
Harry mengatupkan bibir. "Aku tidak ingat kau pernah memperkenalkan wanita pada Mom."
"Kurasa Mom pasti ingin bertemu karena Kendall sudah menemukan cincinnya, itu saja."
"Begitu ya. Kalau tidak mengenalmu lebih dalam, aku pasti berpikir kau sudah jatuh cinta pada wanita ini."
David menyangkal, tetapi memutuskan bahwa yang terbaik bersikap tak acuh. "Tapi kau kenal aku, kan?"
"Kau yakin kepalamu tidak terbentur saat terjatuh dari menara? Kau jadi lemah... pertama-tama pada dokter itu dan sekarang kau merawat rusa."
"Kondisi anak rusa itu membaik," tukas David, mengabaikan omongan soal Kendall. "Ia sudah bisa berdiri dan berjalan-jalan dengan gips. Aku sudah menyuruh beberapa orang membuatkan kandang untuknya."
Harry tampak geram. "Bagus... karena mereka tidak punya pekerjaan lain!" Ia bangkit dan menunjuk marah. "Kau tidak akan bekerja selama musim panas dengan kondisi kakimu yang seperti itu, jadi tinggal aku sendirian yang menangani pekerja dan wanita-wanita itu!"
"Tunggu sebentar. Aku sudah mengawasi klinik meskipun satu kakiku cedera dan memantau instalasi ruang media."
"Mengerjakan hal-hal yang tidak mendatangkan pemasukan!" sembur Harry. "Produksi tatal kita tidak terlambat karena para pekerja sering diganggu oleh hal-hal konyol, seperti berpura-pura sakit untuk menemui dokter, atau mengerjakan klinik yang personelnya saja tidak kita punya atau membuat kandang untuk anak rusa!"
David teringat percakapan mereka sebelumnya saat Harry mengungkapkan kekhawatirannya tentang tenggat pencapaian tujuan mereka. Kalender tiga tahun yang menutupi dinding kantor dengan lingkaran besar di tanggal tenggat berfungsi sebagai pengingat setia dan Harry merasa tertekan.
David mengangkat tangan, meminta Harry berhenti. "Aku tahu semua tampak kacau saat ini, tapi pasti akan beres. Para pekerja dan wanita-wanita itu sudah mulai memiliki hubungan yang lebih baik..."
Harry mendengus.
"...daripada sebelumnya," lanjut David. "Dan makanan di kantin juga sudah mendingan..."
Harry mendengus lagi.
"...sebagian," lanjut David. "Dan alat komunikas sedang diusahakan." Ia meringis, menunggu reaksi Harry.
Harry merapatkan bibir. "Kurasa itu tidak terlalu buruk."
"Tanaman di kebun mulai tumbuh," tambah David. "Dan klinik siap dibuka dalam waktu dekat. Kemajuan kita pesat, Harry. Lihat saja nanti, kita pasti bisa memenuhi tenggat waktunya."
Harry mengusap wajah dengan tangan, lalu menyeringai. "Kembalilah dari Atlanta dengan surat keterangan dari dokter spesialis yang menyatakan secepat apa kau bisa kembali bekerja."
David meringis. "Aku lebih mengkhawatirkan komentar Mom saat melihat gips ini."
Harry mengitari meja dan menepuk punggung David. "Dugaanku, Mom akan terlalu sibuk menilai Dokter Jenner sehingga tidak memperhatikan gipsmu. Apakah Kendall sudah siap?"
"Siap apa?"
"Menghadapi metode interogasi nyonya tua kecil dan manis ala Luisa Booker. CIA seharusnya meminta tips darinya."
"Kami tidak akan lama di sana," David meyakinkan Harry. "Ada banyak hal yang harus kami kerjakan di Atlanta."
"Benar," sahut Harry masam. "Hati-hati sajalah."
David mengibaskan tangan. "Aku paham kota Atlanta."
"Maksudku dengan dokter kita." Harry menatap sang adik tajam. "Dokter Jenner bukan salah satu gadis bar konyol buruanmu. Saat berusaha meyakinkannya untuk tinggal, kau jangan berbuat sesuatu yang akan memperburuk keadaan."
David mengusap-usap tulang dada bagian belakangnya yang tiba-tiba terasa nyeri. "Tidak akan."
----------------
"Apakah kau akan meninggalkan Happiness?" tanya Hailey.
Kendall terkejut dan mendongak dari tempatnya memeriksa Oscar yang gendut dan riang. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
Hailey mengangkat bahu. "Kau sangat menjaga jarak dari wanita-wanita lain. Seolah kau tidak mau tinggal di sini."
Kendall memandang pasien berbulunya lagi. "Jujur saja, memang sudah ku pikirkan. Komitmenku terhadap tujuan ini tidak sebesar kau dan wanita-wanita lain."
"Mereka akan merasa kehilangan."
"Jangan khawatir... mantan bosku sepertinya sudah menemukan dokter pengganti."
"Maksudku, mereka akan kehilangan kau, Kendall."
"Mereka semua kagum dengan mu dan ingin berteman denganmu. Tapi kurasa itu tidak akan terjadi."
Kendall melanjutkan pemeriksaan, jantungnya berdebar kencang. Kata-kata Hailey membuatnya ingin membela diri, seolah ia sudah mengecewakan semua orang. Dan karena itulah ia tidak berusaha mengenal wanita-wanita itu sejak awal.
"Kalau tak keberatan, tolong jangan bilang dulu pada siapa-siapa soal rencana kepergianku," gumamnya, sambil menempelkan stetoskop ke dada Oscar.
"Oke. Kau akan kembali ke Denville?"
"Aku belum memutuskan."
"Bagaimana dengan David?"
Kendall membeku. "Ada apa dengannya?"
"Ku dengar kalian berdua akan pergi ke Atlanta besok."
Apakah ada nada cemburu dalam suara Hailey? Kendall melepas stetoskop dari telinga dan mendongak, ia belum pernah dicemburui wanita lain. Meskipun mungkin lebih karena ia akan pergi ke kota, bukannya karena ia akan menghabiskan waktu bersama David.
"Benar," sahut Kendall, menjaga agar nada suaranya tetap tenang. "Ia ada janji dengan dokter spesialis untuk memeriksa tungkai dan aku akan memilih perlengkapan untuk klinik."
"Kalau kau suka David, tidak apa-apa."
Kendall bingung memilih kata. "Aku... aku tidak suka David..."
"Ia juga suka padamu."
Kendall tertawa kecil. "Tidak... kau salah."
Hailey memutar bola mata. "Girl, waktu kami piknik tempo hari, aku memberinya tanda yang bahkan bisa dipahami oleh orang buta. Tapi pikirannya melayang jauh... kurasa memikirkanmu di sini."
"Kemungkinan besar memikirkan rusa itu," tukas Kendall masam. Ia mengelus kepala Oscar sebelum menyerahkannya pada Hailey. "Ia kelihatan sehat, tapi tetap perlu diawasi. Kalau ia makan rumput lagi, mungkin artinya perutnya masih tidak enak."
"Terima kasih." Hailey bergeser untuk menggendong Oscar. "Sekedar nasihat, jangan biarkan mantan tunangan yang breng-sek itu membuatmu takut jatuh cinta lagi."
Kendall merasa ditelan-jangi dan memeluk tubuh. "Bicara memang lebih mudah."
"Aku tahu rasanya," kata Hailey dengan nada bersimpati.
"Kau?" tanya Kendall, mengamati wajah dan tubuh wanita cantik itu. "Aku tidak bisa membayangkan kau... maksudku... kau..." Kendall mencari-cari kata sementara Hailey tersenyum.
"Aku pernah dicampakkan dan dikhianati lebih sering daripada yang bisa kau bayangkan," lanjut wanita itu. "Aku pernah bertunangan lima kali dan belum pernah sama sekali sampai ke pelaminan. Tak ada orang yang kebal dari patah hati."
Kendall merasa bodoh karena menganggap wanita cantik memiliki masalah yang lebih sedikit daripada wanita kebanyakan. "Kurasa kau benar." Ia menyelipkan sejumput rambut ke balik telinga. "Hanya saja sebagian dari kita tak memiliki banyak kesempatan untuk menarik lawan jenis."
Hailey menelengkan kepala. "Kendall, bentuk tubuhmu bagus, hanya harus kau tonjolkan saja."
Pipi kendall memerah. "Aku tidak pandai berdandan dan menata rambut."
Hailey mengulurkan tangan dan menyentuh dagu Kendall. "Sedikit highlight dan mungkin poni akan menonjolkan matamu..."
Kendall menyentuh rambut dengan malu. "Entahlah."
"Waktu yang tepat untuk mengubah penampilan adalah setelah putus cinta," tegas Hailey, lalu memberi isyarat ke arah celana Kendall. "Kau punya sesuatu yang lebih keren untuk dipakai dalam perjalananmu besok?"
Kendall mengusap kain tebal yang telah menjadi pakaian kerjanya. "Tidak juga."
"Aku yakin diantara kami pasti ada yang punya sesuatu. Kau harus kelihatan sangat memikat saat pergi ke Atlanta... untuk membeli perlengkapan."
Mata Hailey berkilat-kilat dan mau tak mau Kendall tertawa. Ia disapu perasaan berterima kasih kepada wanita yang tadinya membuatnya iri itu.
"Jadi bagaimana, kau mau mengubah penampilan?"
Kebiasaan lama menyergap Kendall. Ia tidak mau merepotkan orang dan takut kelihatan konyol. Lagi pula, ia tak yakin bisa mempertahankan penampilan baru itu. Rambut dan dandanan minimnya memang tidak pernah berubah sejak remaja.
Sejak remaja. Kendall membiarkan kesadaran itu mengendap. Astaga, ia sudah terlalu lama terjebak dalam kebiasaan itu. Ia mendesah dan mengangkat tangan dengan gaya menyerah. "Oke... tak ada ruginya."
...****************...