
"Kendall tidak bilang akan pergi sejak tiba dari Atlanta kemarin," sahut Hailey.
David memain-mainkan bibir... dari cara Hailey menghindari kontak mata, ia tahu wanita itu tidak benar-benar jujur.
Hailey mengernyit melihat lemak berwarna orange yang mengapung di mangkuk sup sayur. "Jujur saja, David, Molly memang perlu belajar masak. Orang-orang pasti tidak mau kalau untuk makan di sini saja harus membayar."
Ketika teringat sandwich salad ayam Hailey yang beracun, David mengangkat sebelah alis.
Hailey tersipu. "Aku bukan berkata bahwa aku bisa mengelola tempat ini."
Ketika menyadari usaha Hailey untuk mengalihkan pembicaraan, David tahu wanita itu mengetahui sesuatu tentang rencana kepergian Kendall dari Happiness. "Yang lebih ku khawatirkan adalan kota ini tidak memiliki dokter, bukan sup yang layak di beri penghargaan."
Hailey menatapnya dengan wajah gusar. "Bagaimana kalau kau tanyakan sendiri saja pada Kendall kapan ia akan pergi?" Wajah Hailey memucat. "Maksudku kalau.... kalau ia akan pergi." Hailey melirik jam tangan. "Wah, lihat, sudah siang. Ruang medis di buka hari ini. Kami akan mengunduh beberapa film dan mengundang para pekerja untuk menontonnya di TV layar lebar nanti malam." Hailey menyunggingkan senyum menyemangati kepada David. "Kau harus datang. Kendall pasti ada di sana."
David mengangguk dan mengangkat sebelah tangan untuk melambai setelah Hailey menjauh. Hailey benar.... seharusnya ia bertanya sendiri kepada Kendall tentang rencananya meninggalkan Happiness. Wanita itu mungkin sedang di klinik, tempat ia berada sejak mereka kembali dari Atlanta kemarin. David harus mengakui... Bu Dokter Kecil berusaha sekuat tenaga menata klinik sebelum meninggalkannya... eh, mereka. Meninggalkan mereka.
Ia berdiri dengan susah payah dan sedang berjalan keluar dari ruang makan saat melihat sedan gelap tak di kenal berhenti di jalan. David menyipitkan mata. Pelat nomor Denville dan pengemudinya pria.
Pria itu menurunkan kaca jendela dan mendorong kaca matanya ke atas. "Maaf, aku mencari Dokter Jenner."
Kebingungan David terjawab. Inilah dokter yang telah Harry kirimi e-mail untuk menggantikan Kendall... siapa namanya? Dokter Fai Kadra. David mengerutkan kening, tahu kedatangan pria itu hanya akan mempercepat kepergian Kendall.
Lalu wajahnya jadi cerah. Mungkin ia harus memberitahu Dokter Kadra apa yang akan di hadapi. Pria itu tidak terlalu kekar. Dengan "perkenalan" yang tepat tentang Happiness, mungkin ia akan berubah pikiran soal rencananya untuk tinggal.
David menyeringai lebar. "Dokter Jenner sudah menunggumu. Menepilah, akan ku antar kau padanya."
Dokter Kadra tampak ragu. "Kau siapa?"
"David Booker. Aku dan Kakakku memiliki kota ini."
Pria itu pun menuruti perintah David, tampaknya ingin menyenangkan hati calon pemberi kerja. Ketika ia turun dari mobil, David sudah duduk di ATV.
"Ayo naik!" Serunya. Dokter Kadra, yang mengenakan pantalon, kemeja, dasi dan jaket sport, tampak ragu. "Ini cara termudah berkeliling pegunungan," jelas David.
Pria itu belum sempat duduk ketika David menginjak pedal gas. "Pegangan!"
Dokter Kadra menemukan pegangan di belakang jok tepat di sebelum ia terjatuh. "Kita mau ke mana?"
"Dokter Jenner ada di klinik, tapi aku tahu jalan pintas." David mengarahkan ATV keluar dari jalan beraspal dan memasuki jalan kecil berbatu. Jalan itu akhirnya berbelok di belakang klinik, tapi baru setelah melewati tanjakan dan turunan terjal. "Kita bisa melihat seluruh kota dari atas sini."
"Jadi masih ada hal lain yang bisa di lihat?" Teriak Dokter Kadra, tampaknya berpegangan erat-erat untuk menjaga keselamatan diri.
"Tidak juga," sahut David riang. "Kau mungkin harus merunduk." David membungkuk untuk lewat di bawah dahan-dahan pohon yang rendah, tiba-tiba senang karena belum sempat ke sini akhir-akhir ini untuk membersihkan jalan setapak. Di belakangnya, Dokter Kadra merunduk rendah, tersentak ke satu sisi.
Mereka menanjak makin tinggi dan David memastikan mereka melewati setiap batu dan bekas roda di sepanjang jalan. Ketika mereka sampai di dataran tinggi, David menghentikan ATV di tebing sambil tetap menyalakan mesin. "Pemandangannya indah, kan?"
"Badai," jelas David tegas. "Tepatnya, angin puyuh F-5. Meratakan semua yang tampak oleh mata."
Dokter Kadra menelan ludah, jakunnya tampak naik turun. "Badai sering melanda tempat ini?"
"Oh, ya," dusta David. "Di ketinggian ini, badai bisa muncul dengan tiba-tiba. Kita harus selalu mengawasi langit."
Dokter Kadra mendongak khawatir.
David mengganti persneling, "Siap?"
Sebelum Dokter Kadra sempat menjawab, David sudah melajukan kendaraan. Ia menuruni lereng, senang saat merasakan tubuh pria itu terlonjak-lonjak di jok di belakangnya. Di kaki bukit, ia memperlambat laju untuk menyeberangi anak Timber Creek yang dangkal, tetapi masih dengan kecepatan yang membuat mereka sama sama basah kuyup karena terciprat air. Di seberang, ia menghentikan kendaraan dengan tiba-tiba.
"Waduh."
"Kenapa?" tanya Dokter Kadra, melepas pegangan cukup lama untuk mengibaskan kecamata dan mengelap butir-butir air dari lensa dengan ujung dasi.
David menunjuk ke jejak rakun dalam lumpur lembek di samping aliran sungai, yang sudah melebar akibat di sapu air. "Jejak beruang."
Mata sang dokter melebar. "Jejak beruang? Jenis apa?"
"Grizzly." David berdecak-decak sedih sambil memandang berkeliling. "Sebaiknya kita pergi dari sini."
Wajah Dokter Kadra memucat, lalu ia melepas pegangan di belakang jok dan melingkarkan tangan di pinggang David. David menahan senyum, lalu meluncur, melaju secepat yang ia berani di jalan berlumpur dan berbatu-batu sampai bagian belakang klinik terlihat.
"Nah, kita sudah sampai," katanya sambil melambatkan ATV sampai berhenti di samping lubang galian yang akan di pasangi tiang plang bahwa klinik akan segera beroperasi.
David mematikan mesin tepat saat Kendall muncul dari pintu masuk utama bangunan modular. Wanita itu memakai celana jins dan kaus berdebu, sedang memegang clipboard. Saat melihat sosok langsing wanita itu, jantung David berlomba. Kendall menoleh dan melihat kedua pria itu. David lecewa ketika tatapan Kendall melewatinya dan tertuju ke pria yang sedang turun dari bagian belakang ATV dengan hati-hati. Wanita itu menatap, melipat tangan di dekat perut.
"Mau apa kau ke sini?" tanyanya.
David mengerutkan kening, bingung ketika pria yang basah kuyup itu menghampiri Kendall sampai jarak mereka sangat dekat.
"Hai Kendall."
Kendall tampak bingung. "Daniel... kenapa kau ke sini?"
Perut David melilit. Daniel? Mantan tunangan Kendall?
"Aku datang untuk mencarimu," kata Daniel. "Aku harus menemuimu."
Kendall tidak mempercayai penglihatannya. Jika ada satu pemandangan yang ia pikir takkan pernah ia lihat, jawabannya adalah pemandangan Daniel dan David berdampingan.
...****************...