
Rasanya tidak seperti yang pernah ia alami sebelumnya.
Sialan.
David mengamati wajah Kendall saat wanita itu turun dari kli-maks. Terbenam dalam tubuh Kendall terasa sangat menyenangkan, menyita seluruh konsentrasinya untuk menahan diri, untuk memastikan wanita itu puas sepenuhnya sebelum ia sendiri mencapai puncak. Bahkan sekarang, David tak mau semua itu berakhir, ingin menikmati lebih lama perasaan intens saat menatap ke dalam mata Kendall dan melihat wanita itu begitu rapuh dan luluh lantak. Pening rasanya mengetahui dialah yang bertanggung jawab membawa Kendall ke tempat sensual ini... dan bangga mengetahui bahwa instingnya tentang wanita itu benar.
Segenap emosi yang Kendall pendam saat wanita itu tenggelam dalam pekerjaan meledak di tangan orang yang tahu harus menekan tombol yang mana.
Seolah hendak menegaskan teori David, Kendall membungkuk dan mendesah di telinganya, suara yang berujung pada erangan puas.
Mendengar kepuasan total wanita itu membuat David makin terpicu. Ia mencengkeram pinggang ramping Kendall dan mendorong tubuhnya sendiri. Lalu ia mencapai puncak dengan hebat, seolah Kendall menarik seluruh kekuatan hidupnya keluar. Ia mengeluarkan erangan parau panjang dan mendekap tubuh Kendall erat-erat, sementara tubuhnya terus berguncang.
Rasanya tidak seperti yang pernah ia alami sebelumnya.
Sialan.
----------------
Kendall bangun, terkejut dan langsung tahu ada yang tidak beres.
Daniel tidak mendengkur.
Ia menoleh untuk melihat pria yang berbaring di sampingnya di ranjang dan misteri dengkur keras itu terpecahkan... pria itu bukan Daniel.
Daniel tidak pernah menguasai ranjang dan telentang, mengangkang seolah sedang berbaring di pantai sepi, tertidur sehabis mabuk. Pria itu tidak pernah menguasai bantal dan menendang semua selimut dari ranjang.
Kendall mengamati tubuh telanjang David yang panjang dan di serbu bayangan percintaan mereka tadi malam...
Ia memejamkan mata rapat-rapat. Dan Daniel tak pernah membuatnya merasa benar-benar puas dengan cara yang menyenangkan dan tak terlukiskan.
Tapi David Booker sudah melakukannya.
Keributan dari jalan yang mulai menggeliat terdengar lewat jendela yang David buka karena tidak suka AC. Kendall mengangkat kepala untuk mencari jam. Masih pagi... tapi tidak terlalu dini untuk menyesal.
Tadi malam bersama David memang membingungkan. Mereka akhirnya keluar kamar, memilih memesan makanan hotel dan menciptakan kesenangan sendiri. Pria itu seperti mesin... padahal masih terhalang gips. Saat akhirnya tertidur karena kelelahan, mereka sama-sama puas.
Kendall tersentak. Dan sekarang apa? Mereka hidup bahagia selamanya?
Yang benar saja. Hanya karena ia sudah sangat terpikat pada David bukan berarti pria itu merasakan hal yang sama. Bahkan ibunya sendiri tidak percaya
David akan pernah menikah, menggoda David karena suka bertualang menaklukan wanita.
Lalu kesadaran menohok Kendall seperti pukulan di kepala. Alasan David tidur dengannya karena pria itu tahu ia akan meninggalkan Happiness. Tak ada keributan, tak ada kericuhan. Kesadaran itu membuat tubuhnya dingin... tapi juga mencegahnya membangun khayalan yang hanya akan membuatnya makin sakit hati kelak.
Kendall melirik pintu yang menuju kamarnya sendiri dan membatin cara terbaik menghindari basa-basi pagi yang kaku adalah dengan tidak berada di sana saat David terbangun. Sambil mengawasi pria yang mendengkur itu, ia beranjak pelan, meringis saat tubuhnya sakit, mengingatkan diri bahwa ia tidak menggunakan sebagian otot selama... yah, mungkin belum pernah.
Ia berhasil turun dari ranjang tanpa membangunkan David dan berhenti untuk memunguti pakaian, menghindari kereta dorong layanan kamar dan piring-piring yang masih di penuhi sisa-sisa makanan, serta dua botol anggur yang sudah kosong.
David tidak bergerak saat Kendall membuka pintu. Kendall menahan napas dan menyelinap ke kamarnya sendiri, lalu menutup pintu di belakangnya. Ranjangnya yang tidak ditiduri mengejek kekukuhannya beberapa hari sebelumnya agar David memesan dua kamar untuk perjalanan mereka. Kendall menjatuhkan pakaian kusut dalam pelukannya ke ranjang dan menggigil karena hawa sejuk AC. Ia berjalan untuk mematikannya, lalu melihat ponselnya berdering, tanda ada pesan.
Daniel. Perutnya melilit karena perasaan yang campur aduk. Seharusnya ia tidak merasa bersalah karena sudah tidur dengan pria lain setelah Daniel mencampakkannya dengan kejam. Kemungkinannya, pria itu menelepon hanya untuk menenangkan nurani... dengan anggapan ia masih punya sesuatu yang disebut 'nurani'.
Dengan resah, Kendall masuk ke kamar mandi untuk membungkus tubuh dengan handuk. Ketika menangkap bayangan dirinya di cermin, ia berhenti untuk mengamati lebih seksama.
Siapakah wanita memikat berwajah kemerahan dengan rambut acak-acakan itu?
Kendall menyentuh bibirnya yang bengkak karena terlalu banyak dicium dan lututnya lemas saat teringat bagaimana David me-lu-mat-nya dengan ganas di bak. Saat ini, David meyakinkan bahwa ia wanita paling menarik di dunia. Gaya itu benar-benar berbeda dari cara eksplorasi lambat dan sistematis Daniel yang lebih didasarkan pada ketertarikan intelektual.
Mau tak mau Kendall mengakui bahwa tidur dengan David membuatnya merasa agak unggul terkait perselingkuhan Daniel. Menyenangkan rasanya diinginkan, meskipun hanya dalam cinta semalam. Kenyataan itu meningkatkan kepercayaan diri dan keberaniannya untuk menghadapi Daniel.
Dengan penuh tekad, Kendall menyalakan pencuran dan sementara menunggu air jadi hangat, menekan tombol untuk mendengarkan pesan terakhir Daniel.
"Kendall... ini aku." Pria itu mendesah. "Aku khawatir karena kau belum membalas teleponku. Apakah kau baik-baik saja? Kau di mana? Aku benar-benar perlu bicara denganmu... aku memang idiot. Rasanya sulit mempercayai apa yang sudah kulakukan padamu, pada kita. Hubunganku dengan Hillary sudah berakhir. Aku terjaga dan menyadari betapa bodohnya aku selama ini. Bisakah kita bicara?" Pria itu mengeluarkan suara sedih. "Kumohon telepon aku. Tolong?"
Jantung Kendall berdetak kencang di dalam dada dan ia memejamkan mata. Hatinya hancur, pertunangan mereka berakhir, kehidupan bersama mereka berantakan... semua demi wanita yang bahkan tidak begitu Daniel kenal, dan sekarang hubungannya dengan wanita itu berakhir.
Semua terasa begitu... tidak perlu.
Dan kini pria itu ingin kembali seolah tak terjadi apa-apa.
Bisakah aku melakukan itu? Pikirnya.
Kendall menghela napas dalam, lalu meraih ponsel dan menekan sebuah nomor.
----------------
David terbangun karena terkejut, lalu sadar ia di bangunkan oleh dengkur sendiri. Ia hanya mendengkur saat sangat lelah, tapi memang itulah yang sudah diperbuat Kendall padanya... tenaganya terkuras.
Ia menyapukan sebelah tangan ke sisi ranjang yang tadi Kendall tiduri dan tidak menemukan apa-apa. Kekecewaan menyergapnya begitu menyadari wanita itu tak ada di sana. David bertanya-tanya, dengan menyesal, apakah dengkurnya sudah mengganggu Kendall. Ia memandang sekilas ke kamar mandi, tapi tak melihat cahaya. Pasti kendall sudah kembali ke kamarnya sendiri.
...****************...