New Happiness, Begins

New Happiness, Begins
Part 38



"Bagaimana caramu memanjat tangga pertama," tanya David.


Ingatan pada cara pria itu mendorongnya ke anak tangga terbawah tempo hari menimbulkan sensasi tak diinginkan di bagian bawah perut Kendall. "Pasti bisa ku atasi."


David maju sedikit. "Pelan-pelan saja. Dan lewati tanjakan terakhir dengan cara sedikit berbelok, jangan lurus."


Kendall mengangguk, lalu menekan tombol untuk menyalakan mesin ATV.


Gunakan walkie-talkie kalau kau mengalami kesulitan," teriak David. "Dan hati-hati saat naik tangga!"


Kendall mengabaikan dan menginjak pedal gas.


Setelah beberapa kali meluncur dengan tersendat-sendat, ia mengarahkan ATV ke jalan setapak yang akan membawanya ke menara.


Adrenalinnya terpacu saat kendaraan itu menaiki tanjakan. Getar mesin menggema di sekujur tubuhnya, membangkitkan indra. Aroma lumut dan tanah basah masuk ke paru-parunya, juga semerbak rumput dan bunga. Alerginya sudah agak reda, meskipun ia yakin itu tak berkaitan dengan permen kayu manis yang sudah di makannya, melainkan berkat dosis besar obat yang ia minum. Udara segar terasa menyenangkan di wajahnya.


Pepohonan di kedua sisi jalan setapak praktis penuh dengan daun, buah, burung dan tupai. Semak-semak yang berbunga merunduk akibat beban tubuh tawon. Matahari sudah tinggi dan panasnya membakar, menerobos kanopi alami yang di ciptakan oleh pepohonan dan menumpahkan sinar ke jalan berbatu di depannya. Kendall teringat peringatan David dan memperlambat laju ATV saat tanjakan bertambah terjal, tetapi pikiran tentang pria itu membuatnya tegang karena marah.


Pada diri sendiri.


Karena membiarkan pria itu mendekatinya pada hari ia membawa hewan yang terluka, karena selama sedetik itu ia percaya bahwa mereka terhubung atau bahwa kedekatan fisik akan membuatnya merasa lebih baik tentang segalanya.


Misalnya karena dicampakkan oleh mantan tunangannya.


Tapi kejadian itu malah membuatnya merasa lebih buruk, menegaskan perasaannya bahwa pria menginginkannya hanya karena ia kebetulan berada di hadapannya. Dan ia hampir melanggar kode etik profesional karena melibatkan diri dengan pasien. Ia harus pergi untuk menjernihkan pikiran dan menurutnya tempat terbaik untuk melakukan itu adalah menara.


Lagi pula, ia ingin bicara dengan mantan atasannya, Dokter Amanda dan ia rindu Cara, temannya. Wanita-wanita lain dari Denville sudah mulai menyesuaikan diri dengan Happiness dan menjadikannya rumah. Kendall ingin mengobrol dengan orang dari luar, yang bisa meyakinkan bahwa tempatnya bukan di sini.


Dua puluh menit kemudian, Kendall melewati tanjakan terakhir secara berbelok dan mencondongkan tubuh ke depan ATV, mempertahankan kecepatan sementara mesin menderum untuk menaklukan jalanan yang dilalui. Saat roda kendaraan itu hanya berputar di tempat, Kendall panik, takut terjebak, tapi tiba-tiba bannya mendapat dorongan dan membawanya melewati tanjakan menuju tanah datar.


Debar jantungnya bertambah kencang. Kalau tidak salah, David pernah bicara tentang beruang, kan? Dan juga ular. Kemarin salah seorang pekerja digigit. Tentu saja, ketika Kendall tiba di lokasi, korban menginginkan Kristofer yang mengobati luka. Karena ularnya tidak berbisa, Kendall mengizinkan. Tapi dari riset, ia tahu setidaknya ada enam macam ular berbisa di pegunungan ini. Ular derik cukup berbaik hati memberi peringatan sebelum menyerang, tapi spesies-spesies lain tidak sebaik itu.


Tiba-tiba Kendall mempertanyakan tujuannya untuk mencari ketenangan.


Ia memandang sekeliling, tapi hanya melihat pepohonan, semak dan batang pohon yang tumbang. Akhirnya, serangga dan burung yang tadi terdiam karena suara mesin ATV berbunyi kembali dan ia jadi rileks.


Untuk menjangkau anak tangga, ia berdiri di jok ATV dan menarik tubuh ke atas. Pemanjatan ke puncak menara itu menyegarkan, tepat seperti yang dibutuhkan tubuhnya. Saat ia mencapai pelataran, kemejanya lengket ke punggung dan otot-ototnya terasa terbakar. Hawa panas memancar tapi angin sepoi-sepoi kecil menyejukkan tengkuknya.


Kendall beranjak ke bagian depan menara dan menikmati pemandangan yang membentang. Ia menghirup napas dalam-dalam sampai paru-parunya penuh, lalu mengembuskannya, berharap membebaskan tubuh dari stres yang sudah menumpuk berminggu-minggu. Air mata mendesak keluar di pelupuk karena banyak hal. Pikirannya kusut dan berputar-putar seperti tornado, melontarkan bayangan-bayangan menyakitkan dengan bebas. Memikirkan mantan tunangannya nyaris tak bisa bernapas saking sedihnya. Ia tahu hidupnya akan lebih baik tanpa pria itu karena terbukti tak setia bahkan sebelum mereka melangkah ke pelaminan, tapi ia meratapi masa-masa indah kebersamaan dan kemungkinan yang bisa terwujud.


Ia merasa di tipu alam semesta. Ia sudah menyingkirkan khayalan hidup bahagia selamanya waktu menjelang tamat sekolah medis. Lalu mantan tunangannya muncul dan membuatnya percaya bahwa selama itu ia keliru. Dan ketika ia sudah mengizinkan dirinya bahagia, pria itu membuktikan bahwa selama ini ternyata ia benar.


Sekarang, ia di sini, terperosok lagi dalam pesona pria lain yang membuatnya merasa tak berharga.


Kendall merasa frustasi dan mengembuskan napas. Apa yang salah pada dirinya sehingga selalu tertarik ke arah pria semacam itu?


Ia mengeluarkan ponsel dan mengangkatnya sampai garis penanda sinyalnya naik, menandakan sinyal kuat. Telepon itu bergetar dan simbol "pesan suara menunggu" muncul. Satu pesan dari Cara, yang hanya ingin tahu keadaanya, bertanya apakah Kendall sudah dalam perjalanan pulang ke Denville. Satu pesan dari bekas menejer apartemen Kendall bertanya kemana harus meneruskan surat-surat. Itu mengingatkan betapa cepat dan cerobohnya ia dalam membuat keputusan untuk meninggalkan Denville.


Dan satu pesan dari mantan tunangannya.


Perut Kendall melilit saat ia mendengar suara parau pria itu. "Hai, Kendall... ini aku. Kudengar kau pergi. Aku menelepon hanya untuk mengetahui apakah kau baik-baik saja." Nada suara pria itu rendah dan mengalir, seperti bila pria itu sudah minum beberapa gelas anggur. "Dan aku ingin bilang bahwa kalau masih berarti, aku minta maaf atas berakhirnya hubungan kita. Oke... bye."


Kendall menarik napas dan mengeluarkannya. Pria itu menelepon untuk mengetahui apakah aku baik-baik saja? pikirnya. Bagaimana jika tidak? Lalu apa? Dan pria itu bukan minta maaf karena sudah berselingkuh... ia menyesali akhir hubungan mereka? Seolah ia tak bersalah atas perselingkuhan itu. Kendall menyadari pipinya basah kemudian menyekanya. Bisa-bisanya ia memberikan cinta kepada seseorang yang memperlakukannya dengan sangat semena-mena!


Ia membiarkan beberapa tetes air mata jatuh lagi, lalu mengusap wajah. Neneknya selalu berkata tak ada gunanya menangisi apa yang sudah terjadi dan kata-kata itu sangat tepat untuk situasi ini. Yang sudah terjadi, terjadilah. Ia harus terus maju.


...****************...