
Kendall menekan nomor Cara Delevingne dan tersenyum saat Cara menjawab. "Sapa rindu dari sini," ucap Kendall.
"Kendall! Kau masih di Happiness? Ku pikir kau sudah kembali ke Denville."
"Ada situasi yang... mengharuskan."
"Ada kaitannya dengan pria di sana?"
Kendall menegakkan tubuh. "Tidak. Mobilku masih belum di perbaiki... dan aku sedang merawat rusa yang terluka."
"Kau sekarang dokter hewan?"
"Tidak. Tapi tak ada lagi yang bisa merawat. Lalu Oscar juga kurang sehat."
"Oscar?"
Kendall merasa tidak enak. "Anjing Hailey Baldwin keracunan makanan."
"Apakah kau tidak punya pasien manusia?"
"Saat ini hanya David Booker," gumam Kendall.
"Ah... ia memanfaatkan kakinya yang patah?"
"Ia juga keracunan makanan."
"Bagaimana sampai pria ini dan anjing Hailey sama-sama keracunan makanan?"
"Gara-gara Hailey,"
Cara tertawa. "Kurasa itu salah satu cara untuk membuat orang gusar. Tapi tak ada lagi kan yang sakit di situ?"
"Banyak wanita terserang alergi... tapi pekerja pria sepertinya tidak suka dokter wanita. Ada pria tua dengan obat sederhana yang bisa mereka datangi."
"Harga diri pria," ucap Cara masam. "Pria Utara rela mati demi wanita, tapi sikap kesatria memiliki dua sisi. Tak peduli semodern apa mereka mengaku, mereka tetap kolot. Mereka tidak mau wanita melihat saat mereka lemah."
"Makin banyaklah alasanku untuk pergi," kata Kendall.
"Mantan atasanku sedang mencarikan pengganti untukku, tapi aku tak ada rencana ke Denville."
"Kau mau ke mana?" tanya Cara.
"Kurasa mungkin Atlanta, meskipun aku belum pernah ke sana. Kau punya saran?"
"Kota itu besar dan panas. Pasar kerjanya lebih baik dari tempatmu sekarang. Dan kurasa kau akan mendapati budayanya agak lebih beragam di sana."
Kendall tertawa. "Mungkin aku akan ke sana mumpung sudah dekat."
"Maaf. Memangnya kau kenapa?"
Cara mendesah. "Masih menunggu apakah aku akan ditugasi perkerjaan di negara bagian. Doakan saja."
"Pasti," kata Kendall, lalu mengucapkan salam perpisahan kepada temannya. Saat memustuskan sambungan telepon, ia merasakan sengatan penyesalan. Jika tidak kembali ke Denville, ia akan merindukan Cara. Tapi setelah mendengar pesan suara mantan tunangannya, ia tidak yakin bisa kembali. Ia masih belum bisa melupakan dan kemungkinan mantan tunangannya masih memiliki kekuatan untuk menyakitinya.
Kendall menelepon Dokter Amanda dan setelah menunggu sebentar, mendengar suara ramah wanita itu di seberang sana. "Kendall, apa kabar?"
"Aku baik-baik saja," dusta Kendall, meski mengatakan itu saja sudah membuatnya merasa lebih riang.
"Aku senang kau menelepon, aku sudah berencana meneleponmu. Sepertinya aku sudah menemukan dokter yang mau datang ke Happiness untuk bekerja di klinik."
Kenapa kabar itu tidak membuatnya sesenang yang seharusnya? "Bagus sekali," sahut Kendall. "Siapa?"
"Dokter Fai Kadra. Ia sangat ingin bekerja di klinik perdesaan agar bisa membuat perbedaan. Tapi ia ingin berkunjung dulu untuk melihat apakah ia suka kotanya."
Kendal mencatat informasi kontak dokter itu dan berjanji akan memberikannya pada Booker bersaudara. "Dan sebentar lagi kota ini akan memiliki koneksi internet nirkabel, jadi komunikasi akan lebih mudah." Dokter Amanda bilang ia masih mencari orang untuk posisi-posisi lain dan akan menghubungi. Ia mengakhiri percakapan dengan menanyakan apakah Kendall akan kembali bekerja di tempat praktiknya.
"Aku belum memutuskan," Kendall mengakui. "Tapi terima kasih atas tawaranmu. Aku akan memberikan jawabannya segera."
Kendall memutus sambungan telepon dan mengambil waktu untuk menatap pemandangan di depannya. Tempat itu begitu tepat untuk merenung. Puncak-puncak gunung yang gagah, pepohonan yang tumbuh menjulang tertata alami, dan ditambah udara yang sangat menyegarkan... begitu menakjubkan. Alam tidak tertarik pada masalah manusia, hanya terus maju. Pelajaran bagi para penghuninya, renung Kendall. Setelah bersantai beberapa saat lagi, ia melirik arloji dan memutuskan untuk pulang. Untuk saat ini, setidaknya ia punya pasien untuk diawasi, meskipun sebagian besar makhluk berkaki empat.
Kendall menuruni tangga dengan hati-hati dan menginjak jok ATV, lalu menurunkan tubuh ke tanah, anehnya merasa hebat karena sudah mengemudikan kendaraan itu ke puncak gunung dan memanjat menara... hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan bisa dilakukannya beberapa minggu sebelumnya. Kini ia bisa melihat bagaimana lingkungan perdesaan menghasilkan individu yang banyak akal, bagaimana lingkungan itu sudah menanamkan tekad dalam diri Booker bersaudara untuk menghadapi alam dan membangun kembali sebuah kota dari nol.
Tapi ia bisa mengagumi tujuan mereka tanpa tersedot Ke dalamnya.
Kendall memasang helm dan menstarter mesin. Saat ia menginjak pedal gas, roda kendaraan itu berputar, menerbangkan tanah dan dedaunan. Ia mengurangi tekanan pada pedal dan melirik roda belakang. Sebuah benda berkilauan tampak menonjol di tengah puing. Karena teringat pada arloji yang ia temukan, Kendall mengerem dan turun dari kendaraan untuk memeriksa.
Ternyata cincin.
Perhiasan emas itu tampak rapuh di telapak tangannya, padahal sebenarnya cukup berat dan mungkin sangat bernilai. Apakah itu artefak lain yang terbawa ke sini oleh badai sepuluh tahun silam? Kendall merasa sedih sekaligus heran... sedih bagi orang yang kehilangan cincin itu dan heran karena ia sudah menemukannya secara tak sengaja. Apakah pemiliknya masih mencarinya? Tak ada tulisan yang terukir di emasnya, tapi rahasia cincin itu mungkin akan lebih terkuak setelah dibersihkan. Kendall memasukkan benda itu ke saku, lalu menaiki ATV dan menuruni lereng, tak sabar menemui David untuk memperlihatkan temuannya.
Dan bukan untuk alasan lain.
Sebelumnya, perjalanan menuruni gunung biasanya lebih cepat daripada perjalanan naik, tapi Kendall berkendara lambat-lambat dan rasanya lama sekali baru ia melihat atap asrama di antara pepohonan. Setelah menghentikan ATV di tempat David biasa parkir, ia melempar helm dan bergegas masuk bangunan.
Perhentian pertamanya adalah ruang praktik untuk memastikan, seperti dugaannya, bahwa tak ada orang yang menunggu untuk di periksa. Ia masuk untuk mengecek kedua hewan yang sudah dipindahkan ke kamar mandi. Si rusa berbaring di lantai bilik kaca pancuran, masih tidur akibat suntikan obat bius untuk mencegahnya berdiri di kaki yang di pasangkan gips paling tidak satu hari lagi. Kendall memperhatikan saat telinganya berkedut-kedut dan dadanya naik turun teratur. Hewan itu memang belum keluar dari bahaya, tetapi sejauh ini perkembangannya baik.
Di luar bilik pancuran, Oscar tertidur di tempat tidur anjing yang sudah Hailey siapkan. Hewan itu berbaring miring dan sesekali menggerak-gerakkan tungkainya yang menggemaskan. Hewan itu cukup sehat untuk kembali ke kamar Hailey, tapi tampaknya enggan meninggalkan si rusa, mendengking dan kembali mengendus si rusa saat Hailey berusaha membujuknya untuk menjauh. Sekarang, ia setuju untuk membiarkan Oscar tetap di dekat sana.
Kendall meninggalkan ruang praktik dan masuk ke kamar tidur sebelah, tempat David memulihkan diri. Ia ragu, bertanya-tanya apakah Hailey ada di dalam bersama pria itu. Mungkin. Ia mengangkat sebelah tangan dan mengetuk. "David? Ini Kendall. Boleh aku masuk?"
...****************...