
Kendall menutup pintunya sendiri lalu menghampiri ponsel. Daniel sudah menelepon lagi tiga kali dan yang terakhir ia meninggalkan pesan lagi. Kendall mendengarkan pesan itu dengan jantung seolah menggedor tulang rusuk.
"Kendall, ini aku lagi. Aku mengkhawatirkan mu. Aku paham kenapa kau marah padaku, tapi aku perlu tahu apakah kau baik-baik saja. Telepon aku, ku mohon. Kita perlu bicara."
Kendall mendengar pesan itu lagi, tetapi tidak bisa menangkap apa pun dalam nada Daniel atau petunjuk untuk menentukan apa yang mendorong pria itu sampai ingin berbicara dengannya.
Tapi kenyataan bahwa Daniel memakai kata "aku" lima kali rasanya mencolok sekali.
Kendall meletakkan ponsel di meja rias dan masuk ke kamar mandi mewah. Baknya tampak mengundang, tapi bilik pancuran luas berdinding kaca dengan dua kepala shower tampak seperti surga. Ia memutar keran air panas dan membiarkan uapnya naik, lalu berbalik ke arah cermin. Kendall hampir tak percaya bayangannya yang tampak di sana.
Wanita-wanita itu sudah bermurah hati dengan waktu dan perlengkapan mereka. Bahkan, mereka benar-benar mengerumuninya setelah Hailey mengumumkan bahwa ia bersedia untuk di makeover. Ia tidak diizinkan dekat-dekat dengan cermin selama mereka membubuhkan obat untuk membuat warna rambutnya lebih terang, lalu memotong dan menata rambut itu. Begitu pula saat mereka membentuk alisnya dan membubuhkan makeup. Kendall baru pertama kali merasakan perawatan manikur dan pedikur, juga scrub kulit untuk dipakai saat mandi. Beragam sepatu dan gaun yang ukurannya cocok dengan Kendall langsung berhamburan dari banyak lemari pakaian.
Hasilnya sungguh menakjubkan, Kendall kagum mengamati sapuan rambut sewarna madu di sekitar tulang pipi. Tapi, lebih daripada itu, ia menikmati prosesnya. Barangkali itulah pertama kali dalam hidupnya ia merasa nyaman. Wanita-wanita itu menggumam di sekelilingnya, membicarakan pekerja yang mereka temui, membandingkannya. Di balik perasaan kesal mereka karena ternyata pria Utara ini masih harus belajar banyak untuk membuat mereka terkesan, ada secercah optimisme bahwa kelompok itu memiliki potensi.
Semua wanita itu memiliki pengalaman disakiti dan dikhianati. Awalnya Kendall merasa was-was, takut ada yang mengorek detail masalah perpisahannya dengan Daniel, tetapi ternyata seolah mereka membentuk gelembung pelindung di sekelilingnya. Tak ada yang mengungkit perpisahan yang menghebohkan itu, tapi Kendall merasa lewat getirnya kisah cinta yang diceritakan wanita-wanita itu, mereka berusaha menyampaikan bahwa ia bagian dari persaudaraan wanita yang pernah mengalami patah hati.
Dan bahwa hidup harus terus berjalan.
Saat melepas pakaian pinjaman, Kendall merasakan sengatan kekaguman pada wanita-wanita itu. Walaupun mengagumi kegigihan mereka dalam mencari cinta, jauh di dalam hati Kendall tahu dirinya berbeda. Sejak kecil, ia sangat perasa... emosinya terpengaruh lebih dalam dari pada orang lain. Selama bertahun-tahun ia sudah membangun dinding pelindung untuk menyembunyikan perasaannya yang gampang tersentuh agar orang-orang mengira ia tak punya perasaan, padahal kenyataannya sebaliknya. Membuka hati untuk Daniel benar-benar risiko besar bagi Kendall. Ketika hatinya ternyata dilukai dan dikembalikan padanya dalam keadaan terkoyak, kadang-kadang ia mengira akan mati karena rasa nyerinya.
Ia tak mau menderita seperti itu lagi, selamanya. Ia tidak memiliki apa pun yang membuat wanita-wanita itu ingin bertaruh lagi untuk mendapatkan cinta. Keberanian?
Mungkin.
Tiba-tiba dadanya sesak dan tanpa terduga, matanya berkaca-kaca. Kesedihan suka menyelinap seperti itu... menyergapnya pada saat-saat tenang dan mengingatkannya bahwa jika ia mengira sudah pulih dari sikap mendua Daniel, lantas seperti yang sering neneknya katakan, "Hal lain terjadi."
Masih dengan terisak, Kendall masuk ke bawah pancuran dan membiarkan tangisnya meledak. Ia di liputi kebingungan, tak yakin akan tempatnya di dunia. Perasaan itu membuatnya sedikit memahami perasaan penduduk Happiness sewaktu badai membinasakan rumah dan menerbangkan harta benda mereka, memaksa mereka mencari tempat lain untuk tinggal. Kalau saja Happiness bisa menjadi tempat baru untuknya.
Harus diakui, ia tak sabar untuk makan malam dengan David. Bagaimana pun, pria itu mempesona dan penuh perhatian. Ketegangan sensual yang terus bergetar di antara mereka membuat semuanya menarik dan menggoda. Kata-kata Hailey terngiang kembali di telinga dan Kendall mengakui tak akan sulit untuk menyalakan gairah mereka yang membara. Tapi ia juga cukup mengenal diri sendiri bahwa cinta satu malam bukanlah gayanya. Selama bisa menjaga jarak, ia bisa melalui malam itu dengan harga diri utuh. Lagi pula David masih memakai kruk.
Kendall bisa lari darinya bila perlu.
Ketika waktu untuk bertemu David tiba, Kendall meraih tas tangan yang Hailey pinjamkan, lalu ingat bahwa tadi disuruh melihat isinya. Sekilas, tas itu kosong, tapi ketika Kendall membuka resleting di bagian pinggir, ia bukan hanya menemukan satu, melainkan empat pelindung. Gairah menjalari lehernya saat memahami maksud Hailey. Kendall mendorong benda itu kembali ke tempatnya, menutup resleting dan menambahkan dompet, lipstik dan sisir ke dalam tas. Lalu ia memandang gaunnya di cermin untuk terakhir kali dan menjaga agar kain baju tidak kusut, mondar mandir di kamar menunggu David mengetuk pintu.
Lima belas menit kemudian, Kendall masih mondar mandir. Ditekannya nomor ponsel David, siapa tahu pria itu ketiduran, tapi tak ada jawaban. Yang lebih buruk, ia mendengar deringnya lewat pintu penghubung kamar mereka. Benaknya langsung di penuhi kecemasan. Apakah David terjatuh?
Kendall menghampiri pintu penghubung kamar mereka, membukanya dan mengetuk pintu yang mengarah ke kamar david. "David?"
Ia menempelkan telinga ke pintu dan mendengar suara David, tetapi kata-katanya tak jelas. Ia mengetuk lagi. "David? Kau baik-baik saja?"
Suara David terdengar lagi, masih tidak jelas, tetapi nadanya lebih tinggi... seolah pria itu dalam kesulitan. Kendall berdebar. Ia memutar kenop pintu, lega karena tak terkunci. Ia melangkah ke kamar David, melihat bahwa dekornya serupa, hanya saja berwarna kelabu muda dan tua. David tak ada di ranjang besar yang mendominasi kamar, meskipun seprainya kusut.
Pintu kamar mandi tertutup, tetapi cahaya yang terlihat di celah bawah pintu membuat Kendall tahu bahwa di dalam ada orang.
"David?"
"Kendall!" teriak David dari balik pintu. "Tolong!"
Dalam dua langkah Kendall sudah sampai, kepalanya dipenuhi bayangan David tergeletak di lantai bergelimang darah. Dibukanya pintu kamar mandi lebar-lebar... dan ia terpana.
...****************...
Hayoooo, Apa yang terjadi pada David???