
Kendall memaksa diri untuk tersenyum. Ia mulai curiga ada yang tidak beres, terutama saat berjalan keluar dan melihat empat pria lain sedang duduk di ruang tunggunya, semua tersenyum lebar.
"Bisnis sedang berkembang!" kata Khloe, pipinya merah saking senangnya.
"Sepertinya begitu," timpal Kendall, lalu mengangkat telunjuk. "Aku keluar sebentar." Ia berjalan menyusuri lorong, diam-diam mengikuti pasien terakhirnya dalam jarak aman. Pria itu keluar dari asrama, lalu celingukan dan masuk ke kerimbunan pohon-pohon di ujung jalan setapak. Kendall mengikuti, berusaha sekuat tenaga agar tidak menimbulkan suara dan memperlambat langkah saat mendengar suara-suara.
Ia menyibak ranting semak dan melihat David Booker duduk di tanah beberapa meter dari sana, punggung David bersandar ke batang pohon lebar, kruk tergeletak tak jauh, sedang berbicara dengan Pria Ketombe, yang berdiri menjulang di dekatnya sambil mengangguk-angguk. Lalu David mengeluarkan segepok uang dari saku kemeja, mengambil beberapa helai dan menyerahkan kepada "pasien" Kendall. Setelah pria itu pergi, David tampak puas, menarik ujung topi menutupi mata dan bersandar lagi ke pohon.
Kendall mengertak-ngertakkan gigi dan menerobos semak-semak ke arahnya. Pria itu mendengar suara, mengangkat topi lalu matanya terbelalak. "Sedang jalan-jalan, Dok?"
Kendall sontak berhenti. "Kau! Kau membayar pekerja-pekerjamu untuk datang kepadaku dan mengeluhkan hal-hal sepele?"
"Wooo," ucap David sambil mengangkat sebelah tangan. "Tidak seperti yang kau pikirkan. Aku hanya menawarkan kepada mereka waktu istirahat yang dibayar untuk berobat ke dokter kalau punya keluhan agar bisa kau periksa."
"Ketombe?" teriak Kendall. "Bau mulut?"
"Hei, keluhan-keluhan itu masuk akal," David berkeras, "terutama sekarang karena di sini ada wanita." Ia meraih kruk dan berusaha berdiri. "Bisa bantu aku?"
Kendall mengulurkan tangan dengan enggan untuk membantu pria itu berdiri. Yang ternyata kesalahan, karena ketika David sejajar dengannya, ia tidak bisa menghindari kontak mata dengan mata coklat yang tajam itu. Darahnya berdesir dan napasnya tersentak, seperti kemarin saat pria itu hampir menciumnya. Yang lebih buruk, David tampak seolah hendak mencoba lagi. Kendall membasahi bibir, lalu teringat alasan kedatangannya ke tempat itu. Ia menarik kepala ke belakang. "Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan."
David mencibir. "Ayolah, Bu Dokter Kecil. Aku hanya ingin membantu. Ku pikir kalau aku bisa meyakinkan mereka agar menemuimu karena hal-hal remeh, para pekerja tidak akan terlalu enggan bila ada penyakit yang lebih serius untuk datang berobat kepadamu."
Kendall berkacak pinggang. "Perbuatanmu ini sangat merendahkan! Jangan berani-berani membantuku, Mr. Booker. Satu-satunya alasan mereka harus mendatangiku adalah karena gelar medis yang menempel di namaku."
"Aku tahu," sahut David dan mendesah. "Tapi mereka pria utara yang macho. Mereka punya harga diri. Mereka akan kikuk bila harus membiarkan wanita secantik dirimu melihat mereka kesakitan."
Kalimat "wanita secantik dirimu" menyambar Kendall seperti tamparan. David mengolok-ngoloknya. Semua pujiannya, kejadian hampir menciumnya kemarin dan hari ini... hanya untuk memanipulasi dirinya.
"Tidak," tukas Kendall datar, "mereka tidak perlu kikuk menemuiku sebagai dokter mereka karena aku tak akan ada di sini. Ingat? Omong-omong, aku menemukan kontrak yang kau selipkan di map kemarin. Seharusnya kau memberitahu terlebih dahulu." Kendall bersin keras, lalu membuang ingus.
"Aku ingin memberimu waktu untuk membacanya dengan harapan kau berubah pikiran. Kau tidak apa-apa?"
"Alergi," gumam Kendall sambil mengusap-usap mata. "Dan aku belum berubah pikiran. Bahkan, aku sudah menelepon mantan bosku kemarin dan ia sedang mencari penggantiku di sini."
David tampak terkejut. "Well, kuhargai usahamu untuk menolong kami."
Kendall melipat tangan. "Omong-omong bagaimana kemajuan perbaikan mobilku? Apakah saluran bensin yang baru sudah datang?"
"Ehm... mereka seharusnya membawanya dari Atlanta, kalau masih ada tempat."
Kendall menyipitkan mata. "Aku baru tau saluran bensin memiliki ukaran besar sekali."
Bunyi nyaring klakson terdengar berkali-kali, semakin lama bunyinya semakin keras. David mengernyit, lalu bergerak menuju ke arah suara itu dan Kendall mengikuti. Mereka muncul dari balik pepohonan dan melihat dua truk barang panjang berhenti di depan asrama. Hailey melambaikan tangan dari jok penumpang truk raksasa yang pertama.
"Ya Tuhan," gumam David.
Kendall tersenyum kepadanya. "kelihatannya mereka punya tempat."
...----------------...
Bukannya jadi tenang, Harry tampak makin gusar seperti banteng yang di kurung. Wajahnya bertambah merah, tangannya mengepal. Akhirnya, ia berhenti dan meletakkan tangan di meja. Asap praktis mengepul dari hidungnya. "Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana."
"Katakan saja semua hal arogan yang harus kau lontarkan agar kita bisa kembali bekerja."
Mata Harry melotot. "Kembali bekerja? Maksudmu menurunkan barang dari truk besar di luar sana untuk wanita-wanita itu? Karena dari yang ku lihat, tak banyak pekerjaan yang sudah dilakukan!"
"Kita membuat banyak kemajuan dengan klinik,"
"Yang tak ada gunanya bagi kita kalau tak ada dokter yang mengelola. Apakah Dokter Jenner sudah menandatangani kontrak?"
"Belum," gumam David
"Bahkan pembangunan kita tidak akan dipertimbangkan kalau kita tidak memiliki dokter dalam jajaran staf. Kita sudah mulai membangun klinik dan kita tidak boleh berhenti sekarang."
David tak mau memberitahu bahwa Kendall sudah menyebarkan informasi untuk mencari pengganti. Ia belum siap untuk menyerahkan tanah keluarga. "Aku hanya butuh lebih banyak waktu untuk meyakinkan Bu Dokter Kecil, itu saja."
"Jadi kau akan terus menyanderanya dan berbohong soal mobilnya?" tanya Harry
"Jelas. Omong-omong, kuberitahu ia bahwa seharusnya saluran bensin baru di bawa dari Atlanta, jadi kalau ia bertanya padamu, pura-pura bodoh saja."
"Itu tugasmu. Kudengar kau membayar orang-orang agar mengarang alasan untuk berobat padanya?"
"Mereka semua punya alasan," tukas David. "Masalah-masalah... kecil."
Harry memutar bola mata. "Hasilnya bagaimana?"
David mengerutkan kening. "Tidak sebaik yang ku harapkan."
Harry menunjuk David. "Kau, menjauhlah darinya."
David mundur. "Bagaimana dengan kesepakatan kita?"
Harry mengibaskan tangan. "Tadinya aku memang akan memberikan tanah itu padamu, David."
David memandang Harry. "Sungguh?"
Harry mengangguk. "Biarkan aku mengurus Dokter Jenner. Mungkin ia merespon akal sehat."
Kegembiraan sementara David soal akta tanah itu anehnya berkurang saat mengetahui bahwa ia tidak lagi memiliki alasan untuk berdekatan dengan Kendall. "Tapi aku satu-satunya pasiennya!"
...****************...
Hollaa kakak-kakak semuaa... Terima kasih karena masih setia membaca novel ini hingga sekarang. Terima kasih banyak atas dukungannya. Harapanku, semoga kakak-kakak semua selalu sehat dan selalu semangat untuk memberi dukungan Like, Komen dan menjadikan novel ini favorit ya.. hehe
Salam kasih untuk semuanya🤎