
Mulut David langsung terasa kering. Wanita itu benar-benar memiliki daya tarik fisik yang besar dengan rambut emas dan mata hazel... tapi perut David masih melilit karena sudah meninggalkan Kendall begitu saja. Gonggongan keras memenuhi indra pendengaran, menarik perhatian Hailey.
Wanita itu menoleh pada anjingnya. "Kau mau jalan-jalan?" Ia menoleh lagi ke arah David dan menggeleng-geleng. "Bahkan di hutan ini ia harus di ikat, kalau tidak, ia tidak bisa buang air." Hailey menyambar tali anjing dan berdiri, membersihkan celana pendek mininya, lalu memanggil anjingnya yang tertatih-tatih mendekat untuk di pasangi tali. "Aku tidak akan lama," kata Hailey dengan senyum penuh janji.
David mengangguk, lalu mengembuskan napas lega karena situasi canggung itu terpotong. Ia menyugar rambut... ia harus memikirkan sesuatu untuk keluar dari situasi ini tanpa melukai perasaan Hailey. Ia ingin memeriksa keadaan anak rusa yang terluka... dan ia sangat ingin bertemu Kendall. Kalau dipikir-pikir, seharusnya ia tidak meninggalkan dokter itu dengan binatang liar. Jika sudah sadar, anak rusa itu bisa saja melukainya karena mungkin berusaha melarikan diri.
David mulai membereskan sisa-sisa makanan piknik mereka. Ia sudah merangkai alasan pekerjaan atau urusan mendesak, sesuatu yang memerlukan perhatiannya. Ia berhenti untuk menggosok-gosok perut, yang mulai terasa mual. Karena tak sabar ingin kembali, ia berdiri dan melipat kembali selimut piknik mereka dengan kikuk. Ia mendongak dan melihat Hailey kembali bersama anjingnya.
"Ternyata peringatan palsu," ucap wanita itu riang, "tapi ia bertingkah aneh. Aku tidak pernah melihatnya berusaha makan rumput." Ketika ia melihat barang-barang piknik mereka sudah dibereskan, raut wajahnya berubah masam. "Kita mau pulang?"
"Sayangnya begitu," sahut David. "Harry memintaku memeriksa pekerjaan."
"Baiklah. Kurasa Oscar juga tidak enak badan. Mungkin gara-gara hawa panas."
Seperti setuju dengan pernyataan tuannya, anjing itu mengeluarkan suara-suara aneh, lalu muntah di dekat kaki mereka.
David mengernyit dan mundur dengan kruk. "Aku juga tidak terlalu enak badan. Apakah sandwich salad ayamnya sempat kau biarkan sebelum kau kemas? Mungkin sudah basi."
Hailey nampak tersinggung. "Hanya selama aku menunggumu. Tapi Oscar tidak makan."
"Ya, ia makan," tukas David dengan nada menyesal.
"Aku mencuilkan sandwich ku."
Hailey tampak sedih, lalu jongkok untuk memeluk anjingnya. "Aduh, tidak."
Rasa mual yang menyerang David mamaksanya bersandar ke kruk agar bisa tetap berdiri. "Ayo kita pulang, sekarang juga."
"Kendall pasti tau apa yang harus dilakukan," kata Hailey sambil menggendong binatang peliharaannya.
David diliputi ketakutan yang mengalahkan rasa mual yang mengaduk-aduk perut.
Ia yakin Kendall akan melakukan apa pun sebisanya untuk membantu anjing Hailey, tapi kali ini sang dokter mungkin akan membiarkan dirinya mati.
David melesat kembali ke kota dalam sekejap, menelan ludah dengan susah payah untuk menahan mual di perut setiap kali ATV membentur gundukan. Saat berhenti di depan asrama, ia mendesak Hailey agar masuk duluan dan tidak menunggunya mengambil kruk. Tapi Hailey bisa melihat David sendiri sudah lemah dan berkeras membantunya masuk.
"Kendall!" teriak Hailey mengagetkan, sebelum mereka tiba di tempat praktik.
Kendall keluar ke ruang depan, ekspresinya waspada. "Ada apa?"
"Oscar dan David mungkin sudah keracunan makanan."
"Sandwich salad ayam."
"Bawa Oscar ke dalam sana," kata Kendall, menunjuk ruang praktik. "Tulis semua bahan dalam salad ayammu. Aku akan membawa David ke ruang sebelah."
Saat Kendall menggantikan tempat Hailey di bawah bahu, David lega sekaligus menyesal dan malu. "Maafkan aku, Bu Dokter Kecil."
Tapi bahasa tubuh Kendall hanya tanggapan terhadap situasi itu. "Simpan tenagamu," katanya, lalu mangantar David masuk ke kamar tidur kosong di sebelah ruang praktik dan menyuruh pria itu berbaring di ranjang.
"Aku merasa tidak enak," gumam David, senang bisa berbaring di seprai sejuk.
"Kau akan merasa baikan setelah muntah," kata Kendall, lalu meletakkan kruk David di dekat sana dan menaruh tempat sampah di dekat ranjang.
"Maksudku tentang kejadian tadi."
"Untuk hal seperti itu aku tidak bisa menolong," sahut Kendall riang, masih tak melakukan kontak mata. "Tapi kalau kau keracunan makanan, racun itu seharusnya keluar sendiri dari tubuhmu dalam waktu satu atau dua hari."
Kekecewaan menghimpit dada David karena ia tak mampu menyampaikan betapa besar perasaan bersalahnya karena sudah menggerayangi Kendall. "Kau akan tinggal di sini selama itu?"
Akhirnya Kendall menatap David, meremukkan pria itu dengan tatapan tajam dari mata cokelat indahnya. "Lantas siapa lagi yang akan merawat rusamu?" Ia membetulkan letak bantal. "Tunggu sebentar ya."
David mengawasi kepergian wanita itu dan sesuatu yang terasa seperti kekaguman menyelimutinya. Dada David sakit dihimpit emosi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Tapi belum sempat ia mengartikan perasaan itu, perutnya kram.
Bagus, pikirnya sambil mencondongkan tubuh untuk memuntahkan isi perut ke tempat sampah. Perasaan aneh tadi pasti hanya gejala sakit ini.
Akan hilang dalam satu atau dua hari.
----------------
"Aku merasa cukup sehat untuk mengantarmu ke menara," David berkeras dari ambang pintu samping asrama.
Kendall menatap wajah pucat David dan betapa kuat pria itu bersandar di kruk sambil menguji setir ATV. Setelah empat puluh jam berdekatan dengan David Booker, merawatnya karena keracunan makanan, ia siap menjauhi pria itu. Dan alasan itu tak berhubungan dengan penyakit... ia sudah terlatih bersikap objektif. Yang membuatnya khawatir adalah debar jantungnya yang bertambah cepat bila ia menyentuh dahi panas David, cengkeraman kekhawatirannya saat tubuh pria itu tersentak karena mual hebat dan fantasinya bila ia mangamati David tidur. Kedekatan yang ia rasakan dengan pria ini terasa akrab dan berbahaya... dan ia tidak menginginkannya. Tidak setelah apa yang hampir terjadi di antara mereka dan bagaimana hal itu berakhir.
"Kau harus beristirahat setidaknya satu hari lagi," ucap Kendall. "Dan harus ada yang mengawasi binatang-binatang itu saat aku pergi."
"Aku akan membantu," timbrung Hailey yang muncul dan berdiri di samping David. Ia meletakkan sebelah tangan di lengan David dengan gaya memiliki. "Aku akan menengok Oscar-ku yang manis. Akan ku pastikan David tetap di ranjang."
Kendall puas melihat David kikuk. Setidaknya pria itu punya cukup rasa malu untuk merasa canggung dengan berpindah dari pelukannya ke pelukan Hailey pada hari ia membawa rusa yang terluka. Membayangkan apa yang mungkin mereka lakukan saat "piknik" sebelum Hailey tanpa sengaja meracuni pria itu mempermudah Kendall untuk menjaga jarak. Ia melempar senyum riang pada pasangan itu. "Sepertinya semua sudah beres. Aku tidak akan lama." Ia memasang helm dan mengencangkan talinya di bawah dagu.
...****************...