New Happiness, Begins

New Happiness, Begins
Part 60



Sewaktu David sudah berpakaian dan turun ke lantai bawah, Kendall sedang naik ke mobil.


Daniel.


David berdiri di depan asrama, bersandar pada kedua kruk, merasa hatinya dicabik-cabik. Kendall benar, ia telah berusaha memanipulasi... setidaknya pada awalnya. David hanya tidak merencanakan untuk jatuh hati dalam prosesnya. Kendall menoleh sekilas ke arahnya untuk terakhir kali, lalu duduk di jok depan dan menutup pintu. Mobil itu melaju, membawa Kendall di dalamnya.


Menjauh dari Happiness.


David menelan saliva dengan susah payah. Dadanya seolah dihimpit beban berat. Tiba-tiba ia merasakan sengatan yang sudah akrab di telinga. "Aduh." Ia menoleh dan melihat Harry berdiri di sana. "Kenapa kau meninju telingaku?"


Harry mengangguk ke arah mobil yang menjauh. "Kau akan membiarkannya pergi begitu saja?"


"Harry, ada yang harus kau jelaskan."


"Ada Dokter dari Inggris di klinik. Apa yang harus aku jelaskan?"


David menatap Harry tajam. "Bagaimana bisa iklan surat kabar ini disebarkan di kota yang sama dengan tempat tinggal Cara Delevigne sekarang di Denville?"


Ekspresi Harry menegaskan bahwa itu bukan kebetulan. Dan tiba-tiba David menyadari perasaan Harry sejak wanita-wanita itu datang... karena Cara tidak ada di antara mereka. Rupanya Harry berharap bisa membujuk wanita itu kembali. Setelah sekian lama, sang kakak masih mengharapkan cinta pertamanya. David mulai bertanya-tanya apakah Harry sudah tahu di mana Cara tinggal, kenapa ia tidak pergi saja ke sana agar mereka bisa bersama setelah menyelesaikan ikatan dinas dengan Angkatan Udara. Lalu David sadar. Harry sudah menempatkan komitmennya untuk membangun kembali Happiness di atas kebahagiaannya sendiri. Hidupnya sekarang ada di sini. Jika ia dan Cara memang memiliki masa depan untuk bersama, wanita itulah yang harus kembali.


"Seperti yang kubilang," gumam Harry, sambil menatap ke arah mobil berwarna gelap yang meluncur di jalan panjang beraspal yang sudah mereka bangun dengan tangan sendiri, "apakah kau akan membiarkannya pergi begitu saja?" Seperti yang dilakukannya kepada Cara.


Tapi David menggeleng. "Situasinya berbeda."


Harry tampak ragu. "Masa?"


Frustasi dan benci pada diri sendiri meluap di dada David. Ia tak bisa mengalihkan tatapan dari mobil yang mengecil dan terus bertambah kecil itu. Tapi ia merasa tak berdaya menghentikan Kendall. Ia perlu sendirian bersama rasa nyeri yang tak tertahankan ini.


Menara.


David melirik gipsnya, lalu memutuskan bahwa ia bisa memanjat. Rasa sakit itu mungkin sebenarnya bermanfaat. Ia bisa melihat Kendall pergi sejauh bermil-mil. Tanpa memberi tahu Harry, David berjalan dengan susah payah menuju ATV. Harry tersenyum, seolah berpikir David akan mengejar mobil itu, tapi lalu mengerutkan kening saat David pergi ke arah yang berlawanan.


David membelah jalan setapak yang berliku dan berbukit, terus menambah kecepatan dan menjajal ketahanan ATV agar bisa mencapai menara dalam beberapa menit. Pemanjatan tangga memang lebih menantang, tetapi ia berhasil menaikkan tubuh tanpa terlalu membebani kaki yang cedera. Ia berhenti satu kali dan melihat ke bawah, sadar betapa bahayanya jika ia sampai jatuh lagi. Setelah mencapai pelataran menara, ia maju ke sisi depan dengan hati-hati, yang sangat sulit tanpa bantuan kruk.


Karena jalan keluar dari Happiness berliku-liku sebelum mencapai jalan lurus menuju jalan perbatasan antar negara, mobil hitam itu masih terlihat jelas dari menara pada pagi yang cerah dan panas ini. David bahkan bisa melihat dua orang yang duduk di dalamnya. Ia bertanya-tanya percakapan macam apakah yang sedang berlangsung, kalau Daniel dan Kendall sudah berbaikan.


Ia meninju pagar, marah pada diri sendiri karena tidak mengejar Kendall dan mengatakan betapa besar cintanya kepada wanita itu. Jika ba-jing-an tukang selingkuh itu bisa mengatakan cinta meskipun itu tidak benar, lalu kenapa ia tidak bisa mengumpulkan keberanian untuk memberitahu Kendall tentang perasaan sesungguhnya yang mengaduk-aduk dadanya?


Dangan penuh tekad, David mengeluarkan ponsel untuk menelepon Kendall, lalu ingat ponsel Kendall tidak mendapat sinyal di daerah ini. Dengan jengkel, dikembalikannya telepon itu ke balik sabuk. Karena tidak tahu apa lagi yang bisa dilakukan, ia melambai-lambai. Mobil yang menjauh dan menuju Happiness bisa melihat menara setidaknya dari jarak enam belas kilometer. Tapi bisakah Kendall melihatnya... Apakah ia bahkan melayangkan pandangan ke sana?


Otak David melayang ke sirine badai yang di pasang di menara... itu pasti akan menarik perhatian Kendall. David membuka kotak besi tempat sirine itu di simpan, meskipun dalam hati ia tahu ia takkan pernah membunyikan alarm palsu.


Tetapi terjepit di dalam kotak di samping corong sirine ada kaleng tua berisi cat semprot merah. David tersenyum. Kenapa tidak?


Harry pasti akan menggantungnya karena mengotori permukaan putih bersih menara, tapi David tak peduli.


Doanya agar cat itu masih bisa digunakan terjawab dan ia gembira karena ternyata isinya nyaris penuh. Ia mengocok kaleng itu keras-keras dan cepat-cepat menyemprot kata "Aku", lalu menggambar hati besar, dan menulis kata "Kendall" dengan huruf setinggi badan. Lalu ia berbalik dan melihat mobil itu bertambah kecil sambil menahan napas.


"Kumohon," bisiknya, berharap lampu rem akan menyala, tanda bahwa Kendall melihat pesannya, bahwa wanita itu akan berputar balik dan kembali padanya. "Kumohon."


Tapi mobil itu terus melaju... melaju... dan menghilang di cakrawala.


...----------------...


David melorot di pagar menara dan mengembuskan napas keras-keras. Otaknya berputar cepat mencari pilihan lain. Ia tidak akan melepas Kendall. Ia akan memperbaiki mobil wanita itu, lalu mengembalikannya ke Denville. Ia akan memberitahu betapa besar cintanya pada sang dokter dan membuatnya percaya...


Lalu kenyataan pahit menghantamnya. Ia berada dalam situasi yang sama dengan Harry... Hidupnya di sini, di Happiness. Dan mungkin ia sudah mengacaukan tempat ini karena Kendall.


Ia menyentak kepala ke belakang dan berteriak frustasi, lalu mendengar suara tercekiknya memantul di dinding-dinding lembah dan kembali kepadanya.


Dengan tubuh benar-benar loyo, David mulai berbalik, tetapi sesuatu di cakrawala tertangkap oleh matanya. Gerakan... terlalu kecil untuk mobil... mungkin hewan...


David meraih teropong yang selalu terkait di sabuk dan mengangkatnya ke wajah. Ia menyesuaikan fokus dan melihat sosok bergerak itu semakin jelas.


Berjalan kembali sambil membawa koper.


Berjalan kembali kepadanya.


Hati David berbunga-bunga. Ia bersorak dan melambai-lambaikan kedua tangan. "Kendall! Kendall!"


Kendall mengangkat tangan yang bebas dan membalas lambaiannya.


Karena tak sabar ingin menjemput wanita itu dengan ATV, David kembali ke tangga dan mulai turun. Adrenalin menguasai tubuh dan ia tak henti-hentinya tersenyum, tapi memaksa diri untuk memperlambat gerakan. Ia tak mau jatuh dan membuat lehernya patah. Tidak sekarang.


Ia hampir sampai.


Ia berada sekitar lima meter dari tanah saat gipsnya tersangkut dan kakinya terpeleset. Perasaan deja vu menyelimutinya saat ia terjun membelah udara.


Pendaratan di punggung mengguncang tubuh David dan menyemburkan udara dari paru-paru. Ia berbaring di sana selama beberapa detik dan menunggu rasa sakitnya reda, baru setelah itu ia berani bernapas.


Saat melakukannya, ia menghirup cukup banyak udara agar bisa bersyukur karena ia tidak mati. Lalu ia bergerak dengan hati-hati. Yang membuatnya lega, pergelangan kakinya sepertinya tidak memburuk gara-gara jatuhnya tadi.


Tapi, lengan kirinya tidak seberuntung itu.


David meringis, lalu tertawa sambil mengeluarkan ponsel dari sabuk dan menekan nomor Harry.


"Ada apa lagi sekarang?" tanya Harry.


"Bagaimana kau bisa tahu bahwa ada yang tidak beres?" tanya David.


"Karena yang menelepon adalah kau."


Tapi kakaknya yang pemarah itu pun tidak bisa merusak kebahagiaan David hari itu. "Aku jatuh lagi dari menara." David menjauhkan telepon dari telinga sampai Harry selesai menumpahkan sumpah serapah.


"Apakah kakimu yang satu lagi ikut patah?"


"Tidak... hanya lengan. Tapi aku akan membutuhkan dokter."


Harry mendesah. "Aku akan membawa dokter Inggris itu."


"Bagaimana kalau kau membawa Kendall saja? Ia sedang di jalan menuju Happiness, berjalan kaki kembali ke sini."


Harry membisu beberapa detik, lalu mengerang. "Baiklah, kali ini kau lolos. Tapi ini yang terakhir. Kami akan segera berangkat ke sana."


David memutus sambungan telepon dan tersenyum. Itulah cara terbaik Harry untuk mengatakan bahwa ia ikut berbahagia untuknya.


David mendorong tubuh untuk bangkit dengan satu lengan yang tidak cedera dan bersandar di batu. Beberapa menit kemudian, ia mendengar bunyi ATV mendaki bukit kemudian terlihat Harry mengemudi dan membonceng Kendall di belakangnya. Jantung David berdegup kencang melihat wanita itu. Setelah mereka berhenti, Harry menyibukkan diri dengan ATV untuk memberi mereka privasi.


Kendall turun dan bergegas menghampiri David. Wajah cantiknya berkerut cemas saat ia jongkok. "Ini agak berlebihan, kan? Padahal aku sudah dalam perjalanan pulang."


"Aku harus memastikan kau akan tinggal cukup lama," canda David. Lalu ia menarik wajah Kendall ke dekat wajahnya dan menatap mata coklat wanita itu.


"Aku mencintaimu, Kendall."


Kendall tersenyum. "Aku tahu."


"Karena itukah kau kembali?"


Kendall menggeleng. "Aku kembali karena aku juga mencintaimu."


David menangkap bibir lembut Kendall dengan cium-an dalam yang manis, menjanjikan hal-hal yang akan terjadi....


...THE END...