New Happiness, Begins

New Happiness, Begins
Part 42



Kendall terpaksa menyetir mobil ke Atlanta karena David tidak bisa melakukannya dengan kaki terbalut gips. Mobil itu sudah terparkir dan menunggu dengan mesin menyala.


David menoleh dan mengerjap-ngerjapkan mata untuk memastikan. Kendall memakai gaun bunga warna pucat dan sepatu hak tinggi. Warna rambutnya tampak lebih terang dan dipotong model baru... David menyadari saat Kendall mendekat sambil membawa tas berisi perlengkapan untuk menginap.


David hendak beranjak mengambilkan tas yang dibawa Kendall sebelum akhirnya ia mengingatkan diri dan menyadari bahwa ia tidak bisa memakai kruk sekaligus membawakan tas Kendall. David tak bisa mengalihkan pandangan dari wanita itu. Gaun yang dikenakan sang dokter menonjolkan lekuk rampingnya dan sepatu hak tinggi menonjolkan tungkai indahnya. Moden dan warna baru rambut Kendall amat cocok dengan mata dan bentuk mukanya. Bibir penuhnya diwarnai merah, menekankan senyum yang jarang dia perlihatkan.


Itu memang Kendall dengan penampilan yang bergaya.



"Selamat pagi," sapanya kepada David.


Lidah David kelu. "Selamat pagi. Kau kelihatan... cantik," David berhasil bicara.


Senyum Kendall membuat mata cokelatnya yang cantik berkilau. "Terima kasih."


David tidak bisa memikirkan apa-apa lagi untuk dikatakan, jadi ia hanya menatap.


"Kau sudah membawa cincin kawinnya?" tanya Kendall membuyarkan tatapan David.


David menepuk-nepuk saku kemeja. "Ada di sini. Ia tidak tahu kita membawanya. Dia pikir aku mampir untuk menjenguk. Dia pasti senang sekali melihat cincin ini kembali."


"Kalau begitu, mungkin dia tidak akan terlalu memperhatikan gipsmu," ucap Kendall.


David teringat komentar Harry bahwa Kendall akan menjadi gangguan hari ini... ternyata wow, kenyataannya lebih daripada itu. Ia berdiri mengamati wanita itu, merasa seperti anak sekolah mengagumi teman kencannya ke pesta dansa. Jantungnya berdegup kencang di dalam dada dan ia seolah kembali ke hari saat bibir dan tangan Kendall membakar gairahnya. Pipi Kendall memerah. Apakah wanita itu bisa merasakan apa yang sedang ia pikirkan?


David tak puas-puas menatap Kendall... sosoknya yang amat ramping benar-benar sempurna. Wanita itu mengenakan gaun buatan penjahit seanggun model.


Kendall menunjuk sembarang ke arah langit. "Kita harus segera berangkat kalau ingin tepat waktu menemui doktermu."


David mengangguk. "Maaf terpaksa kau yang menyetir."


"Tidak masalah, asalkan kau menunjukkan jalannya."


"Sepertinya kita akan jadi tim yang kompak," timpal David.


Awalnya, suasana di mobil tegang. Agar tidak terus menerus menatap ke arah Kendall, David mengoceh tentang tempat-tempat penting dan perbatasan yang mereka lewati... sampai ia menyadari Kendall hanya menyimak demi kesopanan. Karena wanita itu jelas tidak merencanakan untuk tinggal, jadi kenapa ia harus peduli di mana perdagangan dulu terpusat? Atau bahwa jembatan beratap yang disapu badai dan kemungkinan upaya untuk menghubungkan kembali daerah pertanian terpencil di sana dengan jalan menuju Happiness akan menjadi proyek besar mereka berikutnya?


"Bagus," komentar Kendall.


David memutuskan untuk berhenti sejenak dan menyalakan radio. Di ketinggian ini, tidak banyak gelombang stasiun radio yang bisa di dapat, tapi akhirnya ia menemukan stasiun musik country.


"Bagaimana dengan saluran ini?" tanyanya.


"Sehalus kulit kodok."


David tertawa. "Ungkapan tadi mirip dengan yang biasa diucapkan orang Happiness."


Ekspresi Kendall menunjukkan ia tidak mau dianggap sebagai "orang Happiness". "Itu ungkapan temanku di Denville. Ia berasal dari kota kecil."


Mata Kendall terpaku ke jalan desa, tangan kecilnya diletakkan di setir besar pada posisi angka sepuluh dan dua. Ia tampak begitu mungil, namun sangat menguasai keadaan. Hati David disergap emosi-emosi yang membingungkan... ia menghargai kekuatan wanita itu, tapi merasa wajib melindunginya. Tapi sejak tiba di Happiness, justru Kendall yang mengurusnya. Ia bukan tipe wanita yang biasanya membuat David tertarik, tapi ia menguasai pikiran dan selalu membuat tubuh David tersulut gairah, terutama setelah kejadian di ruang praktik. David bergerak-gerak di kursi dan berusaha memikirkan hal-hal yang lebih umum, tapi sia-sia.


"Kakimu sakit?" Celetuk Kendall.


"Eh... sedikit," dustanya.


"Aku sudah minum satu tadi pagi," kata David. "Hanya agak kaku... dan gatal. Aku tak sabar ingin melepas gips ini."


"Masih beberapa minggu lagi," sahut Kendall dengan nada khas dokter. "Tapi aku senang kau akan di rontgen hari ini untuk memeriksa apakah tulang-tulangmu pulih dengan benar. Terjunmu cukup tinggi."


"Eh... soal itu. Aku tidak akan memberitahu Mom bahwa aku jatuh dari menara."


Senyum kecil tampak di bibir Kendall. "Kau akan bilang apa?"


"Aku memikirkan sesuatu yang... tidak terlalu menimbulkan perasaan ngeri."


"Kurasa dengan dua anak laki-laki, ia sudah terbiasa menghadapi hal-hal mengerikan. Tapi ia ibumu. Apakah ia tinggal sendiri?"


"Ia pindah ke tempat kakaknya setelah badai menerjang. Mereka akur, tetapi Mom begitu lantang menyuarakan kerinduan pada Happiness. Kadang kupikir keinginannya untuk kembali ke kampung halaman membuat Harry tertekan, lebih daripada tenggat waktu pemerintah." David tersenyum. "Kau tahu seperti apa keluarga."


Saat Kendall menggigit bibir bawah, David menyesali pilihan katanya yang ceroboh... Kendall tidak punya keluarga. "Maaf aku kurang peka..."


"Tak apa," potong Kendall. "Kau tidak perlu selalu bersikap hati-hati. Aku sadar kebanyakan orang memiliki kerabat."


"Kau tidak punya bibi, paman atau sepupu?"


"Ibuku pernah bercerita tentang beberapa sepupu jauh di Califonia yang keturunan saudara perempuan nenekku, tetapi Mom mereka menikah lagi dan mengubah nama keluarga. Aku bahkan tidak tahu bagaimana memulai pencarian."


"Mungkin kapan-kapan mereka akan menemukanmu," kata David, lalu membasahi bibir. "Apakah kau akan tinggal di Denville?"


Kendall ragu. "Sepertinya."


Tiba-tiba ponsel Kendall yang terletak di antara kursi mereka, mulai berbunyi tiga kali berturut-turut, pemberitahuan pesan masuk. "Kurasa sekarang ponselku sudah mendapat sinyal," ucap Kendall sambil tertawa.


Ketika bunyi itu berlanjut, rasanya mustahil diabaikan. Lima pesan... sepuluh... lima belas...


"Ada yang sangat ingin menghubungimu," ucap David. Mantan tunangan wanita itu?


Kendall bergerak-gerak di jok. "Akan ku periksa pesan setelah kita berhenti. Berapa lama lagi kita tiba di tempat kakak ibumu?"


"Sekitar tiga jam."


Kendall mengangguk. "Omong-omong, wanita-wanita mengantre ingin merawat rusamu selama kita pergi."


"Bagus, asalkan mereka tidak menjadikan rusa itu binatang peliharaan."


Kendall tertawa. "Jangan kaget kalau ia memakai kalung yang bertuliskan namanya saat kita pulang."


"Sebagian besar dari mereka sepertinya bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan desa," cetus David berhati-hati.


Kendall mengangguk, tapi tidak berkomentar.


"Happiness akan jadi tempat yang tepat untuk membesarkan anak," lanjut David, sekarang resmi merasa seperti iklan.


"Ya," sahut Kendall lembut. "Jelas kau dan kakakmu memiliki banyak kenangan indah tumbuh besar di sini."



...****************...