New Happiness, Begins

New Happiness, Begins
Part 51



"Kau merasa nyeri?"


"Cedera lama ku... kadang-kadang kambuh." David menatap Kendall tajam.


Seperti saat ia terjaga sepanjang malam karena bercinta.


Pipi Kendall jadi hangat, tapi ia tak perlu menjawab karena di selamatkan oleh kedatangan pelayan yang mengantar pesanan. Setelah pelayan itu pergi lagi, mereka terjebak dalam keheningan. Kendall menyesap kopinya, memeras otak mencari kata-kata yang netral dan aman untuk di bahas.


David juga menyesap kopinya. "Katakan, Dok... apakah kau selalu menyelinap turun dari ranjang pada pagi hari setelah bercinta satu malam?"


Kendall tersedak cairan panas dalam cangkirnya. "Tidak." Saat di lihatnya David menatap geli, ia menegakkan tubuh, sadar jawabannya sudah membuatnya terdengar seperti orang yang sering berbuat seperti itu. "Maksudku, aku tidak punya banyak pengalaman... di bidang itu."


David mengangkat cangkir. "Berarti aku senang bisa membantu."


Kendall tidak tahu harus berkata apa. Ia tak pernah lihai beradu kata tentang hal-hal soal bercinta dan kejadian tadi malam rupanya tidak juga membuatnya jadi pintar. Dari tas, ponselnya berdering. Sepertinya saat itu waktu yang tepat untuk menjawab, jadi ia permisi dan keluar restoran untuk berdiri di dekat pintu masuk. Ketika melihat ponsel, nama Daniel tertulis jelas di layar. Kendall mendesah, lalu memutuskan bahwa lebih baik membereskan masalah.


Ia menjawab telepon itu. "Halo?"


"Kendall?" Suara Daniel terdengar kaget. "Kendall, ini aku... Daniel."


Tenggorokkan Kendall tercekat. "Ya, aku tahu. Apa yang kau inginkan?"


Daniel tergagap mencari kata-kata yang tepat. "Bagaimana kabarmu?"


Kendall melipat tangan dan melirik ke belakang ke arah meja tempat David duduk. "Aku baik-baik saja... dan sibuk."


"Kau ada di mana?"


"Bukan urusanmu," sergah Kendall.


"Aku tahu, aku tahu," kata Daniel. "Maafkan aku, aku hanya mengkhawatirkan mu."


"Daniel, keadaan ku tidak perlu lagi kau khawatirkan."


Daniel mendesah. "Aku memang layak menerima semua itu... bahkan lebih. Aku menyesal atas apa yang sudah ku perbuat pada mu, Kendall. Kurasa aku ragu akan terikat dengan seorang wanita, jadi aku kehilangan akal sehat."


Kendall mengerjap-ngerjap menahan air mata mendengar penjelasan angkuh Daniel, tapi berusaha agar suaranya tetap tegar. "Aku tidak tertarik mendengar alasanmu mengkhianatiku, Daniel. Apakah kau menelepon karena ada alasan tertentu?"


"Aku... ya." Daniel berdeham. "Kendall, aku tahu aku tidak berhak untuk meminta, tapi aku mencintaimu dan aku ingin kita kembali bersama. Bisakah kau memaafkan ku karena sudah membuat kesalahan bodoh?"


Jantung Kendall berdegup kencang dan perutnya melilit. Pada hari-hari pertama setelah pria itu mengakui bahwa ia sudah jatuh cinta pada wanita lain, bukankah Kendall berharap Daniel akan datang padanya dan mengatakan kalimat itu? Dadanya sakit di liputi kemarahan bercampur luka karena Daniel sudah mencampakkan cintanya seolah itu tak memiliki arti. Tapi, lebih dari pada apa pun, Kendall ingin keadaan kembali seperti semula. Tapi dapatkah ia mempercayai Daniel lagi?


"Daniel," akhirnya Kendall berkata di telepon, "aku bisa memaafkanmu..."


"Oh, terima kasih, sayang! Sudah ku duga kita bisa mengatasi masalah ini."


"Tapi," lanjut Kendall, "memaafkan mu bukan berarti aku ingin kembali bersamamu. Itu dua hal yang berbeda."


"Benar," Daniel cepat-cepat menyetujui. "Dan aku tahu aku sudah meminta terlalu banyak darimu, tapi tolong berjanjilah padaku kau akan mempertimbangkan untuk memberi kesempatan kedua bagi kita."


"Aku tidak bisa. Tidak seperti kau, aku tidak bisa mengumbar janji dengan mudah."


Kendall mendongak dan melihat David memandang ke arahnya. Pria itu menunjuk-nunjuk ke arah jam tangan.


"Sudah dulu," ucap Kendall.


"Oke. Aku mencintaimu."


Kendall ragu-ragu. "Selamat tinggal, Daniel." Lalu ia memutuskan sambungan telepon dengan tangan gemetar.


"Semua baik-baik saja?"


Kendall mendongak dan melihat David menghampirinya dengan menggunakan kruk.


"Ya," jawab Kendall, meskipun ia masih merasa terguncang saat mengembalikan ponsel ke dalam tas.


"Bukan bermaksud memintamu untuk bergegas, tapi sepertinya kita harus segera berangkat."


"Tentu," sahut Kendall, berusaha menguasai diri. Memikirkan Daniel sementara David berdiri di depannya seperti menerima dua program radio dalam satu saluran.... hasilnya, sebagian besar gelombang statis.


Yang membuat Kendall sangat lega, David tidak mengungkit-ungkit kebersamaan mereka di malam sebelumnya selama perjalanan ke toko peralatan medis. Mereka berdua tampaknya mundur ke wilayah aman masing-masing. Saat mereka tiba di toko, manajer penjualan sudah mengumpulkan sampel produk untuk Kendall pertimbangkan, membuat proses pemesanan jadi cepat dan efisien. Perlengkapan berukuran kecil mengisi mobil sampai penuh, lalu David mengatur agar truk-truk pengantar barang mengikuti mereka dengan peralatan yang lebih besar.


Perjalanan pulang ke Happiness selama sepuluh jam terasa tegang dan menyakitkan. Kendall merasa sangat tidak nyaman dengan keberadaan pria kekar di sampingnya, bagaimana mereka sebelumnya begitu intim berpelukan dan kini begitu jauhnya. Dan percakapan telepon dengan Daniel terus mengisi benaknya seperti gedoran palu yang bertalu-talu. Ketika mereka berhenti di depan klinik, kepala Kendall pening dan ia hanya ingin berbaring. Ia turun dari mobil dan mengambil tas yang ia bawa.


"Aku akan kembali nanti untuk mengeluarkan perlengkapan," katanya.


Setelah bermil-mil dalam keheningan, David tiba-tiba David terlihat seolah tidak rela Kendall pergi. "Aku bisa menyuruh salah seorang pekerja mengantar mu ke asrama dan mengembalikan mobilnya ke sini."


"Tak apa, aku bisa jalan kaki."


"Terima kasih sudah pergi bersama ku," kata David.


"Perjalanannya.... menarik."


Kendall tersenyum datar, lalu berbalik ke arah asrama sambil mendesah. Sungguh kacau situasi yang ia buat. Dan yang memperburuk situasi, meski baru pulang beberapa menit, alerginya sudah terasa lagi.


Saat melangkah ke dalam, ia menghindari tatapan ingin tahu dari wanita-wanita yang sudah membantunya merombak penampilan. Ia hanya bisa membayangkan gosip apa yang sudah beredar tentang dirinya dan David selama mereka pergi.


Dan apakah penegasan atas gosip itu tampak di wajahnya?


Saat bertemu dengan Khloe, ia meminta wanita itu menemuinya di klinik satu jam lagi untuk membantu menyiapkan tempat praktik baru di sana. Lalu ia bergegas naik ke kamarnya di lantai atas untuk mencari aspirin dan berbaring selama beberapa menit untuk menenangkan pikiran yang kalut.


Setelah berbaring dengan kain kompres di kening, Kendall mulai tenang. Semalam bersama David, telepon dari Daniel... tak satu pun yang mengubah niatnya untuk meninggalkan Happiness. Keputusan yang masih harus di ambil hanyalah ke mana ia akan pergi dari sini.


Lalu kesadaran menghantamnya dan Kendall mengerang.


Ia tidak akan kemana-mana. Ia lupa membeli saluran bensin baru untuk memperbaiki mobilnya.


...****************...