
Kendall menyipitkan mata, tak yakin dengan maksud David. Pria itu membutuhkannya? Kendall membuka mulut untuk meminta klarifikasi, tapi tiba-tiba saja David menciumnya.
Dan rasanya begitu menyenangkan.
Tubuhnya jadi hidup saat ia membuka bibir untuk membalas ciu-man pria itu. Salah satu kruk berdebuk ke lantai karena David melingkarkan sebelah tangan ke belakang lehernya.
"Aku ingin bercinta denganmu," ucap David sambil mendorong tubuh Kendall ke dalam kamar.
"Pria dilarang menginap di asrama," gumam Kendall.
David menendang pintu kamar agar menutup. "Tidak apa-apa.... aku pemilik tempat ini."
Kendall menjatuhkan diri di ranjang bersama David, menunggu perasaan cemas atau bersalah menyelimuti. Saat perasaan itu tidak datang juga, ia menyingkirkan segenap pengendalian diri. Ia memang ingin David mendatanginya. Pria itu pasti merasakan tubuhnya yang mendamba.
Meskipun percintaan mereka di Atlanta begitu panas dan liar, kali ini segalanya berjalan dengan lambat dan manis, ciu-man mendalam dan tangan berpegangan. Lewat jendela kaca, kawanan jangkrik bernyanyi untuk mereka dan bulan menyorot tubuh telanjang mereka saat mereka menelusuri tubuh satu sama lain dengan lembut. Saat akhirnya David naik ke tubuh Kendall untuk menyatukan kebersamaan mereka, ia benar-benar bersikap lembut, sampai Kendall merasakan dirinya tenggelam ke kedalaman perasaan yang tak pernah ia alami sebelumnya.
Ia bergelayut di sana, mengapung dalam dorongan sensual sampai kli_maks menggantung mereka mengempaskannya dari puncak, membuatnya merasa lemah dan rapuh. Debar jantung David di dadanya menariknya kembali ke bumi. David mendekapnya erat-erat dan menelusuri lekuk pinggang Kendall dengan jemari, menggumam puas.
Bahkan setelah napas David mulai teratur dan bertambah lambat. Kendall tidak mau tidur, ia jatuh cinta pada pria itu dan ingin menikmati setiap detik yang menyenangkan. Ia mengingat setiap sensasi tubuh David di tubuhnya sendiri... suhu, tekstur dan rasa.... ekspresi wajah dan bau musky dan suara parau saat mencapai kepuasan. Kendall tidak mau tertidur karena merasa seolah baru terbangun untuk menikmati hidup...
Ketika ia terjaga, cahaya fajar menerobos lewat jendela dan David mendengkur lembut di dekat telinganya. Lebih dari pada segalanya, ia ingin bergelung dalam pelukan pria itu, tapi tahu ia harus pergi memeriksa pasien.
Kendall tersenyum. Pasiennya... kotanya.
Ia turun dari ranjang sepelan mungkin untuk berpakaian dan menyikat rambut. Ia menyangka David masih tidur, tapi saat ia berjalan pelan melewati pinggir ranjang, tangan David terulur dan menangkap tangannya.
David tersenyum padanya. "Mau menyelinap keluar?"
"Mau pergi ke klinik," bisik Kendall, bertanya-tanya apakah perasaannya pada pria itu terlihat jelas di wajah. "Aku tidak lama."
David meremas tangannya. "Kendall... tolong katakan kau akan tinggal."
Hati Kendall mengembang. "Aku akan tinggal," ucapnya riang.
David tersenyum lebar. "Aku akan menyiapkan kontrak agar bisa kau tanda tangani saat kembali ke sini. Aku tidak mau kau berubah pikiran."
Kendall mencium bibir David, lalu keluar dari kamar. Ia manatap satu kruk yang tergeletak di depan pintu kamar. Mencolok sekali. Ia bertanya-tanya secepat apa gosip beredar bahwa David Booker bermalam di kamarnya.
Cukup cepat, Kendall menyimpulkan dari banyaknya senyum jail yang ia terima saat masuk ke dapur untuk mengambil secangkir kopi.
"Pagi yang indah," sapa Bella merdu.
"Selamat pagi," gumam Kendall, wajahnya memerah.
"Well, pagi yang indah untuk sebagian dari kita." celetuk Hailey dan tawa semua orang meledak.
Kendall tak dapat menahan senyum dan merasakan gelombang rasa sayang terhadap wanita-wanita yang sudah menerimanya dalam kelompok mereka.
Wanita-wanita itu serempak menyetujui.
"Aku harus pergi memeriksa pasien," tukas Kendall. Erang protes menggema di belakangnya saat ia meninggalkan ruangan. Kendall tersenyum sambil menatap kopinya dan berjalan dengan langkah agak melambung.
Ia keluar dari asrama, sekali lagi terpesona oleh keindahan lembut tempat terpencil itu. Pagi itu berembun, tapi sudah hangat dan pengap. Langit di hias garis-garis pink dan kuning. Seekor bluebird terbang melintas, juga dua capung. Seekor tupai melompat-lompat di depannya ketika Kendall menyusuri jalan beraspal ke klinik yang letaknya tak terlalu jauh. Ia melihat papan tanda yang baru di pasang yang luput dari penglihatannya kemarin malam. Klinik Keluarga Happiness.
Kendall suka nama itu... keluarga. Sepertinya mewakili semua yang akan terwujud di kota ini. Dan ia ingin ada di sini untuk menyaksikan.
Untuk bersama David.
Kendall menghirup napas dalam-dalam, dipenuhi kebahagiaan. Ia mencintai pria itu. Ia tidak menyangka bisa jadi seperti itu, merasakan seseorang yang begitu... dibutuhkan. Ia memang sangat menyayangi Daniel, tapi baru sekarang ia menyadari perbedaan mencintai seseorang dan jatuh cinta. Yang pertama adalah pilihan dan yang lain... spontan. Sambil berusaha mengartikan kebahagiaan yang dirasakan, tatapannya mendarat pada mobil kecil tertutup debu yang diparkir di dekat pintu masuk klinik. Seorang pemuda duduk merosot di jok pengemudi, tertidur. Kacamatanya yang berbingkai warna gelap tampak miring.
Kendall mendekat dan mengetuk jendela mobil. Pria itu terlonjak, lalu membetulkan letak kacamata dan menurunkan kaca jendela.
"Ada yang bisa ku bantu?" tanya Kendall.
Rambut kehitaman pria itu yang di potong pendek berdiri ke segala arah. Bajunya kusut karena dipakai bepergian jauh. "Kuharap begitu. Aku mencari Dokter Jenner."
Kendall tak menyangka pria itu memiliki aksen Inggris. "Aku Dokter Kendall Jenner."
Bahu pria itu melorot. "Syukurlah. Aku Fai Kadra. Dokter Amanda menyuruhku ke sini."
Kendall tersenyum lebar. "Selamat datang, Dokter Kadra. Rupanya kau sudah menemukan klinik kami. Kapan kau tiba di sini?"
"Beberapa jam yang lalu," jawab Dokter Kadra, berusaha untuk tidak menguap saat turun dari mobil.
Yang membuat Kendall terkejut, selisih tinggi mereka tidak jauh dan dari penampilan rapi bajunya, mungkin pria itu tidak diperingatkan soal kondisi serbaminim di sini. Ah, sudahlah, ia akan segera tahu. "Mari masuk dan minum kopi."
"Sebaiknya teh saja," katanya. "Dan aku tidak sabar ingin mandi air hangat."
Kendall meneguk kopi, memilih untuk tidak memberitahu Dokter Kadra bahwa kedua hal itu sangat langka.
"Ada beberapa pasien yang harus kuperiksa kalau kau mau ikut."
"Tentu," sahut Dokter Kadra. "Aku tidak sabar ingin mempelajari obat-obatan gunung."
"Oh, kalau begitu, kau akan suka Dok Kris."
"Ia dokter lain yang praktik di sini?"
"Tidak juga," timpal Kendall, bertanya-tanya bagaimana reaksi Kristofer dan pria lain melihat pria berpenampilan aneh dengan kehati-hatian berbicara ini.
...****************...