New Happiness, Begins

New Happiness, Begins
Part 7



David Booker yang tengah menyanyikan lagu favoritnya dengan suara yang keras dan sumbang, kini sudah dibaringkan di meja panjang ruangan itu.


Terlihat Kendall yang sedang memberikan petunjuk kepada para pekerja untuk meletakkan alat dan persediaan yang tadi mereka bawa.


"Dokter Jenner, kami akan segera membangun klinik yang layak," kata Harry, "Dan saat keadaan sudah tenang, kami ingin berdiskusi dengan Anda soal kontrak kerja."


Kendall hanya tersenyum, enggan memberi jawaban apapun mengingat hatinya yang masih bimbang saat ini.


"Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu Anda sekarang?" tambah Harry


"Suruh orang-orang keluar dari ruangan ini." jawab Kendall


"Aku bisa membantumu, Dokter Jenner," tawar


Hailey


"Semua orang," ulang Kendall datar. "Aku harus merontgen tungkai pasien untuk mengetahui apa yang sedang kuhadapi."


Harry mulai menggiring semua orang untuk keluar ruangan, termasuk Hailey yang enggan.


Lalu terdengar David berteriak, "Hei! Mau ke mana kalian? Akhirnya ada wanita di kota ini... ayo kita berpesta!"


"Kami akan kembali untuk memeriksa apakah Anda perlu bantuan." ucap Harry


Setelah pintu ganda menutup, Kendall menoleh kembali ke arah pasien. Kendall menarik napas untuk mengumpulkan kekuatan, lalu mendekat dan melepaskan bot serta kaos kaki pasien.


"Mr. Booker," kata Kendall, "Tolong jangan bergerak selama aku merontgen pergelangan kakimu."


"Yang Mr. Booker itu kakakku Harry. Panggil aku David." Bibirnya cemberut dan memandang sekeliling dengan panik. "Kenapa semua orang pergi?"


"Aku perlu privasi," gumam Kendall, lalu menekan tombol untuk menyalakan mesin rontgen kecilnya.


David menggerak-gerakkan alisnya yang hitam. "Kau ingin berduaan saja denganku, Bu Dokter Kecil?"


Kendall memutar bola mata. "Hanya karena alasan profesional, Mr. Booker. Sekarang aku akan melepas celana panjangmu."


"David," David mengoreksi, lalu tersenyum lebar dan menyilangkan tangan di belakang kepala, "Dan kalau aku mendapat uang setiap kali ada wanita yang melepas celanaku....."


"Tak perlu repot-repot berkhayal," potong Kendal sambil mengangkat gunting. "Aku bisa memotong jins supaya bisa merontgen seluruh tungkai. Sebaiknya kau jangan banyak bergerak supaya aku tidak memotong bagian yang tidak perlu."


Perkataannya ampuh. Setidaknya sekarang David berbaring tak bergerak, saat ia membuka kain celana David sehingga memperlihatkan seluruh tungkai.


Tungkai bagus. Diikat otot tebal dan diselimuti bulu berwarna gelap. Parut kecil dan kasar bertebaran mulai dari bawah lutut dan meluas dengan bentuk memanjang ke paha, dan berakhir tepat di bawah tepi celana boxer hitam.


Kendall tersentak. Bekas luka granat, batinnya. Ia pernah magang di rumah sakit militer, sehingga sudah sering melihat luka akibat perang. Pria ini ternyata terbiasa merasa sakit. Rasa kagumnya pada David Booker naik satu tingkat.


"Uh, Bu Dokter Kecil?" David menggeliat


"Dokter Jenner," koreksi Kendall


"Ini agak memalukan." Mata coklat hazel David terlihat malu saat ia menurunkan tangan untuk menutupi gundukan yang bertambah besar di balik boxer hitamnya.


"Tidak apa-apa, Mr. Booker." Jawab Kendall


"Jangan tersinggung ya, sudah lama aku tidak sedekat ini dengan wanita." Jelas David


Kendall merapatkan bibir. "Aku tidak tersinggung, Mr. Booker." Meskipun ereksi David tidak ditujukan padanya, Kendall sempat mengamati ukurannya yang mengesankan karena keingintahuan medis.


Yah, bisa dibilang ukurannya di atas rata-rata.


"Aku berusaha memikirkan hal lain," ucap David, "tapi rasanya keras...." Ia berhenti. "Maksudku, sulit memikirkan hal lain bila ada wanita-wanita cantik di luar sana."


"Teruslah berusaha," kata Kendall geli, kemudian ia mengenakan baju pelindung khusus untuk mengoperasikan mesin rontgen lewat kepala.


David memicingkan mata melihat baju besar itu. "Belum pernah ada wanita yang malah menambah pakaian saat berduaan denganku."


"David," gumam David, lalu ia diam


Kendall harus menahan senyum sambil memegang mesin di dekat kulit David, lalu menggesernya pelan-pelan di sepanjang tungkai dan kaki pria itu.


Ia menekan tombol untuk mematikan mesin, lalu menunggu sampai fotonya muncul di layar hitam putih berukuran delapan kali sepuluh inci.


"Pergelangan kakiku patah, Dok?" tanya David


Kendall tidak langsung menjawab, ia fokus mengamati hasil rontgen. "Pergelangan kaki hanya tempat pertemuan antara tulang tungkai dan tulang kaki." Ia memutar layar dan menunjuk ke gambar tulang. "Sepertinya tibia, tulang kering yang terhubung dengan kakimu, utuh. Tapi tulang yang lebih kecil, fibula, patah dan kurasa ligamenmu juga robek."


"Bisakah kau mengobatiku?"


"Aku bisa membetulkan letak tulang dan memasang gips ke pergelangan kaki untuk menopangnya selama penyembuhan. Patahan tulangnya rapi, jadi mestinya tak terlalu buruk. Tapi ligamen, kurang bisa diprediksi dan pergelangan kakimu mungkin saja keseleo. Kau harus menemui ahli ortopedi beberapa minggu lagi untuk memastikan segalanya sembuh dengan baik."


"Berapa lama aku harus digips?" Tanya David


"Paling sedikit enam minggu." Jawab Kendall


David mengerutkan kening. "Selama itu?"


"Akan lebih lama lagi jika kau mengalami komplikasi."


David terlihat putus asa. "Apa kau yakin?"


Kendall meletakkan mesin rontgen agar David bisa melihat layar. "Aku hanya mengatakan apa yang kulihat." Jawab Kendall sambil menaikkan alis, "kau boleh minta pendapat dokter lain."


Wajah David tampak malu. "Baiklah, lakukan apa pun yang kau anggap perlu, Bu Dokter Kecil."


Kendall mengeluarkan jarum suntik dan mengisinya dengan cairan dari botol kecil.


"Kecuali menyuntikku lagi," protes David sambil bangkit bertumpu pada siku. "Rasanya aku sudah cukup.... teler."


Kendall menjentikkan jarum suntik. "Percayalah Mr. Booker, kau tidak ingin berada dalam keadaan sadar ketika letak tulangmu diperbaiki."


"David. Dan aku bisa menahan sakit."


"Ya. Aku yakin begitu, tapi disini kau tidak perlu jadi pahlawan. Lagi pula, tugasku akan lebih mudah kalau kau dibius." Sahut Kendall


"Baiklah." Pasrah David


"Sementara kau tak sadarkan diri, aku akan membersihkan luka." Kendall mencondongkan tubuh ke atas lengan David dan mengolesinya dengan alkohol.


"Baumu harum," gumam David dengan parau


"Aromaku seperti jalanan yang tadi kulewati." Balas Kendall dengan memaksakan tertawa kecil


"Menurutku kau wangi."


David juga wangi menurut Kendall. Campuran keringat, cahaya matahari, dan aroma kayu yang bukan berasal dari botol. Aroma laki-laki.


Kendall menahan napas, lalu menusuk lengan David dengan jarum suntik dan memasukkan obat penghilang rasa sakit, demi kebaikan mereka berdua. Pria itu langsung terlihat rileks. Kendall membungkuk untuk membuka mata David dan memeriksa pupilnya.


"Tentu menyenangkan bila ada wanita," gumam David, "sudah lama.... sekali."


"Terserahlah, Mr. Booker.," Kendall membalas, lalu membungkuk untuk memeriksa mata yang satu lagi, puas karna obatnya sudah bekerja.


"David." Bisik pria itu


Tiba-tiba tangannya terulur untuk menangkap leher Kendall, dan sebelum wanita itu sadar apa yang terjadi, David sudah menempelkan bibir sang dokter ke bibirnya sendiri, untuk memberikan tautan yang lama dan basah.


...****************...