
"Apakah di Angkatan Darat di ajarkan?"
David memiringkan kepala ke arah Nathan Sanders. Mereka sedang berdiri di bagian belakang ruang media yang ramai dan remang-remang, tapi ia tidak melepas tatapannya dari Daniel, yang sudah meletakkan tangan di sandaran kursi Kendall. "Di ajari apa?"
"Cara membunuh musuh dengan tatapan memusuhi."
David mengerutkan kening dan menoleh untuk menatap Nathan. "Tutup mulutmu."
"Ssttt!" desis seseorang dari barisan kursi di depan mereka.
Film aksi yang menegangkan diputar di TV datar berlayar lebar. Tadinya ia ragu para pekerja akan menyambut ide menonton film bersama, tapi ternyata sebagian besar orang di ruangan itu terpaksa berdiri. Meski demikian, Daniel berhasil mendapatkan kursi terbaik.
Di sebelah Kendall.
Darah David mendidih. Jelas Kendall sudah memberitahu bahwa ia tidak bisa pulang sampai mobilnya di perbaiki, jadi Daniel datang untuk menjemput. Seperti sebongkah tulang.
Yang David inginkan.
"Apa yang terjadi di Atlanta?" bisik Nathan.
"Tak ada."
"Karena itukah kau uring-uringan seperti wanita sejak kembali?"
"Bisa tolong diam?"
"Kami sedang menonton!"
David merasakan sengatan familier di telinga dan dari erangan Nathan, ia tahu bahwa lelaki itu mendapatkan pukulan yang sama di telinga.
"Kalian berdua berhentilah mengoceh," tegas Harry di belakang mereka dengan suara rendah. "dan ayo ikut aku."
David memandang sekilas lagi ke arah Kendall dan Daniel, kesal melihat pria itu sudah melingkarkan tangan di tubuh Kendall, lalu berbalik untuk mengikuti Harry keluar dari ruangan besar itu dan masuk koridor yang luas.
"Ada apa?" tanyanya.
Garis-garis cemas tampak di wajah Harry. "Apakah kau melihat Kris akhir-akhir ini?"
"Tidak." David menatap Nathan, yang juga menggeleng. "Kenapa?"
Harry mengangguk ke ujung koridor. Masson Dean, pekerja yang tangannya terluka saat membangun klinik, duduk di sana dengan wajah mengernyit kesakitan. Ia memeluk tangan yang di bebat lakban dan ketika David mendekat, ia bisa melihat tangan Masson membengkak besar. "Ini tidak baik. Aku akan memanggil Kendall."
Harry mencengkeram lengannya. "Masson tidak mau menemui Dokter Jenner. Ia bilang hanya ingin di obati oleh Kris, tapi aku tidak bisa menemukannya."
David mendekati Masson dan bersandar di kruk. "Masson, kau harus membiarkan Dokter Jenner memeriksa tanganmu. Mungkin infeksi."
Masson menggeleng. "Kris bisa mengobatiku."
"Masson, lukamu kelihatan parah. Kau perlu menemui dokter sungguhan."
"Tidak mau," tolak Masson, suaranya meninggi. "Istriku pergi kerumah sakit karena tergores dan pulang kerumah dalam peti mati. Aku tidak percaya dokter, terutama dokter wanita!"
David mengatupkan rahang dengan frustasi. Tapi ia sama sekali tidak mau memanggil Kendall dan mendapati Masson menolak jasanya dengan adegan memalukan di depan tunangan sang dokter.
Ia mengertakkan gigi. Mantan tunangan.
David menoleh ke arah Harry, yang mengangkat tangan. "Tak ada yang melihat Kris di barak dua hari ini."
"Aku tahu tempat Kris mendirikan tenda bila ia pergi mengumpulkan tanaman," kata David. "Di sekitar Devil's Rock. Aku akan naik ATV ke sana untuk mencarinya."
"Aku akan naik ATV juga dan pergi bersamanya." timpal Nathan. "Lebih aman kalau kami pergi berdua dan nanti aku bisa membonceng Kris."
Harry mengangguk singkat. "Pergilah."
David dan Nathan keluar. David mengutuk sikap konyol sebagian pria, takhayul dan harga diri mereka yang berlebihan. Tak heran Kendall tidak mau tinggal di sini.
Itu dan kenyataan bahwa ia sudah memanfaatkan wanita itu di Atlanta. Ia tahu Kendall sedang rapuh, memikirkan untuk kembali pada si mantan tunangan. Tapi ia tidak peduli. Ia hanya menginginkan Kendall untuk dirinya sendiri. David menginjak pedal gas, marah pada keadaan, marah pada diri sendiri.
Bahkan dengan lampu depan yang benderang, perjalanan mereka lambat dan berbahaya. Tak ada jalan atau sejenisnya, hanya rute berliku menerobos pepohonan dan melintasi bebatuan. Mereka harus berhenti beberapa kali untuk menentukan arah. Sekitar setengah jam kemudian, David melihat tenda putih Kris melalui pepohonan dan menunjuk. "Di sana."
Setelah mematikan mesin, mereka bisa mendengar erangan pria itu.
"Kris?" teriak David.
"Tolong," terdengar jawaban lemah.
Nathan sampai lebih dulu di tenda. David butuh waktu yang lebih lama untuk melewati semak dengan kruk. Ketika ia sampai di pintu masuk tenda, Nathan sudah menemukan lentera listrik. Kristofer berbaring di kantong tidur, berkeringat dan mencengkeram dada. Nathan membungkuk ke dekat telinga pria itu.
"Kenapa ia?" tanya David.
Nathan bersimpuh. "Dadanya nyeri. Kita harus membawanya ke kota.... segera."
Karena bergantung pada kruk, David tidak bisa banyak membantu untuk memindahkan Kris ke belakang ATV Nathan, tapi ia memimpin mereka pulang dengan sangat cepat. Saat mereka berhenti di depan asrama, ia cepat-cepat masuk untuk memanggil Harry agar membantu Nathan, lalu menuju ke bagian belakang ruangan besar tempat film masih di putar.
"Kendall!" serunya dan semua orang menoleh. David menangkap tangan Kendall. "Ada situasi darurat. Yang lain, silahkan tetap di tempat. Biarkan Bu Dokter lewat."
Kendall sudah bangkit. Yang membuat David terkejut, Daniel ikut, tapi Kendall menyuruhnya ke tempat praktik untuk mengambil tas medis.
"Ada apa?" tanya dokter itu kepada David.
"Ada dua pasien," jawab David sambil memimpin Kendall ke ruang depan. Di sana, Masson duduk sambil mengerang.
Saat Kendall meminta izin untuk memeriksa tangannya, Masson menggeleng. "Aku ingin menemui Dok Kris."
Kendall mendesah dan menoleh. "Di mana Kris?"
Pintu membuka. Harry dan Nathan masuk, setengah membopong Kristofer.
"Di sana," sahut David. "Dadanya sakit."
Sementara Kendall bertindak, menyuruh kedua pria itu agar membaringkan Kris di lantai, David menjelaskan kepada Masson bahwa Kris sedang sakit dan ia harus mengizinkan Dokter Jenner memeriksa tangannya. Tapi pria itu hanya mengatupkan mulut dan membisu.
Daniel kembali dengan tas medis Kendall dan menurut David, hanya luntang-lantung.
"Kau bisa kembali dan menonton film sampai selesai," usul David.
"Tidak apa-apa," kata Daniel, "Siapa tahu Kendall butuh aku."
David menggigit bagian dalam pipi.
"Tolong tenang, semua," ucap Kendall sambil memelototi keduanya. Ia berlutut di dekat Kris dan memeriksa dada pria itu, lalu mengajukan pertanyaan. David tidak bisa mendengar segalanya, tapi ia mendapat kesan Kendall lebih mengkhawatirkan apa yang sudah Kris makan untuk meredakan nyeri dada dari pada sakit dada itu sendiri.
"Laurel gunung," kata Kendall sambil mendongak. "Ia keracunan sendiri saat berusaha mengobati rasa sakitnya... isi perutnya harus di keluarkan. Ia harus dipindahkan ke klinik secepatnya, mungkin dengan brankar."
Harry dan Nathan pergi untuk mengambil alat itu. David memperhatikan bahwa Daniel ingin pergi membantu, tapi sepertinya enggan meninggalkan Kendall sendirian... bersamanya.
...****************...