New Happiness, Begins

New Happiness, Begins
Part 57



Wajah Kendall masih merah, matanya bersinar-sinar. "Baik sekali kau mengatakan itu... terima kasih."


"Bagaimana keadaan di klinik?"


"Stabil... dan membaik. Kedua pria itu sedang tidur. Beberapa orang menawarkan diri untuk bergantian menjaga keduanya sepanjang malam."


"Bagus."


Kendall mengangguk, lalu tampak seolah ingin mengatakan sesuatu.


"Ada yang kau butuhkan?" tanya David.


"Aku sudah menjelaskan kepada Daniel bahwa pria tidak boleh bermalam di asrama."


"Benar," kata David, pura-pura bersimpati. "Ia bisa tinggal di barak."


Kendall tersenyum kecil pada David. "Bisakah kau mengantarnya dan memastikan ia mendapat tempat?"


Demi senyum itu, David rela melakukan apa pun... terutama jika itu menjauhkan Daniel dari ranjang Kendall. "Tentu." Ia berpaling pada Daniel. "Tempatnya lumayan. Kau pernah bergabung dengan militer?"


"Tidak." jawab Daniel.


"Oh, begitu." David berusaha memikirkan analogi yang bisa di pahami pria itu. "Rasanya seperti... perkemahan musim panas."


Kendall menatap David dengan tajam, tetapi David hanya menepuk punggung Daniel. "Siap untuk beristirahat malam ini."


"Hmm... ku rasa begitu." Daniel menjatuhkan ciuman di telinga Kendall. "Sampai besok pagi."


Kendall mengangguk, tetapi David melihat wanita itu meletakkan tangan di antara mereka dan lebih dahulu mengalihkan tatapan.


Itu isyarat kecil, tapi hati David melambung penuh harap. Dengan suasana hati yang cukup riang, ia membonceng Daniel ke bangunan panjang dan sempit yang berfungsi sebagai tempat tinggal kaum pria. Memang hanya sesuai fungsi, tapi bersih dan rapi. Tetap saja, Daniel memandang berkeliling saat semua pria melepas baju sehingga hanya tersisa pakaian dalam dan tampak ragu.


"Kelihatannya ranjangnya tidak terlalu nyaman."


"Memang tidak," David membenarkan. "Juga tak ada AC." Lalu ia mendapat ide. "Begini saja, kawan. Kau bisa menempati ranjang ku malam ini." Ia mengajak Daniel ke bagian yang terpisah, tempat ranjangnya dan kakaknya berada. "Silahkan," ucapnya sambil menepuk-nepuk kasur. "Jauh lebih nyaman dan di sini juga lebih sejuk." Semua itu benar-benar dusta. Ia dan Harry berkeras untuk tidur dengan kondisi yang sama dengan para pekerja mereka. Hanya saja tempat mereka agak terpisah, siapa tahu mereka perlu bicara secara pribadi.


"Tapi kau sendiri akan tidur di mana?" tanya Daniel.


"Gampang," kata David sambil mendesah dengan nada sok berkorban.


Harry, yang juga sudah siap untuk berbaring, melayangkan tatapan tajam pada David. Sial_an Harry, pria itu selalu bisa membaca pikirannya.


Wajah Daniel memucat. "Belum."


"Oh. Well ... malaria bisa di obati."


"Selamat tidur, David," ucap Harry sambil meninju bantal.


David bersandar di satu kruk dan memberi hormat, lalu berjalan kembali melewati area ranjang susun dan keluar menuju kamar mandi. Ia mengutuk gips di tungkai untuk kesekian puluh kali, tapi berhasil membersihkan diri. Lalu ia memakai kembali pakaiannya dan berjalan menuju ATV. Saat menyalakan mesin, ia membayangkan Harry berbaring di sana dan mendengar, tahu benar apa yang akan sang adik lakukan.


Ia mengarahkan ATV ke asrama. Lampu masih menyala di ruang besar dan dapur, artinya sebagian wanita masih belum tidur. Tetapi pintu depan sudah dikunci. David punya kuncinya, tapi ia tidak mau masuk begitu saja. Lagi pula, ada alasan bagus di tetapkannya peraturan "dilarang menerima tamu laki-laki pada malam hari..." agar wanita-wanita itu merasa aman. David mengetuk, berusaha memikirkan alasan tepat agar di izinkan masuk pada larut malam seperti itu.


Pintu membuka dan Hailey berdiri di sana, memegang lap piring. "David... hai."


"Eh... hai." David bergerak-gerak gelisah. "Aku, hmm... perlu bicara dengan Bu Dokter."


"Oke, akan ku panggilkan."


"Sebenarnya," ucap David cepat, "kalau boleh, ku pikir aku saja yang naik... ke kamarnya... dan mengetuk."


Hailey menelengkan kepala. "Aku sudah bertanya-tanya apakah kau hanya akan menonton dan membiarkan mantan tunangan busuk itu membawanya pergi dari sini." Ia menepi untuk membiarkan David masuk.


David berhenti cukup lama untuk mendaratkan ciuma_an di pipi wanita itu. "Kau memang baik."


"Yeah, memang." sahut Hailey sambil mengibaskan tangan. "Sana naik sebelum ada yang melihat."


Merasa seperti bocah ingusan yang menyelinap ke asrama putri, David mengendap-ngendap menyusuri koridor dan menaiki tangga dengan kruk, lalu melesat melewati deretan pintu kamar para wanita sebelum akhirnya sampai di depan pintu kamar Kendall.


Ia mengetuk dan menunggu, bertanya-tanya apa yang akan di katakannya kepada wanita itu. Ia hanya pria sederhana, tapi ia sadar kesempatan ini memerlukan kata-kata indah dan kefasihan berbicara jika ia akan meyakinkan Kendall agar tinggal di Happiness... bersamanya.


David mendengar suara dari balik pintu, lalu lampu menyala dan pintu membuka. Di terpa cahaya dari belakang dan terbungkus gaun tidur transparan, Kendall tampak awut-awutan karena baru bangun dari tidur dan bagitu seksi...


Darah David berdesir.


"David." Kendall menyingkirkan rambut dari wajah, matanya khawatir. "Apakah salah satu dari pria itu membutuhkan aku?"


Jantung David berdebar sangat keras sampai ia yakin Kendall bisa mendengar. "Ya," akhirnya ia menjawab. "Aku yang membutuhkanmu."


...****************...