New Happiness, Begins

New Happiness, Begins
Part 59



Kendall berterima kasih kepada para sukarelawan yang sudah menjaga pasiennya sepanjang malam. Ia lega karena semuanya baik-baik saja dan bersemangat. Ia kemudian memperkenalkan Dok Kris kepada Dokter Kadra dan menyampaikan ketertarikan pemuda itu pada obat-obatan alami.


Kristofer memandang Kendall dengan waspada. "Kukira kau tidak suka pada ramuan buatanku, Dok."


Kendall menatap pria tua di depannya, memahami ketakutan dalam mata Kristofer bahwa ia tak lagi berguna. "Kurasa ada cukup tempat untuk kita berdua di gunung ini, Kris. Bahkan aku bertanya-tanya apakah kau punya lebih banyak permen licorice untuk mengobati alergiku."


Kris tersenyum lebar. "Apakah itu artinya kau akan tinggal, Dok?"


Kendall tersenyum. "Ya, aku sudah memutuskan untuk tinggal di Happiness."


Kristofer tertawa kecil. "Well, mau tak mau aku harus memuji David. Ia berkata pada Harry bahwa akan membuatmu tinggal, dan ia berhasil."


Kendall mengernyit, tiba-tiba gelisah. "Apa maksudmu?"


"Harry takut kalau kau pergi, wanita-wanita lain juga akan mengikuti jejakmu. Jadi ia menyuruh David untuk menahanmu di sini, apa pun caranya." Kris tertawa.


"Ku dengar David sengaja menyabotase mobilmu."


Mulut Kendall langsung kering. Jadi sebetulnya ia bisa meninggalkan tempat ini sejak dulu?


Pria tua itu tertawa lagi, jelas-jelas geli. "Mereka sangat menginginkan mu. Harry bahkan sampai mengiming-imingi David dengan tanah keluarga kalau ia bisa membuatmu tinggal."


Tanah itu... tempat yang David cintai di pegunungan ini. Jelas ia rela melakukan apa pun untuk memilikinya, bahkan merayu dokter agar tinggal. Kendall merasa mual.


"Jadi apa yang dilakukan berandal itu untuk membuatmu tinggal? Ia memberimu banyak uang?"


Kendall menelan saliva, lalu akhirnya bisa bicara. "Tidak... tidak seperti itu."


Dokter Kadra menyipitkan mata ke arahnya. "Kau baik-baik saja, Dokter Jenner?"


"Ya," gumam Kendall. "Aku hanya perlu udara segar."


"Aku akan mengurus tempat ini kalau anda mempercayaiku," usul pemuda itu riang.


"Sebenarnya," cetus Kendall, sambil melepas jas putihnya, "tempat ini sekarang milikmu sepenuhnya."


Dokter Kadra mengerjap-ngerjap. "Maaf?"


Kendall memberikan jas itu kepadanya. "Semoga sukses." Pelupuknya panas oleh air mata. Ia keluar dari tempat itu dengan menutup mata, memutar kembali kebersamaan terakhirnya dengan David. Aku membutuhkanmu... mau menyelinap keluar?.. tolong katakan kau akan tinggal... aku akan menyiapkan kontrak agar bisa kau tanda tangani saat kembali ke sini... aku tidak mau kau berubah pikiran. Tak disebut-sebut soal cinta atau komitmen. Ia memang bodoh.


Lagi.


Ia mendorong pintu klinik hingga membuka dan berjalan keluar, menelan saliva, berharap semilir angin beraroma bunga bisa membersihkan pikirannya. Tetapi udara terasa menyesakkan dan membuatnya mual. Kendall bernapas pendek-pendek dan terus bergerak, berjalan cepat kembali ke asrama dengan pikiran kalut. Bisa-bisanya ia begitu bodoh sampai mengira David Booker, pria yang bisa mendapatkan wanita mana pun yang di inginkan, jatuh cinta kepadanya?


Kulitnya terasa terbakar oleh perasaan terhina. Pria itu mungkin menertawakan betapa cepatnya ia menyerahkan diri. Ia memang mangsa empuk, wanita sederhana tanpa pengalaman yang habis dicampakkan oleh tunangan.


Kendall memejamkan mata sejenak. Daniel. Bagaimana ia bisa menghadapi pria itu? Lalu ia menelan saliva dengan susah payah. Ia akan menghadapi pria itu nanti. Saat ini, setidaknya Daniel bisa membawanya pergi dari sini.


Dan sekarang, Kendall juga sudah tidak sabar ingin pergi dari Happiness.


...----------------...


David meregangkan tubuh sejauh-jauhnya di ranjang Kendall, merasa sangat puas. Jadi beginilah rasanya jatuh cinta... menggelenyar dari kepala sampai kaki dan sudah tak sabar ingin melihatnya lagi, terperangkap di antara keinginan untuk memamerkan wanita itu ke seluruh dunia dan memilikinya untuk diri sendiri. Otaknya terus berputar. Ia tidak bisa tinggal bersama Kendall di asrama ini dan Kendall pun tidak bisa tinggal bersamanya. Ia harus menyisihkan waktu untuk mulai membangun rumah di tanah keluarga.


Beberapa minggu lalu, tidak mungkin ia membayangkan akan memikirkan hal-hal seperti itu, tapi sekarang ia ingin.... bagaimana bisa begitu ya? David menertawai diri sendiri. Kakaknya pasti akan mengejeknya habis-habisan.


Tiba-tiba ia merasa kasihan pada Harry. Jadi beginilah perasaan sang kakak terhadap Cara. Tak heran ia jadi sangat menjengkelkan setelah wanita itu pergi. Mengapa seseorang bisa menghadapi perubahan yang begitu drastis, dari puncak lalu turun ke lembah, karena kehilangan orang yang disayangi, ya? David tidak mau tahu.


Tiba-tiba pintu terbuka lebar. David menoleh dan melihat Kendall berdiri di sana. Ia tersenyum... sampai menyadari bahwa wanita itu tidak kelihatan senang.


"Kau harus pergi, David."


Dengan terkejut, David bangkit dan bertumpu ke siku. "Apakah aku berbuat salah?"


Kendall berjalan menuju lemari, mengeluarkan koper dan membawanya ke ranjang. "Tidak. Tampaknya kau melakukan semuanya dengan benar."


David bergeser untuk menghindari koper. "Aku tidak mengerti."


Kendall tidak mau memandangnya. Wanita itu mulai merenggut barang-barang dari lemari dan melemparkannya ke dalam koper. "Aku tahu segalanya. Aku tahu kau menyabotase mobilku agar aku tidak bisa pergi. Dan aku tahu Harry menjanjikan tanah keluarga padamu kalau kau bisa membuatku tinggal. Selamat, kau hampir berhasil."


Kepanikan menyergap David. "Tunggu dulu..."


"Kau mau menyangkal?" tanya Kendall, suaranya sinis.


"Kau mau menyangkal sudah mengutak-atik mobilku?"


David bergerak-gerak gelisah. "Tidak."


"Dan kau menyangkal bahwa Harry menjanjikan tanah keluarga kalau kau berhasil meyakinkan aku untuk tinggal?"


David mulai melihat betapa parahnya situasi itu dari sudut pandang Kendall. "Bukan itu alasannya... maksudku, keinginanku agar kau tinggal tidak ada kaitannya dengan... hal-hal lain."


Kendall tertawa getir. "Yang benar saja."


"Bisakah kita bicara?"


"Tidak." Kendall menarik baju yang tersisa dari lemari ke dalam pelukan, lalu menjejalkan semuanya ke dalam koper.


David bangkit dan meraih satu-satunya kruk yang ada, berusaha untuk berdiri. Sial, di mana pakaiannya? Ia menarik seprai dan melilitkannya di pinggang sambil terpincang-pincang maju dengan satu kruk. "Kendall, tolong dengar dulu. Semua ini tidak seperti yang kau kira."


Kendall berhenti. "Masa? Kalau begitu, bagaimana?"


David merasa lumpuh. Ia tidak pernah berkata "aku mencintaimu" pada wanita. Ia tidak pernah jatuh cinta, tidak mengerti bagaimana semua itu seharusnya berjalan. Tiba-tiba, ia merasa semua harapan Kendall membebani bahunya. Keputusan Kendall untuk tinggal atau meninggalkan Happiness akan bergantung pada perasaannya terhadap wanita itu. Dan saat ini, David tidak yakin bisa menerima tanggung jawab itu.


Setelah keheningan panjang dan menyakitkan, Kendall mengangguk. "Sudah ku duga."


"Maafkan aku, Kendall."


"Ini salahku," tukas Kendall sambil menutup risleting koper dengan kasar. "Temanku sudah memperingatkan bahwa ini akan terjadi."


David ingin membuat Kendall terus bicara sementara ia mencari pakaian. "Teman apa?"


"Teman ku Cara Delevigne, di Denville dulu. Ia berasal dari kota kecil. Ia memperingatkan bagaimana sifat pria dan aku tidak mendengarkan."


David tertegun, pikirannya langsung berubah arah. Cara Delevigne? Apakah itu orang yang sama dengan yang ia pikirkan? Saat Kendall mengangkat koper dan berjalan ke luar, perhatian David di tarik lagi ke saat ini. Diikutinya Kendall, tak bisa menyejajarkan langkah dengan hanya satu kruk dan masih harus mencengkeram seprai di seputar pinggang. Kerumunan kecil sudah terbentuk di koridor dan menonton. David tidak peduli.


"Kendall, tolong dengar dulu," panggilnya. "Kau tidak bisa pergi."


"Lihat saja," tukas Kendall ke balik bahu.


...****************...