
"Kehidupan kota kecil sepertinya sudah ditinggalkan selama sepuluh tahun terakhir. Tapi kurasa, jauh di dalam hati, orang-orang ingin kembali ke kehidupan sederhana."
"Kehidupan kota juga memiliki keunggulan," balas Kendall.
"Aku suka pergi ke kota dan sesekali menikmati kebudayaan," David mengakui, "tapi kurasa tak ada yang bisa menggantikan saat-saat tumbuh dalam lingkungan dengan kekeluargaan erat yang membuatmu merasa aman. Rasa aman seperti itu menumbuhkan rasa percaya diri pada anak agar bisa menghadapi dunia dan melakukan apa yang ingin dilakukan."
"Iklan di koran itu tidak menyinggung soal anak. Kapan kalian mulai berencana mulai membangun sekolah?"
"Sebelum musim gugur. Rasanya Harry pernah berkata bahwa beberapa wanita itu berprofesi sebagai guru, ya?"
Kendall mengangguk. "Sebagian dari mereka menitipkan anak pada kerabat selama musim panas, tapi berharap bisa membawa mereka ke sini beberapa bulan lagi."
"Kami akan mengakomodasi," kata David, meskipun kepalanya berputar memikirkan kerumitan logistik yang akan diciptakan oleh kehadiran anak-anak dalam komunitas mereka. Meski demikian, hal itu tak terhindarkan. "Apa kau ingin punya anak suatu hari?"
"Tidak," sahut Kendall tegas sampai hati David miris.
"Boleh aku tahu alasannya?"
Kendall mengangkat bahu. "Kurasa aku tidak begitu ahli menangani keluarga."
David mengernyit. "Kenapa tidak?"
"Aku tak terlalu pandai... bergaul dengan orang," kata Kendall dengan pandangan tetap lurus ke depan.
"Tidak masuk akal. Kau dokter, demi Tuhan."
Tenggorokan Kendall tercekat. "Hanya karena aku pandai mengobati, bukan berarti aku pandai bergaul."
David membuka mulut hendak membantah, tetapi ponsel Kendall tiba-tiba berdering dan layarnya menyala. David melirik ke bawah dan mau tak mau melihat nama "Daniel" di layar.
Kendall juga melihat dan mengatupkan bibir, tapi tidak meraih telepon. Deringnya berlanjut dan suaranya menggema di dalam mobil.
"Kau tidak mau mengangkatnya?" tanya David santai.
"Tidak," jawab Kendall cepat, lalu menambahkan, "tidak saat aku sedang menyetir."
Dering telepon itu akhirnya berhenti, tapi lalu berbunyi tiga kali beberapa detik kemudian, yang menandakan si penelepon meninggalkan pesan. Kegelisahan Kendall sepertinya menegaskan bahwa panggilan telepon itu dari si mantan tunangan. Suasana hati David jadi muram, membuatnya mulai mengoceh lagi soal keunggulan Happiness, termasuk kedekatannya dengan Atlanta dan bandara Internasional.
"Tentu saja kami berniat membangun lapangan terbang sendiri untuk mendampingi helipad di dekat klinik. Kalau Happiness berkembang cukup pesat, tak ada salahnya kami membangun rumah sakit sendiri."
Yang membuat David jengkel, Kendall tidak merespons. Bahkan wanita itu sepertinya sedang melamun. Memikirkan Denville?
"Bagus," gumam Kendall.
David mengatupkan bibir, lalu memajukan tubuh untuk mengeraskan radio. Kendall masih tidak memperhatikan. Wanita itu jelas tenggelam dalam lamunan, merindukan si Daniel. Sensasi yang tidak familier membakar dada David. Cemburu? Seumur hidup ia tidak pernah cemburu.
David merosot di kursi dan memandang ke luar jendela. Perjalanan ini pasti akan terasa panjang.
----------------
Dada Kendall berdebar-debar saat mereka menapaki teras bungalo kecil cantik bercat kuning. Ia tidak memiliki alasan untuk gugup karena akan bertemu dengan ibu David, jadi ia menduga reaksinya itu berkaitan dengan kegembiraan karena akan mengembalikan cincin kawin yang ditemukan.
"Aku harus memperingatkanmu," kata David sambil mengangkat satu tangan untuk mengetuk pintu. "Ia mungkin akan menangis... tersedu-sedu."
Sebelum Kendall sempat menjawab, pintu terbuka lebar dan muncullah seraut wajah manis dan gemuk yang berhias senyum. "David, kau datang!" Tetapi saat ia melihat gips di tungkai si anak bungsu, senyumnya berubah jadi kekhawatiran. "Kau kenapa?"
"Hanya benjol kecil, Mom," kata David sambil membungkuk badan untuk memeluk sang ibu.
"Bagaimana ceritanya?" desak wanita itu sambil mendekap pinggang David lama dan erat. "Dan kenapa baru sekarang aku tahu?"
"Karena ini hanya hal sepele yang tidak perlu Mom khawatirkan."
Saat David menarik tubuh, sang ibu menatap seolah tidak puas memandang si anak, baru akhirnya menoleh ke arah Kendall. "Mana sopan santunmu, David? Siapa temanmu yang cantik ini?"
Pipi Kendall merona saat ia menebak-nebak apa yang kira-kira ada dalam benak wanita itu.
"Mom, kenalkan ini Dokter Kendall Jenner, dokter baru Happiness. Kendall, ini Luisa Booker."
Kendall mengulurkan tangan, tapi Luisa justru maju untuk memberinya pelukan hangat. Kendall terkejut dan menatap mata David lewat atas bahu, mendapati pria itu tampak setakjub yang dirasakannya barusan. Setelah Luisa melepas pelukan, dia tersenyum pada Kendall dengan penuh kasih sayang. Seketika itu juga Kendall merasakan kekosongan kasih sayang ibunya sendiri, sehingga ia hampir tak dapat bernapas.
"Kau makhluk tercantik yang pernah ku lihat," puji Luisa. "Dan juga dokter? Wah, wah, ibumu pasti sangat bangga."
"Mom..." David berusaha menyela.
"Ya," kata Kendall sambil mengembuskan napas, lalu tersenyum pada wanita itu. "Ia memang sangat bangga."
"Waduh, lalatnya jadi masuk. Ayo, mari masuk dan minum teh. Keset kakimu, David."
"Ya, Mom." sahut David, lalu tersenyum lebar ke arah Kendall sementara sang ibu bergegas masuk ke rumah. Kendall, mengikuti, terpana melihat wanita itu. David mengikuti di belakang dengan menggunakan kruk.
"Kakakku, Roselin, sedang bekerja sukarela di perpustakaan hari ini," tutur Luisa kepada Kendall, "jadi hanya ada kita di rumah. Bagaimana kau minum tehmu, Sayang?"
"Tanpa gula, terima kasih."
"Tanpa gula? Dari daerah mana asalmu?"
"Aku dari Virginia."
Luisa mengangguk. "Ku pikir juga begitu saat mendengar aksenmu."
Kendall tersenyum. Orang-orang Utara berpendapat orang dari negara lain memiliki aksen.
"Duduklah di ruang tengah," kata ibu David, mengarahkan mereka ke ruangan kecil namun nyaman dengan dua sofa empuk yang berhadapan di masing-masing sisi meja kecil rendah. Lemari tanam putih yang penuh dengan buku dan bingkai foto memenuhi tembok.
Salah satu foto di sana menarik perhatian Kendall... dua pemuda tegap bermata hazel tajam sedang tersenyum lebar. Ia terdorong untuk menyentuh pinggir bingkai perak itu.
"Kau dan kakakmu?" Tanyanya, sambil mendongak memandang David.
David tersenyum dan mengangguk, sambil bersandar di kruk. "Satu dari sedikit foto yang kami temukan setelah badai."
Melihat David saat bocah menimbulkan emosi-emosi yang tak di inginkan di dada Kendall. Ia tidak mau tahu sebanyak ini tentang David, tidak ingin jatuh hati pada ibunya, tidak mau jatuh cinta kepada...
Kendall menjatuhkan tangan dengan cepat dan berbalik membelakangi foto. "Kau yakin kita punya waktu untuk minum teh? Aku tidak mau kita terlambat memenuhi janji."
"Janji apa?" tanya Luisa yang berjalan masuk dengan membawa nampan berisi tiga gelas teh.
David bergerak-gerak di kruk. "Dengan dokter spesialis di Atlanta. Hanya rontgen untuk memastikan tungkaiku pulih dengan baik."
Luisa meletakkan nampan di meja kecil, lalu menatap Kendall. "Apakah itu idemu, Sayang?"
Kendall mengangguk.
"Jadi selama ini kau merawatnya?"
Kendall ragu mendengar makna kedekatan yang tersirat dan memandang David untuk meminta bantuan.
"Ya, Dokter Jenner merawatku," sahut David riang.
Kendall menatap pria itu tajam, yang ternyata diabaikan.
...****************...