
Dan hatinya perih karena kenyataan bahwa David tidak merasakan hal yang sama.
Kendall memejamkan mata sejenak. Kenyataan bahwa David tidak merasakan hal yang sama... Bukankah itu satu-satunya jawaban yang aku perlukan? pikir Kendall.
Di ambilnya kontrak itu dan di jatuhkannya ke tempat sampah di samping meja tulis. Lalu ia menyibukkan diri memasukkan sisa persediaan obat di tempat praktik sementara ke kardus untuk di pindahkan ke klinik. Debar jantungnya bertambah cepat saat mendengar keran bilik pancuran ditutup. Kendall takut menghadapi percakapan dengan Daniel, tapi ia tahu mereka memang perlu bicara.
Pintu kamar mandi membuka dan Kendall menoleh, tertegun melihat Daniel berdiri di sana hanya berbalut handuk di pinggang. Sosoknya lebih kecil dari pada David, tapi tenis membuatnya tetap langsing. Daniel memang pria yang menarik.
Pria menarik yang sudah mengkhianatinya.
"Semua baik-baik saja?" tanya Kendall riang.
"Apa ada air panas di gunung ini?"
"Sangat langka, maaf."
Tatapan Daniel jadi keruh. "Tapi tak apa, setelah melihatmu lagi aku memang butuh mandi air dingin."
Tiba-tiba saja Daniel sudah berdiri di depannya.
"Kendall... aku rindu."
Jantung Kendall berdentam-dentum. Ia juga merindukan Daniel. Malam-malam sepi bergelung, menangis dan tidur berkaus kaki, tanpa pria itu menghangatkan kakinya, nelangsa memikirkan apa yang salah dan kenapa dulu ia tidak mencium gelagat perubahan dari Daniel.
"Kenapa kau melakukan semua itu?" tanyanya lirih.
"Kenapa kau tega melakukannya?"
Daniel menggeleng. "Entahlah. Saat itu aku memang tidak berpikir jernih, tapi sekarang sudah. Aku mencintaimu... dan aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan padamu."
Kendall mengamati ekspresi Daniel dan melihat penyesalan tulus. Hatinya melunak, bertanya-tanya apakah sebagian besar pria yang sudah bertunangan panik dan melakukan hal-hal bodoh yang kemudian mereka sesali.
Bukankah pertunangan itu masa untuk saling membuktikan satu sama lain, periode percobaan? Artinya, mereka belum menikah dan si pria tidak melanggar sumpah pernikahan.
"Ayo kita pulang," kata Daniel, suaranya serak dan bernada memohon. "Aku akan memperbaiki semuanya. Lebih baik dari pada sebelumnya. Aku janji."
Daniel mengulurkan tangan untuk meraihnya, tapi Kendall mundur, berusaha menata pikiran. "Aku perlu waktu untuk berpikir, Daniel."
"Baiklah," sahut Daniel mengangguk. "Pikirkanlah dengan matang. Boleh aku tinggal bersamamu, setidaknya malam ini?"
Kendall menggeleng. "Pria tidak boleh bermalam di asrama. Kau harus tinggal di barak pria."
Wajah Daniel memucat. "O....ke."
Tapi kenyataan sebenarnya Kendall enggan membahas ulang semuanya sepanjang malam jika mereka hanya berdua. Lalu ia teringat pengumuman di papan tulis dapur. "Kami ada acara menonton film bersama di bawah malam ini."
"Sepertinya menarik." sahut Daniel. Saat itu Kendall menyadari bahwa Daniel benar-benar berusaha, karena seingatnya menonton film bersama pada malam hari bukanlah hal yang di sukai pria itu.
Daniel meraih tangannya. "Kau masih mencintaiku, Kendall?"
Kendall menelan saliva dengan susah payah. Ketukan cepat di balik pintu menyelamatkannya sehingga tidak perlu menjawab pertanyaan itu. Pintu membuka dan David Booker menjulurkan kepala dan bahunya ke dalam. Pria itu benar-benar suka memilih saat yang aneh.
Leher Kendall memerah.
"Oh, maaf sudah mengganggu," ucap David. Meski demikian, ia tidak beranjak sedikit pun.
"Kau ada perlu?" tanya Daniel, jelas-jelas kesal karena gangguan itu.
David melotot. "Ya. Aku perlu bicara dengan dokter kota kami. Karena itulah aku datang ke tempat praktiknya."
Kendall merapatkan bibir. Tampaknya David lupa bahwa mereka berdua pernah hampir ber-cinta di tempat praktiknya.
"Daniel," kata Kendall tenang. "bisa beri kami waktu untuk bicara?"
Daniel kembali ke kamar mandi, tetapi melayangkan tatapan tajam pada David sebelum menutup pintu.
Dengan darah berdesir, Kendall berbalik ke arah David dan menghembuskan napas. "Ada yang tidak beres?"
David membuka pintu lebih lebar dan masuk dengan menggunakan kruk, lalu duduk di kursi di sebelah meja tulis Kendall. Ia menepuk-nepuk gips yang terciprat lumpur. "Kakiku sakit."
Kendall melipat tangan. "Mungkin kau sebaiknya tidak naik ATV dulu."
David tersenyum lebar, meneguhkan kecurigaan Kendall bahwa "nyeri" itu tidak serius. "Tapi naik ATV tadi mengasyikkan."
"Begitu ya. Kau punya alasan meneror Daniel?"
"Tidak. Aku tidak tahu ia mantan tunanganmu."
Perhatian David tertuju ke tempat sampah di sebelah meja tulis Kendall. Ia memajukan tubuh, meraih ke dalam dan mengambil kontrak kerja itu. David membisu saat melihat bagian bawah kontrak yang tidak bertanda tangan. "Jadi kau benar-benar akan pergi?"
Kendall bergerak-gerak gelisah, sementara emosinya berkecamuk. Untuk menguatkan diri, ia mengingat-ingat lagi betapa dingin perlakuan David kepadanya di pagi setelah malam percintaan dahsyat mereka di hotel. "Benar. Seharusnya itu tidak mengejutkan."
David mengangguk lambat-lambat, lalu melempar kembali kontrak itu ke tempat sampah. "Kau benar." Ia meraih kruk dan berdiri. "Aku tidak terkejut. Sejak pertama melihatmu, aku tahu kau tidak punya apa yang dibutuhkan untuk tinggal di sini."
Kendall mengerjap-ngerjap mendengar pernyataan pedas itu, menunggu David tertawa, mengatakan itu hanya lelucon dan mengucapkan semoga sukses padanya. Tidak, pria itu justru terpincang-pincang keluar dan menyusuri koridor, kruknya bergedebuk.
Dengan perasaan sakit hati dan bingung. Kendall masuk ke koridor. "Kukira kakimu sakit!" teriaknya.
"Aku keliru," teriak David ke balik bahu.
"David... tunggu."
David berhenti dan menoleh, ekspresinya tak terbaca. Kendall melesat kembali ke dalam dan menyambar dari sandaran kursi kemeja denim lembut yang David berikan padanya. Ia mengangkatnya ke dekat hidung dan bibir untuk menghirup bau tanahnya sekali lagi, lalu berjalan keluar dari tempat praktik dan menapaki koridor ke tempat David berhenti. "Ini, ambil kembali kemejamu."
David menatap kemeja itu beberapa detik. Kendall bertanya-tanya apakah pria itu ingat pernah memberikan baju itu kepadanya dan tiba-tiba merasa konyol.
Lalu David mengulurkan tangan untuk mengambil, kemudian menyampirkannya di salah satu bahu dan terpincang-pincang menjauh tanpa bicara.
...****************...