
"Masuk saja," kata David.
Kendall memutar kenop dan mendorong pintu untuk membuka. Ranjang David terbaring selama kurang lebih dua hari ternyata kosong. Lurus di depan, pintu kamar mandi terbuka. David berdiri bersandar ke wastafel, tanpa kemeja, sedang bercukur dengan pisau sekali pakai. Rambut dan kulitnya basah. "Aku meminta Harry membawakan baju ganti dan perlengkapan mandi supaya setidaknya aku bisa mandi."
Debar jantung Kendall melonjak melihat bahu bidang dan bulu dada David yang berwarna gelap. "Kulitmu sudah bertambah cokelat," katanya untuk menutupi kenyataan bahwa ia sedang menatap. "Tapi kau masih harus beristirahat. Mana Hailey?"
"Sudah pergi," jawab David singkat, lalu memungut handuk untuk mengelap rahang. Ia membalikan tubuh ke arah Kendall. "Dengar, Kendall. Aku minta maaf atas apa yang terjadi tempo hari di ruangan praktikmu."
Pipi Kendall memerah. "Tidak perlu. Aku membiarkannya terlalu jauh."
David mengerutkan kening. "Aku minta maaf atas gangguannya."
Kendall menelan ludah dengan susah payah, diserbu kenangan sensual. "Seperti yang kukatakan... tidak perlu meminta maaf. Sebaiknya kita lupakan saja kejadian itu."
"Tapi..."
"David," potong Kendall, resah karena tubuhnya ternyata masih bergairah gara-gara pria itu. "Jangan diungkit-ungkit lagi, oke?"
David mengalihkan tatapan. "Baiklah." Ia menyampirkan handuk di pinggir wastafel. "Bagaimana perjalananmu?"
"Menyenangkan," jawab Kendall ringan. "Mantan atasanku sepertinya sudah menemukan penggantiku, jadi aku harus mendesak kalian agar mobilku diperbaiki secepatnya."
Ekspresi David tak terbaca. "Aku berjanji akan segera mengurusnya."
"Kau pernah bilang seperti itu," tambah Kendall.
David mengatupkan rahang, lalu mengangguk. "Kali ini aku bersungguh-sungguh." Ia mengambil kemeja tipis berwarna lembut dari gantungan, lalu mengenakannya tanpa mengancingkan bagian depan, memamerkan perut rata. Ia meraih kruk, lalu kembali ke ranjang dan duduk di pinggirnya. "Jadi, kapan penggantimu tiba?"
"Entahlah." Kendall mengeluarkan secarik kertas dari saku dan memberikannya kepada David. "Kukatakan pada mantan bosku bahwa aku akan memberikan informasi kontak dokter itu kepada mu dan kakakmu."
David mengambil kertas itu. "Penggantimu laki-laki?"
Kendall mengangguk. "Mungkin itu yang terbaik untuk saat ini."
David tidak menjawab, hanya menyelipkan kertas tadi ke dalam saku kemeja.
"Oh, aku juga menemukan ini," kata Kendall sambil mengeluarkan sebentuk cincin yang tadi ia temukan dan mengangkatnya agar bisa David lihat.
Wajah David memucat. Ia mengambil cincin itu dan Kendall melihat tangannya agak gemetar. "Kau menemukannya di menara?"
"Ya, tak jauh dari tempatku menemukan jam saku. Apakah menurutmu benda itu terbawa ke sana oleh badai?"
David mengangguk sambil membalik-balik cincin. "Pasti karena itu."
"Menurutmu Molly bisa menemukan pemiliknya?"
"Tidak perlu," kata David sambil menatap Kendall dengan mata hazelnya yang mempesona. "Ini cincin pernikahan ibuku."
Kendall melongo. "Kau bercanda?"
"Tidak. Ia melepasnya tak lama sebelum badai dan terbawa terbang bersama semua harta kami yang lain. Ia menangis selama berhari-hari, lalu pasrah tak akan melihatnya lagi." David mengembuskan napas dengan ribut, jelas terharu. "Terima kasih."
Lidah Kendall nyaris kelu karena tak percaya... dan perasaan terharu akibat penemuan itu membuatnya tidak nyaman. Ia merapatkan tangan di tubuh. "Sama-sama. Tapi aku tidak berbuat apa-apa... benda itu tergeletak begitu saja di bawah ban ATV."
David menggenggam cincin itu dan tiba-tiba wajahnya dihiasi senyum cerah. "Ayo ikut aku ke Atlanta."
Kendall mengerjap-ngerjap. "Apa?"
"Ayo ikut aku ke Atlanta. Harus ada yang membeli persediaan obat untuk klinik dan kau orang yang tepat."
Kendall memikirkan ajakan David. Ini kesempatan emas untuk melihat-lihat kota itu. "Hanya kalau kau membuat janji menemui dokter ortopedi untuk memastikan kesembuhan tungkaimu."
David ragu, lalu mengangguk. "Setuju."
Ragu-ragu lagi, mengangguk lagi. "Setuju. Dan dalam perjalanan kita singgah di rumah ibuku untuk memberikan cincin ini."
Kepanikan membanjiri dada Kendall... ia tidak mau tahu lebih banyak tentang pria ini atau keluarganya. "Singgah di rumah ibumu?"
"Kita pasti lewat. Lagi pula, ia pasti ingin bertemu dan berterima kasih secara pribadi karena kau sudah menemukan cincinnya."
Kendall menggigit bibir. Mana mungkin ia menolak! Lagi pula, setelah mereka kembali dengan persediaan obat dan onderdil pengganti untuk mobilnya, ia bisa meninggalkan Happiness selamanya. "Kurasa tidak masalah."
David tersenyum lebar. "Bagus. Aku akan memesan kamar hotel."
Jantung Kendall berdebar-debar. "Hotel?"
"Mengingat banyaknya barang dalam daftar, kita harus menginap di sana."
Kendall menelan ludah. "Kamar terpisah," katanya tegas.
"Kamar terpisah," David menyetujui, mata hazelnya serius... dan amat sangat seksi.
"Jelas," sahut Kendall sambil mengangguk.
"Pasti," timpal David, mengangguk juga.
----------------
"Aku tidak suka," ucap Harry, lalu menunjuk layar komputer di meja tulis yang menampilkan laporan rugi. "Perjalanan belanja terakhir ke Atlanta hampir membuat kita bangkrut!"
"Harry, cobalah bersikap logis," bujuk David. "Kita masih punya banyak kesempatan untuk mencicil biaya yang direncanakan dan klinik itu tak berguna tanpa perlengkapan dasar."
"Kalau kau ingin berduaan dengan Dokter Jenner, tidak perlu mengarang alasan."
Kernyit David bertambah dalam. "Aku tidak mengarang alasan. Aku memang harus ke Atlanta untuk menemui dokter ortopedi. Dan makin cepat kita memiliki persediaan obat, makin cepat juga kita bisa minta diperiksa agar dinyatakan layak menyandang status Federal Health Clinic. Dan apakah kau tidak ingin Mom segera menerima cincin kawinnya!"
"Tentu aku ingin," kata Harry.
David tidak suka melihat ekspresi sang kakak padanya. "Dia sudah merencanakan untuk pergi, jadi bahaya apa lagi yang bisa ku timbulkan?"
Harry menaikkan alis. "Kau boleh menyebutku kuno, tapi karena kita menahan dokter baik itu di sini dengan kepura-puraan, aku merasa bertanggung jawab."
David melotot. "Kau sudah menghubungi dokter yang ingin menggantikannya?"
Harry mengacungkan kertas yang telah David berikan kepadanya. "Ada dalam daftarku hari ini. Bersama seribu hal lain."
"Bagaimana kalau kau tunda dulu?"
"Kau akan meyakinkan dokter wanita itu untuk tinggal? Kau punya senjata lain di tangan?" Harry mengerutkan kening. "Atau di tempat lain?"
"Tidak. Maksudku, ya, aku akan berusaha meyakinkannya agar tinggal... dengan membicarakan rencana-rencana kita untuk kota ini dan peran yang bisa dia ambil di dalamnya."
Harry tampak ragu. "Oke... kerjakanlah."
"Jadi aku boleh berbelanja persediaan obat?"
Harry memeriksa laporan yang sudah David berikan kepadanya dan mendesah. "Hanya barang-barang yang sudah ditandai 'penting'. Ku harap kau tidak akan menggila."
"Beres," sahut David, lega. Kendall tidak akan mau pergi ke Atlanta jika mereka tidak punya alasan lain. Dan meskipun yang dinyatakan sebaliknya, ia sangat ingin berduaan saja dengan Kendall.
"Kapan kalian berangkat?" tanya Harry, membuyarkan pikiran David.
"Kendall sudah membuatkan janji untukku dengan dokter ortopedi besok siang," jawab David. "Kupikir kami akan berangkat pagi dan singgah untuk menjenguk Mom, lalu bermobil ke kota menemui dokter dan bermalam di sana. Aku akan menyewa truk dan membeli persediaan sebelum pulang besoknya."
...****************...