New Happiness, Begins

New Happiness, Begins
Part 48



Bukannya terbaring dalam genangan darah, David sedang bersantai di tengah busa sabun yang mulai menipis dengan tungkai yang digips disandarkan ke pinggir bak. Dia tersenyum lebar. "Hei, Bu Dokter Kecil."


Melihat pemandangan tubuh kekar David yang te-lan-jang, darah Kendall menyembur ke zona-zona sensualnya. Rambut David yang gelap dan basah menutupi mata. Bahunya memenuhi lebar bak mandi. Bulu dadanya bersatu membentuk aliran kecil gelap sampai ke perut dan lenyap di bawah air. Satu dari gundukan busa yang tersisa menutupi bagian pribadinya.


"Wow, kau kelihatan cantik," puji David, seolah tak ada yang salah.


Kendall melipat tangan dan mengernyit. "Ku kira kau dalam kesulitan."


"Memang. Aku bisa masuk, tapi sekarang setelah segar dan bersih, aku tidak bisa keluar." Ia menggerakkan jari-jarinya yang keriput. "Kulitku keriput." Lalu ia mengulurkan tangan. "Tolong bangunkan aku."


Kendall ragu-ragu.


David mendengus. "Ayolah, Dok. Aku tahu kau lebih kuat dari yang terlihat. Lagi pula kau sudah melihat hampir semua bagian tubuhku."


Tidak semua, Kendall hampir menukas.


"Kau bisa menutup mata," ucap David datar, seolah bisa membaca pikiran Kendall.


Pria itu mengejek. Kendall menegakkan tubuh dan mendesah. "Baiklah,"


Tangan David lenyap ke dalam air di antara kedua tungkai. Tepat ketika Kendall mulai bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan, terdengar suara menggelegak akibat menelan saliva, dan permukaan air mulai turun dengan cepat.


Dalam beberapa detik, Kendall bisa melihat segalanya. Ya, segalanya... dengan jelas dan tanpa terhalang sehelai benang pun.


"Aku akan mengambil handuk," katanya, lalu berbalik untuk menarik sehelai handuk tebal dari rak. Sementara memunggungi David, Kendall menyemangati diri dan berusaha menenangkan debar jantung. Ia dokter. Ia bisa melihat tubuh telanjang pria itu tanpa terpengaruh. Ia mampu. Kendall menghela napas dalam dan berbalik kembali.


Tepat saat seluruh air sudah lenyap dari bak.


Sekilas ia melihat perangkat yang mengesankan sebelum melempar handuk. David membuka lipatan handuk dan melilitkannya di pinggang, lalu mengulurkan tangan. Kendall meletakkan tas, kemudian mencengkeram tangan David dan membungkuk agar pria itu bisa menggunakan tubuhnya sebagai tumpuan untuk bangun.


Kendall memejamkan mata rapat-rapat dan menjejak kuat-kuat.


Satu detik ia dalam posisi tegak dan menyediakan kekuatan, tapi detik berikutnya ia terjatuh ke dalam bak dengan kepala lebih dulu.


Ia mendarat keras di dada licin David, hidung bertemu hidung dan lutut bertemu lutut. Posisi yang pas, bukan? Hanya handuk di pinggang pria itu yang memungkinkan adegan itu masih bisa lulus sensor.


Kendall terkesiap. "Kau melakukannya dengan sengaja!"


Tapi David hanya tersenyum tanpa dosa. "Maaf, Dok, aku terpeleset. Sungguh."


Kendall mengulurkan tangan, tapi tak menemukan sesuatu untuk di pegang kecuali tubuh keras dan berotot David.


"Tenang," gumam David sambil melingkarkan tangan di tubuh Kendall. "Kau bisa terluka... atau membuat situasi lebih buruk."


"Aku ada dalam bak mandi bersamamu," ucap Kendall sambil menggeleng-geleng. "Memangnya ada yang lebih buruk dari pada situasi ini?"


David melingkarkan sebelah tangan di leher Kendall, menarik bibir wanita itu ke bibirnya dan memberikan ciu-man tak terduga yang sangat bergairah sampai Kendall hampir dapat merasakan uap naik dari bak. Ia menjelajahi bibir Kendall dengan cermat, lalu mengakhiri ciu-man, tapi masih memegang wajah wanita itu di dekat wajahnya. "Aku menginginkanmu, Kendall."


Tubuh Kendall masih kaku dan ia masih berusaha memahami sampai di mana mereka tadi dan mengapa David bisa menimbulkan reaksi liar di tubuhnya. Tubuh, pada dasarnya sama... dua ini, dua itu, satu hal lain. Dari sudut pandang ilmiah, tidak masuk akal bahwa pria ini bisa membuatnya merasakan sesuatu yang berbeda atau lebih baik daripada pria lain.


Meski demikian, tubuh Kendall gemetar, dikuasai sensasi bahwa ia mungkin akan mati kalau David berhenti menyentuhnya. Ia tertarik menyadari sikapnya yang tidak seperti biasanya. Wajah Daniel berkelebat di benaknya, bersama perasaan mengusik bahwa ia tidak boleh melakukan sesuatu yang akan di sesali sampai membalas telepon pria itu.


Bagaimana jika Daniel ingin berbaikan dengannya?


Ia menelusurkan kedua tangan di punggung kendall untuk memegang bo-kong wanita itu dan menekannya ke bukti kejantanan yang menyembul di balik handuk. Gairah menyapu tubuh Kendall, membuatnya bergairah. Ia memindahkan tangan ke dada dan bahu David, memijat, meraba dan menelusurkan kuku di kulit pria itu.


David gemetar dan menghentikan ciuman untuk mencium leher Kendall, menurunkan tali gaun ke bahu wanita itu dan dengan cekatan membuka kancing-kancing depan sampai payudara Kendall menyembul.


"Kau cantik," bisik David, lalu menjelajahi kedua puncaknya yang mengeras dengan jemari, menimbulkan kenikmatan tak terkira di sekujur tubuh Kendall. David kemudian menge-cup salah satunya, lalu yang satu lagi, menikmati dengan lidah yang hangat dan mengu-lumnya.


Kendall menggigit bibir agar tidak mengerang.


"Enak?" gumamnya di kulit Kendall.


"Hmmm..."


"Aku ingin membuatmu senang, sayang." David menyentak rok Kendall sampai ke pinggang, lalu meloloskannya lewat kepala. Sensasi bulu dada David yang lembut seperti setrum di kulit Kendall, membuatnya berhasrat. David menyelipkan kedua tangan ke pakaian dalam tipis Kendall, menangkup bo-kongnya. Matanya setengah terpejam saat jemarinya menggoda Kendall. Kendall terkesiap dan menggeliat-geliat. David menjelajahi tubuh Kendall sampai tubuh wanita itu benar-benar lemas, lalu menurunkan pakaian dalamnya. Kendall meraba-raba untuk melepaskannya sendiri, samar-samar sadar ia masih memakai sandal saat duduk di atas tubuh David.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya, khawatir posisi itu terlalu menekan tungkai David.


"Ada satu masalah," gumam David dan setelah Kendall bergeser, pria itu menarik handuk yang membatasi tubuh mereka. Bukti gairah menekan perut Kendall. Kendall merengkuhnya, senang saat mendengar napas pria itu terkesiap.


Tapi David menghentikan sentuhannya. "Kita harus berhenti... aku tidak merencanakan ini. Aku punya pelindung, tapi ada di kamar tidur."


Kendall menahan senyum, lalu meraih tas pinjamannya yang masih tergeletak di bibir bak. Ia mengeluarkan pelindung dan mengacungkannya.


Mata David melebar. "Kau memang penuh kejutan!"


"Ceritanya panjang," gumam Kendall sambil merobek bungkusnya.


"Ceritakan nanti," kata David, mengembuskan napasnya keras saat Kendall memasang alat pelindung itu. Lalu ia menarik bibir Kendall ke bibirnya dan men-ciumnya dengan dalam, sebelum akhirnya berbisik ke telinga wanita itu, "kau siap?"


Kendall mendesah. "Ya."


David mengangkat pinggang Kendall dan pelan-pelan menyatukan tubuh mereka, mata mereka terus bertatapan. Kepala Kendall terkulai karena sensasi luar biasa yang di rasakannya. "Kau tak tahu betapa nikmat rasanya."


"Aku tahu," tukas David dengan kepuasan membayang di wajah.


Karena masih mencemaskan tungkai David, Kendall membiarkan pria itu menentukan kecepatan. Mereka mendapati ritme lambat ternyata sangat menyenangkan dan dalam, nyaris tak tertahankan. Kendall langsung merasakan klimaksnya terbentuk.


"Kau suka?" tanya David.


"Mmm."


"Sini," kata David dan menarik Kendall untuk ia cium sambil terus bergerak.


"Mmm." Or-gas-me terkumpul... terbentuk... bertambah besar...


"Kau begitu seksi, sayang. Kau membuatku tergila-gila."


"Mmm." Tekanan or-gas-me naik semakin tinggi.


David menjulurkan lidah ke telinga Kendall dan tiba-tiba saja tubuh Kendall bergerak-gerak tak terkendali. Ia menjerit sambil menekuk tubuh, diserbu kekuatan tak terlihat yang begitu dahsyat sampai ia merasa akan luluh lantak. Puncak kenikmatan itu berlangsung selama beberapa detik, lalu ia melayang turun dalam sensasi menyenangkan dan lama... yang tak ia inginkan untuk berakhir.


...****************...