedang tumbuh, tapi apakah orang itu memiliki tekad seperti wanita muda ini?
"Ia hebat, kan?"
David menoleh dan melihat Daniel berdiri di sana juga, mengamati Kendall. David memasang wajah datar. "Ia aset penting bagi masyarakat kami."
Daniel berdecak-decak. "Tapi apakah masyarakat di sini aset baginya?"
David berusaha untuk menghitung sampai sepuluh, tapi hanya berhasil sampai tiga. "Kurasa kau bukan orang yang tepat untuk memutuskan apa yang baik bagi Kendall."
Daniel menaikkan sebelah alis. "Menurutmu kau orangnya? Kau sudah mengenal Kendall selama, berapa.... dua minggu?"
"Karakter seseorang bisa diketahui dalam waktu singkat," tukas David tajam, mengamati pakaian rapi dan sepatu mahal Daniel.
Daniel juga mengamati David, menatap kemeja bernoda keringat, jins berdebu dan gips kotor tertutup tanah. "Aku sangat setuju."
David tahu ketidak sukaanya kepada pria di depannya itu tidak beralasan... Daniel tidak menyakitinya secara pribadi. Dan kenyataan bahwa pria itu mengenakan baju mentereng tidak membuatnya jadi orang jahat. David mengakui bahwa himpitan kemarahan dalam dadanya itu adalah kecemburuan. Ia cemburu karena pria itu mengenal Kendall lebih dulu dan cukup mengenal wanita itu sehingga bisa membujuknya pergi dari Happiness.
Tidak... itu tidak adil, David mengakui. Ia sendiri bertanggung jawab atas kepergian Kendall.
Tapi, tampaknya tidak semua orang ingin tinggal di sini.
Ia menstarter mesin dan mengarahkan ATV ke asrama. Sepertinya film baru tamat. Ketika lampu sudah dinyalakan, David maju ke depan ruangan dan meminta perhatian semua orang.
"Aku hanya ingin memberitahu semua orang, terutama pekerja di ruangan ini," katanya sambil menatap wajah-wajah pekerja yang selama ini sangat lantang menyatakan ketidak setujuan untuk menemui dokter wanita, "bahwa Dokter Jenner sudah menolong dua penduduk kita malam ini, yaitu Kristofer yang hampir terkena serangan jantung dan Masson Dean yang hampir kehilangan tangan... atau bahkan lebih buruk. Kalau saja dulu Masson membiarkan Bu Dokter mengobati tangannya, ia pasti tidak harus mengalami semua ini." Ia membiarkan informasi itu di pahami. "Dokter Jenner benar-benar sudah memperlakukan kita dengan penuh perhatian dan hormat, lebih dari pada yang kita tunjukkan kepadanya. Aku menyesal harus mengumumkan bahwa ia akan pergi."
"Pergi?" ucap salah seorang wanita, terdengar gusar. "Kami tidak bisa tinggal di sini kalau tidak ada dokter."
Wanita-wanita lain serempak menyetujui, banyak di antaranya berdiri. David membiarkan mereka bicara. Kalau pria-pria itu menyadari bahwa para wanita tidak mau tinggal di sana tanpa dokter, mereka mungkin akan memperlakukan dokter selanjutnya... entah pria atau wanita... dengan lebih hormat.
Tiba-tiba David melihat Kendall masuk ke bagian belakang ruangan. Wanita itu tampak kecil, lelah dan sepertinya sedang mencari... nya. Saat mata mereka bertemu, dada David berdegup kencang dan kesadaran itu menyambarnya seperti petir... ia mencintai Kendall. Itulah sebabnya ia merasakan nyeri misterius di balik tulang dada setiap kali mereka berdekatan. Setelah pemahaman itu meresap dan emosi-emosinya terurai, tanda-tanda vitalnya membubung.
Lalu menukik saat Daniel masuk di belakang Kendall dan melingkarkan sebelah tangan di pinggang wanita itu dengan sikap posesif.
Lambat laun, semua orang di ruangan menyadari kehadiran Kendall. Mereka menoleh dan ruangan itu jadi senyap beberapa detik. Lalu salah seorang pria berdiri dan mulai bertepuk tangan dengan lambat. Berangsur-angsur, setiap orang bergabung sampai ruangan itu riuh tepuk tangan dan semua orang berdiri memberi hormat pada dokter mereka. Dada David sesak oleh perasaan bangga.
Kendall tampak bingung. Wajahnya berangsur-angsur memerah saat ia mengangkat tangan untuk menolak penghargaan itu. Tapi akhirnya ia tersenyum juga dan mengangguk berterima kasih, menerima jabat tangan orang-orang yang mengantre untuk keluar ruangan.
"Kuharap kau akan tinggal," itulah yang David dengar, di ucapkan oleh lebih dari satu orang.
"Ku mohon, tinggallah."
"Ku harap kau mempertimbangkannya lagi."
Hanya Daniel yang tampak tidak senang dengan curahan perhatian itu. Ketika David terpincang-pincang kembali ke tempat mereka berdiri, Daniel terang-terangan menatapnya dengan marah. David mengabaikan pria itu dan menoleh kepada Kendall. "Kau ratu jam ini."
...****************...