New Happiness, Begins

New Happiness, Begins
Part 53



Dan Daniel lebih dari sekedar basah, kotor dan awut-awutan.


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Kendall sambil menunjuk ke sosok Daniel yang basah dan terciprat lumpur.


Daniel menunjuk David. "Mr. Booker membawa ku lewat jalan pintas." Lalu matanya membelalak.


"Kendall, kau tidak boleh tinggal di sini. Ada beruang grizzly di mana-mana. Dan badai."


Kendall memutar bola mata dan memandang David dari balik bahu Daniel. "Masa?"


Di ATV, David hanya mengangkat bahu.


Daniel menatap Kendall. "Rambutmu lain. Kau kelihatan... cantik."


Kendall tersipu ditatap seperti itu, senang mendengar pujian meskipun emosi yang bertentangan berkecamuk dalam dirinya. "Terima kasih."


"Apakah ada tempat untuk kita bicara?" tanya Daniel dengan tatapan memohon.


Kendall mengamati pria di hadapannya, begitu akrab, tapi sekaligus begitu asing. Saat terakhir mereka bertemu, Daniel dengan entengnya memutuskan hubungan dan mengakhiri pertunangan mereka, mengakui cintanya pada wanita yang lebih muda dan lebih menarik, tanpa memedulikan perasaannya. Tapi, sekarang, kepercayaan diri dan ketenangan Daniel sudah lenyap. Ia tampak malu. Dan kenyataan pria itu datang mencarinya menunjukkan keteguhan yang membuat Kendall terkejut. Meruntuhkan pertahanan dirinya.


Kendall menunjuk ke arah asrama. "Tempat praktikku. Kau bisa membersihkan diri di sana."


"Kalian butuh tumpangan?" timbrung David.


Kendall melotot galak ke arahnya. "Terima kasih, tapi kami berjalan kaki saja." Secara umum, ia lelah menghadapi kelakuan pria. Pagi ini saja dua pekerja sudah datang mencari Dok Kris untuk minta di obati karena sakit atau luka. Ketika Kendall menawarkan bantuan, mereka menolak dengan sopan dan pergi.


Ia mulai berjalan menuju asrama, dengan berjalan langkah cepat agar pria di sampingnya berusaha menyusul "Kau tahu dari mana bahwa aku ada di sini?"


Sepatu Daniel berdecit-decit saat ia berjalan. "Dari Dokter Amanda. Jangan marah."


Kendall berang. "Seharusnya kau memberitahukan kedatanganmu."


"Aku meninggalkan voice note (pesan suara)."


"Ponselku tidak bisa menangkap sinyal kecuali di atas menara."


Daniel tertawa. "Menara? Memangnya ini tempat apa... antah-berantah?"


Tawa pria itu membuat Kendall jengkel. "Ini kota baru, Daniel. Sekarang belum memiliki banyak infrastruktur."


"Ku rasa kau menanggapi iklan di surat kabar ya? Rasanya itu tidak sesuai dengan karakter mu."


Kendall mengatup rahang. "Tapi aku melakukannya, kan?"


"Menurutku tempat ini berbahaya," kata Daniel sambil memandang berkeliling lanskap yang tidak rata. "Apakah kalian punya air ledeng?"


"Ya." jawab Kendall, lewat gigi yang di kertakkan. "Akomodasi di sini lebih dari cukup."


Daniel menunjuk ke sekelompok pekerja yang mereka lewati. "Bagaimana dengan pria yang berkeliaran? Siapa yang menjaga keamanan wanita?"


"Wanita-wanita itu sendiri."


"Dan kau dokter di sini?"


Kendall membasahi bibir. "Ya." Daniel tak perlu tahu bahwa sebagian besar penduduk kota tidak mau di obati olehnya.


Kejengkelan menusuk dada Kendall. "Aku dokter, Daniel. Semua tempat layak untuk ku."


"Kau mengerti maksudku," tukas Daniel. "Kondisi di sini praktis masih primitif."


"Kau sudah melihat klinik barunya. Keadaannya lebih baik dari pada tempat kerjaku di Denville."


"Tapi mana staf pendukungmu? Bagaimana kalau, meski jangan sampai terjadi, sesuatu menimpamu?"


"Kalau ada keadaan darurat yang tak bisa kutangani, Medevac akan terbang ke sini."


"Karena komunikasi di gunung ini sangat baik," sindir Daniel.


"Sudah membaik," tukas Kendall, entah kenapa terdorong untuk membela Happiness.


Mereka sampai di depan asrama. Di seberang jalan, tampak mobil Daniel. Kendall menggeleng-geleng menyadari "jalan pintas" yang David ambil. Apa yang berusaha pria itu buktikan?


Daniel membuat isyarat dengan tangan. "Aku membawa baju ganti. Ku ambil dulu tasku."


Kendall menunggu sementara Daniel berlari-lari kecil ke seberang jalan untuk mengambil koper dari bagasi Mercedes-nya. Saat pria itu kembali, Kendall mengamati koper rancangan desainer itu dan terkejut menyadari betapa tidak pantasnya Daniel berada di daerah terpencil ini. Kendaraan kerja dan tas duffel kulit David melintas di benaknya, tapi ia cepat-cepat menepis perbandingan itu. Membandingkan kedua pria itu hanya tindakan sia-sia. Lagi pula bukan berarti mereka berdua sedang berlomba merebut perhatiannya.


David menjaga jarak sejak mereka kembali dari Atlanta kemarin. Jelas pria itu sudah mendapatkan apa yang di inginkan darinya, dan Kendall tidak bisa bersikap munafik... ia sendiri sudah mendapat apa yang di inginkan. Ia melihat David berbicara dengan Hailey sebentar sejak kepulangan mereka. Tampaknya pria itu sudah melanjutkan hidup...


"Kata Dokter Amanda, kau hanya akan tinggal di sini untuk mengawasi pembangunan klinik," ucap Daniel, membuyarkan lamunan Kendall. "Sepertinya klinik itu sudan jadi."


Kendall menekan kejengkelannya. "Dokter Amanda salah bicara. Aku... belum memutuskan masa depanku."


Kendall berbelok dan berjalan ke beranda asrama, mengangguk ke arah wanita-wanita yang mereka lewati dengan ekspresi ingin tahu di wajah. Ia mengajak Daniel ke dalam dan melintasi ruang depan, berhenti untuk membelai si rusa, Cupid, yang sudah bisa berjalan-jalan dengan kaki di gips dan benar-benar bisa beradaptasi hidup berdekatan dengan manusia. Di lehernya melingkar kalung anjing pink yang berkilauan.


"Jadi binatang liar bisa berkeliaran begitu saja di dalam sini?" tanya Daniel.


"Ia juga pasien," jawab Kendall sambil memegang gips Cupid sebentar untuk memeriksa.


Si rusa mengendus Daniel dan pria itu mundur. "Kau juga jadi dokter hewan?"


"Aku melakukan apa yang aku bisa," tukas kendall, lalu membawa Daniel ke koridor lain menuju ruangan yang sudah di ubah jadi tempat praktiknya. Kendall membuka pintu dan masuk, lalu menunjuk ke kamar mandi. "Kau bisa membersihkan diri dan berganti pakaian di sana."


"Kau mau ke mana?"


Kendall mengangguk ke meja tulis di dekat jendela, tetapi tatapannya mendarat di kemeja denim yang David berikan kepadanya, tersampir di sandaran kursi. "Aku... aku harus membereskan beberapa dokumen." Kontrak yang harus ia putuskan akan di tanda tangani atau di kembalikan kepada Booker bersaudara.


Kepada David.


Daniel berjalan ke kamar mandi. "Aku tidak lama."


Kendall tahu pria itu sudah sangat ingin mandi... Daniel tidak suka kotor. Bertentangan dengan David Booker, yang tampaknya memperlakukan debu dan tanah tempat ini seperti kulit kedua yang membanggakan.


Kendall duduk dan mengeluarkan kontrak kerja dua tahun yang perlu ia tanda tangani atas permintaan Booker bersaudara. Ia sudah hafal isi setiap klausul, tapi tetap membacanya lagi, seolah dengan melakukan itu jawaban jelas tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya dalam hidup akan muncul. Di kamar mandi, air pancuran berbunyi, pengingat atas kehadiran Daniel. Kendall masih bingung memikirkan fakta bahwa pria itu sudah berusaha payah mengemudi jauh-jauh dari Denville untuk mencarinya.


Ia merogoh ke dalam laci meja tulis untuk mengeluarkan sisa permen licorice buatan sendiri yang Dok Kris berikan, kemudian mengunyahnya lambat-lambat, sementara benaknya berputar. Bukankah ia sudah memutuskan untuk meninggalkan Happiness? Para pekerja sudah terang-terangan menunjukkan mereka tidak menginginkan jasanya. Jadi kenapa ia masih mencengkeram kontrak kerja ini?


Karena jauh di lubuk hati, ia masih berangan-angan David Booker akan mengungkapkan perasaan dan memintanya untuk tinggal. Jantungnya yang tersentak saat tadi melihat pria itu membuktikan bahwa cinta satu malam bukan gayanya. Bukannya lega setelah rasa penasarannya di puaskan, malam di hotel itu hanya memperdalam perasaan Kendall terhadap pria itu.


...****************...