New Happiness, Begins

New Happiness, Begins
Part 44



"Terima kasih sudah merawat anakku," kata Luisa pada Kendall dengan bersungguh-sungguh.


"Sama-sama," gumam Kendall, salah tingkah.


"Jangan sampai kau melewatkan janjimu dengan dokter," kata Mrs. Booker, suaranya cemas, "tapi pasti kau punya waktu untuk duduk bersama ibumu dan minum segelas teh, kan?"


David memandang Kendall dengan sebelah alis terangkat. Kendall mengangguk tanpa bicara dan duduk di pinggir salah satu sofa. Lagi pula, mereka masih harus memberikan cincin itu kepada ibu David. Tapi Kendall sudah merasa begitu... risih, ia tidak yakin ingin menyaksikan kejadian yang sifatnya sangat pribadi seperti itu.


Setelah berjam-jam berdekatan dengan David di mobil, Kendall tegang, benar-benar menyadari setiap jengkal tubuh David yang besar dan berotot menarik tubuhnya. Saat pria itu membungkukkan tubuh untuk duduk di sampingnya di sofa dan lutut mereka bersentuhan, perasaan Kendall bertambah kacau.


Terutama karena Luisa mengawasi mereka seperti induk elang.


"Tanpa gula untukmu, Kendall," katanya, sambil menyerahkan gelas dingin. "Dan yang manis untukmu, David."


"Terima kasih," sahut Kendall, lalu meneguk tehnya, berharap minuman dingin akan menenangkan saraf... dan menurunkan suhu tubuhnya.


"Apakah kau salah satu calon pengantin itu, Sayang?" tanya Luisa, matanya melebar tanpa dosa.


Kendall tersedak minuman, lalu menelannya. "Calon pengantin?"


"Rata-rata wanita yang datang ke Happiness untuk mencari suami, bukan?"


Lidah Kendall kelu. Untungnya David masih mampu angkat bicara.


"Mom," tegurnya, "wanita yang menjawab iklan itu bukan mencari suami... setidaknya tidak semua begitu." Dia berdeham. "Selama ini Dokter Jenner menerima pasien dan membantu kami membangun klinik. Dia aset yang sangat berharga dalam upaya pembangunan kita."


Luisa tersenyum. "Jadi kau membantu anak-anakku membangun kembali Happiness." Dia tampak sendu. "Tempat itu begitu istimewa. Aku memiliki begitu banyak kenangan indah di sana dan tentu saja mendiang suamiku dikubur di sana." Matanya berkilau oleh air mata, lalu dia menelengkan kepala. "Bila kalian siap, Happiness tempat yang baik untuk hidup tenang dan membesarkan anak."


Apakah lutut David menekan lututnya makin keras? Kendall mempererat cengkeraman di gelas. "Begitulah yang ku dengar."


"Hmm, Mom," celetuk David sambil merogoh saku kemeja untuk mengeluarkan kotak cincin, "Kendall dan aku punya kejutan untukmu."


Mulut Luisa melongo. "Kalian sudah bertunangan!" Dia bertepuk tangan. "Sudah kuduga. Begitu melihat kalian berdua bersama-sama, aku membatin, 'Mereka pasangan serasi!'"


Kendall hampir menjatuhkan gelas.


"Mom..." sela David.


"Harus kuakui, David, dengan reputasimu sebagai penakluk wanita, tadinya kupikir kau tidak akan pernah menikah..."


"Mom..."


"Dan jelas aku tidak pernah membayangkan kaulah di antara anak-anakku yang pertama jatuh..."


"Mom!"


Luisa mengerjap-ngerjap. "Apa?"


Alis Luisa langsung berkerut, ia memandang Kendall dan David bergantian. "Tidak?"


Kendall berharap lantai terbuka dan menelannya. Ia menggeleng, tak mampu memandang David.


"Tidak." David mendesah. "Boleh ku selesaikan dulu kalimatku?"


Luisa mengambil teh dan meneguknya. "Tentu."


David ragu dan Kendall merasa bahwa di mata David momen itu sudah rusak. Saat menoleh dan melihat bahu pria itu melorot, ia terdorong untuk membantu menyelamatkan suasana canggung yang menyelimuti. Secara naluriah, ia meletakkan sebelah tangan di lutut pria itu.


"Mrs. Booker, David memintaku untuk menemaninya hari ini karena sewaktu menjelajahi Happiness, aku menemukan barang milikmu."


Luisa mengernyit. "Barang milikku?"


David membuka kotak cincin dan mengulurkannya ke arah sang ibu. Begitu Luisa menyadari apa yang ia lihat, mata birunya yang cemerlang langsung di penuhi air mata. Dengan gemetar ia meletakkan gelas, yang segera Kendall selamatkan agar isinya tidak tumpah. Tapi Kendall senang ada yang bisa dikerjakan, karena ia sendiri hampir menangis.


"Cincinku yang cantik," ucap Mrs. Booker takjub, mengambil kotak itu. "Kukira aku tidak akan pernah melihatnya lagi." Ia mengeluarkan cincin emas itu. Kendall tahu David sudah meminta Molly membersihkannya. Cincin itu berkilau seperti baru. Saat Luisa menyelipkannya ke jari, Kendall membayangkan wanita itu teringat pada hari pernikahannya, saat pertama ayah David menyematkannya di jari. Air mata membanjiri pipi Luisa saat ia mengulurkan tangan untuk mengagumi benda itu. "Suamiku membeli cincin ini untukku. Kalian tak bisa membayangkan betapa besar artinya bagiku mendapatkan cincin ini kembali." Lalu ia mengusap wajah dan berdiri untuk mengulurkan tangan ke arah Kendall. "Bagaimana aku bisa berterima kasih padamu, Sayang?"


Karena terkejut, Kendall berdiri dan menyambut pelukan wanita itu. "Tidak perlu berterima kasih." Luisa memeluk Kendall erat-erat dan menepuk-nepuk punggungnya, rasanya begitu... menyenangkan. Kendall melirik David, yang mengawasi mereka dengan wajah penasaran.


"Mom, kau bisa meremukkan tulangnya," tegur David riang.


Luisa mundur dan tertawa, masih mengusap mata. Lalu ia memajukan tubuh ke arah David dan memeluknya juga. "Ini hari terindah sejak badai itu. Aku tidak sabar ingin kembali ke Happiness."


"Harry dan aku juga sudah tidak sabar," kata David, lalu menancapkan ciuman di pipi basah Luisa dengan decap keras sehingga sang ibu cekikikan seperti seorang gadis.


Kendall menyaksikan adegan itu dengan perasaan campur aduk, heran... gelisah... iri. Bahkan saat ibunya masih hidup, hubungan mereka selalu memiliki konflik. Jarang ada pelukan, apalagi ciuman. Ia tak pernah meragukan kasih sayang sang ibu, tapi ia merindukan tepukan di punggung dan bahu serta pelukan. Matanya bertatapan dengan mata David dan ia ingin mengalihkan pandangan, takut David melihat semua yang ia rasakan. Tapi ia tak sanggup. Setelah beberapa detik, David mengedipkan mata, lalu meremas bahu sang ibu.


"Kami harus pergi, Mom. Dokter Jenner sudah cukup baik hati membuatkan janji untukku dengan dokter ortopedi terkenal dan aku tidak mau terlambat."


"Tentu saja tidak," ibunya menyetujui, sangat senang.


David berdiri mengambil kruk. Kendall ikut berdiri, lega bisa pergi. Ia mendahului David ke pintu. Di sana, ia harus menerima satu lagi pelukan erat sebelum Luisa Booker mengucap salam perpisahan.


"Aku melihat cara David memandangmu," bisiknya di telinga Kendall.


Saat Kendall mundur, ia hanya bisa tersenyum mendengar pengamatan khas seorang ibu. Tentu saja Luisa membayangkan hal-hal yang diinginkan dalam situasi seperti ini. "Aku senang mendapat kesempatan berkenalan denganmu, Mrs. Booker."


Luisa mendengus. "Kau bicara seolah kita tidak akan pernah berjumpa lagi. Tapi kita akan bertemu bila aku datang ke Happiness dan kau boleh mampir ke sini kapan saja."


Kendall merasakan David memandangnya. Ia tak akan ada di Happiness saat Mrs. Booker pulang. Ia tidak mau berdusta, jadi hanya melayangkan senyum. "Selamat tinggal."


...****************...